Chapter. 13

Semenjak kejadian di rumah sakit tiga hari lalu Nazila mengurung diri di dalam kamar bahkan Liana yang datang bertamu pun tidak kunjung membuatnya keluar, makan, minum Nazila melakukan itu di dalam kamarnya.

Lorenzo? Setelah mendapatkan keperawanan sang adik tiri bukanya merasa kasihan yang ada ia malah semakin senang, dan ingin melakukannya lagi, punya sang adik begitu nikmat sehingga dirinya sering berkhayal melakukan hubungan terlarang itu bersama sang adik.

"Aku kotor! Aku benci diriku! Aku benci!" tangis Nazila wajah cantik itu semakin kurus kering tak terurus, seperti mayat hidup. "Kenapa seperti ini, aku sungguh menyesal telah menyetujui pernikahan mommy sama daddy, aku sungguh menyesal!" Tangisan pilu dan jeritan kesedihan menggema di kamar mewah itu dengan ditemani keheningan.

"Kenapa hidup Zila menjadi seperti ini, andai mommy tidak menikah, apakah Zila tidak akan seperti ini?" Tangisnya sesenggukan.

. . .

"Bagaimana keadaan gadis itu?" tanya Lorenzo menaiki undakan tangga.

"Masih seperti biasa tuan muda," jawabnya.

Lorenzo mengangguk tersenyum jahat, rencana licik hinggap begitu apik di otak bulusnya. "Kalian pergilah, jangan ada yang naik ke lantai dua tanpa perintahku!" tegas Lorenzo menatap nyalang pada beberapa pelayan dan bodyguard yang berjaga di setiap sisi rumah, lebih tepatnya mansion.

Dengan patuh mereka semua segera pergi dari lantai dua, entah apa yang akan dilakukan tuan muda mereka, mereka tidak tahu, setelah semuanya keluar dan tak ada orang siapapun Lorenzo segera pergi menuju kamar sang adik, ahh ... larat sang gadis, karena sampai kapanpun Nazila adalah gadisnya lebih tepatnya wanitanya karena tiga hari lalu dia sudah membelah duren milik sang gadis.

"Kunci murahan ini tidak akan bisa menghalangiku untuk masuk baby!" desisnya mulai membuka pintu itu, terlihatlah di dalam sana ada seorang wanita kecil yang tengah duduk meringkuk menatap kosong ke arah jendela yang ditutupi oleh gorden.

Setelah mengunci pintu itu dari dalam Lorenzo langsung membuka jaket Levis miliknya dan hanya menyisakan sebuah kaos berwarna hitam beserta tato naga yang melilit lengan kekarnya.

"Bangun sayang, aku tau kamu tidak tidur!?" panggil Lorenzo menaiki ranjang empuk itu. "Mau bangun dengan cara sendiri apa dengan caraku sendiri, baby?" sambungnya.

Dengan penuh keterpaksaan dan kebencian Nazila membuka mata bulatnya yang sungguh jernih membuat Lorenzo gila dengan semua yang ada di tubuhnya. "Apa lagi?" tanya Nazila serak.

Menarik pinggang ramping itu untuk duduk di atas pangkuannya. "Aku cuma mau peluk sayang, gak lebih, tapi kalo mau yang lebih aku bisa turuti kok," senyum Lorenzo diselingi candaan.

Tetapi di telinga Nazila kata-kata barusan bukanlah sebuah bercandaan melainkan sebuah peringatan di kepalanya. "Bisa lepas, aku mau ke kamar mandi?"

"Mau ngapain?"

"Mau mandi, jadi tolong lepaskan tangan abang?" pinta Nazila menyingkirkan tangan Lorenzo lalu segera pergi berlari jika di ladeni bisa-bisa kejadian di rumah sakit itu terulang kembali.

Lorenzo tersenyum iblis. "Kali ini lolos, tapi tidak nanti malam!" senyum Lorenzo pergi keluar dari kamar Nazila, sudah cukup tiga hari ini dirinya menahan hasrat bercintanya tetapi tidak untuk lain kali, nanti malam harus jadi.

. . .

Lain dengan Nazila, kini Liana merasa kesepian akibat kedua sahabatnya tidak masuk sekolah apalagi dengan keadaan Kaela yang sangat parah yakni mengalami kelumpuhan sehingga membuat sahabatnya itu tertekan dan merasa putus harapan untuk hidup.

Sedangkan Nazila, gadis itu mengalami trauma dan entah apa lagi, dirinya kurang tau sebab setiap dirinya ingin berkunjung dirinya tak boleh menemui Nazila atas permintaan seseorang padahal dirinya sudah memohon-mohon. "Andai gue tau bakal ada kejadian malam itu, gue akan mencegah kalian buat gak pergi ke pasar malam sialan itu!" geram Liana mengusap Ujung matanya yang menangis.

"Sekarang gue sendiri, mau cari pertemanan susah nemuin yang kek kalian berdua, bakalan beda!" sambungnya.

"Liana ayo masuk, sebentar lagi pelajaran ke tiga pak Sahdan akan di mulai?" ajak teman sekelasnya sedikit prihatin dengan kabar berita yang didengar mereka tentang keadaan Kaela dan Nazila.

"Duluan, ntar nyusul," jawab Liana bangkit menuju ke arah lain.

. . .

Malam harinya di ruang tamu Nazila memandang wajah sang mommy yang begitu berseri-seri di tambah dengan daddy tirinya yang begitu memperhatikan mommynya.

"Apa kabar mommy, daddy?" sapa Nazila mengeluarkan senyum manisnya, tetapi tidak seantusias saat dirinya menginjakkan kakinya di mansion besar ini.

"Kenapa sayang, kok wajahnya lesu begitu?" tanya Joana sedikit khawatir dengan keadaan Nazila yang tidak seperti biasanya saat dirinya melakukan panggilan video.

"Hem .... Nazila gak apa-apa kok mommy, cuma kecapean aja soalnya tugas sekolah banyak yang menumpuk," jawabnya.

"Jangan terlalu dipaksakan sayang, suruh Abang kamu buat bantu kalau kamu tidak mengerti, jangan dipaksakan nanti kamu sakit," sela Fathur begitu perhatian.

Nazila yang mendengar tuturan sang daddy merasa tersentuh tetapi perbuatan bejat sang anak tak bisa di tepi begitu saja, kasus ini bukan lagi soal pelecehan melainkan sebuah kasus pemerkosaan dan ancaman porn*grafi. Nazila semakin tidak tega untuk menyuruh sang mommy untuk berpisah, pikirannya benar-benar buntu.

"Hay sayang kok melamun, jangan berbohong cepat katakan sama mommy sebenarnya apa yang terjadi? Tidak seperti biasanya?" desak Joana semakin gelisah saat melihat reaksi dan respon mata Nazila, dia tak bodoh untuk bisa di tipu oleh tampang Nazila itu mereka ibu dan anak dan dirinya tau itu.

"Jangan panik, bilang sama mommy apa yang terjadi, semuanya akan baik-baik saja," cemas Joana semakin gelisah saat melihat reaksi tak terduga dari sang anak yang mulai menangis sesenggukan mengucapkan kata 'takut jangan sentuh aku.

"Nazila, coba dengar mommy sayang, jangan panik ambil nafas, lalu hembuskan sampai tenang okey, jangan panik di sini ada daddy sama mommy semuanya akan baik-baik saja," senyum Joana padahal dirinya sudah berharap berada di samping Nazila dan menenangkan putri semata wayangnya itu.

"Jangan nangis, besok kita pulang, tenangkan dirimu daddy akan meminta beberapa penjaga untuk menjagamu, baik-baik disana sayang besok daddy, sama mommy pulang!" timpal Fathur memeluk tubuh bergetar Joana yang sudah menangis untuk pulang.

Nazila melirik layar handphone yang sudah mati itu, hidupnya hancur, sebentar lagi kehancuran itu akan datang ....

"Sesuai janji tadi siang, kita harus bermain malam ini sayang?" senyum Lorenzo mengangkat tubuh kecil itu ke ruang pribadi miliknya agar permainan nikmat mereka tidak terganggu oleh para pelayan di mansion ini.

"Jangan tegang, rileks sayang permainan malam ini akan sangat nikmat dan takkan terlupakan dalam hidupmu!" senyum Lorenzo. Dengan bej*dnya Lorenzo memasukkan obat keras untuk memancing gairah Nazila supaya permainan laknat mereka tak dinikmati sepihak saja.

Kamera kecil di taruh di tiga titik di atas headboard, nakas, serta di meja belajar miliknya di atas tumpukan buku, selain brengsek Lorenzo juga bejad tak tertolong dengan memvideokan aksi bejadnya itu terhadap adik tirinya sendiri, walaupun tidak memiliki ikatan darah perbuatan semacam ini tidak pernah dibenarkan, tetapi nafsu yang tinggi membuat seseorang gelap mata.

Terpopuler

Comments

🔵꧁ঔৣ⃝𝐊ꪶꪖ𝘳ꪖ❦꧂

🔵꧁ঔৣ⃝𝐊ꪶꪖ𝘳ꪖ❦꧂

dasar si abang mesyum /Facepalm/

2024-02-29

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!