Beriringnya waktu, pesona Giana memang semakin baik. Tambah cantik dan manis, sudah dari aslinya juga memang cantik. Membuat banyak laki-laki tertarik pada Giana, terutama teman-teman kuliahnya. Ditambah lagi secara akademik Giana memang pintar.
Siang itu, kebetulan Ello pulang untuk mengambil berkas yang tertinggal, tiba-tiba Jino menghampirinya dan mengatakan ada surat yang dikirimkan seorang kurir untuk dirinya. Ello heran, tidak biasanya dia mendapatkan surat yang dialamatkan ke rumahnya.
"Dari mana?" tanya Ello
"Tidak ada nama dan alamat pengirimnya Tuan," jawab Jino.
"Surat kaleng maksudnya?" tanya Ello
Jino hanya menganggukkan kepalanya, lalu pamit keluar dari ruang kerja Ello. Ello kemudian duduk dipinggiran meja kerjanya dan membuka surat itu.
Ternyata isinya foto-foto Giana tengah bersama beberapa pria. Ello tentu saja cukup panas hatinya melihat itu semua. Tertulis dibalik foto itu nama-nama pria yang dekat dengan Giana, termasuk juga Antoni.
"Apa-apaan ini!? Dirumah seperti kucing manis, diluaran menjadi liar seperti kuda lepas dari kandangnya," gerutu Ello sambil melempar foto-foto itu dimejanya.
Ello bergegas pergi lagi karena memang ada urusan perusahaan yang tidak bisa dia tinggalkan, sementara Giana baru saja pulang dari kampus dan mampir ke toko buku untuk membeli beberapa referensi buku yang dia gunakan untuk keperluan kuliahnya, setelahnya dia langsung pulang ke rumah seperti biasanya.
Di perusahaan, Ello tampak tengah marah-marah sedari tadi, membuat Kairo bingung sendiri.
"Tuan, sebaiknya Tuan pulang saja kalau lelah," kata Kairo
"Kamu tahu, aku sedang kesal!" seru Ello
Kairo menggelengkan kepalanya, "Memangnya sedang kesal dengan siapa?"
"Giana, anak itu ternyata hanya manis kalau dirumah, di luaran liar," jawab Ello
"Maksudnya bagaimana?" tanya Kairo
"Dia di kampusnya ternyata sering jalan bareng teman-teman prianya," jawab Ello
"Dari mana anda tahu?" tanya Kairo
"Ada yang mengirim foto-foto dia melalui kurir," jawab Ello, "Tanpa keterangan pengirimnya."
"Dan anda percaya begitu saja?" tanya Kairo
"Foto-foto itu asli," jawab Ello
"Lalu kenapa Tuan marah? Wajah nona Giana punya banyak teman, dia juga bukan kekasih anda, kan? Anda hanya menganggapnya sebagai adik selama ini, meskipun anda sudah pernah menidurinya," kata Kairo
"Pokoknya aku tidak suka!" seru Ello
Sore harinya, Giana tengah menyiapkan air mandi untuk Ello, dan Ello masuk ke kamarnya. Melihat Giana ada dikamarnya membuat Ello merasa jengkel, tiba-tiba pria itu mendorong Giana hingga terjepit antara tembok dan tubuh gagah pria itu.
"Kak Ello, ada apa?" tanya Giana
"Berapa kali aku sudah bilang, jangan dekat-dekat dengan sembarang pria, kenapa tidak mendengarkan aku!?" Nada suara Ello terdengar berat.
"Aku tidak dekat dengan teman pria manapun, Kak!" balas Giana
"Atau karena kamu sudah tidak perawan lantas kamu bebas berteman dengan pria!?" tanya Ello
Seketika Giana terkejut mendengar perkataan Ello, "Kak, aku...."
Belum selesai Giana berbicara, tiba-tiba bibir mungil itu disambar bibir Ello, hampir saja kehabisan napas.
"Atau aku perlu mengingatkan kamu bahwa kita pernah tidur bersama, hah!? Kamu bisa pura-pura lupa kalau kamu sudah tidak lagi perawan karena aku!? Wanita macam apa kamu!?" tanya Ello, kembali pria itu mencumbu Giana.
Melawan kekuatan Ello tentu percuma untuk Giana yang bertujuh kecil. Pria itu langsung mengangkat tubuh Giana lalu membantingnya di ranjang besarnya. Kembali menerjang Giana dengan cepat, membuat Giana tidak bisa bergerak.
"Kalau dulu aku melakukannya karena mabuk, maka sekarang aku akan melakukannya dalam keadaan sadar, sesuai perjanjian awal, kamu adalah pelayan cintaku. Daripada kamu melayani mereka-mereka diluaran sana, layani aku yang jelas-jelas membayarmu untuk itu!"
Giana tidak bisa berkutik, dan kejadian terulang lagi. Ello kembali memaksanya, sekaligus memberikan rasa nikmat. Giana benar-benar kembali dibuat terbuai dengan setiap detik yang dilakukan Ello atas tubuhnya. Hingga akhirnya Ello selesai dan mengusir Giana keluar dari kamarnya.
Giana tentu sangat hancur hatinya, ini kali kedua Ello memperlakukannya dengan kasar, tanpa alasan yang jelas. Dulu karena Ello mabuk, dan sekarang dengan alasan yang sama sekali Giana tidak ketahui.
Wanita itu masuk ke dalam kamarnya kemudian menangis. Memandangi kamar yang sekian bulan dia tempati.
"Aku tidak kuat jika begini terus," desah Giana, "Tuan Ello tidak pernah bersikap baik. Apa salahku menutupi semuanya, toh waktu itu terjadi tanpa sengaja. Dan aku sudah berusaha melupakannya, kenapa sekarang terulang lagi."
Giana kemudian membersihkan diri dan berganti pakaian, malam itu dia tidak keluar dari kamarnya, hanya menangis saja didalam kamarnya.
Ello keluar dari kamarnya dan melihat suasana rumah sepi, terdengar isak tangis dari kamar Giana. Pria itu berdiri tertegun didepan kamar gadis itu. Ello memilih pergi keluar untuk menenangkan pikirannya.
Esok harinya, seolah tidak terjadi apa-apa, Giana mempersiapkan sarapan untuk Ello. Tetapi pagi itu dia tidak menemani Ello sarapan, justru berangkat pagi-pagi ke kampus dengan alasan mau menumpuk tugas, ternyata di kampus sudah ada Lucia yang menunggunya.
"Giana, kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya Lucia
Giana menganggukkan kepalanya, "Aku tidak tahan jika terus-terusan diperlakukan seperti ini. Hanya kamu yang tahu masalahku selama ini. Aku harus pergi."
"Giana, tapi sayang kuliahmu," kata Lucia, "Bertahanlah demi cita-cita kamu."
"Untuk apa aku meraih cita-citaku jika hidupku sendiri saja sudah hancur, aku hanya dijadikan pelayan cinta olehnya, apa bedanya dengan aku menjadi pe3l4coer?" tanya Giana
"Baiklah, aku akan membantumu, malam ini tinggal diapartementku dan malam ini kamu akan melakukan penerbangan jarak jauh," jawab Lucia, "Tuan Ello pasti tidak akan menemukanmu di negara itu."
Giana hanya menganggukkan kepala saja. Tekadnya sudah bulat, dia akan pergi dari rumah itu, dengan tanpa membawa apapun ysng diberikan dari Ello termasuk meninggalkan kuliahnya. Mobil yang dia bawa akan dia tinggalkan begitu saja di kampus.
Sore harinya, Ello masih saja bersikap malas berbicara dengan Giana. Pria itu tidak peduli Giana mau keluar kamar atau tidak, sudah makan malam atau belum.
"Tuan, mobil nona Giana kenapa belum kembali?" tanya Kairo
"Biarkan saja, paling-paling dia sedang bersama teman prianya!" jawab Ello dengan nada ketus, "Biarkan semau dia mau apa, yang penting saat aku butuh dia, dia harus ada. Bukankah dari awal perjanjiannya seperti itu! Tapi dia tetap harus menyelesaikan kuliahnya! Baru kali ini aku mengistimewakan seorang wanita bukan!?"
Malam menjelang, Giana masih belum pulang juga. Orang yang tampak khawatir justru Kairo, pasalnya tidak biasanya Giana pergi sampai larut malam. Biasanya jika ada tugas kuliah pun dia pamit, entah pada Ello atau dirinya. Tapi ini tidak ada kabar sama sekali.
Seseorang tanpa disadari Ello maupun Kairo tengah mengawasi mereka sedari tadi.
"Baguslah kalau Giana tidak pulang ke rumah ini, lebih baik pe3lac03er kecil itu pergi saja dari rumah ini," desisnya, "Gadis miskin mimpi mau jadi ratu di rumah ini. Mana mungkin?! Pasti dia akan dicampakkan. Apalagi hanya dianggap pelayan cinta saja. Haha...."
Esok harinya, Ello terbangun karena dering ponsel. Ternyata sang mommy yang menghubunginya.
"Morning, Mom!? Ada apa pagi-pagi meneleponku?" tanya Ello dengan suara khas bangun tidurnya.
"El, bagaimana kabar Giana? Katamu dia sekarang kuliah kedokteran?" tanya Renita
Ello terdiam, berusaha mengumpulkan tenaga dan pikirannya dahulu pagi itu.
"Iya, kenapa, Mom!?" tanya Ello, "Dia sudah kuliah seperti permintaan Mommy."
"Jaga dia baik-baik, El. Ingat kamu dulu sangat menyayanginya," kata Renita
Deg!
Ello seketika terkejut dengan perkataan Mommynya, "Nanti aku hubungi lagi, Mom!" teriak Ello
Pria itu bergegas bangkit dari tempat tidurnya dan berlari keluar kamar, hampir saja bertabrakan dengan Kairo yang juga baru saja bangun tidur. Ello masuk ke kamar Giana, dan didapati kamar itu kosong. Kairo yang mengikuti Ello juga terkejut, Giana tidak ada dikamarnya.
"Kemana Giana? Apa dia semalam pulang?" tanya Ello
Jino baru saja masuk ke kamar Giana.
"Tuan, nona tidak pulang dari semalam. Mobilnya tidak ada," kata Jino.
"Apa!?" teriak Ello tidak percaya
Dia kemudian melangkah ke meja belajar Giana, disana Giana meletakkan dua kartu ATM dan black card pemberian dari Ello, bahkan ponsel dan laptop juga masih tergeletak di meja itu.
Sebuah surat ditinggalkan Giana di meja itu.
.
.
.
Kak Ello, maaf maksudku Tuan Ello.
Maaf jika kali ini saya pergi tanpa pamit, saya merasa tidak pantas berada di tempat ini, saya juga tidak pantas mendapatkan fasilitas apapun dari Tuan Ello. Saya hanyalah pelayan cinta Tuan Ello. Saya minta maaf jika dalam saya melayani Tuan selama ini kurang memuaskan. Saya pamit karena saya ingin mencari pekerjaan yang lebih baik untuk saya. Terima kasih untuk semuanya. Segala kebaikan Tuan Ello, Kak Kairo, juga Bibi Jino tidak akan pernah saya lupakan. Tolong jangan mencariku, karena aku tidak mau merepotkan kalian semua. Ohya, jangan lupa mintalah Kak Hover untuk mengambil mobil yang aku bawa di kampus, kuncinya saya titipkan di bagian security kampus.
Terima kasih
Ello tampak terdiam setelah membaca surat dari Giana, pikirannya benar-benar kacau. Entah apa yang membuatnya kembali kalap kemarin sore, hanya karena foto-foto yang belum jelas kebenarannya.
"Tuan, mungkin nona tidak akan pergi jauh dari sini. Dia bahkan tidak membawa apapun dari rumah ini, mana mungkin dia memiliki cukup uang untuk pergi jauh, kita masih bisa mencarinya," kata Kairo yang juga ikut membaca surat itu.
"Cari dia, dan bawa pulang kembali kerumah ini," balas Ello, "Aku telah banyak melakukan kesalahan padanya. Harusnya aku menjaganya, bukan menyakitinya. Mommy bisa membunuhku kalau aku menyakitinya sampai dia pergi dari rumah."
"Akan segera saya cari, Tuan!" Kairo bergegas keluar dari kamar Giana disusul Jino.
Ello terduduk di kursi tempat biasa Giana belajar, menatap foto wanita cantik yang terpasang di dinding . Tampak ceria tanpa beban.
"Ya Tuhan, setan apa yang membuatku jadi seperti ini!?" kata Ello
Sementara dari balik pintu kamar Giana, terlihat seseorang tengah tersenyum.
"Bagus! Dia akhirnya pergi dari rumah ini, dengan begitu aku bisa lebih mudah mendekatinya. Aku seharusnya bisa menjadi nyonya dirumah ini,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments