Ello, Kairo dan Hover tidak pernah berhenti melakukan pencarian Giana di seluruh penjuru negara Noreland, namun hasilnya tetap nihil. Sudah hampir lima bulan lamanya Ello selalu mencari Giana, selama itu pula tubuhnya berkali-kali lemas karena mual dan muntah yang dia alami. Tubuhnya jadi lebih kurus karena berat badannya turun hampir 10 kilogram.
"Mom, aku harus mencari Giana kemana lagi?" tanya Ello pagi itu melalui video call. Pria itu terlihat kusut dan tidak terlihat garang lagi.
"Kamu kenapa akhirnya harus mencari dia, El?" tanya Raline, "Kalau kalian berjodoh pasti kalian akan bertemu. Dan kenapa juga kamu kusut sekali, anak Mommy jadi hilang ketampanannya kalau begini."
"Aku mual muntah terus, Mom. Aku takut Giana sedang hamil anakku," jawab Ello
"Hah! Apa kamu bilang?!" teriak Raline, "Giana hamil anak kamu, artinya Giana hamil cucu Daddy dan Mommy!?"
"Iya, Mom. Sebelum dia pergi meninggalkan rumah, aku menidurinya, dan aku nggak pakai pengaman," balas Ello, "Kata Eril aku mengalami kehamilan simpatik, Giana yang hamil aku yang ngidam."
"Rasain! Itu karma karena kamu sudah memperlakukan Giana dengan baik. Artinya kehamilan Giana sehat-sehat saja, dan semoga anak kamu sehat juga," kata Raline, "Cari sampai ketemu. Pokoknya Mommy gak mau tahu, apalagi kalau Giana sedang hamil. Bagaimana hidupnya sekarang? Siapa yang mengurusnya?"
"Aku sudah mencarinya, bahkan aku juga sampai memberitahu orangtuanya, Paman Anthony juga membantu mencarinya. Sekarang Paman Anthony sudah tidak jualan rokok lagi, dia membantuku mengurus club malam," balas Ello
"Ayahnya Giana itu bukan Anthony Liam, Richardo Liam dan Yurico Moon Lee. Kemana orang tua Giana?" tanya Raline.
"Paman bilang, kedua orang tua Giana meninggal dalam sebuah kecelakaan, dan sampai sekarang tidak dilanjutkan penyelidikannya. Kasus ditutup karena dianggap mobil yang membawa mereka berdua murni rusak," jawab Ello, "Tapi aku tidak percaya, Mom. Paman Richardo dan Bibi Yurico saat meninggal itu tengah menyelesaikan kasus pencucian uang menteri keuangan Galeto Ward. Dan setelah mereka meninggal, kasus juga hilang. Aku akan menyelidiki itu nanti setelah Giana ditemukan."
"Lakukan apapun untuk Giana, El. Dia itu sudah seperti anak Mommy juga," kata Raline
"Oke, Mom. Doakan aku bisa menemukan Giana segera," balas Ello
"Kamu sudah mencarinya kemana saja?" tanya Raline
"Sudah keseluruh penjuru negara ini, Mom," jawab Ello
"Sudah kamu cari ke luar negeri?" tanya Raline, "Bisa saja Giana ke China, ditempat dimana ibunya berasal, atau ke negara manapun."
Ello terdiam, memikirkan sejenak perkataan Mommynya, tapi dia merasa mana mungkin Giana pergi sampai keluar dari Noreland, uang saja dia tidak punya.
Ello menghela nafas dalam-dalam, mencoba mencari jalan keluar dari situasi sulit yang sedang dihadapinya. Sebagai seorang Pria sejati, Ello merasa ia harus bertanggung jawab atas kepergian Giana, karena dialah yang menyebabkan Giana pergi dari rumah dan belum ditemukan hingga sekarang.
"Mana mungkin, Mom. Waktu pergi dia tidak membawa apapun, bahkan kartu ATM dan Black card dia tinggalkan," jawab Ello
"Semua mungkin saja terjadi, El. Mungkin ada teman yang membantu Giana," kata Raline
Ello terdiam setelah mengakhiri pembicaraan dengan Mommynya. Segera dia memanggil Kairo untuk masuk ke ruangannya. Ello merasa sangat sedih dan frustasi, ia merindukan Giana dan tidak tahu bagaimana caranya untuk menemukannya.
"Kita perluas pencarian, ke luar negeri!" perintah Ello
"Apa mungkin nona ke luar negeri?" tanya Kairo
"Kata Mommy, mungkin saja ada teman dia yang membantu dia pergi hingga luar negeri. Cari disemua data manifestasi penerbangan setelah dia pergi," jawab Ello
"Siap, Tuan!" kata Kairo, "Negara mana saja yang kira-kira dituju Nona Giana?"
"Kemungkinan China dulu. Asal ibunya dari sana, mungkin dia masih punya kerabat disana," balas Ello
Kairo hanya menganggukkan kepala, "Sementara akan saya cari ke wilayah dekat sini dulu, Inggris dan sekitarnya."
Ello tampak terdiam, pikirannya kacau kemana-mana memikirkan Giana. Bahkan beberapa pekerjaannya sampai terbengkelai, untung saja Kairo dan Bianca, sekretaris Ello yang selalu membantu Ello.
"Tuan, kalau Nona Giana ditemukan? Apa yang akan anda lakukan?" tanya Ello
"Tentu saja mengurungnya, dan akan aku nikahi supaya dia tidak kabur-kaburan!" jawab Ello sambil cemberut, "Aku tidak menyangka, aku bisa jatuh cinta pada wanita kecil itu."
Kairo terkekeh geli, "Kalau perlu kurung saja terus didalam kamar," kata Kairo.
"Siapa yang mau dikurung dikamar?" tanya Bianca yang baru saja masuk ke ruangan Ello sambil membawa map.
"Kamu, kalau kamu mau akan aku kurung dikamar semalam suntuk," jawab Kairo sambil tertawa, tentu saja Bianca langsung melotot jengkel pada Kairo.
"Sebelum kamu mengurungku, maka terlebih dahulu aku potong burungmu!" ancam Bianca
"Ya ampun, tega amat, Bi! Kamu kenapa nggak bisa lembut sedikit jadi wanita," kata Kairo sambil menutupi bagian intinya, mendadak merinding mendengar ucapan sekretaris Ello yang memang galak itu, pantaslah kalau Ello pun tunduk pada sang sekretaris karena dia memang memiliki dedikasi kerja tinggi, satu-satunya wanita yang berani memarahi Ello selain Raline, mommynya sendiri.
"Tuan! Tanda tangan!" seru Bianca sambil meletakkan map itu dimeja Ello, "Awas kalau salah tanda tangan seperti kemarin!"
Ello tentu saja hanya menganggukkan kepala lemah, "Jangan galak-galak jadi perempuan. Mana ada lelaki yang mau sama kamu. Bi, bisa minta tolong?" tanya Ello
"Apa?"
"Buatkan aku teh jahe, buatanmu, bukan buatan petugas pantry!" seru Ello
"Oh, tentu saja bisa, nanti kalau nggak diturutin anaknya ileran," kata Bianca sambil keluar dari ruang kerja Ello.
"Apa hubungannya teh jahe sama anakku ileran?" tanya Ello
"Entahlah, Bianca percaya sebuah mitos. Jika seorang wanita hamil menginginkan sesuatu, dan tidak keturutan, anaknya kalau lahir akan ileran," jawab Kairo, "Dan karena yang ngidam anda, jadi semua permintaan anda harus dituruti. Ingat, dua hari yang lalu anda ingin sekali makanan Indonesia yang disebut empek-empek. Saya mencarinya sampai ke restoran-restoran Indonesia yang ada disini, untungnya ada yang bisa membuatkan dan bersedia."
"Konsep dari mana itu!?" Ello cukup terkejut, "Dan empek-empek menurutku aneh rasanya, kuahnya manis asem pedas. Dilidahku jadi berasa aneh."
"Permintaan anda terlalu aneh-aneh. Nggak susu coklat saja?" tanya Kairo sambil fokus memandangi laptopnya, rupanya pria tampan itu tengah mencari data penerbangan di negara Noreland pada saat Giana pergi.
"Aku tidak suka," jawab Ello sambil membuka beberapa map kemudian memberikan tanda tangan disana, "Entahlah. Aku hanya ingin susu cokelat buatan Giana."
Kairo mengernyitkan keningnya, "Susu coklat buatan Giana? Apa maksudmu? Semua susu cokelat rasanya sama saja, Tuan?"
Ello menghela napas. "Giana suka membuatkan aku susu coklat. Rasanya selalu sempurna, tidak seperti susu coklat biasanya."
"Ah, sudahlah terserah, kalau sudah bucin ya bucin aja," gerutu Kairo sambil terus melakukan pencarian.
Ello sendiri melanjutkan kesibukannya menandatangani beberapa dokumen penting.
"Dapat!" teriak Kairo membuat Ello terkejut.
"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Ello sambil mengusap dadanya.
"Giana Mareta Liam, melakukan penerbangan keluar negeri setelah 1 hari pergi dari rumah," jawab Kairo, "Mommy anda benar kalau ternyata Giana ke luar negeri."
"Kemana dia?" tanya Ello
"Indonesia," jawab Kairo
"Siapkan penerbangan! Kita jemput dia!" seru Ello dengan wajah berbinar.
Kairo mengangguk, "Baik, saya akan segera mempersiapkan jadwal penerbangan. Tapi Tuan harus tenang dan berpikir secara rasional. Mungkin Nona Giana memiliki alasan untuk pergi ke Indonesia tanpa memberi tahu anda."
Ello merenung sejenak, menyadari kalimat Kairo memiliki benar. "Kamu benar, Kairo. Aku harus tetap tenang dan mencoba memahami situasinya terlebih dahulu."
Ello sudah terlanjur berbunga hatinya, akhirnya setelah lima bulan pencarian, semua berbuah manis.
"Aku akan menjemputmu, sayang," desis Ello, "Dan kali ini kamu tidak akan bisa lagi pergi dari aku."
.
.
.
Giana tampak tengah mengetik dengan tenang di taman kota, letaknya tidak terlalu jauh dari apartement sederhana yang dia tinggali selama ini. Perutnya sudah semakin membesar, kehamilan lima bulan seperti hamil tujuh bulan. Untuk berjalan pun, wanita itu kadang seperti kepayahan.
Tetapi Giana berusaha untuk mandiri, dia hidup di Indonesia sendirian, karena kebaikan Alan dan keluarganya. Dia bisa meneruskan kuliah kedokterannya kembali. Giana berencana mengambil cuti setelah kehamilannya berumur 7 bulan.
Giana merasakan gerakan kedua anaknya didalam perut, wanita itu tersenyum lalu mengusap lembut perutnya.
"Kalian kenapa? Mommy ada disini sama kalian," kata Giana
Gerakan menendang-nendang diperut Giana semakin terasa kencang, membuat Giana merasa sedikit tidak nyaman. Tidak biasanya kedua janin dalam kandungannya bergerak seaktif ini.
"Mereka pasti merindukan Daddynya," sebuah suara mengejutkan Giana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments