Farewell

Tak terasa sudah 2 jam duduk bersama Kia sambil membahas topik random yang terus sambung menyambung. Zaky banyak memberi perhatian mulai dengan bertanya tentang kapan KKN, tentang dua adik Kia yang kini sekolah di SMP dan SMA, tentang perkembangan kesehatan ibunya Kia setelah operasi usus buntu. Percakapan mengalir dengan santai dalam suasana menyenangkan .

"Kita salat dulu ya, baru pulang." Zaky menatap arloji begitu mendengar adzan Ashar berkumandang dari masjid yang terdengar sampai ke dalam cafe.

Kia mengangguk. Membiarkan dulu Zaky ke mushola yang katanya kapasitasnya kecil hanya cukup untuk 4 orang. Lebih baik salat sendiri-sendiri tidak bercampur laki-laki dan perempuan. Seperti tadi, menyimpan tas milik Zaky di pangkuannya dengan dipegang erat-erat. Sebab di dalamnya ada ponsel, tablet, dompet, dan kunci mobil yang baginya barang berharga yang harus dijaga sepenuh hati dan dengan kerelaan tentunya. Sedetail itu Kia tahu barang bawaan yang selalu mengisi tas pria yang dikaguminya itu.

Giliran Zaky yang menunggu Kia salat. Tak ada barang yang dititipkan karena Kia memilih membawa tasnya. Sambil mengisi waktu, ia memeriksa email terbaru yang dikirim dari Astrid, sekretarisnya Mizyan. File To Do List dibacanya dengan seksama dan kening mengkerut.

Laporan resign secara tertulis berikut lampiran beasiswa ter acc, subuh tadi sudah dikirim secara pribadi terhadap owner RM Architeam. Lalu dibahas lagi saat bertemu di kantor. Ini sudah menjadi kesepakatan di awal saat Zaky menerima pinangan Mizyan untuk bergabung di tim arsiteknya. Bukan sebagai pegawai tetap. Hanya magang sambil menunggu apply beasiswa diterima.

"I can do it." Lirih Zaky dengan yakin usai membaca to do list yang harus diselesaikan di pekan ini sebelum undur pamit.

Di grup Family RM Architeam juga ternyata sedang heboh. Ada 32 pesan belum dibaca. Beberapa orang meng-tag namanya. Ternyata cepat sekali info pengunduran diri tersebar di sesama karyawan dengan suasana kekeluargaan itu. Dan selama ngobrol dengan Kia tadi, ia memang tidak membuka ponsel.

Sani : [Oh no! Ga da Zaky, bakal kehilangan nur di designer room😭]

Joy : [Ceu nur ga ilang woy. Tetep di kantin jualan gado²]

Joy : [@Zaky kudu farewell party pokoknya mah]

Bagas : [Yup. Farewell nya Saturday night @Zaky]

Ayu : [Lokasi? Biar gue bisa nyalon dulu. Kudu glowing to the max buat foto² bareng @Zaky]

Dan masih banyak lagi obrolan dari yang lainnya. Yang membuat Zaky tertawa-tawa sendiri karena keabsurd-an teman-temannya itu. Sementara yang senior lebih menyimak. Dan saat Joy membuat poling 'Farewell or No', 70% suara setuju, sisanya tidak ikut karena bentrok acara keluarga.

[Oke. Tapi jangan Satnight, gue mau ke Bali. Frinight aja gimana?]

Zaky baru membalas setelah dari tadi menyimak semua obrolan. Bersamaan dengan Kia datang dan mengajak pulang.

Honda Jaz putih yang dikemudikan Zaky tiba di depan gerbang kost Humaira. Dari namanya saja sudah terkesan jika penghuninya adalah para mahasiswi yang circle-nya baik. Kia menempati kost itu sejak semester pertama.

"Aa pulang ke Ciamis kapan?" Kia menyempatkan menatap Zaky dulu usai membuka sabuk pengaman. Sepanjang jalan saat mengobrol belum ada pembahasan tentang kapan pulang ke Ciamis dulu.

"Mungkin pekan depan tapi hari pastinya belum tahu. Sabtu ke Bali dulu udah janji mau ketemu Shannon. Minggu sore langsung take off ke Jakarta mau ngurus visa ke kedutaan Swiss. Nginep di rumah Teh Puput. Kalau sempat waktu main ke Depok juga." Jelas Zaky. Di Depok adalah tempat tinggal adiknya bernama Ami yang sudah memiliki anak bayi perempuan yang lucu. Masih kuliah plus menjadi mama muda.

Kia manggut-manggut. "Baiklah. Jaga kesehatan ya. Nanti pulang farewell jangan malam-malam. Kurangi makanan bertepung dan gula, less junk food, less cola. Minuman terbaik tetaplah air putih. Perbanyak konsumsi real food. Ingat, gaya hidup masa muda itu tabungan yang akan dipanen di masa tua."

Zaky tersenyum lebar sambil menyerongkan badan. Menatap Kia penuh binar lalu mengacungkan dua ibu jari. "Nasihat dari anak tekpang emang beda. Ini sih harus jadi ahli gizi Aa after graduate. Eh ralat, gak usah nunggu lulus, nanti selama Aa di Zurich sering-sering chat ulti begini. Soalnya kalau sudah sibuk, seringnya order fast food."

Kia tersenyum dan mengangguk. "Untukmu...tentu dengan senang hati," namun hanya menjadi bahasa kalbu. Yang terucap di bibirnya adalah, "Makasih ya Aa untuk traktirannya. Hati-hati di jalan."

Zaky belum melajukan mobil. Memastikan dulu Kia memasuki gerbang sambil menenteng kantong kresek putih berlogo cafe. Meski tadi Kia menolak saat disuruh membungkus menu untuk makan malam, namun akhirnya ia berinisiatif sendiri memesannya. Kia sejak dulu memang selalu sungkan setiap ditawari apapun sejalan dengan karakternya yang kalem. Jauh beda sama teman sebangkunya yaitu adiknya sendiri, Ami. Bertolak belakang 180 derajat.

***

Empat hari berturut-turut dari Selasa sampai Jumat, menjadi hari sibuk bagi Zaky untuk menuntaskan tugas menyelesaikan desain rumah dengan seluruh detailnya yang lumayan menguras tenaga dan konsentrasi. Masalahnya, yang menjadi kliennya sangat rewel. Di saat desain sudah jadi di hari Rabu, namun klien meminta perubahan ruang di lantai dua. Padahal aturannya, revisi hanya bisa diterima saat meeting preview. Membuatnya harus keluar masuk ruang direktur Mizyan untuk berkonsultasi. Sebab kesabarannya masih belum terlatih.

"Begitulah...karakter klien emang ada aja yang menyebalkan, sok dia punya duit, berani bayar lebih katanya. Seenaknya ngatur di luar rule. Tapi kita memang harus sabar dan tetap tersenyum ngadepin yang begini."

"Iya, Mas. Takutnya jumat gak ke kejar kalau revisi lagi."

"Bisa. Kamu pasti bisa. Gini caranya..."

Dan memang tak cukup hanya skil teori, jam terbang pun sangat berpengaruh. Dengan bimbingan sang bos rasa kakak itu, Zaky berhasil menyelesaikan tugasnya di hari terakhir ia bekerja. Meski selama dua malam harus lembur di depan laptop. Meeting ulang dengan klien berakhir kata deal. Done.

"Bang Zaky, dipanggil Pak Mizyan ke ruangannya." Suara Astrid terdengar di ujung telepon. Zaky bergegas meninggalkan aksi beberes packing barang-barang pribadi. Masuk ke dalam lift menuju lantai enam. Puncak gedung RM Architeam.

"Barusan Mbak Rahma telepon. Ngundang dinner di rumah malam ini. Harus datang ya!" Mizyan to the point menyampaikan pesan dari sang istri.

"Malam ini? Duh gimana ya, Mas?" Zaky menggaruk tengkuk yang tak gatal dengan wajah meringis.

"Sudah ada acara bareng Ayang? Ajak aja sekalian dinner di rumahku."

"Bukan itu, Mas. Anak-anak ngajak farewell. Udah booking private room di cafe Zero."

"Berarti bisa dinner dulu ke rumah, jam tujuh. Nanti lanjut farewell. Harus perpisahan dulu dong sama Dika, Mentari, Mahesa. Masa tiba-tiba Om Zaky-nya ngilang begitu saja. Mereka pasti ngambek."

Zaky termenung untuk beberapa detik. Memang benar selama ini ia sudah dekat dengan keluarga Mizyan. Sampai bosnya itu menolak dipanggil 'Pak'. Bekerja rasa keluarga. Akhirnya Zaky menyetujui.

Meja kerja dan lemari sudah kosong dari barang pribadi. Semua sudah dikemas ke dalam kardus yang kini di dekapnya bersiap pulang. Berhenti sejenak di lobi. Meminta tolong pada Rika yang merupakan petugas resepsionis, untuk memotretnya di depan partisi estetik bertuliskan RM Architeam. Untuk kenang-kenangan dan akan diposting di akun media sosialnya.

"Thank you, Rika. Nanti ikut kan farewell?" Zaky tersenyum puas melihat hasil foto yang hampir semuanya bagus.

"Ikut dong. Tapi sekarang aja udah mellow. Bang Zaky kenapa harus pergi sih. Saat mata perih karna melototi komputer, natap wajahmu bisa jadi penawar." Rika menaik turunkan kedua alisnya diiringi senyum seringai.

"Tenang Ani....Akang Roma akan setia disini." Tiba-tiba Bagas muncul sambil menepuk dada. Diikuti pecah tawa rekan yang lain yang sama-sama bersiap pulang.

Zaky tertawa renyah. Memang selalu saja ada keabsurd-an yang tercipta. Beruntung tak ada yang bermain hati di antara sesama rekan kerja. Semua bisa bercanda dengan lepas. Suasana ini pasti akan dirindukan. Berasa baru kemarin bersama-sama dengan mereka yang selalu punya trik melawak saat jenuh melanda.

Pulang ke rumah. Lebih tepatnya rumah milik keluarga sang kakak ipar bernama Panji yang hampir setahun ini ditempati oleh Zaky. Tinggal bersama sepasang suami istri yang bertugas sebagai asisten rumah tangga dan menjaga rumah. Padahal awalnya ingin mandiri dengan tinggal di kosan. Namun kakak ipar mewajibkan menempati rumah itu sebab sehari-harinya kosong. Paling sesekali keluarga dari Ciamis datang untuk liburan.

Selepas magrib Zaky langsung melajukan mobilnya ke arah rumah Mizyan yang jaraknya sekitar 30 menit berkendara. Menepati janji menghadiri undangan makan malam perpisahan.

"Wow surprise. Ada Om Zaky." Lengkingan suara riang menyambut Zaky saat pintu dibuka oleh asisten rumah tangga. Berasal dari arah sofa. "Om Zaky mau ketemu Papa ya?" sambungnya sambil mendekat dengan satu tangan memeluk boneka kucing.

"Bukan. Om mau ketemu Mentari." Zaky tersenyum simpul melihat si rambut pirang yang lucu.

"Seriously?" Mentari melebarkan mata. "Ulala...yes yes yes." Tubuhnya berputar sambil berjingkrak-jingkrak riang.

Mahesa mendekat dengan tangan memegang mangkuk melamin berisi buah naga potong. Yang kemudian meremas sepotong buah naga dan diusapkan ke pipi Mentari sambil berucap, "Centiiiillll."

"BUNDAAAA. HWUAAA."

Zaky sigap mengusap-usap punggung Mentari yang menangis penuh drama. Menggelegar. Antara kasihan dan menahan tawa melihat pipi putih Mentari berubah warna merah buah naga.

"Ya Salam. Adek ngapain kakak, hm?" Rahma sebagai bundanya anak-anak datang dengan tergopoh-gopoh. Kejengkelan ditekan serendah-rendahnya demi menghadapi keusilan kakak beradik yang biasa menghiasi hari.

Yang ditanya tetap tenang duduk sila dengan wajah tanpa dosa, memakan potongan buah naga menggunakan sendok.

"MAHESA AQIL ABDILLAH!" Ucap Mizyan yang datang paling akhir bersama Dika. Berdiri di samping Rahma.

Membuat Mahesa terperanjat berdiri. Anak berusia 4 tahun itu berdiri tegak dengan tangan memberi hormat.

Lagi-lagi Zaky melipat bibir menahan tawa yang ingin meledak. Memang ia sudah tidak aneh dengan keusilan Mentari maupun Mahesa. Hanya si sulung bernama Mahardika yang kalem dan ngemong kedua adiknya.

"Minta maaf sama Kak Tari." Mizyan menunjuk dengan dagu pada Mentari yang masih terisak-isak. Sedang dilap pipinya oleh Bunda Rahma.

"Maafin adek ya kak." Mahesa segera memeluk Mentari tanpa perlu disuruh dua kali.

"Jangan diulang ya. Hiks." Mentari balas memeluk sambil masih terisak. Papa dan Bunda selalu mengajarkan tidak boleh ngambek lama-lama.

"Hmm, iya. May...."

"Jangan bilang maybe yes maybe no!" Gertak Mentari sambil mendelik.

"Hihihi...." Mahesa memeletkan lidahnya. Namun kemudian melipat bibir demi mendengar deheman Papa Mizyan.

Drama sudah berakhir dan kembali rukun. Terbukti saat semuanya duduk bersama di meja makan. Dalam sesi hening usai makan dengan suasana kekeluargaan, Zaky berucap terima kasih atas segala kebaikan dan kehangatan keluarga Mizyan selama ini.

"Om Zaky, nanti kirimin video gimana ETH Zurich ya. Aku juga pengen kuliah arsitek di sana. Papa sama Bunda support aku kuliah disana." Ucap Dika dengan mata berbinar. Si sulung yang duduk di bangku kelas enam SD semester dua. Akselerasi dengan lompat dari kelas 4 langsung ke kelas 6.

"Siap, Bang Dika. Semangat belajarnya. Bentar lagi SMP, SMA. Go....terbang ke Zurich." Zaky menyemangati dengan mengepalkan tangan.

"Aku juga mau seperti Papa jadi arsitek. Tapi kuliahnya mau di Bandung aja. Gak mau jauh dari Papa dari Bunda. Dimana Bun, lupa lagi."

"ITB." Rahma menjawab pertanyaan putrinya.

Mentari pun menjentikkan jari diiringi senyum lebar. "Adek cita-citanya mau jadi apa?" ujarnya beralih menatap Mahesa yang anteng memakan puding coklat.

"Adek mau jadi tukang parkir."

Tidak ada yang menertawakan ucapan Mahesa. Hanya pada menahan tawa. Harap di maklum imajinasi anak balita menyukai seperti apa yang dilihatnya.

Tak bisa bersantai lama-lama di rumah Mizyan. Usai berfoto-foto dengan ketiga anak berkualitas itu, Zaky pamit sebab teman-temannya sudah berkumpul di cafe Zero. Saatnya farewell party.

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Tekpang \= Teknologi pangan

Yang masih lupa, Mahesa Aqil Abdillah ada di bonchap terakhir MELUKIS SENJA. Waktu itu syukuran aqiqah.

Terpopuler

Comments

Aira apsari

Aira apsari

aku baca mas Mirza nya udah lama bng jadi lupa pemeranya siapa siapa aja

2024-11-22

0

Lestaree

Lestaree

ga heran bang dika akselerasi mah 😍

2025-02-06

0

Lestaree

Lestaree

abang dika udh gede udh kalem yaa..

2025-02-06

0

lihat semua
Episodes
1 Kisah Kita Baru Dimulai
2 Farewell
3 Bertemu Shannon
4 Senja di Pantai Mertasari
5 Silaturahmi
6 Beri Waktu
7 Senja Bersama Ibu
8 Kisah Hari Ini
9 Selayang Pandang
10 Sehari Sebelum Berangkat
11 Tiba di Jakarta
12 Aku Bisa Apa
13 Jatuh Cinta dan Patah Hati Itu Fitrah
14 Menata Masa Depan
15 Musim Berganti
16 Wahai Hati
17 Selesai Tugas
18 Jatuh Cinta, Bangun Cinta Lain
19 Internship
20 Merelakan Takdir
21 Hallo, Jakarta
22 Pelarian?
23 Waktu Merubah Segalanya
24 Aku Ingin Pulang
25 Rasanya Menjadi Adik Kakak
26 Apartemen
27 Mari Berkenalan
28 Terlambat Menyadari
29 Cinta Datang Terlambat
30 Hati yang Mencelos
31 Menatap Masa Depan
32 Mengikis Diterbangkan Sayap Waktu
33 Lebih Aman Jauh Daripada Dekat
34 Menunggu Besok
35 Bukan Kebetulan
36 Hanya Mudah Secara Lisan
37 Aku Pamit
38 Sambutan Horor
39 Ada yang Aneh
40 Kecamuk Pertanyaan
41 Kapan Siap Nikah
42 Ghibah
43 Bakal Ada Special Guest
44 Welcome Special Guest
45 Mesin Waktu
46 Kau Datang dan Pergi
47 Niatnya Ingin Memberi Kejutan
48 Dua Hari, Dua Fakta
49 Siapa Dia?
50 Satu Persatu Tabir
51 Minta Diantar Aa
52 Cerita Teh Kokom
53 Menangislah
54 Langkah Selanjutnya
55 Kepo, Boleh?
56 Cerita Plot Twist
57 Sebuah Rencana
58 Bahagia Itu Kita Yang Ciptakan
59 Hikmah Patah Hati
60 Informasi Penting
61 Masih Ada Waktu
62 Perayaan Patah Hati
63 Perayaan Patah Hati (2)
64 Perayaan Patah Hati (3)
65 Tanya Jawab
66 Lebih Berharga Dari Benda Pusaka
67 Apa Kabar Diary?
68 Zaky di Tengah Sukacita
69 Zaskia Diary
70 Terkuak
71 Rencana Berubah
72 Sesakmu Dulu, Sesakku Kini
73 Tamu Malam Minggu
74 Malam Minggu Akhir Juli
75 Quality Time
76 Kenalan Dulu
77 Bandara Cinta
78 Ada Apa?
79 Curhat Shannon
80 Curhat Dua Wanita
81 Jantung Berdebar
82 Silang Cerita
83 Diskusi Keluarga
84 Menjemputmu
85 Malam Canda
86 Rencana Kita
87 Seharian Denganmu
88 Selamat Jalan Kekasih
89 Pertemuan Tak Disangka
90 Dua Masa Lalu Dalam Sepekan
91 Semua Ada Waktunya
92 Menjelang Sabtu
93 I Love You, Cantik
94 Pertemuan Keluarga
95 Nasihat Bapak
96 Hari Demi Hari
97 Permohonan
98 Akad Nikah
99 Merayu Allah Lewat Doa
100 Dua Kemungkinan
101 101. Ratap dan Harap
102 102. Mediasi
103 103. Malam Terakhir Bersama
104 104. Beri Waktu
105 105. Pergi Untuk Kembali
106 106. Kunanti Kabarmu
107 107. Perjalanan Hari
108 108. Hidup Baru
109 109. Pengobat Rindu
110 110. Menghitung Hari Pertemuan
111 111. Menggoda
112 112. Menyambutmu
113 113. Memang Pengantin Baru
114 114. Welcome Back
115 115. Hari Bahagia Tiba
116 116. Di Luar Ekspektasi
117 117. Perkara Mantan
118 118. Ini Ujian Hati
119 Bawa Santai
120 120. Usai Sudah Ujian Hati
121 121. Banyak yang Harus Dibahas
122 122. Diskusi Panas
123 123. Jaga Diri Ya
124 124. Kabar
125 125. Sidang?
126 126. Hasil Sidang
127 127. Keputusan Kita
128 128. Opsi Pengobatan
129 129. Tamu Oh Tamu
130 130. Atur Waktu
131 131. Rencanakan
132 132. Meniti Tangga Rencana
133 133. Rumah Mertua
134 134. Bertemu Desainer Sundari
135 135. Ganti Wacana
136 136. Obat Malarindu
137 137. Waktunya Minum Obat
138 138. Sambutan di Jakarta
139 139. Family Man
140 140. Teman Perjalanan
141 141. Sibuk Persiapan
142 142. Fitting
143 143. Tiba Waktu Yang Ditunggu
144 144. Pulang
145 145. Pelukan Hangat
146 146. Semua Kumpul
147 147. Resepsi Zakia
148 148. Resepsi Zakia (2)
149 149. Cinta Terakhir
150 150. Malam Mingguan
151 151. Penasaran Kopi
152 152. Pamit
153 153. Perjalanan Baru
154 154. Jepang Impian
155 155. Rejeki Tahun Baru
156 156. Bandung Bercerita
157 157. Surprise Kecil
158 158. Ayah
159 159. Cerita Kecewa
160 160. Jangan Mendekat!
161 161. Jawaban Serba Salah
162 162. Setelah Tiga Hari
Episodes

Updated 162 Episodes

1
Kisah Kita Baru Dimulai
2
Farewell
3
Bertemu Shannon
4
Senja di Pantai Mertasari
5
Silaturahmi
6
Beri Waktu
7
Senja Bersama Ibu
8
Kisah Hari Ini
9
Selayang Pandang
10
Sehari Sebelum Berangkat
11
Tiba di Jakarta
12
Aku Bisa Apa
13
Jatuh Cinta dan Patah Hati Itu Fitrah
14
Menata Masa Depan
15
Musim Berganti
16
Wahai Hati
17
Selesai Tugas
18
Jatuh Cinta, Bangun Cinta Lain
19
Internship
20
Merelakan Takdir
21
Hallo, Jakarta
22
Pelarian?
23
Waktu Merubah Segalanya
24
Aku Ingin Pulang
25
Rasanya Menjadi Adik Kakak
26
Apartemen
27
Mari Berkenalan
28
Terlambat Menyadari
29
Cinta Datang Terlambat
30
Hati yang Mencelos
31
Menatap Masa Depan
32
Mengikis Diterbangkan Sayap Waktu
33
Lebih Aman Jauh Daripada Dekat
34
Menunggu Besok
35
Bukan Kebetulan
36
Hanya Mudah Secara Lisan
37
Aku Pamit
38
Sambutan Horor
39
Ada yang Aneh
40
Kecamuk Pertanyaan
41
Kapan Siap Nikah
42
Ghibah
43
Bakal Ada Special Guest
44
Welcome Special Guest
45
Mesin Waktu
46
Kau Datang dan Pergi
47
Niatnya Ingin Memberi Kejutan
48
Dua Hari, Dua Fakta
49
Siapa Dia?
50
Satu Persatu Tabir
51
Minta Diantar Aa
52
Cerita Teh Kokom
53
Menangislah
54
Langkah Selanjutnya
55
Kepo, Boleh?
56
Cerita Plot Twist
57
Sebuah Rencana
58
Bahagia Itu Kita Yang Ciptakan
59
Hikmah Patah Hati
60
Informasi Penting
61
Masih Ada Waktu
62
Perayaan Patah Hati
63
Perayaan Patah Hati (2)
64
Perayaan Patah Hati (3)
65
Tanya Jawab
66
Lebih Berharga Dari Benda Pusaka
67
Apa Kabar Diary?
68
Zaky di Tengah Sukacita
69
Zaskia Diary
70
Terkuak
71
Rencana Berubah
72
Sesakmu Dulu, Sesakku Kini
73
Tamu Malam Minggu
74
Malam Minggu Akhir Juli
75
Quality Time
76
Kenalan Dulu
77
Bandara Cinta
78
Ada Apa?
79
Curhat Shannon
80
Curhat Dua Wanita
81
Jantung Berdebar
82
Silang Cerita
83
Diskusi Keluarga
84
Menjemputmu
85
Malam Canda
86
Rencana Kita
87
Seharian Denganmu
88
Selamat Jalan Kekasih
89
Pertemuan Tak Disangka
90
Dua Masa Lalu Dalam Sepekan
91
Semua Ada Waktunya
92
Menjelang Sabtu
93
I Love You, Cantik
94
Pertemuan Keluarga
95
Nasihat Bapak
96
Hari Demi Hari
97
Permohonan
98
Akad Nikah
99
Merayu Allah Lewat Doa
100
Dua Kemungkinan
101
101. Ratap dan Harap
102
102. Mediasi
103
103. Malam Terakhir Bersama
104
104. Beri Waktu
105
105. Pergi Untuk Kembali
106
106. Kunanti Kabarmu
107
107. Perjalanan Hari
108
108. Hidup Baru
109
109. Pengobat Rindu
110
110. Menghitung Hari Pertemuan
111
111. Menggoda
112
112. Menyambutmu
113
113. Memang Pengantin Baru
114
114. Welcome Back
115
115. Hari Bahagia Tiba
116
116. Di Luar Ekspektasi
117
117. Perkara Mantan
118
118. Ini Ujian Hati
119
Bawa Santai
120
120. Usai Sudah Ujian Hati
121
121. Banyak yang Harus Dibahas
122
122. Diskusi Panas
123
123. Jaga Diri Ya
124
124. Kabar
125
125. Sidang?
126
126. Hasil Sidang
127
127. Keputusan Kita
128
128. Opsi Pengobatan
129
129. Tamu Oh Tamu
130
130. Atur Waktu
131
131. Rencanakan
132
132. Meniti Tangga Rencana
133
133. Rumah Mertua
134
134. Bertemu Desainer Sundari
135
135. Ganti Wacana
136
136. Obat Malarindu
137
137. Waktunya Minum Obat
138
138. Sambutan di Jakarta
139
139. Family Man
140
140. Teman Perjalanan
141
141. Sibuk Persiapan
142
142. Fitting
143
143. Tiba Waktu Yang Ditunggu
144
144. Pulang
145
145. Pelukan Hangat
146
146. Semua Kumpul
147
147. Resepsi Zakia
148
148. Resepsi Zakia (2)
149
149. Cinta Terakhir
150
150. Malam Mingguan
151
151. Penasaran Kopi
152
152. Pamit
153
153. Perjalanan Baru
154
154. Jepang Impian
155
155. Rejeki Tahun Baru
156
156. Bandung Bercerita
157
157. Surprise Kecil
158
158. Ayah
159
159. Cerita Kecewa
160
160. Jangan Mendekat!
161
161. Jawaban Serba Salah
162
162. Setelah Tiga Hari

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!