Alan tampak berdiri dibelakang Giana sambil membawakan segelas jus jeruk.
"Kamu pasti haus, sedari tadi duduk sendirian di sini. Aku cari-cari ternyata disini," kata Alan sambil memberikan gelas jeruk itu pada Giana.
"Terima kasih." Giana menerima gelas itu dna meminum jus jeruk itu.
"Usia kandunganmu sudah 5 bulan, kamu benar-benar tidak mau menemui pria itu?" tanya Alan, "Siapa tahu dia benar-benar berharap kamu kembali."
"Aku belum ingin menemuinya, sudah biar saja aku menanggungnya sendiri," jawab Giana
"Gi, tapi anak sejak dalam kandungan juga butuh ayahnya. Kamu bisa merasakan sendiri tendangan-tendangan mereka didalam perut, mereka merindukan ayahnya," kata Alan.
"Aku tidak punya keberanian untuk menemuinya, takut jika aku memanfaatkan situasi ini. Aku takut dia mengira aku mencari kesempatan menjadi istrinya dan menjadi nyonya dirumah dia, karena aku hamil anaknya," balas Giana
"Tapi dia harus bertanggung jawab, bagaimanapun dia ayah kandung dari anak-anak kamu," kata Alan.
"Jangan memaksaku, Lan. Aku sampai saat ini belum punya keinginan untuk menemui Kak Ello," balas Giana
"Ya, sudah. Aku paham soal itu, tapi lain kali kalau pergi-pergi pamit, Lucia menitipkan kamu pada keluargaku, terutama aku. Tentu saat ini aku yang bertanggung jawab menjaga kamu," kata Alan.
Giana mengangguk, "Terima kasih, Lan. Kamu selalu datang pada saat yang tepat dan memberiku semangat."
"Mungkin saja kalian berdua bisa memperbaiki hubungan kalian setelah kehadiran bayi-bayi ini," kata Alan.
Giana tersenyum datar, "Aku tidak ingin berharap akan sesuatu yang tidak mungkin. Bahkan mungkin Kak Ello tidak berharap memiliki anak dari aku."
"Janganlah begitu, Gi. Kau tahu, bahwa aku selalu di sisi mu tak peduli apapun yang terjadi,"kata Alan, "Kalau aku diminta menikahimu pun aku mau, demi anak-anak kamu. Tapi aku tahu, kamu sebenarnya masih menyayangi pria itu kan!?"
Giana terkejut dengan ucapan Alan, "Apa?"
"Iya, Gi. Aku tahu kamu tidak hanya mencintai anak-anak yang kamu kandung, tapi juga ayah dari anak-anakmu. Kau masih menyimpan perasaan untuknya, dan aku menghormati perasaanmu itu," kata Alan dengan tegas.
Giana terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Ia tahu Alan telah melangkah terlalu jauh, seperti melempar batu kedalam kolam yang tenang.
"Lan, aku--" Giana mencoba berkata sesuatu, tapi Alan langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
"Jangan berkata apa-apa. Biarkan saja aku menjadi temanmu yang mendukungmu," kata Alan sambil melepaskan tangannya dari wajah Giana.
Giana merasa senang dan terharu dengan keberadaan Alan. Ia merasa bahwa hubungan mereka yang selama ini hanya teman biasa, kini sudah menjadi lebih dalam.
"Besok jadwalmu periksa kandungan, aku akan mengantarmu," kata Alan.
"Iya, terima kasih. Kamu sampai dikira suamiku," balas Giana
"Tidak apa, baru dikira, siapa tahu suatu saat jadi ayah betulan untuk anak-anak kamu," lata Alan sambil terkekeh, "Bercanda, Gi! Di hati kamu tetap saja adanya Kak Ello, kan!?"
Giana merasa ragu. "Aku tidak tahu, Lan. Mungkin aku masih menyimpan perasaan untuknya, tapi aku tidak tahu bagaimana perasaannya terhadapku."
Alan mengangguk paham. "Aku mengerti, Gi. Tapi kamu harus tahu bahwa kamu layak mendapatkan seseorang yang mencintaimu dan menghargaimu sepenuh hati. Kamu harus melindungi hatimu dan tidak membiarkan siapapun melukai perasaanmu lagi."
Giana tersenyum. "Terima kasih, Lan. Kamu selalu memberikan semangat padaku."
"Hanya ingin menjaga teman baikku senyaman mungkin," kata Alan sambil tersenyum.
Malam itu, Giana pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ia merasa bahagia karena memiliki teman yang setia seperti Alan, tapi juga sedih karena masih merasa ragu-ragu tentang perasaannya terhadap Ello.
Pagi harinya, Alan sudah menjemput Giana untuk melakukan pemeriksaan kehamilan pada dokter Kandu. Kondisi janin di kandungan Giana sehat, dan ternyata keduanya berjenis kelamin laki-laki.
"Akhirnya, kamu bakal punya dua jagoan yang akan menjaga Mommynya kelak," kata Alan.
Giana tersenyum senang. "Iya, aku sangat bersyukur bahwa semuanya baik-baik saja."
"Aku juga senang, Gi. Aku bahkan sudah menyiapkan beberapa hadiah untuk kedua si kecil," kata Alan sambil tersenyum lebar.
Giana merasa terharu dengan kebaikan Alan. Ia merasa bahwa Alan adalah orang yang selalu ada untuknya, bahkan ketika Ello sendiri tidak ada.
Di sebuah bandara Internasional, Ello tiba di Indonesia menggunakan pesawat pribadinya bersama Kairo dan Hover. Ello tidak membawa beberapa anak buahnya kali ini. Cukup bersama Kairo dan Hover, karena tujuannya adalah untuk menjemput Giana kali ini. Dia benar-benar berharap segera menemukan Giana dan membawanya pulang ke Noreland.
"Kemana kita akan mencarinya?" tanya Ello, "Negara ini luas."
"Saya sudah mendapatkan data Nona Giana, dimana dia berkuliah dan tinggal dimana. Tinggal Tuan siap tidak untuk menemuinya," jawab Kairo
Ello tampak terdiam, dalam pikirannya tentu ada rasa takut. Takut jika Giana menolak untuk bertemu dengan dirinya, mengingat perbuatannya dulu begitu membuat Giana trauma pastinya.
"Siap tidak siap, aku harus menemuinya, apalagi kalau benar dia sedang hamil. Dia butuh aku," kata Ello, "Aku harusnya ada dan menjaganya sejak dari awal kehamilannya."
"Ya, menurut informasi juga Nona Giana tengah hamil 5 bulan," balas Kairo
"Astaga! Lima bulan!" seru Ello, "Itu artinya 4 bulan lagi aku akan menjadi seorang ayah!?"
"Benar, Tuan. Pasti suasana rumah akan ramai karena tangisan anak anda," kata Hover, "Sudah lama rumah itu tidak ada tangisan bayi."
"Kapan aku bisa menemui Giana?" tanya Ello akhirnya, pria itu tidak sabar ingin segera menemui Giana dan meminta maaf, lalu membawa pulang Giana ke Noreland dan menjadikan wanita cantik itu istrinya, satu-satunya wanita yang akan menjadi nyonya di rumah besarnya, dia akan menyematkan nama Giana Abraham pada wanita itu.
Siang itu Giana kembali duduk ditaman kota, yang memang dekat dengan apartement tempat dia tinggal. Memperhatikan orang-orang yang tengah bermain disana, kebanyakan para orang tua yang tengah mengajak anak-anak mereka bermain, atau sekedar jalan-jalan sambil menyuapi anak mereka makan.
"Andai saja ada Kak Ello. Pasti dia akan menemaniku jalan-jalan seperti ini," kata Giana dalam hati, "Tapi, sepertinya Kak Ello tidak akan menerima bayi-bayi ini. Aku kan hanya pelayan cinta Kak Ello, mimpi apa kalau aku bisa jadi istrinya."
Ketika sedang merenung, Giana tiba-tiba duduk berhadapan dengan seorang wanita tua yang berada di dekatnya. Wanita itu tersenyum ramah dan menatap Giana dengan lembut.
"Apa yang lagi dipikirkan, Nak?" tanya wanita tua itu, "Sepertinya kamu sedih."
Giana menatap wanita tersebut dengan sedih. "Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya sedang berpikir tentang kehidupan saya yang tidak pasti."
Wanita tua itu tersenyum penuh perhatian. "Kalau begitu, apa yang membuat kamu merasa tidak pasti?"
Giana mendesah panjang dan mulai berbicara tentang Ello dan bayi yang sedang dikandungnya. Ia merasa sedih dan khawatir tentang masa depannya, apakah Ello akan menerimanya dan anak-anak mereka atau tidak.
Wanita tua tersebut mendengarkan dengan penuh perhatian dan kemudian berkata, "Cinta adalah hal yang rumit, Nak. Tapi, keyakinan dan kepercayaan akan membawamu ke tempat yang tepat."
Giana merasa perkataan wanita itu ada benarnya. Ia merasa lebih percaya diri dan yakin bahwa ia bisa menghadapi masa depannya dengan baik, meskipun keadaan tidak pasti.
"Terima kasih, Bu. Anda benar-benar memberi saya harapan dan kekuatan," kata Giana.
Wanita tua itu kembali tersenyum ramah dan berkata, "Selalu ingat bahwa kebahagiaan dan cinta yang sejati akan selalu menemukan jalan. Ingatlah kamu akan menjadi ibu dari dua bayi tampanmu kelak. Jadilah ibu yang kuat untuk anak-anakmu."
Giana merasa terharu mendengar perkataan wanita tua itu. Ia mulai merenungkan kembali tentang masa depannya dan siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai kebahagiaan dan cinta yang sejati dalam hidupnya.
Wanita itu lalu meninggalkan Giana, karena dia ternyata sedang mengasuh cucunya yang sedang bermain di taman itu.
Giana kembali duduk sendirian. Alan tidak menyusulnya karena pria itu tengah sibuk dengan pekerjaan sampingannya. Selain kuliah, Alan juga memiliki usaha cafe.
Tiba-tiba perutnya kembali bergerak, bayi-bayi diperut Giana rupanya mulai aktif menendang-nendang lagi. Giana meraba perutnya.
"Sabar ya, Nak, kalian suatu saat pasti akan bertemu dengan Daddy kalian," kata Giana.
Sambil duduk di taman, Giana merenung tentang masa depannya. Dia tahu bahwa sebagai ibu tunggal, dia harus siap menghadapi tantangan besar. Namun, dia merasa lebih kuat dan percaya diri dengan keputusannya untuk mempertahankan kehamilan ini.
Sementara Giana merenung, dia melihat sekelompok anak-anak berlari memasuki taman. Mereka terlihat sangat senang dan tertawa bahagia.
"Ya Tuhan, sudah dong main bolanya, Mommynya jadi sakit pinggang, sayang," kata Giana sambil sesekali meringis, merasakan pinggangnya yang sakit seiring bertambahnya usia kandungannya.
"Mungkin mereka memang rindu pada Daddynya." Tiba-tiba seorang pria duduk di sebelah Giana, lalu mengusap lembut perur wanita cantik itu, dan seketika bayi-bayi dalam perut Giana tenang. Pria itu tersenyum, sementara Giana terdiam, tidak tahu harus bahagia atau sedih.
"Giana, aku merindukan kamu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments