Chapter 11

Lagi-lagi kantor pusat kepolisian di hebohkan dengan kejadian yang sama terulang, dimana seorang polisi dengan pangkat yang besar meninggal terbunuh dan berada di tempat yang sama yaitu toilet.

Semua orang begitu ketakutan melihat kepala mayat yang hampir lepas,dengan kaki yang bengkok, seperti nya tulang nya benar-benar patah.

Pemeriksaan kembali di lakukan kepada seluruh yang bekerja di kantor itu,kali ini lebih ketat lagi pemeriksaan nya,bukan hanya pada seluruh petugas kebersihan tapi anggota kepolisian dan orang-orang yang berlalu lalang masuk hari ini.

Sementara TKP segera di amankan dan mayat nya juga di visum langsung oleh dokter forensik hebat dan terkenal.

Di tempat itu,Perwira Jendral besar berdiri dengan tatapan yang tak bisa di artikan tapi setelah melihat secara langsung kedua mayat itu terbunuh,entah kenapa ia teringat dengan 15 tahun lalu,dimana semuanya bekas luka yang di kan si pembunuh sama seperti yang mereka lakukan pada atasannya dulu.

"Apakah dia hidup lagi untuk balas dendam?",terka nya karna entah kenapa ia menjadi takut.

Sebuah notif masuk ke ponselnya,membuat nya begitu terkejut karna getaran ponsel di dalam saku nya itu,tangan nya merogoh dan mengambil benda pipih itu dari dalam saku nya.

Ketakutan kembali meradang dan semakin besar,saat membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.

SOMEBODY->"Tunggu giliran mu pak jendral Ferdy Moore,tidak akan lama lagi"

"Sialan,siapa yang berani meneror ku dengan ancaman seperti ini",geram nya mengepal kuat ponsel di genggamannya.

Ia menatap luas ke segala arah karna merasa yakin kalau pelaku nya masih berada di sekitar sana,tapi nihil ia tak menemukan siapapun hanya rekan-rekan polisi yang lain yang sedang sibuk mengevakuasi mayat tersebut.

Lucas bersama Gara berdiri memperhatikan para polisi yang sedang sibuk mengevakuasi mayat tersebut.

"Tuan menurut mu apa yang sebenarnya terjadi hingga kejadian seperti ini sudah terjadi dua kali,siapa pembunuhnya?dan apa motif nya?,dan kenapa dia membunuh perwira yang mempunyai jabatan yang tinggi?,itu aneh sekali",tanya Gara beruntun,jujur saja itu juga membuat nya bingung dan jiwa kepo nya tentu saja meronta-ronta.

"Pembunuh nya juga tak meninggalkan jejak sama sekali,dia pasti bukan pembunuh biasa,jika tidak kenapa dia berani sekali membunuh seorang polisi dengan jabatan tinggi di kantor pusat kepolisian ini",Gara kembali berbicara.

Lucas juga sama bingung nya dengan Gara,namun sebenarnya ia tidak terlalu peduli karna itu tak berkaitan dengan nya sama sekali,tapi ia sedikit penasaran siapa pelaku di balik semua itu dan apa alasannya melakukan itu.

"Maaf tuan Lucas,anda harus melihat kejadian ini saat anda berkunjung,jujur saja saya ingin tahu siapa pelaku di balik semua ini,dan jika saya tahu saya tidak akan pernah memaafkan nya,karna ini sangat kejam dan tidak manusiawi,saya yakin dia adalah seorang teroris yang masuk dan berusaha merusak kenyamanan negara ini",Ucap Hendry Moore yang menghampiri Lucas dan Gara saat melihat keduanya memperhatikan kejadian itu.

Sebenarnya Hendry mengatakan hal itu,karna ia ingin memprovokasi Lucas agar mau membantunya menemukan pelaku.Hendry yakin Lucas bisa menemukan pelaku itu dalam sekejap mengingat profesi nya dan koneksi nya yang bukan main-main.

Lucas melirik arloji nya dan menoleh ke arah Hendry,"Saya masih ada urusan penting,semoga anda bisa menangani hal ini secepatnya",ujarnya kemudian berlalu pergi di ikuti langsung oleh Gara.

Hendry menghela nafas,ia sangat berharap Lucas membantunya,"Semoga dia mau membantu ku menemukan pelaku pembunuhan ini,aku yakin di balik semua ini pasti ada hubungannya dengan 15 tahun yang lalu,jika aku menemukan nya aku akan membunuh nya sama seperti orang yang sok hebat itu",gumam nya dengan menggeram dalam hati.

"Sudah sejak lama tapi masih membuat masalah dan ingin mencari masalah dengan ku,dasar sialan",maki nya dalam hati.

***

Sementara Very di buat sangat marah karna Veer saudara kandung nya di bunuh.

Ia mengerang sepanjang perjalanan menuju kantor pusat kepolisian,"Sumpah demi apapun,aku akan membuat pembunuh itu menderita karna sudah membunuh adik ku!",pekik nya dengan mata yang merah karna menangis dan marah besar.

Sementara istrinya Margaret yang juga ikut bersamanya juga tak berhenti menangis namun juga menenangkan suaminya itu yang terus marah-marah.

Cintia juga berada di dalam mobil yang sama,ia juga begitu sedih sekaligus tak percaya adik dari adik ipar nya itu meninggal di bunuh di kantor polisi, sebenarnya ia ikut bersama mereka karna di beritahu kalau Arabella putrinya mengalami syok dan pingsan karna ia yang pertama menemukan mayat itu,tentu saja ia juga sangat mengkhawatirkan putri nya.

Sesampai nya mereka di kantor pusat kepolisian,Very segera turun di ikuti oleh istri dan kakak iparnya Cintia dari belakang dengan langkah yang sama-sama cepat.

Very begitu marah sampai membuat orang-orang di sana ketakutan."Dimana adik ku!,siapa yang membunuh nya",teriak nya dengan begitu marah besar menendang kursi meja yang ia lewati.

Sesampai nya di TKP,ia langsung menghampiri jasad adiknya yang sedang di evakuasi,ia menangis melihat kondisi mengerikan adiknya,jelas ia tak terima.

"Bedebah mana yang berani melakukan ini!!!,aku akan membunuh nya dengan tangan ku sendiri sebagai pembalasan!", teriak nya menangis membuat beberapa orang di sana ikut sedih melihat nya.

"Tuan Very,ada yang perlu saya bicarakan dengan anda,ini mengenai pembunuhan yang sudah terjadi pada kedua rekan kita termasuk adik mu",Ferdy menghampiri Very yang masih sangat berduka di depan jasad Veer adiknya.

Very awalnya enggan untuk meninggalkan jasad adiknya itu,tapi mendengar Ferdy mengatakan soal pembunuhan pada adiknya ia berdiri dan mengikuti Ferdy.

***

"Hei kalian berdua petugas kebersihan!"

Panggilan seseorang tiba-tiba membuat Rora dan Irly terhenti,karna merasa jika mereka yang di maksud.

"Ada apa pak?", tanya Irly sesopan mungkin.

Polisi yang memanggil mereka tadi menatap Rora tajam, membuat Irly sedikit gugup apa mereka meninggalkan jejak sehingga mereka di curigai.

"Kau antar kan ini ke ruang rawat unit 2",Polisi itu menyerahkan sebuah kotak besar pada Rora.

"Dan kau ikut saya",tunjuk nya pada Irly.

Kedua nya akhirnya berpisah, Rora segera mengantarkan kotak besar itu ke tempat yang di perintahkan sebelum nya, sementara Irly berjalan mengikuti polisi yang memerintah mereka.

Sementara itu,Cintia dan Margaret sedang menemani Ara yang belum juga sadar sampai saat ini, membuat mereka begitu khawatir.

"Nak,tolong jangan membuat bunda takut", Cintia menitikkan air matanya tak sanggup melihat putrinya pingsan begitu lama.

"Kak,aku yakin Ara baik-baik saja kau tidak usah takut",pinta Margaret pada kakak nya itu.

tok..tok..

"Permisi,saya mengantarkan sesuatu"

Ujar seseorang yang berada di balik pintu.

"Masuklah"

sahut Margaret dari dalam,membuat seseorang yang mengetuk pintu barusan masuk dengan membawa kan sebuah kotak besar.

Namun langkah perempuan berpakaian tukang kebersihan itu terhenti saat melihat tiga orang di dalam ruangan itu.

deg...

bersambung...

Terpopuler

Comments

Rosy

Rosy

ya Allah..untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun akhirnya Rora bertemu dg ibu kandung dan juga saudara kembarnya..pasti Rora sedih sekali ingin memeluk mereka tapi tidak bisa 😢

2024-02-01

1

Sulastri Mawardi.87

Sulastri Mawardi.87

jgn kasih hdp tenang yg membunuh almarhum ayah u rora,basmi semua nya,,dan stlh itu kembalikan nama baik almarhum ayah u rora.

2024-02-01

1

abimasta

abimasta

lanjut thor

2024-02-01

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!