Menjadi Delapan Kotakan

Giana, kembali menghidup udara Noreland. Wanita itu tampak menuruni setiap anak tangga pesawat pribadi milik sang Tuan Ello Abraham dengan perlahan, tentu saja dengan didampingi Ello. Pria itu takut wanita yang tengah mengandung kedua anaknya terjatuh, jika mau saja mungkin Ello sudah menggendongnya sedari tadi, sayangnya Giana menolak.

Meski sudah sedikit kepayahan ketika melangkahkan kakinya, tapi wanita itu tetap berusaha sebisa mungkin melangkahkan kakinya, hingga akhirnya masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka sedari tadi di bandara.

Giana duduk sambil menyelonjorkan kakinya yang terasa pegal karena berjam-jam duduk di pesawat.

"Sayang, kakimu bengkak. Apa kita langsung kerumah sakit saja untuk memeriksakan kondisi kamu?" tanya Ello yang tampak khawatir pada kondisi kaki Giana yang memang membengkak.

"Nggak usah, Kak. Nanti juga kempes sendiri. Biasa begini kalau terlalu lama duduk," jawab Giana sambil sesekali meringis, menahan rasa sakit di pinggangnya.

"Pinggangmu sakit ya?" tanya Ello

"Sedikit. Sudah biasa kok," jawab Giana

Ello tampak merasa bersalah, selama Giana hamil tidak ada disisinya, pasti selama ini Giana mengatasi semua masalah kehamilannya sendirian. Kali ini Ello tidak akan melepaskan Giana lagi, terlebih ada dua putra kembarnya tengah berkembang didalam perut wanita yang mulai melebar badannya.

Tibalah mereka dirumah. Jino menyambut kedatangan Giana dengan antusias.

"Ya Tuhan, Nona! Akhirnya anda kembali!" seru Jino sambil mengusap pundak Giana

"Bibi, aku kangen sama bibi," balas Giana

"Sudah, ayo istirahat dulu dikamar, pasti lelah karena perjalanan jauh," kata Jino, "Kakimu juga bengkak nona, "Nona harus tiduran dengan kaki diganjal bantal. Nanti akan saya panggilkan terapis untuk memijit kaki Nona."

"Bi, Giana biar tidur dikamarku saja," kata Ello

"Baik, Tuan," balas Jino

Giana menatap horor pada Ello ketika pria itu menginginkan dirinya tidur di kamar Ello.

"Aku tidur dikamarku sendiri saja seperti biasanya," pinta Giana

"Jangan menolak. Mulai sekarang dan seterusnya kamu tidur dikamarku," kata Ello

Giana akhirnya hanya bisa menurut, Ello kalau sudah mengeluarkan ultimatum memang susah untuk dilawan. Kali ini Ello benar-benar tidak ingin Giana terlepas dari dirinya barang sedetik pun. Bahkan Ello sudah mempersiapkan pengamanan rumah agar Giana tidak lagi bisa pergi meninggalkan rumah.

Giana memasuki kamar Ello yang masih sama seperti biasanya. Giana membersihkan diri dan berganti pakaian dengan terusan batik pemberian dari maminya Alan, orang Indonesia biasa menyebutnya daster. Daster adalah pakaian ternyaman untuk wanita hamil selama ini. Wanita itu lalu merebahkan diri di ranjang besar milik Ello, dan Jino membuat Giana nyaman dengan mengganjal kaki Giana yang bengkak menggunakan bantal.

Ello tampak baru saja menyusul masuk kedalam kamar, dan melihat Giana tampak memejamkan matanya, rupanya wanita itu kembali tertidur karena jetlag.

"Biarkan dia istirahat dulu, Tuan," kata Jino, "Nanti terapis akan memijit Nona setelah cukup istirahatnya."

"Apakah tidak masalah kakinya bengkak seperti itu, Bi?" tanya Ello

"Tidak apa-apa, wajar terjadi pada wanita hamil karena bayi anda sepertinya besar sekali," jawab Jino

"Giana mengandung anak kembar, Bi. Anakku kembar," kata Ello

"Astaga! Ini sungguh luar biasa Tuan, selamat Tuan! Sebentar lagi anda akan menjadi Daddy dua anak kembar sekaligus!" seru Jino, "Sebaiknya jadwalkan pemeriksaan kehamilan segera, Tuan. Kehamilan kembar termasuk kehamilan berisiko, jangan sampai terjadi apa-apa pada Nona Giana dan bayi-bayinya."

"Nanti biar Kairo yang jadwalkan pemeriksaan kehamilan untuk Giana," kata Ello

Jino lalu pamit undur diri dari kamar Ello. Pria itu pun bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri, meski tubuhnya terasa lelah, namun merasa bahagia, akhirnya dia bisa mendapatkan Giana kembali. Wanita yang telah membuat dunianya berubah seketika, meski tetap kejam dan arogan ketika berurusan dengan bisnis, tapi pria itu berubah menjadi lembut pada wanita yang dia sayangi. Suasana rumah juga menjadi hangat karena Ello berubah sikap.

"Nona Giana benar-benar membawa perubahan untuk Tuan Ello dan rumah ini," kata Jino, "Semoga mereka hidup dengan bahagia setelah ini."

"Iya, Nona Giana itu wanita berhati lembut, dia juga baik hati," balas Mirai, "Rumah ini akan kembali hangat seperti dulu lagi."

"Apalagi kalau anak-anak Tuan Ello lahir, pasti akan tambah ramai rumah ini," kata Jino

"Anak-anak?" tanya Mirai

"Ya, Nona Giana hamil anak kembar. Tuan Ello sangat bahagia ketika tahu Nona Giana hamil anak kembar," jawab Jino, "Sebentar lagi rumah ini akan dipenuhi tawa anak-anak."

"Wah! Benar! Kalau begitu aku akan segera menyiapkan kamar untuk si kembar." Mirai tampak antusias setelah mendengar Giana mengandung bayi kembar.

Pembicaraan mereka ternyata terdengar oleh seseorang yang baru saja pulang dari berbelanja kebutuhan dapur.

"Jadi Giana sudah kembali," katanya dalam hati, "Sialan benar wanita itu! Bisa-bisanya kembali, dalam keadaan hamil pula! Semakin sulit saja aku mendapatkan Ello kalau begini caranya."

"Aku harus menyingkirkan Giana dan anak-anaknya sesegera mungkin. Ada untungnya juga aku tinggal dirumah ini, sehingga aku bisa leluasa berdekatan dengan lacur kecil itu," lanjutnya, kemudian dia tersenyum, "Akan aku buat kamu menangis darah Giana. Kamu akan kehilangan anak-anakmu, dan Ello pasti setelah ini akan mencampakkanmu karena menganggap kamu tidak becus menjaga kehamilanmu."

Ello didalam kamarnya kemudian ikut merebahkan diri disisi wanita cantik itu. Meski tengah hamil besar dan pipinya terlihat menggemaskan karena gemuk, Ello tampak bahagia. Dipeluknya wanita itu dari samping dan akhirnya ikut-ikutan terlelap karena sama-sama lelah setelah perjalanan hampir 17 jam di pesawat. Giana tampak semakin nyaman tidurnya dalam pelukan Ello.

Esok harinya, Ello sudah terbangun lebih dulu, sementara Giana masih terlihat nyaman dalam lelapnya. Ello memandangi wanita cantik itu sambil tersenyum. Diusap lembut puncak kepala wanita itu hingga akhirnya Giana terbangun, sedikit terkejut karena Ello ada disebelahnya, tengah tersenyum memandangi wajahnya.

"Kak, aku bangun kesiangan ya?" tanya Giana sedikit panik, memorinya seperti terprogram bahwa dia seharusnya melayani semua kebutuhan Ello seperti biasanya, "Kakak harus segera ke kantor, aku akan mempersiapkan semuanya."

Wanita itu berusaha bangun, namun ditahan oleh Ello, "Tidak usah. Hari ini aku libur. Lagipula kamu tidak perlu lagi harus mempersiapkan kebutuhanku. Ingat kamu sedang hamil, jangan terlalu lelah beraktivitas."

Giana terdiam, lalu wanita itu duduk sambil menyandarkan diri di kepala ranjang, sementara Ello masih saja tiduran kali ini sambil memeluk perut buncit Giana.

"Kenapa mereka tidak menendang-nendang lagi?" tanya Ello

"Mereka masih tidur, Kak," jawab Giana

"Kamu mau sarapan sesuatu?" tanya Ello, "Biar pelayan siapkan untuk kamu. Kamu juga harus rajin minum susu ibu hamil."

Giana cukup terkejut, kenapa Ello berubah menjadi cerewet sekarang. Mereka lalu membersihkan diri dan turun ke bawah untuk sarapan bersama. Koki rumah Ello sudah mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua.

Giana yang memang sekarang mudah lapar, nyaris menghabiskan semua menu sarapan pagi itu. Sementara Ello hanya memakan beberapa potong buah dan minum segelas teh hangat saja. Ello tampak senang melihat Giana makan dengan lahap. Giana yang dipandangi sedari tadi oleh Ello tampak sedikit malu.

"Kakak, aku sekarang jelek ya?" tanya Giana, mulai merasa insecure dengan keadaan tubuhnya yang memang semakin gemuk karena kehamilannya.

Ello tersenyum dan membisikkan sesuatu di telinga Giana, "Kamu selalu cantik bagiku, sayang. Tak peduli bagaimana bentuk tubuhmu.".

Seketika wajah Giana langsung bersemu merah menahan rasa malu karena kata-kata lembut yang dilontarkan Ello padanya. Giana masih tidak percaya, rasanya seperti mimpi, akhirnya dia kembali kerumah besar milik Ello kembali. Dulu dia datang sebagai pembantu, bahkan justru menjadi pelayan cinta Ello, tapi kini dia justru menjadi nyonya rumah ini. Ello akan menikahinya setelah si kembar lahir.

Kairo tampak baru saja muncul entah dari mana, pria itu hanya mengenakan celana olahraga, sehingga terlihat lekuk indah tubuh pria yang sepertinya baru saja selesai olahraga itu, membuat Giana melotot melihatnya. Seketika Ello langsung menutup mata Giana dengan tangannya.

"Kak, kenapa mataku ditutup!"protes Giana

"Kamu hanya boleh melihat tubuhku, sayang," balas Ello

"Astaga! Aku kan hanya melihat saja, Kak!"seru Giana, "Lagipula Kak Kairo juga nggak ngapa-ngapain!?"

Kairo tampak bingung sendiri dengan tingkah tuannya, "Tuan, nanti jam 10 jadwal pemeriksaan kandungan dengan dokter Stefani. Saya akan bersiap mengantarkan Tuan dan Nona ke klinik."

Kairo lalu pergi meninggalkan dua anak manusia yang masih saja ribut soal pandangan mata Giana.

"Sayang, ayo kita harus bersiap untuk memeriksakan kandunganmu," kata Ello

Giana masih tampak cemberut setelah perlakuan Ello tadi, entah kenapa pria itu mendadak jadi super posesif, memandangi tubuh laki-laki lain saja tidak boleh.

"Kenapa kakak jadi menyebalkan sekali," gerutu Giana, " Aku sebel sama kakak."

"Giana, aku hanya tidak mau kamu terpana dengan tubuh Kairo," protes Ello, "Aku juga punya kan perut kotak-kotak seperti Kairo."

"Bukan masalah itu, masalahnya Kak Kairo muncuk dihadapan kita. Masa iya aku lantas buang muka? Tidak sopan itu namanya," balas Giana, "Lagian kakak sekarang terlalu kurus, perutnya jadi jelek."

"Setelah ini aku akan rajin olahraga dan membentuk tubuh, supaya kamu nggak lagi-lagi kagum sama tubuh pria lain," kata Ello sambil mengerucutkan bibirnya. Berat badan turun hampir 10 kilogram karena kehamilan simpatik yang dialami Ello memang membuat tubuh pria itu jadi terlihat kurus dan tidak berotot.

"Sekalian nanti perutku akan jadi 8 kotakan supaya kamu puas melihatnya," lanjut Ello

"Emang bisa ya?" tanya Giana agak bingung

.

.

.

Ello mengantarkan Giana ke klinik kandungan dengan ditemani Kairo dan dikawal Hover juga beberapa orang kepercayaan Ello yang lain. Sementara itu dirumah besar Ello seorang wanita tengah bertelepon dengan seseorang.

"Aku minta buatkan paket peluruh kandungan yang bisa dicampurkan ke minuman atau makanan wanita hamil,"

Ada jeda diam sejenak.

"Akan aku bayar berapapun setelah obatnya jadi, dan aku ingin dia tidak bisa hamil lagi."

Senyum seringai tergambar jelas diwajah wanita itu, kemudian dia mengakhiri teleponnya.

"Giana, lihat saja nanti kamu akan menangis dan Ello akan mengusirmu!" desis wanita itu, "Aku lebih pantas menjadi nyonya dirumah ini dibandingkan kamu! Lihat saja, kamu pasti akan hidup sengsara setelah ini."

Episodes
1 Menjadi Pelayan Cinta Tuan Ello
2 Pelayan khusus = Pelayan Ranjang
3 Wanita Malam ?
4 Mau Jadi Teman Tidurku?
5 Mafia sama dengan Security
6 Menyelamatkan Mirai
7 Kenapa Aku Tidur Disini?
8 Semalam Aku Tidur Dengan Siapa?
9 Menyingkirkan Giana
10 Apa Yang Mau Diperiksa?
11 Sebentar Lagi Kamu Akan Dicampakkan
12 Tidak Mau Merepotkan Kalian Semua
13 Bolehkah Aku Menjadi Ayah Bayi Kamu?
14 Dimana Dia
15 Merindukan Daddy
16 Aku Merindukan Kamu
17 Sudah Ketemu Pawangnya
18 Menjadi Delapan Kotakan
19 Kejutan Untuk Ello dan Giana
20 Mencari Cameron Miller
21 Bebek Taliban dan Ayam Berkutu
22 Kematian Dua Tikus Percobaan
23 Lakukan Saja Apa yang Akan Tuan Lakukan
24 Saatnya Menarik Perhatian Pria Kesayangan
25 Panggil Aku Sayang
26 Mati Aku!
27 Jebakan Panas
28 Keripik Kaca
29 Benarkah Yang Kakak Katakan Tadi?
30 Istirahat Total
31 Ello Turun Tangan, Kairo Ketar-Ketir
32 Meminta Bertemu Ello
33 Kepuasan Bersamamu
34 Jangan Sampai Giana Tahu
35 Sudah Kamu Siapkan Nama?
36 Malvin dan Garrel
37 Jangan Ragukan Apapun Tentangku
38 Wanita Kuat Untuk Ello
39 Menginginkan Giana
40 Kairo Pias, Ello Menang Banyak
41 Penyelesaian Termanis
42 Tatia Bersama Enishi
43 Bunga Pengantin
44 Saya Tidak Rela
45 Tugas Mengasuh Si Kembar
46 Bulan Madu Singkat
47 Aku Hanyalah Bawahan
48 Aku Akan Kembali Sebelum Kamu Menyadarinya
49 Sukses Menyerang
50 Berakhirnya Tatia
51 Kalian Harus Segera Menikah
52 Setelah Lima Tahun....
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Menjadi Pelayan Cinta Tuan Ello
2
Pelayan khusus = Pelayan Ranjang
3
Wanita Malam ?
4
Mau Jadi Teman Tidurku?
5
Mafia sama dengan Security
6
Menyelamatkan Mirai
7
Kenapa Aku Tidur Disini?
8
Semalam Aku Tidur Dengan Siapa?
9
Menyingkirkan Giana
10
Apa Yang Mau Diperiksa?
11
Sebentar Lagi Kamu Akan Dicampakkan
12
Tidak Mau Merepotkan Kalian Semua
13
Bolehkah Aku Menjadi Ayah Bayi Kamu?
14
Dimana Dia
15
Merindukan Daddy
16
Aku Merindukan Kamu
17
Sudah Ketemu Pawangnya
18
Menjadi Delapan Kotakan
19
Kejutan Untuk Ello dan Giana
20
Mencari Cameron Miller
21
Bebek Taliban dan Ayam Berkutu
22
Kematian Dua Tikus Percobaan
23
Lakukan Saja Apa yang Akan Tuan Lakukan
24
Saatnya Menarik Perhatian Pria Kesayangan
25
Panggil Aku Sayang
26
Mati Aku!
27
Jebakan Panas
28
Keripik Kaca
29
Benarkah Yang Kakak Katakan Tadi?
30
Istirahat Total
31
Ello Turun Tangan, Kairo Ketar-Ketir
32
Meminta Bertemu Ello
33
Kepuasan Bersamamu
34
Jangan Sampai Giana Tahu
35
Sudah Kamu Siapkan Nama?
36
Malvin dan Garrel
37
Jangan Ragukan Apapun Tentangku
38
Wanita Kuat Untuk Ello
39
Menginginkan Giana
40
Kairo Pias, Ello Menang Banyak
41
Penyelesaian Termanis
42
Tatia Bersama Enishi
43
Bunga Pengantin
44
Saya Tidak Rela
45
Tugas Mengasuh Si Kembar
46
Bulan Madu Singkat
47
Aku Hanyalah Bawahan
48
Aku Akan Kembali Sebelum Kamu Menyadarinya
49
Sukses Menyerang
50
Berakhirnya Tatia
51
Kalian Harus Segera Menikah
52
Setelah Lima Tahun....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!