...☞✿Lorenzo Stepbrother's Obsession ✿☞...
.......
.......
Sungguh sial hari ini, orangtuanya tak mengabarinya bahwa mereka akan pulang hari ini, Renzo sempat kalut akan perbuatannya tetapi selagi Nazila tutup mulut dirinya aman dan satu lagi video bercinta mereka sudah terekam apik dan jelas.
"Nak, kamu tak apa-apa kan?" tanya Joana menyerbu putri satu-satunya itu, jika terjadi sesuatu yang tak terduga dirinya tidak bisa membayangkan itu pada anak gadisnya ini.
Nazila tersenyum manis menyambut pelukan sang mommy dengan rasa kangen yang begitu mendalam hatinya langsung tenang seketika sebab orang tuanya sudah pulang. "Nazila baik mommy, lihat Nazila gak kenapa-kenapa, tuh!" cengir Nazila menunjukkan raut wajah terbaiknya itu.
"Ck, baiklah-baiklah mommy percaya, yang penting kamu tidak kenapa-kenapa mommy khawatir saat di telpon kemarin malam," sela Joana membetulkan rambut Nazila yang sedikit acak-acakan.
Joana merasa miris melihat penampilan anaknya yang seperti orang sakit, mata sayu kulit pucat malas membersihkan diri, ada apa sebenarnya hati Joana merasa tak enak, apa yang ditutupi oleh anak gadisnya ini.
"Daddy!" seru Nazila berlari menghampiri Daddy tirinya itu dengan riang memeluknya meskipun harus merasakan sakit di area bawahannya, rasanya sangat ngilu.
"I miss you so much putri daddy yang cantik ini," gumam Fathur mengecup pelan kening Nazila.
"Daddy mana hadiahnya, aku nagih nih!?" cemberut Nazila menagih hadiah dari kedua orangtuanya.
"Gih, tanya ke mommy dulu?" titah Fathur menunjuk Joana dengan kode matanya.
"Mommy mana hadiah Zila? Masa keluar negeri gak bawain Nazila oleh-oleh sih!" cengirnya dengan nada cemberut.
Joana tersenyum manis melihat anak gadisnya yang kembali seperti semula. "Tenang mommy bawa banyak oleh-oleh kok untuk Nazila anak gadis mommy yang cantik ini." Senyumnya.
Dengan antusiasnya Nazila membuka paper bag yang disodorkan oleh Joana dengan isian coklat beserta barang-barang branded lainnya.
Lorenzo turun dari arah tangga menatap keluarganya itu yang tengah antusias menatap gadisnya yang tengah membuka oleh-oleh dari mereka. "Mau kemana nak? Sini gabung mommy juga bawa oleh-oleh buat kamu?" panggil Joana yang menyadari keberadaan anak tirinya itu.
"Hem ...," selain kata 'hem, Lorenzo tak memiliki kata lain untuk membalas ucapan seseorang. Matanya tertuju pada Nazila yang tak mau menatapnya jadi Lorenzo menurut saja duduk di samping Joana sembari menerima oleh-oleh dari mommy tirinya ini.
"Mommy tidak tau kamu suka apa, jadi mommy berinisiatif membelikan kamu jam tangan saja, ini semoga kamu suka nak?" senyum Joana menyerahkan jam mahal itu.
"Makasih!" respon Lorenzo sungguh tidak enak dilihat, dasar pemuda labil padahal umur sudah lebih dari dua puluh.
Joana tersenyum masam, atas respon anak tirinya itu, ya sudah jika begitu aku bisa apa? Toh aku juga bukan ibu kandungnya, yang terpenting dia tidak berlaku berlebihan terhadap anakku dan aku saja itu sudah cukup, lagipula aku menikah dengan ayahnya atas dasar saling suka tidak ada yang merasa dirugikan.
Kembali ke Renzo dan Nazila yang kini sudah duduk bersebelahan tak lupa dengan Nazila yang menunduk takut terhadap Lorenzo tentunya.
"Kenapa nunduk?" tanya Renzo menyingkirkan anak rambut gadisnya yang menutupi telinga manis itu.
"Gak apa-apa," jawab Nazila mencoba mengendalikan tubuhnya yang bergetar hebat.
Renzo tersenyum menatap kedua paruh baya itu yang pergi menaiki lift. "Ayo ikut, Abang kita bersenang-senang hari ini?" ajak Renzo dan tentunya di respon dengan gelengan kuat.
"Aku mau pergi sama mommy, Abang pergi aja sendiri," tolak Nazila menggeleng takut melepaskan tangan Renzo dari pergelangan tangannya yang tak bisa lepas.
"Mommy baru pulang loh, pasti dia kelelahan jadi kali ini kita bersenang-senang berdua saja, bagaimana baby?" senyum seduktif Renzo membuat Nazila takut.
Cup.
"Ayo sayang, jangan membantah!" desis Renzo mulai marah, ingatan dia bukan manusia penyabar yang bisa berkata lembut terlalu lama.
Dengan tubuh gemetar Nazila berdiri tetapi keburu di gendong oleh Renzo dia tak bodoh bahwa kemaluan sang gadis tengah sakit akibat permainannya semalam yang tak terkendali, bahkan dalam goyangannya saja Nazila menangis meminta berhenti tetapi karena terlalu nikmat dia tak mau berhenti.
. . .
Liana pergi berkunjung ke rumah Kaela sahabat terbaiknya itu, dirinya kembali merasakan sesak saat melihat perubahan tubuh pada Kaela yang merosot turun bahkan berjalan pun Kaela sudah tak bisa.
"Kaela ..., apa kabar?" tanya Liana menahan air matanya yang merembes keluar melihat kondisi Kaela yang sudah tak bisa merespon dengan baik, bahkan memegang gelas saja sudah tak bisa.
"A–ku ba–ik saj–a," jawab Kaela kesusahan, Minggu kemarin dirinya akan melakukan operasi tetapi biaya tidak memadai jadi dirinya harus di bawa pulang, bahkan mamanya menangis setiap malam menangisi nasib anak gadisnya yang hancur dalam sekejap.
Dia sebagai ibu tak kuasa untuk tak menangis mengingat hanya Kaela putri satu-satunya yang suaminya tinggalkan untuknya di dunia ini.
Liana segera menghapus air matanya. "Lihat aku bawa makanan kesukaan kamu, pasti kamu suka, aku suapin ya?" senyum Liana dengan antusias membuka rantang makanan yang dirinya bawa, lalu hendak menyuapi Kaela tapi urung karena sahabatnya berkata.
"Kata mama Kae tidak bisa memakan-makanan berminyak dan bersaus," tolak Kaela dengan nada terbata-bata akibat kesulitan berbicara.
Sendok itu melayang tak jadi masuk ke mulut Kaela, lagi Liana menunduk sedih. "Maaf ya Kae, Lia gak tau, lain kali Lia bawa makanan yang bisa Kae makan!" senyumnya.
. . .
Tidak seperti pikirannya ternyata Lorenzo tak membawa Nazila ke hotel melainkan ke rumah sakit untuk menanyakan resep obat pengencang daerah intim dan salep penyembuh, dokter yang sudah terbiasa menangani pasien pemuda dan remaja seperti ini hanya diam yang penting duit ngalir, jangan ngutang!
Di dalam mobil. "Buka?!" titah Lorenzo mengotak-atik salep yang dibelinya tadi.
"Nanti Zila obati sendiri aja bang ...," gumam Nazila lirih begitu takut dan malu.
"Paksa atau dengan cara lembut sayang?" tanya Lorenzo menoleh sembari menyugar rambutnya ke belakang, dengan gerakan cepat Lorenzo membukanya.
Nazila menoleh malu menutup kedua matanya tak mau melihat. Lorenzo melirik sekilas lalu mengoleskan salep itu dengan ringisan Nazila yang keperihan atau keenakan saya tidak tahu dan pabrik tahu!
"Abang perih, Zila gak nyaman," gumam Nazila lirih.
"Nanti juga sembuh, jangan banyak gerak!" titah Lorenzo melumat lembut bibir Nazila lalu menjalankan mobilnya pergi dari area rumah sakit itu.
Setelah selesai mengoleskan salepnya Lorenzo membantu membenarkan rok Nazila, dan menatapnya sekilas. "Kalo sakit bilang, sayang jangan cuma diem?" Lorenzo mengusap sayang pipi manis gadisnya itu.
Nazila menunduk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya, malu! Dirinya sangat malu akan perlakuan Lorenzo, abangnya yang begitu perhatian namun kasar secara bersamaan.
. . .
...TBC....
...☞✿Lorenzo Stepbrother's Obsession ✿☞...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
🔵꧁ঔৣ⃝𝐊ꪶꪖ𝘳ꪖ❦꧂
kasian Joana.., gak tau aja anak gadisnya udah di unboxing /Facepalm/
2024-02-29
1
Xubin
endingnya 💀😂
2024-01-25
0