Mereka bersama-sama pergi ke klinik kehamilan terdekat dan melakukan pemeriksaan dengan dokter spesialis. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kesehatan Giana dalam kondisi yang baik dan bayinya tumbuh sehat tanpa ada masalah. Ello dan Giana merasa sangat lega dan bahagia setelah mendengar kabar tersebut. Dokter Stefani ternyata merupakan teman sekolah Ello, satu tahun dibawah Ello. Wanita itu tentu saja terkejut ketika melihat laki-laki yang datang menemani Giana adalah Ello.
"Lama tidak bertemu, tahu-tahu sudah ada aja wanita yang kamu bikin melendung perutnya," seloroh Stefani.
"Karena dia juga aku jadi tersiksa," balas Ello
"Apa yang membuatmu tersiksa?" tanya Stefani, dokter cantik itu memandang Ello memang terlihat kurus.
"Aku yang ngidam," jawab Ello, dan seketika Stefani tertawa terbahak-bahak.
"Baguslah, jadi kamu bisa merasakan bagaimana susahnya jadi Wanita hamil itu bagaimana, nggak hanya bisanya membuat wanita melendung perutnya saja," kata Stefani disela-sela tawanya.
Ello hanya melotot pada teman lamanya itu sambil cemberut.
"Jadi, sepertinya Giana hanya butuh vitamin, dan obat mual muntahnya buat kamu saja," lanjut Stefani.
"Aku sudah tidak mual muntah lagi," balas Ello
"Oke, kalau begitu, kamu hanya perlu membentuk tubuhmu lagi. Tapi awas saja kalau kamu membentuk tubuh hanya untuk memikat wanita lagi," ancam Stefani. Dokter itu tahu bagaimana kelakuan kakak kelasnya sejak SMA, pendiam dan misterius, tetapi doyan main wanita. Stefani bahkan dulu nyaris menjadi salah satu korbannya, hanya karena dia terpikat dengan ketampanan dan liatnya tubuh pria itu. Apalagi pria-pria berwajah blasteran Asia Eropa seperti Ello banyak digandrungi kaum wanita. Rambut hitam legam, mata cokelat kebiruan, kulit putih, tinggi dan hidungnya yang mancung, wanita mana tidak terpikat dengan pria seperti Ello.
"Lalu bagaimana kondisi si kembar saat ini?" tanya Ello yang tentu saja penasaran dengan si kembar, ini juga merupakan kali pertama dia menemani Giana memeriksakan kehamilannya.
"Si kembar sehat, ini sudah memasuki usia 6 bulan. Rajin-rajinlah kamu memijit pinggang Giana, pasti akan sering sakit pinggang karena ada dua bayi didalamnya, jangan terlalu banyak melakukan aktivitas seks dahulu," jawab Stefani.
Seketika wajah Giana bersemu merah mendengarnya, jangankan memikirkan urusan ranjang, memikirkan bagaimana Ello akan menidurinya saja tidak ada dalam benaknya, sementara Ello hanya senyum-senyum tidak jelas.
"Kamu menyuruhku untuk puasa sampai kapan?" tanya Ello
"Bukan aku suruh puasa, El. Memangnya kamu nggak kangen nengok anak-anak kamu!" seru Stefani, "Hanya dibatasi supaya tidak membahayakan kandungan. Bayi kembar kalau sampai lahir belum cukup bulan itu bahaya, sekarang saja bobot badan mereka baru sekitar 800 gram-an.
Ello hanya menganggukkan kepala tanda mengerti, akhirnya keduanya berpamitan setelah selesai dilakukan pemeriksaan, kemudian mereka menunggu vitamin yang diresepkan Stefani di apotek. Perjalanan pulang ke rumah terasa sedikit lama karena macet, dan Giana tampak mulai mengantuk, sebentar kemudian tertidur dengan kepala bersandar di sandaran mobil. Ello yang melihat itu tampak tersenyum, kemudian menarik Giana dalam pelukannya supaya lebih nyaman tidurnya.
"Tuan, kita langsung pulang?" tanya Hover yang tengah menyetir mobil
"Iya, pulang saja. Giana sepertinya lelah," jawab Ello
"Baiklah," kata Hover
"Tuan, aku sudah mendapatkan data kasus pencucian uang Galeto Ward," kata Kairo
"Lalu?" tanya Ello
Babang Ello emang ga ada lawan ya
"Memang benar saat terjadinya kasus itu, yang menangani adalah Tuan Richardo Liam, dia memang seorang pebisnis sekaligus seorang pengacara handal, dan Tuan Richardo beserta istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil," jawab Kairo, "Sejak meninggalnya Tuan Richardo, kasus tersebut juga ditutup. Tapi disini anehnya, semua bisnis Tuan Richardo kenapa bisa jatuh ke tangan Galeto Ward, padahal jelas-jelas pewarisnya ada, karena mereka masih memiliki seorang putri yang masih hidup, namun keberadaan putrinya sampai saat ini tidak diketahui."
"Bisnis apa yang dipegang Galeto?" tanya Ello
"Beberapa bisnis showroom mobil dan pabrik obat, Tuan," jawab Kairo, "Pabrik obat sebenarnya adalah milik Nyonya Yuricho istrinya karena beliau dulu seorang ahli obat."
"Jadi, menurutmu, semua bisnis itu sebenarnya adalah hak milik Giana?" tanya Ello,"Ternyata Giana bukan anak dari sembarang orang, pantas kalau dia cerdas seperti kedua orang tuanya."
"Saya akan menyelidiki bagaimana kedua usaha tersebut bisa jatuh ke tangan Galeto," kata Kairo, "Tapi yang jelas, menghadapi seorang Galeto tidaklah mudah, apalagi sekarang dia adalah tangan kanan presiden, bisa jadi dia mendapatkan perlindungan dari pemerintahan."
"Aku tahu itu, tapi aku ingin tahu sejauh mana selama ini dia menguasai bisnis tersebut," balas Ello, "Jangan sampai Giana tahu dulu soal kematian kedua orang tuanya, aku takut akan mempengaruhi kehamilannya."
"Baik, Tuan," kata Kairo
"Mungkin kamu bisa mencari informasi dengan meminta bantuan Paman Anthony juga, bukankah dia adik kandungnya Paman Richardo?" tanya Ello
"Nanti akan saya tanyakan," jawab Kairo
Sampai dirumah, Giana tampak masih terlelap, sehingga Ello tidak tega untuk membangunkannya, sehingga meski berat, Ello akhirnya menggendong Giana lalu membawanya ke kamar mereka dan membaringkan Giana di ranjang.
Ello kemudian memandangi wajah cantik Giana, meski sedikit gembul pipinya karena hamil anak kembar, namun Giana terlihat cantik.
"Aku akan selalu menjagamu, sayang," kata Ello dalam hati, "Maafkan aku yang kemarin-kemarin membuatmu tidak nyaman. Membuatmu menjadi pergi dari rumah karena kelakuanku. Kamu yang membuat aku sadar bahwa kamu wanita yang baik, mencintaiku dengan tulus, tidak pernah mengharapkan apapun dariku."
Ello kemudian ikut tidur disamping Giana dan memeluk wanita itu, "Anak-anak Daddy, tumbuh sehatlah kalian diperut Mommy. Jangan bikin Mommy sedih, ya. Jangan khawatir, sekarang ada Daddy yang akan menjaga kalian semua."
Ello mengusap lembut perut buncit Giana, dan merasakan ada gerakan-gerakan lembut diperut wanita itu, rupanya kedua putranya merespon perkataan Daddy mereka.
Ello tersenyum, "Aku akan selalu ada untuk kamu dan anak-anak kita," kata Ello sambil mencium lembut dahi Giana. Wanita itu hanya menggeliatkan tubuh saja, lalu terlelap lagi dipelukan Ello.
Sore hari, Giana baru terbangun karena ingin kencing. Ello sudah bangun dahulu, dan ternyata sedang berada di ruang gym, seperti biasa melatih kekuatan otot tubuhnya sekaligus membentuk kembali tubuhnya yang mulai pulih, karena sudah tidak mual muntah lagi.
Giana melangkah keluar dari kamarnya karena merasa lapar, kemudian menuju dapur. Terlihat Tatia sedang membantu para koki untuk memasak.
"Tatia, kamu masak apa?" tanya Giana dengan suara lembut
"Oh, ini masak sup ayam jamur, kata Bibi Jino kamu suka dengan sup ayam jamur," jawab Tatia, "Tapi belum matang Giana, tunggulah setengah jam lagi."
"Pantas harum sekali baunya," kata Giana, "Tapi aku ingin makan salad buah saja dulu."
Wanita itu melangkah menuju lemari es dan membukanya, dan memang sejak Giana kembali kerumah itu, Ello meminta para koki dapur untuk menyediakan makanan sehat bagi ibu hamil di lemari pendingin. Giana suka salad buah, makanya setiap hari selalu ada salad buah baru di lemari es.
Giana tampak mengambil 1 mangkok salad buah lalu membawanya ke meja makan dan duduk disana untuk memakannya.
Ello tiba-tiba muncul dengan hanya bertelanjang dada, mengenakan celana olahraga saja, sehingga terlihatlah tubuh indah pria itu berpeluh keringat.
"Sudah bangun, sayang," sapa Ello sambil mencium puncak kepala wanita itu.
"Iya, aku bangun karena lapar," kata Giana sambil tersenyum
"Kalau lapar dan perut kosong jangan langsung makan buah dulu, aku buatkan susu dulu mau?" tanya Ello
Giana hanya menganggukkan kepala saja.
"Biar saya yang buatkan, Tuan," tawar Tatia
"Tidak usah, biar aku sendiri saja," balas Ello
Pria itu kemudian melangkah ke meja dapur dan membuatkan susu untuk Giana. Segelas susu ibu hamil rasa cokelat sudah ada ditangan Ello, lalu dia bawa ke meja makan.
"Nah! Minumlah selagi masih hangat," lata Ello
Giana meminum susu buatan Ello itu sampai habis, sehingga Ello tersenyum bahagia, dia usap lembut pipi Giana dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi pipi wanita cantik itu.
"Sekarang baru makan salad buahnya," kata Ello sambil tersenyum
"Ayo, dimakan, aku pastikan setelah ini kamu akan merasakan sakit perut luar biasa," desis seseorang yang melihat Giana hendak melahap salad buah itu.
Giana hendak memasukkan salad buah kedalam mulutnya, namun terkejut mendengar teriakan suara wanita menggema dirumah itu.
"Ellooooo! Dimana kamu!?" teriakan itu tentu saja juga mengejutkan Ello sendiri
Giana jadi meletakkan lagi sendoknya karena penasaran dengan suara wanita yang datang-datang memanggil Ello dengan nada sedemikian heboh.
"Aku lihat dulu siapa yang datang," kata Ello sambil beranjak dari kursi makannya.
Giana hanya menganggukkan kepalanya, rasa penasarannya juga tinggi, dan wanita itu ikut berdiri dan meninggalkan meja makan.
"Nona, saladnya tidak jadi dimakan?" tanya Jino
"Nanti saja, Bi. Aku akan menyusul Kak Ello dulu," jawab Giana, "Ada tamu, harus disambut dahulu."
Jino tersenyum, kemudian mengambil mangkok salad buah Giana dan hendak membawanya kembali untuk disimpan di lemari es. Tapi Jino mencium sesuatu yang berbeda dari salad buah itu.
"Kenapa baunya begini? Apa karena sudah lebih dari 6 jam di lemari pendingin ya!? Aku ganti yang baru saja kalau begitu," kata Jino sambil melangkah menuju dapur kotor dan membuang salad buah itu.
"Sialan! Siapa sih yang bikin gagal Giana makan salad buahnya!?" umpat seseorang yang sedari tadi juga masih berkutat didapur, "Semoga nanti dia makan salad buahnya lagi."
Sosok itu tidak tahu jika Jino telah membuang salad buah Giana dan menggantinya dengan yang baru.
"Kali ini dia pasti akan kesakitan perutnya setelah makan salad buahnya." Dia tertawa kecil, "Dan Ello pasti akan kecewa, karena bayi kembarnya akan mati semua sebelum waktunya lahir. Bagus lagi kalau perempuan sialan itu tidak bisa hamil lagi. Pasti Ello akan mencari wanita lain, dan aku akan disana untuk menggantikan Giana."
Diruang tamu, Ello tampak terbengong melihat siapa yang datang dengan berbagai macam belanjaan keperluan bayi, semuanya berwarna biru dan merah, dan semuanya berjumlah masing-masing dua buah.
"Apa-apaan ini!?" tanya Ello tidak percaya, bahkan dia sampai mengucek matanya sendiri
"Kak, siapa yang datang?" tanya Giana yang ternyata sudah ada dibelakang Ello.
Seorang wanita tampak tersenyum ceria melihat wanita yang ada dibelakang Ello.
"Siapa dia, Kak?" tanya Giana yang merasa asing dengan kehadiran seorang wanita yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments