Chapter. 18

...☞✿Lorenzo Stepbrother's Obsession ✿☜...

.......

.......

.......

Leo mengajak Nazila untuk pergi keluar dan dengan beraninya Leo datang langsung ke mansion Fathur untuk meminta izin pada kedua orang tua Nazila, sempat ada percakapan antara Leo dan Fathur terkait masalah anak remaja pada umumnya dan akhirnya merekapun di izinkan pergi tetapi harus memulangkan Nazila sebelum petang, jika telat dirinya akan langsung kena masalah.

"Kita mau kemana lagi nih?" tanya Leo menatap Nazila, mengelilingi mall yang penuh dengan manusia yang datang.

"Terserah kak Leo aja, Zila pihaknya ngikut aja!" cengir Nazila menatap Leo.

Leo menggeleng pelan, kata andalan perempuan yaitu terserah, apa tidak ada kata lain begitu? Kita kan para laki tidak tau, nanti malah di suruh peka lagi. Pada akhirnya Leo mengajak Nazila untuk pergi ke time zone sebab pergi ke taman itu sudah.

Nazila begitu senang di ajak jalan-jalan oleh Leo karena dirinya hanya mendekam di mansion besar itu di tambah dengan Lorenzo yang selalu merecoki dirinya.

Tetapi di sisi lain Lorenzo pergi entah kemana saat tau daddynya mengizinkan sang gadis untuk pergi dengan laki-laki bocah ingusan itu. "Awas kau baby!" desisi Lorenzo melempar kaleng soda itu lalu melesat pergi menggunakan motor mahalnya.

.  .   .

"Dasar anak tak tau di untung!" Desis seorang wanita paruh baya dengan pakaian seksinya yang sangat tidak cocok di paduka olehnya.

"Jika tak punya uang jangan ikut jeng, kita tidak butuh orang miskin ikut acara seperti ini!" sahut seorang wanita yang cukup glamor dengan pakaian mewahnya.

"Benar tuh jeng, kita tidak butuh orang miskin, lebih baik jeng Selen pergi dari sini!" sela yang lainnya tertawa melihat Selen di tertawakan dan di cela oleh sebagian orang yang berada di sana.

"Sebenarnya anda tidak cocok berada di sini nona Selen, lihatlah dirimu, tua, jelek! Tidak ada menariknya sama sekali, lelaki yang akan membelimu pun harus berpikir dua kali untuk menghabiskan uang mereka kepadamu!" hinanya menatap rendah Selen si wanita paruh baya.

"Jikapun ada, pasti laki-laki itu gila, memilih seorang wanita tua!" Mereka tertawa menjelek-jelekkan Selen yang sudah sangat begitu malu dan marah.

Tanpa sadar mereka menghina diri mereka masing-masing Selen si tukan jual dan mereka si tukang beli, tidak ada yang benar bukan? Jadi jangan hanya bisa menyalahkan satu pihak, kau hina tapi kau beli, bukankah itu satu sama?

Kepalang malu Selen pergi dari sana dengan perasaan campur aduk antara marah dan kesal, jika tidak seperti ini dirinya akan mendapatkan uang dari mana? Biaya hidup di kota sangatlah mahal sehingga dirinya harus tidur di setiap ranjang untuk mendapatkan uang.

"Lorenzo, anak itu benar-benar tak tau di untung!" Geramnya meremas handphonenya lalu pergi mencari angkutan umum untuk di tumpanginya pulang. "Awas saja kau anak sialan!"

.  .  .

"Dasar lelaki brengsek!" teriak Yunita melihat siluet Lorenzo yang pergi menggunakan motornya. "Lo akan bayar perbuatan yang pernah Lo lakuin ke gue Lorenzo!" Bengis Yunita lalu ikut pergi, demi apapun rasa sukanya yang begitu besar kini sudah hilang entah kemana di gantikan dengan rasa dendam yang begitu membara.

Haus akan pembalasan!

"Gimana enak gak main sama tuh anak?" tanya Liam menggoda Damian yang duduk di sampingnya mereka sedang nongkrong bareng di sebuah kafe kebetulan hari minggu tidak ada kegiatan, mau ngapel pacar jauh alias LDR.

"Longgar, kurang suka tapi gak apa lah, yang penting anak-anak gue bebas keluar gak pake tangan, pegel soalnya!" sahut Damian menyesap rokok di tangannya.

"Kalo gue sih pen nyoba sama adik gue sendiri kek si Renzo, pasti nikmat tuh!" timpal Veroza keluar sifat bejadnya.

"Anjing! Beda konsep cok! Kalo Renzo tuh adik tirinya lah elu? Adik kandung anjir!" sergah Liam menatap miris ke arah sahabatnya yang tiba-tiba menjadi sangat bejad.

"Gila Lo, adik kandung mau di kawini, mau jadi apa nanti anak Lo!" sela Damian yang ikut geleng-geleng kepala.

"Ya elah itu kan baru rencana, belum di lakuin ...," dengus Veroza.

"Iya walaupun itu masih rencana gak menutup kemungkinan buat Lo gak ngelakuin hal gak senonoh itu kan?" celetuk si Zex menatap remeh kepada Veroza, yang terlihat sedikit tak terima.

"Kalian ngapain?" tanya Lorenzo yang datang langsung duduk di antara mereka.

"Gak ada," jawab Liam yang mengerti kondisi. "Oh ya, sehabis libur KKN kalian ada rencana buat liburan gak?" sambungnya mengalihkan topik, supaya tak terlalu tegang.

"Mending langsung cek-in gak sih?!" celetuk Damian langsung mendapatkan pelototan tajam.

'Nih anak gak tau kondisi j*ncok!

"Bukannya itu adek Lo ya Ren?" ujar Damien. "Kok jalan ma cowok? Wah .... Apa itu pacarnya ya!" lanjutnya langsung mendapatkan tatapan tajam dari si empunya.

"Sekali lagi Lo bicara habis tuh leher!" gumam Lorenzo menatap tajam Damian yang langsung menciut. Sial jadi kesal sendiri si Lorenzo niat hati ingin menghindari pasangan sialan itu, ehh malah ketemu di sini, sial memang.

"Makasih kak Leo, minumannya enak banget, kapan-kapan Zila yang akan traktir kakak!" senyum Nazila begitu senang.

Leo mengusap gemas rambut Nazila. "Gak usah cantik, biar kakak aja yang traktir, buat traktir kamu jajan gak akan bikin kakak bangkrut!" senyum Leo dengan nada bercanda.

"Ih ..., kak Leo sombong, mentang-mentang orang kaya!" cemberut Nazila pura-pura ngambek.

Mereka tak sadar bahwa aksi menyenangkan itu di tatap penuh kekesalan dan amarah yang melanda oleh seseorang di samping bangku lain. Nazila menyadarinya dia mencoba untuk tak peduli, biarkan kali ini dirinya menikmati apa itu kehidupan dirinya terlalu bosan dan muak di kurung terus di dalam mansion mewah itu, sekali-kali dirinya ingin merasakan menjadi anak remaja yang normal pada umumnya, bermain bersama teman-teman, jalan bareng, maraton film bareng dan segalanya tanpa ada kekangan yang menjeratnya di tambah dengan perlakuan tak senonoh bukan Lorenzo terhadapnya.

.  .  .

Jam menunjukkan pukul empat sore Nazila pulang tiga puluh menit yang lalu dan kini dirinya tengah berdiri di depan kompor untuk membuat omlet kesukaannya, entah kenapa dirinya tak menyuruh para pelayan saja, tetapi dia tak mau, dia ingin menjadi anak yang mandiri sekali-kali tak menyusahkan orang lain.

Tiba-tiba sebuah tangan besar memeluk tubuh rampingnya sehingga membuatnya terkejut. "Abang jangan kek gini, Zila takut nanti ada mommy!" rengek Nazila mencoba melepaskan tangan Lorenzo yang melilit pinggangnya.

"Sebentar aja baby, Abang rindu!" jawab Lorenzo dengan nada terbenam di celekuk leher Nazila.

"Kita setiap hari ketemu, bisa-bisanya Abang rindu, udah ahh lepas Zila takut, Zila juga mau masak!" sentak Nazila sehingga pelukan itu lepas, entah keberanian dari mana dirinya berani menjawab bahkan menolak ucapan Lorenzo, tetapi bukannya memang seperti itu? Nazila menolak, Lorenzo memaksa! Begitu bukan?

.......

.......

.......

.......

...☞✿Lorenzo Stepbrother's Obsession ✿☜...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!