Chapter. 11

Satu Minggu berlalu kini keadaan Nazila masih seperti biasa yang hanya memberontak takut pada Lorenzo yang tengah memeluknya dengan erat, ingatan saat dirinya di paksa beserta sentuhan kasar itu membuatnya lemas dan panas dingin dan semakin jijik pada dirinya sendiri.

"Lepasin Zila, jangan sentuh Zila! Mommy .... Zila takut!" tangisnya lemas tak berdaya di pelukan Lorenzo.

Cup.

"Why baby, ini abang jangan takut okey?" setelah mengecup sayang kening sempit itu. "Don't cry anymore okay? Everything will be fine, brother is here." Lorenzo memindahkan tubuh mungil Nazila beralih ke pangkuannya, lalu tangan lentik gadisnya membalas pelukan di area lehernya.

"Takut ..., mau mommy."

"Nanti kita telpon mommy, tapi sebagai gantinya kamu makan dulu ya, kasihan perutnya belum di isi dari kemarin," ucap Lorenzo mengelus pelan perut Nazila dengan tangan kirinya sambil di peluk.

"Tapi Zila gak laper Abang ..." rengek Nazila pertanda menolak.

"Jangan membantah, biar Abang suapi?" tegas Lorenzo mengambil bubur yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit, sebenarnya Lorenzo sangat malas mengakui bahwa dirinya ini abang padahal mah, dirinya ingin diakui sebagai kekasih dari Nazila gadis kecilnya ini.

Dengan terpaksa Nazila menerima suapan dari abangnya itu, nafsu makannya tidak ada sama sekali maka dari itu dirinya sangat malam untuk makan.

. . .

Empat hari terbangun efek dari pukulan yang diberikan orang-orang itu semakin terasa pada otak bagian belakangnya, bahkan dirinya tiba-tiba menangis sakit, penglihatannya terasa buram.

"Mama kaki Ela tidak bisa digerakkan ...," gumam Kaela lirih menatap sang mama yang sudah menangis melihat kondisi sang anak.

Mama Kaela mengusap kedua sudut matanya lalu berdiri menghampiri sang anak. "Jangan sedih oke, semuanya pasti akan baik-baik saja, kamu yang tenang ya? Mama panggilkan dokter dulu." Ucap mama Kaela mengusap rambut putrinya setelah menekan tombol merah di samping ranjang rumah sakit.

Seorang dokter pria masuk lalu mulai mengecek keadaan Kaela. "Kaki anak saya kenapa dok? Katanya kakinya lemas dan tak bisa digerakkan?" tanya mama Kaela.

"Mungkin ini efek samping karena tertidur terlalu lama, nyonya," ucap dokter itu sedikit menjauh. "Bisa kita berbicara di ruangan saya nyonya?" sambung dokter itu sedikit pelan.

Mama Kaela sedikit mengerti. "Baiklah dokter,"

Dokter itu mengangguk. "Saya izin pamit, adik baik-baik ya jangan panik, jika terjadi sesuatu bisa panggil saya?" ucap dokter itu tersenyum lalu pergi keluar.

"Sayang mama pergi ke kantin sebentar ya? Kamu di sini baik-baik saja ya?" pamitnya.

"Mama cepat kembali jangan lama-lama!"

"Iya sayang, mama pergi dulu."

Mama Kaela masuk ke dalam ruangan dokter tadi, dirinya duduk. "Ada apa dokter? Apa penyakit anak saya begitu berbahaya sehingga saya harus dipanggil ke sini?" tanya mama Kaela sebut saja Elina.

"Khem, jadi begini nyonya, dalam rekam medis yang saya selidiki dengan terpaksa saya mengatakan bahwa anak anda mengalami kelumpuhan," ucap dokter itu dengan berat hati.

"Mengapa begitu dok? Apa akibat pukulan itu bisa menjadi sefatal ini?" tanya Elina dengan suara bergetar.

"Kuasa tuhan nyonya, karena cedera otak yang dialami anak anda termasuk yang berbahaya, bisa disebut sebagai cedera otak traumatis dan cedera otak traumatis ini bisa menyebabkan kelumpuhan dengan gejala seperti, berupa keluarnya cairan pada hidung atau telinga, berubahnya penglihatan, sulit bernapas, mengalami masalah pada keseimbangan tubuh, buruknya koordinasi, hingga sulit bernapas. Dan dalam empat hari berturut-turut saya sudah memastikan semaunya nyonya," jelas sang dokter mengeluarkan surat medisnya.

Mama Elina menangis melihat rekapan medis milik sang anak. "Lalu apa yang harus saya lakukan dokter? Apa anak saya bisa kembali seperti semula?" tanya Elina sambil menangis.

"Saya akan terus memantau pasien. Jika muncul adanya pendarahan dan pembengkakan pada otak pasien, saya akan sesegera mungkin untuk melakukan operasi."

Mama Elina lemas tak berdaya, cobaan sekali datang tak tanggung-tanggung, menerjang kehidupan dua anak dan ibu itu.

. . .

Kilat senyum penuh keharuan di rasakan Joana saat melihat anak beserta anak tirinya akur. "Kalian dimana kok seperti di rumah sakit?" tanya Joana di balik ponsel.

"Adek rewel mom, makanya bisa masuk rumah sakit," jawab Lorenzo dengan tampang datar tak ada ekspresi.

"Aduh sayang, jangan nakal dong, kamu harus nurut sama Abang kamu, jangan membuatnya kesusahan!" nasehat Joana pada putrinya yang nampak murung.

"Zila gak nakal, Abang aja yang nakal! Pokoknya aku gak mau sama abang lagi!" sentak Nazila menjauh dari pangkuan Lorenzo sehingga membuat sang empu geram namun ditahan sebab ada ibu tirinya, setidaknya main halus sedikit.

"Zila nak ..., jangan begitu ..." tegur Joana melihat putrinya itu yang tengah ngambek.

"Zila gak nakal mommy!" teriak Nazila dengan nafas naik turun, ingatan perasaannya tengah sensitif tak bisa diajak bercanda. "Aku gak suka mommy! Mommy selalu nyalahin Zila! Padahal Zila gak salah!" teriaknya pergi menaiki ranjang rumah sakit lalu menggulung dirinya dengan selimut tak lupa dengan isakan kecil.

Joana terkesiap dengan perkataan sang putri, dia hanya bercanda dan itu hanya guyonan untuk menggoda putri pemalunya itu, tetapi kenapa reaksinya sangat berlebihan. "Renzo apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Joana.

"Mungkin adek lagi datang bulan mom, makanya sangat sensitif," beritahu Lorenzo beralasan.

Joana mengangguk mengiyakan mengingat putrinya sangat sensitif bila tengah kedapatan tamu bulanan. "Ya sudah mommy tutup telponnya, tolong jaga adek ya bang?" pesan Joana.

"Hem ...."

Setelah panggilan video di akhiri Lorenzo langsung menarik kasar selimut yang membungkus tubuh kecil yang tengah bergetar akibat menangis.

"Pergi! Jangan ganggu Zila!" usir Nazila menepis tangan bertato itu dari pipinya.

Karena manusia yang tak bisa menahan amarah itu malah mengepalkan tangannya lalu menggebrak lemari nakas samping ranjang pesakitan, sehingga membuat Nazila terperanjat terkejut.

"Ngelunjak Lo, heh?" geram Lorenzo menarik kasar rambut Nazila membuat sang empu mendongak dengan wajah sembabnya.

"Abang ..." lirih Nazila semakin takut, kenapa abangnya berubah menjadi monster lagi.

"Bagus Lo begitu teriak-teriak depan gue, hah!?" geram Lorenzo semakin mengencangkan cengkramannya.

"Kepala Zila sakit! Lepasin!?" tangis Nazila semakin mendayu mencoba melepaskan cengkraman tangan Lorenzo dari rambutnya, kulit kepalanya terasa lepas.

Dengan kasar Lorenzo menghempaskan kelapa Nazila lalu mengusap pelan. "Lain kali jangan nada bicaramu baby girls." Pungkas Lorenzo tak lupa mengecup pelan kening Nazila lalu pergi keluar.

Nazila memukul-mukul kepalanya sambil mengumpat. "Bodoh, bodoh, bodoh, Lo bodoh Nazila! Lo bodoh!" pekiknya terbenam di balik bantal, tangisannya tak kunjung usai. "Tuhan, beri aku kekuatan sedikit tuhan, berikan!" pekikan keputusan sangat ketara di raut wajah gadis manis yang nampak sembab.

Aku benci Abang!

Bullshit!

Besok juga cinta!

Gak mungkin!

* * *

TBC?

Terpopuler

Comments

Anis Rohayati

Anis Rohayati

jgn buat zila cinta ke abang tiri nya ka harus nya benci

2024-01-24

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!