Giana merasa terkejut dan tidak nyaman, karena ia tidak pernah berpikir bahwa tugasnya sebagai pelayan rumah tangga akan meliputi memuaskan keinginan cinta dari tuannya. Saat ia mengajukan lamaran kerja kemarin, hal tersebut tidak pernah dibahas atau dijanjikan sebelumnya.
"Dapatkah Tuan menjelaskan kepada saya apa yang Tuan maksudkan dengan pelayan ranjang?" tanya Giana dengan hati-hati.
"Sabarlah, kamu akan mengetahuinya sendiri nanti," balas Ello dengan suara yang penuh tekanan, membuat Giana merasa sedikit was-was.
Keduanya kemudian keluar dari kamar besar itu dan sampai di ruang makan yang dipenuhi dengan berbagai hidangan lezat. Ello duduk di salah satu kursi, sementara Giana berdiri di belakangnya dengan perasaan gelisah.
"Duduklah disebelahku!" perintah pria itu sambil menunjuk pada kursi kosong disebelahnya.
"Maaf, Tuan. Saya rasa tidak sopan jika saya duduk disebelah tuan, saya akan menunggu Tuan sampai selesai makan," balas Giana. Dia hanyalah seorang pelayan, kenapa juga lancang harus ikut duduk bersama Tuannya di kursi yang sama.
"Jadi kamu membantah perintahku !?" hardik Ello, "Kalau kamu bekerja padaku maka kamu harus mengikuti semua perintahku."
Giana tampak memandang kearah Jino, wanita itu kemudian memberikan kode agar Giana menuruti perintah tuannya.
Saat Giana duduk di samping pria tampan itu, dia merasa canggung karena sebenarnya dia hanya seorang pelayan, bukan nyonya di rumah itu. Meskipun sikap Ello lebih cenderung dingin dan galak, tetapi menurut Giana, Ello tetap terlihat tampan.
"Ambilkan aku makan secukupnya, tolong suapi aku. Aku masih harus mengurus beberapa pekerjaan melalui ponselku!" pinta Ello, kali ini dengan intonasi suara lebih rendah. Ello terlihat sangat fokus pada ponselnya, sehingga Giana merasa bingung tentang apa yang sebenarnya dilakukan Ello dengan ponselnya selama ini. Giana menganggukkan kepala untuk memenuhi permintaan Ello.
Giana melihat Ello tanpa sepatah kata pun saat dia menyuap makanan untuknya. Giana merasa seperti sedang menyuapi bayi besar yang harus disuapi oleh pengasuh. Setelah makan malam selesai, Ello berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kamarnya. Sebelum menaiki lift, dia membalikkan badannya dan mengingatkan Giana untuk makan terlebih dahulu.
"Makanlah dahulu, lalu susul aku kekamar!" perintah pria itu
Giana langsung mengikuti perintah Ello untuk makan terlebih dahulu, dan ia pergi ke dapur untuk makan makanan yang disediakan untuk pelayan. Dia terburu-buru makan karena takut membuat Ello marah jika terlalu lama. Giana baru beberapa jam bekerja di rumah itu dan masih perlu mempelajari sifat Ello, yang kadang-kadang tegas, dan kadang-kadang lembut.
Setelah setengah jam, Giana kembali ke kamar Ello. Tampak Ello masih asyik dengan ponselnya, dan Giana tidak tahu apa yang sedang dilakukannya dengan ponsel tersebut.
"Kamu bisa memijat kan!? Tolong pijat kakiku!" perintah Ello
"Iya, Tuan. Saya bisa memijat, tapi maaf jika tenaga saya kurang kuat," balas Giana yang langsung memberikan pijitan pada kaki Ello yang dipenuhi dengan bulu-bulu halus, terdapat gambar tato geometrik salah satu tokoh dewa Yunani disana, sehingga kaki putih Ello tampak terlihat maskulin jika tato itu nampak.
Ello kemudian memandang Giana, "Kamu tidak tahu siapa Mommy Bonita? Padahal aku membayar kamu dengan harga yang mahal untuk dia. Dia terkenal di antara para wanita malam."
"Saya tidak kenal dengan wanita itu, Tuan. Bahkan baru mendengarnya juga dari Tuan. Lagi pula apa bedanya wanita pagi, siang, sore dan malam? Bukankah sama saja?"
Ello menjawab, "Ya, Mommy Bonita adalah seorang mucikari yang biasanya mencarikan perempuan untuk menjadi penghibur atau teman tidur bagi para pria."
Giana terkejut dan bertanya dengan polos, "Benarkah ada pekerjaan seperti itu, Tuan?" Giana tidak tahu tentang dunia gelap itu, karena dia hanya fokus pada belajar dan menyelesaikan sekolah agar tidak membebani ayahnya yang hanya seorang penjual rokok di kedai kecil.
Ello akhirnya memperhatikan Giana dan terkejut dengan ketidaktahuan Giana tentang Mommy Bonita. Ello kemudian kembali ke ponselnya untuk menghubungi Mommy Bonita dan bertanya tentang Giana.
"Selamat malam, Mommy Bonita. Saya ingin tahu, siapa yang memberikan Giana kepadamu?" tanya Ello
Suara wanita yang lembut dan mendayu di sana menjawab, "Dia adalah salah satu dari anak buahku juga." Ello sengaja menyalakan loud speaker pada ponselnya untuk mendengar percakapan itu. Wanita tersebut bertanya dengan nada seksi, "Apakah dia tidak memuaskanmu, handsome?"
Ello menjawab,"Aku bahkan belum mencobanya, aku hanya ingin tahu dari siapa gadis polos ini berasal?"
Wanita tersebut menjawab, "Namanya Cameron Miller."
"It-itu ibuku," kata Giana seketika
Ello tidak percaya dengan apa yang ia dengar, dia terkejut mengetahui bahwa Giana sungguh dijual oleh ibunya sendiri untuk menjadi seorang pelayan. "Benarkah itu ibumu, ibu kandungmu?" tanya Ello dengan mata melotot.
"Iya, benar Tuan. Ibuku sudah berpisah dengan ayahku ketika aku masih berusia 10 tahun. Sejak itu, aku tidak pernah bertemu dengannya," jawab Giana dengan wajah sedih.
Elo kemudian mematikan sambungan telepon dengan wanita bernama Mommy Bonita.
Ello terdiam sejenak sambil mengusap wajahnya yang kasar. Dia memandangi Giana dengan tatapan kosong, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ello memang terkenal suka berganti pasangan untuk menemani tidurnya di malam hari, tetapi dia tidak pernah membayangkan kalau gadis yang dipesannya dari Bonita, masih virgin, ternyata dijual oleh ibunya sendiri. Meski sebejat-bejatnya Ello, dia tidak bisa membayangkan seorang ibu yang tega menjual anak gadisnya.
Ello memutuskan percakapan dengan Giana dan memerintahkan dia untuk tidur. "Tidurlah, sudah malam. Besok pagi, siapkan semua yang aku butuhkan!" perintah Ello kepada Giana dengan nada tegas.
Giana meninggalkan kamar Ello dan mengangguk setuju dengan perintahnya. Dia menuju kamarnya dan segera berganti dengan pakaian yang lebih longgar untuk bisa lebih nyaman bergerak. Dia takut jika terlalu banyak bergerak dengan pakaian ketat yang ia kenakan sebelumnya akan membuat bajunya robek.
Sementara itu, Ello kembali meraih ponselnya dan menelepon seseorang.
Ello mengirimkan perintah melalui telepon, "Cari tahu tentang keluarga Giana Liam, pelayan baruku! Aku ingin mengetahui latar belakangnya. Besok pagi, informasi yang kau cari harus sudah ada di atas meja kerjaku!" Suaranya berbicara dengan nada tegas dan memerintah seperti biasa.
Esok harinya, sebelum Ello bangun, Giana masuk ke kamar Ello dengan langkah pelan dan menyiapkan segala keperluan Ello. Karena hari masih pagi, Giana hanya mengenakan pakaian santai berupa celana pendek dan kaos tanpa lengan.
Ello terbangun karena Giana membuka gorden di kamarnya. Dia melihat Giana dengan tatapan tajam dan menilai keindahan wanita itu. Dia terkesan dengan kepolosan Giana yang terlihat cantik meskipun tanpa riasan apapun.
Ello masih terlihat mengantuk dan bertanya pada Giana, "Jam berapa?" dengan suara yang masih serak karena baru bangun tidur.
Giana menjawab dengan ramah, "Jam enam, Tuan Ello."
Ello kemudian bertanya apakah air untuk mandinya sudah siap. "Sudah siap, Tuan," jawab Giana dengan sopan. Dia juga menambahkan bahwa pakaian kerja Ello sudah disiapkan dan berharap pakaian itu akan disukainya.
Ello kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Sementara itu, Giana meninggalkan kamar untuk mengambil sarapan pagi untuk Ello, yang terdiri dari susu cokelat dan irisan buah apel dan pir.
Giana membawa nampan sarapan pagi Ello ke dalam kamarnya. Ello terlihat sudah mandi dan mengenakan pakaian rapi, tetapi dia belum mengenakan dasinya.
"Tolong pasangkan dasiku, bisa?" Ello meminta bantuan pada Giana.
"Tentu saja, Tuan," balas Giana.
Giana memasangkan dasi pada leher Ello. Karena tinggi Ello yang sangat menjulang, Giana pun harus berdiri di atas jari-jarinya kakinya alias menjinjit untuk bisa menyesuaikan dasi tersebut sehingga rapi di leher Ello.
Ello memberi peringatan pada Giana sebelum meninggalkan rumah, "Jangan kemana-mana selama aku pergi, tetap di rumah bersama dengan Bibi Jino!"
Giana menjawab dengan sopan, "Baik, Tuan."
Kemudian, Ello dan Giana meninggalkan kamar menuju halaman rumah, dimana mobil telah disiapkan oleh pelayan lain. Giana membawa tas kerja Ello dan menyerahkan kepadanya saat ia akan masuk ke dalam mobil.
Ello memanggil kepala asisten rumah, Jino, dan meminta agar Giana diberikan pakaian lain yang sesuai dengan gaya hidupnya sebagai penghuni rumah tersebut. Jika perlu, pakaian tersebut bisa dibeli di mall atau butik. Ello tidak ingin Giana tetap menggunakan pakaian pelayan, yang biasanya dipakai oleh karyawan lain di rumah tersebut. Jino menyanggupi permintaan Ello.
Namun, Giana merasa tidak mengerti dengan permintaan Ello. Dia kemudian bertanya pada Jino mengenai maksud permintaan tuannya setelah Ello pergi dari ruangan tersebut. Jino menjelaskan bahwa Ello tidak ingin Giana terlihat seperti pelayan, namun memakai pakaian yang lebih sopan dan sesuai dengan kegiatan yang dilakukan.
"Kenapa Tuan meminta begitu, Bi?" tanya Giana bingung.
"Ya, Tuan tidak ingin kamu dianggap sebagai seorang pelayan. Tuan menginginkan kamu terlihat lebih baik," jelas Jino.
"Kalau begitu, tidak perlu membeli kan, Bi? Aku punya beberapa pakaian yang pantas untuk dipakai di rumah ini," ujar Giana.
Jino tersenyum, "aku pastikan akan mengkomunikasikan hal ini dengan Tuan. Tapi pasti akan lebih baik jika kamu bisa menampilkan sisi terbaik dari dirimu, Giana."
"Kamu turuti saja permintaan Tuan kali ini, mandi dan bersiaplah. Aku antar kamu ke butik langganan, disana banyak pakaian-pakaian untuk seusiamu, semoga Tuan Ello senang," lanjut Jino
Setelah Ello memerintahkan Jino untuk memberikan Giana pakaian baru, Giana hanya mengangguk patuh. Namun, dalam pikirannya, dia bertanya-tanya dengan uang apa dia akan membeli pakaian tersebut. Mungkinkah gaji dia akan dipotong? Sebenarnya, dia tidak membutuhkan pakaian baru. Giana lebih memilih menghemat gajinya untuk menabung untuk kuliah kelak.
Sementara itu, Ello sudah masuk ke dalam gedung pencakar langit tempat dia bekerja sebagai CEO dari berbagai jenis bidang usaha, seperti eksport dan import barang. Ketika dia sampai di ruang kerjanya, dia melihat seorang pria sudah menunggunya sejak beberapa saat yang lalu.
"Sudahkah kamu mendapatkan apa yang aku minta semalam, Kai?" tanya Ello
"Sudah, Tuan. Semua ada di map yang saya letakkan di meja anda." Kai atau Kairo menjawab bahwa semua yang diminta oleh Ello semalam sudah tersedia dan disimpan dalam sebuah map yang dia letakkan di atas meja Ello. Kairo sendiri merupakan asisten Ello yang sudah bekerja bersamanya selama beberapa waktu dan hampir sebaya dengan Ello.
Ello duduk di kursi kerjanya sambil menatap map hitam yang terletak di meja. "Apakah hari ini Hover mau bicara?" tanyanya pada Kai yang berdiri di depannya.
Kai menggelengkan kepalanya, "Belum. Hover masih belum bersedia untuk berbicara. Dia hanya terus mengirimkan barang ke tempat yang tidak diketahui."
"Tapi kita harus mencari tahu di mana dia berada dan apa yang sedang direncanakannya," balas Ello dengan serius.
Kai mengangguk, "Saya setuju. Tapi bagaimana caranya?"
Ello berpikir sejenak, lalu berkata tegas,"Kalau begitu ambil adiknya, dan bawa ke markas. Pasti Hover akan mau berbicara jika nyawa adiknya menjadi taruhannya!"
"Siap!" balas Kai yang kemudian berpamitan keluar dari ruangan Ello.
Ello membuka map hitam yang dipegangnya dan memeriksa isinya dengan cermat. Setelah beberapa saat membaca, dia tersenyum lebar dan menutup map itu dengan hati-hati.
"Akhirnya aku menemukannya," gumam Ello dengan gembira, wajahnya terlihat berbinar.
Dia merasa senang karena orang yang selama ini dicarinya akhirnya ditemukan. Ello merasa seperti mendapat hadiah besar setelah melakukan pencarian yang panjang dan sulit selama ini.
"Tidak sia-sia telah berjuang selama ini," pikirnya dengan senyum bahagia masih terlihat di wajahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
INDRI
ada rahasia apa ya,kenapa ello. senang banget
2024-02-22
2