Ello dan Kairo bergegas menuju ruang CCTV, segera memeriksa rekaman beberapa waktu lalu siapa yang masuk ke kamar Ello malam itu. Terlihat hasil rekaman tampak jelas bahwa Giana yang masuk ke ruangan itu, dan kemudian keluar dipagi buta dengan pakaian yang berantakan.
Seketika Ello membelalak matanya tidak percaya, sedangkan Kairo hanya tersenyum saja.
"Kalau CCTV yang didalam kamar, sebaiknya Tuan cek sendiri di ponsel anda," kata Kairo
"Aku tidak sanggup. Membayangkan wajahnya keluar dari kamarku dengan kondisi seperti itu saja aku sudah tahu, aku pasti melakukan hal yang menyakitkan jiwanya," balas Ello. Dada pria itu terasa sesak.
Biasa tidur dengan banyak wanita, dianggap hal biasa olehnya, tetapi kenapa ini begitu berbeda. Pria itu merasa sangat bersalah sekali karena telah meniduri gadis cantik yang seharusnya dia jaga dan dia lindungi. Kalau Mommynya sampai tahu, entah bagaimana marahnya sang mommy pada dirinya.
"Tapi kenapa dia terlihat biasa saja?" tanya Ello, "Bahkan dia bersikap seperti tidak ada apa-apa."
"Mungkin, dia ingin menutupi apa yang dia alami, Tuan. Dia takut pada Tuan," jawab Kairo, "Wanita mana tidak hancur hatinya, sudah dipaksa tidur dengan pria yang seharusnya menjaganya."
Ello hanya menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir bagaimana bisa Giana bersikap seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
"Lalu aku harus bagaimana sekarang?" tanya Ello
"Ya, itu terserah Tuan saja. Tanyakan langsung pada Nona Giana, atau tunggu dia mau bercerita sendiri," jawab Kairo.
Ello tentu dalam perasaan gundah, tidak tahu harus berbuat apa. Pria itu kemudian keluar dari ruang CCTV bersama Kairo. Ruangan itu tidak bisa sembarangan orang masuk, apalagi mendengarkan percakapan di dalam ruangan itu, karena merupakan ruang kedap suara. Hanya satu orang yang diperbolehkan bebas keluar masuk, yaitu Kairo.
Giana tampak baru saja pulang kuliah, wajahnya terlihat ceria seperti biasanya. Ello yang melihat Giana sudah pulang justru menghindarinya, bergegas dia masuk ke kamarnya. Perasaan bersalah menghantuinya, merasa telah merenggut masa depan gadis secantik Giana.
Meski sekarang Giana dia kuliahkan di fakultas kedokteran sesuai cita-citanya, tentu tidak akan pernah bisa menggantikan mahkota berharga miliknya, karena mahkota itu sesungguhnya sangat berharga ketika seorang wanita menyerahkan pada suaminya kelak.
"Apa aku harus menikahinya?" tanya Ello dalam hati. Pria itu memejamkan mata sambil memandangi langit-langit kamarnya.
"Ah! Tidak! Tidak! Menikah!? Yang benar saja menikah!? Tidak ada dalam kamusku untuk menikah!" seru Ello seketika.
Dalam bayangannya, mencintai seorang wanita, lalu menikahinya hanya akan melemahkannya. Seorang mafia hanya menganggap wanita selama ini hanyalah seorang teman tidur saja.
"Lagi pula ini negara barat, bukan negara timur! Persetan dengan semua itu," gerutu Ello, "Aku kuliahkan dia sampai sukses menjadi dokter dan semuanya selesai."
Pintu kamar terdengar diketuk, dan terdengar suara Giana dari luar kamar.
"Kak, apa kakak didalam?" tanya Giana
"Masuklah!" seru Ello
Giana masuk ke kamar Ello, seperti biasa hanya mengenakan pakaian santai. Celana pendek dan kaos kebesaran, sehingga hanya terkesan hanya memakai kaos saja, karena celana pendeknya tertutup kaos. Ello menatapnya tanpa berkedip, membayangkan malam itu tubuh indah Giana ada dibawah kungkungannya tanpa sehelai benangpun. Membuat pria itu seketika meneguk salivanya, seluruh tubuh Giana semuanya sudah dia sentuh. Tetapi, gadis itu tampak biasa saja, lebih tepatnya mencoba untuk membiasakan diri dengan keadaannya yang sekarang.
"Kakak kenapa tidak keluar kamar untuk makan malam? Sudah mandi belum?" tanya Giana
"Aku malas mandi," jawab Ello
"Aku siapkan air mandi dulu. Kakak harus mandi, seharian bekerja apa tidak gatal-gatal badannya," omel gadis cantik itu, seperti seorang istri ysng mengomeli suaminya yang malas mandi. Ello tersenyum, hal yang tidak biasa dilakukan pria itu selama ini jika bersama wanita, tapi dengan Giana, dia terlihat lebih santai dan manis.
Giana masuk ke kamar mandi untuk mempersiapkan air mandi Ello, kemudian kelur lagi. Terlihat Ello sudah melepas kemejanya, hingga hanya tersisa celana bahan yang masih melekat di tubuhnya. Aroma maskulin tercium Giana. Giana tidak pernah lupa aroma itu, aroma pria yang telah membuatnya terbuai kelangit ke tujuh. Menolak tapi menginginkan terus. Giana hanya meneguk salivanya saja. Membayangkan dada bidang dan perut kotak-kotak itu menindih tubuhnya.
"Aku mandi dulu, jangan keluar kamar dulu. Nanti keluar bersamaku!" titah pria itu sambil melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Giana hanya menganggukkan kepala saja, kemudian dia masuk ke walk in closet, menyiapkan pakaian santai untuk Ello. Terdengar suara gemericik air, tanda Ello tengah membilas tubuhnya dibawah aliran shower.
Pria itu keluar hanya mengenakan handuk yang dililitkan dipinggangnya, rambutnya tampak basah sehingga menetes di bagian dada dan perut juga punggungnya, terlihat sangat maskulin, menandakan pria yang sangat gagah, perkasa dan jangan lupa, tampan. Dambaan setiap wanita di muka bumi ini.
Sekali lagi Giana menelan ludahnya berkali-kali melihat pemandangan yang ada didepannya. Bagaimanapun Giana tetap tidak bisa melupakan kejadian malam itu, betapa maskulinnya Ello mengungkung tubuhnya, meski dalam keadaan mabuk sekalipun.
"Bagaimana kuliahmu?" tanya Ello sambil mengenakan pakaian yang sudah dipersiapkan Giana
"Lancar saja, aku sedang belajar menyetir mobil juga dengan Paman Frans," jawab Giana
"Apakah kamu punya teman dekat di kampus?" tanya Ello
"Ada," jawab Giana
"Laki-laki?" tanya Ello lagi, tanpa sadar pria itu merasa tidak rela jika Giana dekat dengan teman laki-laki di kampusnya.
Giana menggelengkan kepalanya, "Namanya Lucia," jawab Giana, "Teman-teman dikampusku kebanyakan seperti membuat kelompok-kelompok sendiri. Aku tidak suka, karena kebanyakan hanya bertujuan untuk hang out atau tongkrong. Aku maunya belajar saja supaya cepat selesai kuliah, dan Lucia adalah orang yang selama ini sefrekuensi dengan aku."
"Hang out itu juga perlu, sesekali kamu ajak Lucia minum kopi di cafe, atau sekedar nonton bioskop," kata Ello, "Bukankah aku sudah memberimu kartu ATM dan black card kan? Gunakan itu sesukamu!"
Giana hanya menganggukkan kepala saja, sejujurnya dia bingung. Kenapa Ello tiba-tiba bersikap sangat hangat padanya, tidak seperti waktu pertama kali dia datang untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumahnya, tapi sekarang semuanya berubah. Ello memintanya menempati kamar yang ada disebelahnya, bahkan memintanya kuliah, belajar berdandan dan menyetir mobil. Semua itu sungguh diluar perkiraan Giana.
Gadis cantik yang hanya anak seorang penjual rokok, bisa kuliah di fakultas kedokteran dan sekarang hidupnya berubah drastis. Tetapi semua itu ternyata ada yang tidak menyukainya.
Ello tampak keluar dari kamarnya dengan diikuti Giana dibelakangnya, mereka lalu duduk di kursi makan untuk makan malam. Terlihat Tatia mempersiapkan meja makan dengan berbagai menu makanan.
"Tatia, ayo makan bersamaku," kata Giana
"Maaf, Giana. Aku harus kebelakang dulu, lagi pula aku mau mandi dulu. Kamu makan saja dengan Tuan Ello," tolak Tatia.
Tatia segera meninggalkan ruang makan dan bergegas ke belakang. Giana kemudian mengambilkan Ello makan malamnya, sup ayam kesukaan Ello, tadi Giana yang memasaknya kemudian diselesaikan oleh koki.
Jino tampak tersenyum, melihat Ello akhir-akhir ini banyak berubah, tidak lagi seseram dulu, mulai bisa banyak tersenyum dan bersikap manis pada semua orang.
Hover dan Kairo baru saja datang, cukup terkejut melihat Ello tampak asyik ngobrol dengan Giana sambil menikmati makan malam mereka.
"Sepertinya, Nona Giana memang membawa banyak perubahan untuk Tuan Ello," kata Hover
"Aku justru berharap mereka berjodoh, sepertinya Nona Giana sangat mudah menaklukkan singa seseram Tuan Ello," balas Kairo, "Kita semua merindukan rumah ini terasa hangat dengan adanya nyonya rumah, bukan!?"
"Aku juga berharap begitu," kata Hover
Keduanya lalu melangkah menuju kamar masing-masing karena lelah seharian bekerja di markas.
"Giana, kamu jangan berteman dengan sembarang pria," kata Ello, "Tidak semua pria itu baik diluar sana, meskipun itu teman kampusmu sendiri."
"Teman-teman priaku hanya mau berteman dengan yang cantik-cantik, Kak. Mana mau berteman dengan aku," balas Giana
"Bukannya tidak mau, tapi belum. Coba saja nanti kalau kamu sudah melakukan rangkaian perawatan dengan Mommy Gricella, sudah bisa membawa mobil sendiri, pasti akan banyak pria mendekati kamu," kata Ello, "Ingat satu hal, tidak semua pria punya tujuan baik ketika mendekati kamu."
Giana hanya terdiam, menatap Ello yang tampak serius berbicara
"Ada apa dengan dia?" tanya Giana dalam hati, "Dia sendiri bilang aku tidak boleh dekat dengan pria, karena belum tentu pria diluaran sana baik. Dianya sendiri meniduri aku!? Apa dia tidak sadar diri? Lupa ingatan? Masa masih muda sudah pikun!?"
"Giana! Dengar tidak apa kataku?" tanya Ello, membuyarkan lamunan Giana seketika.
"Iya, aku dengar, aku akan menghindari teman-teman priaku, kecuali memang harus bertemu untuk tugas kelompok saja," jawab Giana.
"Bagus!" kata Ello sambil mengacak-acak puncak kepala Giana.
Semua orang yang melihatnya tentu saja tersenyum, Ello telah banyak berubah.
Dua minggu sudah berlalu, Giana sudah mulai bisa menyetir mobil sendiri, meski begitu dia tidak mau ditinggalkan Frans, sehingga Frans masih tetap menemani Giana, meski Giana yang menyetir mobil. Penampilan Giana juga semakin fashionable. Wajahnya semakin bersinar setelah rutin perawatan dengan Gricella di kliniknya.
Beberapa teman kuliah Giana mulai melirik Giana yang memang sangat cantik. Ello yang setiap hari melihat bagaimana perubahan Giana, justru semakin merasa takut jika Giana akan menjadi idola dikampusnya, kemudian menjalin hubungan dengan pria yang merupakan salah satu teman kampusnya.
Siang itu, Giana dan Lucia tengah makan di kantin, dan tiba-tiba mereka dihampiri salah satu teman pria yang kebetulan sekelas dengan mereka, Antoni.
"Boleh gabung?" tanya Antoni
"Silahkan," balas Giana diikuti anggukan kepala Lucia.
"Giana, apakah kamu sore ini ada acara? Jika boleh aku ingin mengajakmu nonton konser musik," ajak Antoni.
Giana terdiam, terngiang nasehat dari Ello beberapa minggu lalu, "Maaf, aku tidak bisa. Hari ini adalah jadwalku melakukan latihan yoga," tolak Giana dengan halus, "Mungkin kamu bisa pergi dengan Lucia."
Antoni terlihat tampak kecewa, namun tetap tersenyum, "Mungkin lain waktu kamu akan ada waktu."
Giana dan Lucia akhirnya berpamitan pulang, hari ini adalah hari pertama Giana membawa mobil sendiri tanpa mengawalan Frans. Tadi berangkat ke kampus dengan mulus dan lancar, dia berharap saat pulang pun akan lancar.
Giana hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba pintu mobilnya ditahan oleh seseorang.
"Giana, kenapa kamu menolak ajakanku?" ternyata Antoni mengikutinya
"Maaf, Antoni. Aku benar-benar tidak bisa," balas Giana.
"Kenapa!? Apa karena kamu sekarang sudah lebih cantik lalu berlagak jual mahal?" tanya Antoni.
Ternyata benar kata Ello, tidak semua pria bisa bersikap baik pada wanita, dan Antoni lah buktinya.
"Kamu tidak bisa memaksaku Antoni," kata Giana
"Kalau aku memaksa bagaimana?" tiba-tiba Antoni menekan Giana hingga posisinya terjepit antara mobil dan tubuh besar Antoni, "Kamu bisa secantik ini sekarang, tentu juga karena sudah di sentuh lelaki kan!?"
Posisi Antoni memiringkan kepalanya, hingga berkesan tengah mencium Giana, dan ternyata ada orang yang mengabadikan moment tersebut.
"Jangan kurang ajar Antoni!" sebuah tamparan mendarat di pipi pria itu, "Minggir atau aku teriak!"
Antoni akhirnya menyingkir, "Lain waktu, kamu pasti tidak akan bisa menolakku!" seru Antoni
Giana segera masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan area kampus.
Sementara itu, ada orang lain yang tengah tersenyum sambil memegang hasil foto yang dia dapatkan tadi.
"Giana, sebentar lagi kamu pasti akan dicampakkan Tuan Ello," desisnya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments