Chapter 13

Rora kini sudah berada di apartemen setelah melakukan pemeriksaan yang sungguh gila ketatnya.

Setelah kembali ia langsung masuk ke kamar dan mengurung diri,Liam dan Irly bingung tidak biasanya Rora seperti itu,apalagi terlihat sedih seperti sekarang.

"Kira-kira apa yang terjadi?",tanya Liam pada Irly yang duduk di depannya makan dengan lahap.

"Aku juga tidak tahu,tapi mungkin saja ia butuh waktu sendiri,karna seperti nya jika tidak salah aku melihat ibunya tadi datang ke kantor polisi mungkin saja dia melihat nya dan jadi sedih,ya kau tahu sendiri dia orang nya kalau sudah menyangkut keluarga sisi lemah nya akan terlihat",Ujar Irly dengan menghela nafas.

Mereka memang sudah tahu wajah ibunda Rora,karna melihat beberapa foto yang di miliki Rora dan juga beberapa tahun lalu juga sering mengambil foto diam-diam bunda Rora untuk mengobati rasa rindu gadis itu.

Liam menghembuskan nafas kasar,ia jadi tidak selera makan karna Rora tidak makan apalagi mengetahui gadis itu sedang bersedih.

Liam memang sosok ibu bagi ketiga rekannya,Liam yang selalu menyiapkan kebutuhan mereka,memasak, membagi-bagikan uang dan banyak membantu mereka dalam masalah pribadi lainnya,ia begitu tulus menyayangi kelompoknya karna bagaimana pun ia sudah kehilangan keluarganya sejak berusia 15 tahun,dan selama itu ia sudah berada di kelompok itu hingga usianya 27 tahun sekarang.

Meskipun begitu Liam bukan lelaki bencong.

Begitulah lah kelompok mereka yang sudah seperti keluarga, begitu dekat dan saling menyayangi satu sama lain.

Ia beranjak dari duduknya kemudian mengisi piring lain dengan lauk pauk yang sudah ia masak,kemudian pergi ke kamar Rora.

tok...tok...

"Ra,boleh aku masuk"

Tak ada jawaban setelah beberapa saat,ia akhirnya masuk dengan sepiring makanan di tangannya dan juga gelas berisi air minum.

Terlihat Rora yang bersembunyi di balik selimut,tidur atau mungkin hanya berpura-pura tidur.

Begitulah Rora terkadang bersikap kekanak-kanakan,sehingga sering kali mereka menjuluki Rora gadis dua jiwa,Namun tanpa semua orang sadari bahkan Rora sendiri pun tidak sadar kalau hal itu benar adanya dimana terkadang Rora kembali pada jiwanya yang berusia 5 tahun yang penuh kesedihan dan penderitaan hingga dendam,entah kenapa itu bisa terjadi tapi itulah kenyataannya.

Liam meletakkan piring dan gelas itu di atas nakas,"Ra,apa kamu bertemu dengan ibu mu hari ini?",tanya nya namun tak di gubris oleh Rora,tapi hal itu membuat Liam yakin kalau penyebab Rora seperti ini pasti setelah melihat ibunya.

"Ra jangan gini,bukan nya kita melakukan ini semua agar kau bisa kembali berkumpul dengan keluarga mu,ingat Ra setelah kita menumpas habis pembunuhan ayah mu dan membersihkan nama baik Ayah dan keluarga mu,kau akan bisa berkumpul bersama dengan ibu dan saudara kembar mu",Liam mencoba memberikan pengertian pada Rora yang sekarang terlihat seperti gadis kecil berusia 5 tahun yang harus di bujuk untuk makan.

"Aku merindukan bunda ku",ujar Rora dengan suara lirih.

"Iya aku tahu Ra,kamu harus makan agar tubuh mu sehat agar kau punya tenaga untuk memberikan mereka hukuman dan bisa bertemu bahkan berkumpul dengan ibu kamu",Liam kembali membujuk.

Meskipun agak lama membujuk Rora,tapi Liam tetap sabar hingga akhirnya Rora luluh.

Jika Rora dalam mode anak kecil berusia 5 tahun,Galang dan Liam yang selalu membujuknya.

***

Ara kembali ke rumah setelah malam hari, mereka tidak ke apartemen tapi ke kediaman Very dan Margaret.

Very sengaja melakukan itu agar ia bisa memantau ibu dan anak itu,bagaimana pun ia mulai khawatir kalau yang di katakan Ferdy benar,namun meski ia sangat yakin kalau Ara dan ibunya tidak mungkin melakukan itu tapi ia akan memantau mereka untuk memastikan, apalagi ia mendapatkan kabar kalau Ara adalah orang pertama yang melihat mayat adiknya di kamar mandi.

"Ara,apa keadaan mu sudah membaik?",tanya nya akhirnya membuka suara,bagaimana pun di kantor polisi ia hanya mengurus mayat adik nya dan pemakaman nya yang harus segera di lakukan,sehingga tidak sempat menjenguk Ara di ruang rawat.

"Sudah paman, bagaimana paman Veer?",tanya Ara yang kembali bergetar saat mengingat kembali mayat yang sangat menyeramkan itu.

Very menghembuskan nafas perlahan,"Dia sudah di makam kan", jawabnya singkat sambil fokus menyetir.

"Siapa sebenarnya pelaku pembunuhan ini,apakah dia seorang iblis sehingga tidak punya hati membunuh orang bahkan dengan cara seperti itu",Ara begitu geram dan membenci pembunuh yang sudah membunuh adik dari paman nya itu, apalagi saat melihat paman nya begitu bersedih dan terpukul ia semakin membenci pembunuh itu,bahkan berjanji akan memberikan hukuman yang setimpal jika sampai menemukan pembunuh itu, bagaimana pun ia sudah menganggap Very sebagai ayahnya.

Mendengar itu Very yakin kalau tidak mungkin Ara yang melakukan nya, kemudian ia melihat wajah Cintia yang masih setia memeluk putrinya itu,bahkan melihat wajah tua Cintia ia sangat yakin tidak mungkin dia,"Apakah Addison mempunyai kerabat lagi?",gumam nya penasaran hingga memutuskan untuk bertanya pada istrinya nanti.

"Oh iya mas,kau tahu nyonya Atalia putri kan"

"mm.."

"Dengar-dengar dari teman arisan ku katanya dia sedang mencari menantu untuk putra sulung nya"

"Benarkah?",tanya Very yang tertegun di tengah kesedihan dan terpukulnya ia kehilangan adiknya.

Margaret mengangguk,"Iya mas,gimana kalau kita kenalkan sama Fanya aja",usul Margaret mengatakan putrinya yang selama ini tinggal di Aussie bersama neneknya.

"Boleh",ujar Very yang langsung bersemangat, sebelumnya ia ingin mendekatkan Ara dan Lucas tapi melihat Lucas tidak tertarik pada Ara harapan nya jadi pupus,tapi ia masih mempunyai putri yang membanggakan dan cantik,ia yakin Lucas pasti akan tertarik pada putrinya.

Mendengar itu entah kenapa hati Ara berdenyut,"Tidak,tuan Lucas adalah tipe ku hanya dia yang membuat ku tertarik", ucapnya dalam hati entah kenapa tidak senang.

"Nak,kamu kenapa?",tanya Cintia yang merasa putrinya bersikap aneh.

Ara tersadar,"akh tidak apa-apa bunda hanya kelelahan saja",ucapnya.

"Aku harus secepat nya bertemu dengan tuan Lucas"

***

Ke esokan harinya,Rora dan Irly tidak bekerja karna hari Minggu jadi Liam mengajak mereka ke Kafe untuk mencari suasana baru agar mereka tidak suntuk terus berada dalam lingkaran itu-itu saja.

Kini ketiga nya duduk di dekat kaca yang langsung memperlihatkan jalan raya,Rora sudah kembali pada dirinya yang bersikap dingin dan berwajah datar.

"Kapan Galang datang?",tanya nya.

"Mungkin sekitar satu Minggu lagi,katanya urusan nya belum selesai"

"Memang apa urusannya,kenapa begitu lama sekali?",tanya Irly menimpali.

Liam mengangkat kedua bahunya tidak tahu.

Saat ketiganya sedang asyik bicara dan menikmati pesanan masing-masing,entah kebetulan atau takdir Lucas dan Gara juga baru saja masuk ke kafe yang sama dengan mereka bahkan duduk di meja yang tepat di belakang ketiga orang itu.

Bersambung...

Like komen vote rate5 and subscribe 🙏🤗

Terpopuler

Comments

Nyonya Gunawan

Nyonya Gunawan

Waaah sdah keliatan ini tanda" hilal jodohnya lucas ma rora..

2024-02-07

0

Rosy

Rosy

itu yg di namakan jodoh..mau kemanapun kita pergi pasti akan ketemu juga..🤭
jadi penasaran..apakah Lucas akan langsung jatuh hati saat dia bertemu dg Rora nanti ya..

2024-02-02

1

Wiwi Sukaesih

Wiwi Sukaesih

mkn seru lanjut thor
sptny Rora jdoh am Lucas

2024-02-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!