Selayang Pandang

Jangan hanya memandang kehidupan Zaky dan keluarganya saat ini yang sudah mapan dan sejahtera. Keluarga sakinah yang menjadi impian dan dambaan setiap orang di luar sana yang melihatnya. Namun ingat pula kondisi dulu bagaimana keluarga mereka begitu bersahaja.

Sejak tidak ada Ayah sebagai kepala keluarga, Ibu menjadi single parent yang melanjutkan peran ganda tentunya tanpa diiringi keluhan. Anak-anak menjadi terbiasa mandiri dan berhemat serta bergaya hidup sederhana yang penting bisa bersekolah tinggi. Hingga kakak pertama bernama Puput menikah dengan orang Jakarta keturunan Ciamis, menjadi pintu pembuka naiknya taraf kesejahteraan sebab kakak ipar membantu perekonomian keluarga termasuk membantu biaya pendidikan ketiga adik Puput.

Zaky adalah pribadi yang tidak melupakan purwadaksi alias jati diri. Tampan, dompet aman, ekonomi mapan, karir cemerlang, tidak membuatnya angkuh dan besar kepala. Ia tetap menunduk ke bawah untuk melihat masih banyak orang yang tidak beruntung seperti dirinya. Membuatnya menjadi pribadi yang pandai bersyukur. Tentunya sifat itu tertanam pada semua anak-anak Ibu Sekar sebab sang Ibu yang selalu mengingatkan untuk tetap bergaya hidup sederhana. Hemat daripada hedon.

Pun keputusan Zaky untuk membantu keluarga Kia adalah keputusan yang dirasa benar. Kia adalah teman sebangku Ami selama tiga tahun di SMA. Menurut adiknya yang selalu bercerita itu, Kia satu-satunya murid kurang mampu di kelasnya yang masuk ke SMA swasta favorit itu dengan jalur beasiswa prestasi. Anaknya baik dan pendiam serta sedikit minderan hanya karena teman sekelas diantaranya merupakan anak pejabat, dokter, pengusaha tekstil, dan lain-lain. Sementara Kia hanya anak penjual nasi goreng. Ami sering membantunya baik dengan cara memberi tumpangan mobil, traktir jajan, termasuk memberi uang jajan pada dua adiknya Kia. Jadi peran Zaky membantu Kia sebenarnya adalah melanjutkan kebiasaan Ami.

Hal esensial yang pernah dilakukannya dan memberi kepuasan pada diri yaitu bisa membantu Kia mendapatkan beasiswa dari Adyatama Group. Beasiswa penuh hingga semester akhir. Meski berjarak jauh sebab Zaky kuliah sarjana archi di Singapura, komunikasi dengan Kia dan kedua adiknya tetap terjalin dengan baik dan wajar. Ia sudah menganggap tiga bersaudara itu sebagai adiknya. Apakah kebaikan Zaky hanya pada Kia bersaudara? Tentu tidak. Dan tak perlu orang lain tahu bagaimana tangannya selalu terulur membantu yang membutuhkan tanpa perlu diekspos.

"Aa bakal lama kuliah di Zurich?" Tanya Daffa yang baru paham usai mendengarkan penjelasan Zaky jika acara makan siang ini adalah acara perpisahan sebelum berangkat ke Swiss.

"Dua tahun, Daf. Sesuai program magister. Tapi kalau ada peluang kerja yang menjanjikan di sana, ya bakal tinggal lebih lama tapi untuk hal itu sih masih conditional."

"Bakalan gak pulang-pulang kayak Bang Toyib gitu, A'?" Riva mengomentari dengan mulut penuh makanan.

Zaky tertawa. "Jadi Bang Toyib dulu 2 tahun, barulah pulang kampung. Kalian belajar yang baik ya. Kalau bisa jangan dulu pacaran. Fokus belajar dan berprestasi. Biar bisa kuliah dengan beasiswa seperti Teh Kia."

"Iy, A'. Teteh juga suka bawel ngingetin jangan dulu pacaran. Saat lagi manis mungkin bisa jadi motivasi. Tapi pas putus bisa sakit ati and down. Hah, ganggu fokus belajar aja." Daffa sepertinya setuju dengan saran Zaky.

"Dan juga membuka pintu zina. Hamil duluan. Terus lahiran anaknya dicekik. Ih amit-amit." Celetuk Riva menimpali sambil merindingkan bahu.

Zaky menautkan kedua alisnya. "Riva tahu begitu dari mana?"

"Baca di medsos. Gosip teman di kelas juga. Ada tuh anak SMP yang hamidun."

"Nah itu bahayanya pacaran masa sekolah. Usia masih labil udah cinta-cintaan. Jadinya terdorong nafsu setan. Kalau mau punya pacar nanti kalau sudah punya tujuan pasti. Yaitu mau nikah."

"Berarti Teh Kia belum mau nikah ya. Soalnya belum punya pacar tuh." Riva berbelok pembahasan dan menarik kesimpulan sendiri. Mungkinkah saat ini telinga Kia jadi berdengung?

Zaky terkekeh. "Mungkin Teh Kia fokus tamatin kuliah dulu. Memangnya gak ada cowok yang main ke rumah gitu?"

"Ada sih. Paling A Fadil, A Dani. Tapi itu temannya Teteh. A Fadil teman SMP, kalau A Dani mah tetangga teman main dari kecil." Riva mendominasi dialog dengan Zaky.

"Daf, rencana kuliah dimana?" Zaky beralih menatap Daffa yang sudah selesai makan.

"Pengennya ITB. Doain ya, A'. Kata Teteh, nanti coba daftar beasiswa bidik misi."

"Semoga berhasil, Daf. Nanti kabarin aja kalau misalkan gak lulus bidik misi. Aa bakal bantu daftarin ke beasiswa Adyatama. Asalkan pertahankan prestasi di 5 besar."

"Siap, A'." Daffa mengangguk optimis.

"Aku dong always ranking satu. Gak kayak A Daffa naik turun kayak ayunan."

"SOMBONG." Daffa mencibir.

Membuat Zaky tertawa renyah. Sudah cukup satu jam di restoran, ia mengajak Daffa dan Riva menuju mall. Memberi pilihan barang apa yang ingin dibeli dan benar-benar dibutuhkan. Kedua pelajar itu memilih barang yang sama. Sepatu.

"Aa, mau mampir dulu ke rumah?" Daffa menunggu giliran menyalami Zaky setelah Riva. Bersiap turun dari mobil sebab sudah tiba di depan gang menuju rumahnya.

"Udah sore, Daf. Aa masih ada urusan. Salamnya aja ya. Lagian Mamah Bapak pasti lagi sibuk persiapan buka kan?"

"Iya sih. Hehehe. Aa makasih ya buat traktirannya." Daffa adu tos dengan Zaky. Ajakan bersalaman Zaky selalu begitu.

"Sama-sama. InsyaAllah malam jumat Aa main ke nasgor sekalian pamitan."

"Siap. Ditunggu. Nanti jangan makan dulu ya. Nanti aku bikinin nasgor spesial."

Zaky tersenyum dan mengangguk. "Okay." Ia memberi klakson pada Daffa dan Riva yang berdiri di trotoar sambil melambaikan tangan.

***

Kia segera menjatuhkan tubuh dengan terlentang di kasur busa begitu pintu kamarnya sudah ditutup. Lelah baru pulang dari kampus. Meski demikian, seabrek tugas akhirnya selesai dan besok bisa pulang kampung. Lega.

Inginnya sih mata terpejam namun belum salat Ashar dan memang tak baik tidur sore. Sehingga aksi tidur ayamnya tak tenang. Dengan gerak malas segera menyiapkan handuk dan peralatan mandi. Menyeret langkah ke kamar mandi umum yang jumlahnya ada tiga. Dua diantaranya kosong.

Usai salat, ponsel Kia di atas kasur berbunyi notif pesan. Masih dengan menggunakan mukena, ia membuka pesan dari Daffa.

[Pamer 🤪] Dengan melampirkan foto kaki Daffa dan Riva yang mengenakan sepatu baru.

Langsung saja Kia melakukan sambungan video dan dalam hitungan detik bisa melihat dua wajah adiknya yang terlihat semringah memenuhi layar.

"Itu uangnya dari mana, hei? Jangan cod an mulu atuh." Kia melayangkan protesnya.

"Ini bukan Cod-an kok. Beli di mall dong. Eh gini. Lunch dulu di hotel Seruni terus ke mall." Riva dengan segera membuka sepatu dan mendekatkan logonya ke layar sambil cekikikan.

"Jangan ngehalu. Palingan beli online. Converse kw itu." Kia mencibir. Sama sekali tak percaya.

"Ori, Teh. Nih liat struknya. Punyaku harganya 610 ribu. Punya Riva 530 ribu. Jadi ceritanya kita tadi dijemput A Zaky ke sekolah. Terus diajak makan di hotel Seruni. Abis itu diajak ke AP. Disuruh pilih barang yang dibutuhkan. Ya kita kompak pilih sepatu. Jadi ini teh dalam rangka acara perpisahan karena A Zaky mau ke Swiss lanjutin S2." Panjang lebar Daffa menjelaskan.

"A Zaky gak masalah sama harganya kok, Teh. Emang A Zaky yang pilihin merk Converse. Oh ya tadi bungkusin juga makanan dari Seruni buat Mamah sama Bapak." Riva tak kalah antusias menerangkan.

Sumpah demi apa. Sedari tadi tubuh merasa lelah serta otak mumet. Namun begitu nama Zaky disebut dengan penjelasan demikian, mendadak timbul semangat dan tenaga. Rencana pulang besok pagi dimajukan menjadi malam ini selepas Magrib. Banyak bus malam tujuan Tasik yang masih berseliweran.

Kia tiba di rumahnya pukul sebelas malam. Hampir bersamaan dengan Bapak dan Daffa yang pulang dari kios nasgor.

"Teteh...katanya mau pulang besok? Kenapa gak bilang kalau jadinya pulang malam ini. Kan Daffa bisa jemput ke pool." Bapak masih terheran mendapati Kia yang membukakan pintu lalu mencium tangannya.

"Hehe. Berubah pikiran, Pak. Udah konfirmasi kok sama Mamah."

"Iya tapi chat nya baru kebuka jam sembilan. Soalnya tadi Mamah ketiduran. Udah, yang penting Kia sampe rumah dengan selamat." Mamah mengerti dengan kekhawatiran yang tersirat di wajah Bapak.

"Aku duluan tidur ah, ngantuk." Daffa meninggalkan ruang tengah menuju kamar mandi. Membersihkan diri bersiap tidur. Ia hanya sesekali membantu Bapak sampai larut malam. Lebih sering membantu sampai jam sembilan saja agar besoknya di sekolah tidak mengantuk.

"Zaky baik banget ya. Ngajak adik-adikmu makan di hotel terus bungkusin buat Mamah. Terus beliin sepatu mahal. Katanya besok malam jumat mau ke nasgor. Mau pamitan berangkat ke Swiss."

Kia tersenyum mesem mendengar penuturan Mamah dengan intonasi penuh kekaguman. Ia tidak kecewa meski Zaky tidak memberitahukan dulu. Memang sifatnya begitu kalau berbuat baik pada siapa pun. Selalu senyap. Ia tahunya kemudian dari orang yang menerima kebaikan Zaky.

Bahkan Mamang penjual nasi uduk dekat kosannya juga sering bertanya, "Neng, kemana si Aa kasep udah lama gak lihat." Baru tahu seminggu kemudian makna pertanyaan itu. Bahwa Zaky setiap Jumat pagi selalu menyuruh Mamang penjual nasi uduk membagikan 25 bungkus nasi uduk kepada pengemudi ojol atau siapa pun yang melintas di dekat gerobak dan layak diberi. Pembayaran nya lewat transfer.

Bagaimana tidak bertambah kekagumannya terhadap Zaky. Tidak salah keputusannya dulu memilih menyimpan rasa dengan rapi sebab susah merealisasikan kata 'move on'. Tersiksa? Tidak. Ia mencoba ikhlas menerima fakta kalimat 'kamu seperti adik bagiku'. Menjadi alarm uang terus terngiang. Namun ia merasa masih ada asa yang menyala selama Zaky belum menunjukkan atau memperkenalkan perempuan calon pendamping hidup.

"Teteh mau makan nggak? Masih ada lauk pemberian Zaky. Mamah angetin dulu ya."

Kia terjaga dari lamunan yang tersamarkan dengan cara menatap ponsel. Tadinya ingin memberi kabar kepada Zaky jika dirinya sudah pulang ke Tasik. Dipikir ulang. Lebih baik memberi kejutan dengan datang ke Ciamis besok. Jadilah terhanyut dalam lamunan.

"Nggak, Mah. Masih kenyang. Mau tidur aja capek bin ngantuk." Kia beranjak menuju kamar. Ada Riva yang sudah terlelap sambil memeluk guling. Hanya ada tiga kamar di rumahnya itu. Ia berbagi tempat tidur dengan sang adik bungsu.

Terpopuler

Comments

💜⃞⃟𝓛 ⏤͟͟͞R𝐙⃝🦜༄༅⃟𝐐ƙׁׅуα

💜⃞⃟𝓛 ⏤͟͟͞R𝐙⃝🦜༄༅⃟𝐐ƙׁׅуα

seperti halnya putri Baginda nabi yg menyimpan rasa untuk kekasih halalnya selama bertahun-tahun hingga iblis pun tak tahu,tp pada akhirnya bahagia,mungkin harapan seperti untuk kia dan zaky,

2024-07-29

5

Naya

Naya

Daffa & Riva , bayangan Zaky & Ami waktu kecil

2024-07-19

0

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

owalah jd tujuane gt y..amitryta baik

2024-05-15

0

lihat semua
Episodes
1 Kisah Kita Baru Dimulai
2 Farewell
3 Bertemu Shannon
4 Senja di Pantai Mertasari
5 Silaturahmi
6 Beri Waktu
7 Senja Bersama Ibu
8 Kisah Hari Ini
9 Selayang Pandang
10 Sehari Sebelum Berangkat
11 Tiba di Jakarta
12 Aku Bisa Apa
13 Jatuh Cinta dan Patah Hati Itu Fitrah
14 Menata Masa Depan
15 Musim Berganti
16 Wahai Hati
17 Selesai Tugas
18 Jatuh Cinta, Bangun Cinta Lain
19 Internship
20 Merelakan Takdir
21 Hallo, Jakarta
22 Pelarian?
23 Waktu Merubah Segalanya
24 Aku Ingin Pulang
25 Rasanya Menjadi Adik Kakak
26 Apartemen
27 Mari Berkenalan
28 Terlambat Menyadari
29 Cinta Datang Terlambat
30 Hati yang Mencelos
31 Menatap Masa Depan
32 Mengikis Diterbangkan Sayap Waktu
33 Lebih Aman Jauh Daripada Dekat
34 Menunggu Besok
35 Bukan Kebetulan
36 Hanya Mudah Secara Lisan
37 Aku Pamit
38 Sambutan Horor
39 Ada yang Aneh
40 Kecamuk Pertanyaan
41 Kapan Siap Nikah
42 Ghibah
43 Bakal Ada Special Guest
44 Welcome Special Guest
45 Mesin Waktu
46 Kau Datang dan Pergi
47 Niatnya Ingin Memberi Kejutan
48 Dua Hari, Dua Fakta
49 Siapa Dia?
50 Satu Persatu Tabir
51 Minta Diantar Aa
52 Cerita Teh Kokom
53 Menangislah
54 Langkah Selanjutnya
55 Kepo, Boleh?
56 Cerita Plot Twist
57 Sebuah Rencana
58 Bahagia Itu Kita Yang Ciptakan
59 Hikmah Patah Hati
60 Informasi Penting
61 Masih Ada Waktu
62 Perayaan Patah Hati
63 Perayaan Patah Hati (2)
64 Perayaan Patah Hati (3)
65 Tanya Jawab
66 Lebih Berharga Dari Benda Pusaka
67 Apa Kabar Diary?
68 Zaky di Tengah Sukacita
69 Zaskia Diary
70 Terkuak
71 Rencana Berubah
72 Sesakmu Dulu, Sesakku Kini
73 Tamu Malam Minggu
74 Malam Minggu Akhir Juli
75 Quality Time
76 Kenalan Dulu
77 Bandara Cinta
78 Ada Apa?
79 Curhat Shannon
80 Curhat Dua Wanita
81 Jantung Berdebar
82 Silang Cerita
83 Diskusi Keluarga
84 Menjemputmu
85 Malam Canda
86 Rencana Kita
87 Seharian Denganmu
88 Selamat Jalan Kekasih
89 Pertemuan Tak Disangka
90 Dua Masa Lalu Dalam Sepekan
91 Semua Ada Waktunya
92 Menjelang Sabtu
93 I Love You, Cantik
94 Pertemuan Keluarga
95 Nasihat Bapak
96 Hari Demi Hari
97 Permohonan
98 Akad Nikah
99 Merayu Allah Lewat Doa
100 Dua Kemungkinan
101 101. Ratap dan Harap
102 102. Mediasi
103 103. Malam Terakhir Bersama
104 104. Beri Waktu
105 105. Pergi Untuk Kembali
106 106. Kunanti Kabarmu
107 107. Perjalanan Hari
108 108. Hidup Baru
109 109. Pengobat Rindu
110 110. Menghitung Hari Pertemuan
111 111. Menggoda
112 112. Menyambutmu
113 113. Memang Pengantin Baru
114 114. Welcome Back
115 115. Hari Bahagia Tiba
116 116. Di Luar Ekspektasi
117 117. Perkara Mantan
118 118. Ini Ujian Hati
119 Bawa Santai
120 120. Usai Sudah Ujian Hati
121 121. Banyak yang Harus Dibahas
122 122. Diskusi Panas
123 123. Jaga Diri Ya
124 124. Kabar
125 125. Sidang?
126 126. Hasil Sidang
127 127. Keputusan Kita
128 128. Opsi Pengobatan
129 129. Tamu Oh Tamu
130 130. Atur Waktu
131 131. Rencanakan
132 132. Meniti Tangga Rencana
133 133. Rumah Mertua
134 134. Bertemu Desainer Sundari
135 135. Ganti Wacana
136 136. Obat Malarindu
137 137. Waktunya Minum Obat
138 138. Sambutan di Jakarta
139 139. Family Man
140 140. Teman Perjalanan
141 141. Sibuk Persiapan
142 142. Fitting
143 143. Tiba Waktu Yang Ditunggu
144 144. Pulang
145 145. Pelukan Hangat
146 146. Semua Kumpul
147 147. Resepsi Zakia
148 148. Resepsi Zakia (2)
149 149. Cinta Terakhir
150 150. Malam Mingguan
151 151. Penasaran Kopi
152 152. Pamit
153 153. Perjalanan Baru
154 154. Jepang Impian
155 155. Rejeki Tahun Baru
156 156. Bandung Bercerita
157 157. Surprise Kecil
158 158. Ayah
159 159. Cerita Kecewa
160 160. Jangan Mendekat!
161 161. Jawaban Serba Salah
162 162. Setelah Tiga Hari
Episodes

Updated 162 Episodes

1
Kisah Kita Baru Dimulai
2
Farewell
3
Bertemu Shannon
4
Senja di Pantai Mertasari
5
Silaturahmi
6
Beri Waktu
7
Senja Bersama Ibu
8
Kisah Hari Ini
9
Selayang Pandang
10
Sehari Sebelum Berangkat
11
Tiba di Jakarta
12
Aku Bisa Apa
13
Jatuh Cinta dan Patah Hati Itu Fitrah
14
Menata Masa Depan
15
Musim Berganti
16
Wahai Hati
17
Selesai Tugas
18
Jatuh Cinta, Bangun Cinta Lain
19
Internship
20
Merelakan Takdir
21
Hallo, Jakarta
22
Pelarian?
23
Waktu Merubah Segalanya
24
Aku Ingin Pulang
25
Rasanya Menjadi Adik Kakak
26
Apartemen
27
Mari Berkenalan
28
Terlambat Menyadari
29
Cinta Datang Terlambat
30
Hati yang Mencelos
31
Menatap Masa Depan
32
Mengikis Diterbangkan Sayap Waktu
33
Lebih Aman Jauh Daripada Dekat
34
Menunggu Besok
35
Bukan Kebetulan
36
Hanya Mudah Secara Lisan
37
Aku Pamit
38
Sambutan Horor
39
Ada yang Aneh
40
Kecamuk Pertanyaan
41
Kapan Siap Nikah
42
Ghibah
43
Bakal Ada Special Guest
44
Welcome Special Guest
45
Mesin Waktu
46
Kau Datang dan Pergi
47
Niatnya Ingin Memberi Kejutan
48
Dua Hari, Dua Fakta
49
Siapa Dia?
50
Satu Persatu Tabir
51
Minta Diantar Aa
52
Cerita Teh Kokom
53
Menangislah
54
Langkah Selanjutnya
55
Kepo, Boleh?
56
Cerita Plot Twist
57
Sebuah Rencana
58
Bahagia Itu Kita Yang Ciptakan
59
Hikmah Patah Hati
60
Informasi Penting
61
Masih Ada Waktu
62
Perayaan Patah Hati
63
Perayaan Patah Hati (2)
64
Perayaan Patah Hati (3)
65
Tanya Jawab
66
Lebih Berharga Dari Benda Pusaka
67
Apa Kabar Diary?
68
Zaky di Tengah Sukacita
69
Zaskia Diary
70
Terkuak
71
Rencana Berubah
72
Sesakmu Dulu, Sesakku Kini
73
Tamu Malam Minggu
74
Malam Minggu Akhir Juli
75
Quality Time
76
Kenalan Dulu
77
Bandara Cinta
78
Ada Apa?
79
Curhat Shannon
80
Curhat Dua Wanita
81
Jantung Berdebar
82
Silang Cerita
83
Diskusi Keluarga
84
Menjemputmu
85
Malam Canda
86
Rencana Kita
87
Seharian Denganmu
88
Selamat Jalan Kekasih
89
Pertemuan Tak Disangka
90
Dua Masa Lalu Dalam Sepekan
91
Semua Ada Waktunya
92
Menjelang Sabtu
93
I Love You, Cantik
94
Pertemuan Keluarga
95
Nasihat Bapak
96
Hari Demi Hari
97
Permohonan
98
Akad Nikah
99
Merayu Allah Lewat Doa
100
Dua Kemungkinan
101
101. Ratap dan Harap
102
102. Mediasi
103
103. Malam Terakhir Bersama
104
104. Beri Waktu
105
105. Pergi Untuk Kembali
106
106. Kunanti Kabarmu
107
107. Perjalanan Hari
108
108. Hidup Baru
109
109. Pengobat Rindu
110
110. Menghitung Hari Pertemuan
111
111. Menggoda
112
112. Menyambutmu
113
113. Memang Pengantin Baru
114
114. Welcome Back
115
115. Hari Bahagia Tiba
116
116. Di Luar Ekspektasi
117
117. Perkara Mantan
118
118. Ini Ujian Hati
119
Bawa Santai
120
120. Usai Sudah Ujian Hati
121
121. Banyak yang Harus Dibahas
122
122. Diskusi Panas
123
123. Jaga Diri Ya
124
124. Kabar
125
125. Sidang?
126
126. Hasil Sidang
127
127. Keputusan Kita
128
128. Opsi Pengobatan
129
129. Tamu Oh Tamu
130
130. Atur Waktu
131
131. Rencanakan
132
132. Meniti Tangga Rencana
133
133. Rumah Mertua
134
134. Bertemu Desainer Sundari
135
135. Ganti Wacana
136
136. Obat Malarindu
137
137. Waktunya Minum Obat
138
138. Sambutan di Jakarta
139
139. Family Man
140
140. Teman Perjalanan
141
141. Sibuk Persiapan
142
142. Fitting
143
143. Tiba Waktu Yang Ditunggu
144
144. Pulang
145
145. Pelukan Hangat
146
146. Semua Kumpul
147
147. Resepsi Zakia
148
148. Resepsi Zakia (2)
149
149. Cinta Terakhir
150
150. Malam Mingguan
151
151. Penasaran Kopi
152
152. Pamit
153
153. Perjalanan Baru
154
154. Jepang Impian
155
155. Rejeki Tahun Baru
156
156. Bandung Bercerita
157
157. Surprise Kecil
158
158. Ayah
159
159. Cerita Kecewa
160
160. Jangan Mendekat!
161
161. Jawaban Serba Salah
162
162. Setelah Tiga Hari

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!