Sementara itu,menyelesaikan misinya malam ini Rora tampak duduk di alun-alun kota yang dulu sering ia kunjungi bersama Ayah dan saudara kembarnya dan tentu saja bersama ibunda nya.
Setelah mengirim pesan pada Ferdy dengan ponselnya yang lain,ia kini duduk di kursi panjang yang berada di tengah taman dengan air mancur di depannya, meskipun ada banyak orang berpasangan di sana ia tak terlalu mempermasalahkan nya.
"Ayah,aku merindukan bunda tapi aku tidak bisa memeluk nya, rasanya bunda begitu jauh meskipun dekat",ucapnya dengan tersenyum getir dengan menatap kosong ke air mancur.
"Tapi setelah aku menyelesaikan satu orang ini,aku merasa akan bisa memeluk bunda ayah", ucapnya dengan tatapan yang teduh melihat air mancur.
Jika berfikir ia menangis atau mata yang memerah, kalian salah besar.
...
Setelah tiga hari Very setelah sadar dari kritis nya,ia tidak mendapati siapapun yang ada di ruangan nya,ia ingat tiga hari yang lalu ia kecelakaan masuk ke dalam jurang, sehingga ia bisa berada di rumah sakit ini.
Tapi sepi ruangan itu membuat nya bertanya-tanya kemana istrinya? kenapa tidak merawat ku?,fikir nya sedikit kesal.
Hingga beberapa saat kemudian sister masuk membuat nya langsung bertanya,"Permisi sus,dimana istri ku? apakah tidak ada orang yang menjenguk ku?", ucapnya dengan nada pelan namun kesal.
"Maaf pak,tapi sejak anda di sini tidak ada yang menjenguk bapak",jawab suster itu dengan sopan sembari mengganti infus.
"Tidak ada sama sekali?,kemana mereka semua?,kenapa tidak merawat ku atau menjaga ku di sini,bahkan menjenguk pun tak ada",batin nya dengan begitu kesal dengan mengepal kuat tangan nya,tapi hal itu justru membuat nya pusing.
"Suster tolong telfon kan seseorang untuk ku",ujarnya saat suster itu selesai mengganti infus nya dan hendak pergi.
Very kemudian memberikan nomor istrinya yang ia ingat jelas,sehingga ia menyebutkan nya sedangkan suster itu menuliskan nya setelah selesai ia segera keluar untuk menelfon melalui telepon rumah sakit.
Namun setelah suster itu keluar tiba-tiba pintu kembali terbuka, membuat Very yang tadinya sempat memejamkan matanya kembali membuka matanya dan melihat ke arah pintu,siapa yang menjenguk ku?pikir nya.
Namun ia sedikit bingung dan ragu melihat seseorang yang sudah masuk dan tampak mengunci pintu,Arabella?tidak mungkin dia bukan Arabella, ucapnya membatin dan bertanya-tanya.
"Halo...paman",sapa gadis yang baru saja masuk itu dengan senyum,tapi senyuman nya begitu menyeramkan bahkan membuat Very bergidik ngeri padahal gadis itu tampak cantik meskipun tersenyum iblis.
"Si...siapa kau?,kau bukan Ara",ucapnya terbata,entah kenapa ia merasa takut karna melihat gadis itu mirip keponakan nya tapi ia yakin gadis yang sekarang di samping brankar nya bukan keponakan nya, tapi kenapa mereka terlihat mirip?,apa jangan-jangan.
Very segera menepis pikiran nya itu,"Tidak mungkin,dia sudah jelas-jelas mati di bawa arus sungai", ucapnya bergumam dalam hati namun ia ketakutan merasakan aura mencekam di seluruh ruangan.
"Bagaimana mungkin paman tidak mengenal ku,aku yakin paman sudah menebak siapa aku",
Mengerikan,suara wanita itu terdengar begitu dingin dan datar hingga mampu menusuk sampai ke tulang-tulang.
Seketika tubuh Very menegang,wajah nya menjadi sangat ketakutan hingga bergetar,"Ti...tidak mungkin, jelas-jelas dia sudah mati 15 tahun lalu di bawa arus sungai", ucapnya gemetaran namun berusaha meyakinkan dirinya yang sedang ketakutan.
"Tebakan paman benar,aku adalah gadis kecil yang paman buang ke bawah kolong jembatan hingga di bawa arus sungai yang kencang...",Gadis itu membungkuk dengan tersenyum miring,"Hingga aku bisa sampai di sini untuk membalas semua nya", ucapnya di telinga Very membuat pria itu semakin takut.
"Dan membayar atas kematian ayah ku",bisik nya lagi yang kini mampu membuat jantung Very seakan berhenti.
"K...ka...kau apakah...kau yang membunuh rekan ku dan ju...juga adik ku?",tanya nya dengan sorot mata yang begitu ketakutan hingga mulut nya serasa susah berucap.
Rora tersenyum manis tapi senyum itu begitu mengerikan di mata Very.
"Tepat sekali,termasuk menabrak mu hingga masuk ke dalam jurang",ucap Rora dengan senyum yang tak hilang dari wajah nya.
Ya,tidak salah gadis itu adalah Aurora Addison yang sengaja MENGUNJUNGI Very dengan niat BAIK.
"Ke... kenapa kau melakukan nya?"
Very menatap takut namun juga sangat benci di dalam hatinya.
Rora mendegus dan melipat kedua tangan nya di depan dada,"Cih,Jangan berpura-pura bodoh di depanku sialan",geram Rora dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah sangat marah hingga berkali-kali lipat menyeramkan di mata Very.
"Apa...yang kau ka...katakan aku tidak mengerti",Very masih berusaha mengelak karna takut jika nasib nya sama seperti adik nya dan juga rekan nya.
Tak bisa menahan kebencian dan amarah nya,Rora langsung mencekik leher Very dengan begitu kencang hingga membuat pria paruh baya itu melotot dengan wajah merah menahan kesakitan yang luar biasa, bagaimana tidak cekikan Rora begitu kencang seperti ingin membunuhnya.
"uhuk...uhuk...le....pas"
Ucapnya dengan wajah membiru sekarang.
Sadar dengan kemarahan nya dan emosi nya yang tak bisa ia batasi lagi,Rora menarik tangan nya dari leher Very dengan begitu kasar.
Uhuk...uhuk...
Very langsung terbatuk-batuk.
"Jangan berani nya membunuh ku,ada cctv di sini aku yakin...pihak rumah sakit sudah melihat ini dan sebentar lagi polisi akan datang"
Hmph!
Rupanya setelah mengelak,dan tidak mengakui pria paruh baya itu ternyata masih bisa mengancamnya.
"Kau pikir aku sebodoh diri mu!",sinis nya menatap remeh pembunuh ayah nya itu,sungguh ia ingin langsung membunuh nya sama seperti bagaimana cara pria itu membunuh ayahnya.
Tak ingin menghabiskan banyak waktu lagi di sana,Rora merogoh sesuatu dari dalam sakunya.
Melihat itu Very merasakan firasat yang tidak baik,"Apa yang ingin kau lakukan?",tanya nya merasa sesuatu akan terjadi.
"Jangan main-main dengan ku,aku tidak sendirian", ucapnya dengan wajah yang di buat garang.
Pfft...hahaha
Rora seketika tertawa mendengar nya,tapi sedetik kemudian ia berhenti tertawa dan menatap Very dengan tajam dan dingin,tanpa menunggu lebih lama lagi ia mengeluarkan sebuah jarum suntik yang tampak terisi cairan.
"Sudah terlambat,ku pastikan kau tidak akan bisa mengatakan apa-apa pada mereka", ucapnya dengan tersenyum miring kemudian langsung menyuntikkan cairan itu.
Jika kalian berfikir Rora menusukkan jarum suntik itu seperti dokter atau perawat pada umumnya, Kalian salah besar Rora justru menusukkan jarum suntik itu seperti sedang menikam dengan pisau.
Setelah selesai Rora mencabut jarum suntik itu hingga tak ada cairan lagi yang tersisa, setelah nya ia langsung berlalu pergi.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
iyufiksyi
.
2024-02-07
0
Rosy
ini yg di namakan hidup segan mati pun tak mau..selamanya very akan merasakan siksaan dari Rora..bukan cuma fisiknya yg sakit tapi juga hatinya karena semua keluarganya membencinya..dan pasti sahabatnya si Ferdy tidak mau terlibat dg Very yg sudah terjerat kasus karena itu bisa mencoreng nama baiknya
2024-02-06
2
Anonymous
sip thor, ak suka
2024-02-06
1