...☞“H A P P Y R E A D I N G”☜...
Lorenzo berdiri dengan senyum miringnya setelah melakukan perbuatan yang tak senonoh itu dengan rasa tak bersalah nya dia malah mengelus pelan rambut adik tirinya yang hanya bergetar ketakutan.
"Do not be afraid dear ...," gumam Lorenzo menunduk menatap wajah cantik adiknya itu.
"Kenapa Abang lakuin itu sama Zila?" tangis Nazila dengan suara serak menahan tangis.
"Kita bahkan belum melakukan sampai tahap itu sayang, tetapi kamu sudah setakut ini?" kekehnya menatap lucu wajah adik tirinya itu. "Bersiaplah, jika tidak kamu akan telat!" titahnya lalu pergi berjalan keluar.
Nazila terdiam penuh akan rasa takut, jika seperti ini dirinya tak mau mempunyai Abang dia sangat takut dengan perlakuan abangnya yang tak lazim terhadapnya bahkan dirinya tak bisa tenang saat tidur takut jika sewaktu-waktu abangnya akan melakukan hal yang tak terduga terhadap dirinya.
.
.
"Kamu sakit lagi?" tanya Liana melihat wajah pucat Nazila tak lupa dengan mata yang sedikit merah dan bengkak. "Terus itu mata kamu habis nangis ya?" cecar Liana.
"Tanyanya satu-satu ih, ini tuh aku habis nangis karena mommy sama Daddy pergi keluar negeri," lesu Nazila menunduk sedih.
"Aduh, kirain ada apa, ya udah ayo masuk hari ini ada pelajaran olahraga kita belajar di luar!" sahut Liana yang sedikit tak suka, panas' katanya.
"Bilang aja Lo males olahraga, gue sih gak heran ya, Lo kan babi pemalas!" sinis Kaela memicingkan matanya.
"Sialan Lo Kae, gak gitu, cuma gue ah ..., serah lu lah!" ambek Liana lalu pergi menuju kelas.
"Gak jelas tuh betina!"
Nazila terkekeh geli melihat pertengkaran kecil kedua sahabatnya itu, seluruh siswa siswi kelas 10 B2 disuruh berkumpul di lapangan, setelah berganti baju olahraga.
"Ayo cepat, kita udah di tunggu di depan!" ajak Kaela menarik tangan Nazila meninggalkan Liana yang berdecak males di belakang.
"Oke anak-anak, sebelum mulai pemanasan bapak akan memberitahukan bahwa anak kelas dua belas akan ikut bergabung bersama kelas kita," ucap pak guru tersebut.
Para pekikan anak gadis di kelas sepuluh itu sangat heboh pasalnya para most wanted berkumpul di kelas dua belas makan dari itu anak-anak gadis kelas 10 sangat senang.
"OMG, gila .... Gue gak sabar pengen liat kak Saka!" seru Liana menggigit kuku-kuku jarinya menahan senyuman dan geregetan.
"Kak Leo, ganteng banget!" seru gadis yang lainnya saling tabok sesama perempuan, biasalah women kalo geregetan suka nabok.
Para anak-anak kelas dua belas ikut bergabung dan mereka mulai melakukan pemanasan olahraga lalu setelah itu anak laki-laki kelas 10 di ajak tanding basket kesukaan para anak sekolah, para siswi sibuk berteriak menyemangati para lelaki ganteng idaman mereka.
Begitu juga dengan Nazila yang duduk di pinggir lapangan yang cukup sejuk, melihat pertandingan seru Leo dan anak-anak yang lain.
.
.
Sebagian para mahasiswa kampus di suruh datang mengajar di salah satu sekolah SMA selama sebulan untuk tugas kuliah, masing-masing dari mereka ditugaskan di sekolah yang berbeda, Lorenzo yang mendengar itu hanya acuh tak acuh karena pikirannya sekarang hanya tertuju untuk gadis cantiknya itu, Yap dirinya sudah mulai mengklaim bahwa Nazila adalah miliknya seutuhnya.
"Untuk tugas kelompok lima mereka akan melakukan tugas di SMA Varies School, untuk nama kelompok kalian bisa lihat di daftar formulir ini." Ujar sang dosen memberikan formulirnya.
"Bagus! Kita memang tak bisa terpisahkan!" senyum Liam memperlihatkan formulir itu yang berisikan nama kelompoknya yang di mana ada Lorenzo, Veroza, Zex, Damian, dan dirinya masing-masing kelompok ada lima orang.
Lorenzo yang mendengar nama sekolah itu senyum miring tercetak jelas di bibirnya tebalnya. "Kita akan bertemu setiap hari baby girls!" batin Lorenzo.
"Kenapa Lo Ren, senyum-senyum kek orang stres!" ledek Liam yang paling usil menjahili Lorenzo si muka tembok.
Bacotan Liam tidak berfaedah, mending dirinya merayakan kesenangan hatinya saja. "Cabut, kita nongkrong kali ini gue yang traktir!" ajak Lorenzo merayakan kesenangan hatinya.
Brak.
"Ayolah, gue paling depan kalo soal traktiran!" teriak Liam, paling semangat dan paling utama yang berjalan keluar pintu kelas.
"Anjir tuh anak!" dengus Veroza.
.
.
Pulang sekolah seperti biasa Nazila akan selalu di ajak pulang bareng oleh Leo si manusia tampan. "Ayo pulang bareng, mau kan?" ajak Leo bertanya.
Nazila terlihat bimbang, sehingga notifikasi dari handphonenya membuat dia menghabiskan ajakan Leo barusan.
'Aku tunggu di persimpangan jalan.
"Em ..., kak sepertinya aku sudah dijemput, jadi maaf aku gak bisa pulang bareng kakak," gumam Nazila merasa tak enak, tapi mau bagaimana lagi kakaknya lebih sangat menakutkan, dia tidak mau salah satu kakinya dipatahkan oleh Renzo.
"Mana, kok kakak gak liat, kamu bohong ya?" tanya Leo celingukan mencari motor atau mobil jemputan milik Nazila.
"Gak kok kak, dia nunggu aku di persimpangan depan, jadi aku gak bohong!" dengus Nazila mengembung lucu.
Leo yang melihat itu terkekeh gemes. "Ya udah iya, kakak percaya, tapi lain kali kita harus pulang bareng!" ujar Leo dengan nada maksa tetapi bercanda. "Harus pokoknya!" Lanjutnya.
"Kok maksa! Nazila gak mau ah ...,"
"Udah sana jalan, katanya mau pulang?" ujar Leo.
"Ya Sudah, aku duluan kak, babay ...."
Nazila melenggang pergi meninggalkan Leo yang masih terpukau di atas motor sport hitam miliknya. "Kita bahkan baru bertemu beberapa hari, tetapi pesonamu begitu membuat ku gila untuk memilikimu!" desis Leo memutar balik motornya.
.
.
"Udah puas pacarannya baby?" tanya Renzo menatap lembut sang gadis, tetapi di penglihatan Nazila tatapan lembut itu seperti mengancam dirinya.
"Aku gak punya pacar abang ...," gumam Nazila lirih menatap Lorenzo takut.
Lorenzo tak menjawab dia hanya menjalankan mobilnya hitamnya pelan lalu tangan kirinya beralih mengelus paha dalam Nazila dengan sensual menikmati lembutnya paha milik sang gadis, kenapa bukan adik? Lorenzo tak menganggap Nazila adiknya melainkan gadisnya, miliknya!
Nazila menggigit bibir bawahnya menahan sesak, bukan karena keenakan melainkan dirinya sangat ketakutan, ingin rasanya Nazila berteriak meminta tolong siapapun tolong dirinya. "Abang, lepas! Zila gak nyaman ..." cicitnya mencoba menyingkirkan tangan Lorenzo.
"Jika ada seorang pembohong, maka hukuman apa yang paling menyenangkan untuk diberikan?" ucap Lorenzo tak memperdulikan Nazila yang sudah berkeringat dingin, tangan yang di penuhi tato naga itu menyingkap kasar rok Nazila lalu meremasnya kasar, amarah yang di pendam nya seketika ingin mencuat keluar.
Nazila memukul tangan Lorenzo dengan kuat, pahanya sungguh sakit. "Abang lepas, Zila kesakitan!" pekik Nazila berhasil menyingkirkan tangan Lorenzo, tubuhnya bergetar ketakutan, ya Tuhan tolonglah gadis kecil yang sudah di lec*hkan oleh Abang tirinya itu.
"Abang kenapa? Kenapa Abang lakuin itu sama Zila!?" teriak Nazila nyaring di dalam mobil di tepi jalan yang cukup sepi. "Aku ini adik Abang, Abang jangan melewati batas!" sentak Nazila dengan berani padahal di dalam hatinya dirinya sudah seperti jeli melihat tatapan yang semakin menajam itu.
"Persetan, gue maunya Lo Nazila," geram Lorenzo lalu menarik kasar tengkuk Nazila dan menciumnya dengan brutal.
Nazila memberontak dengan sekuat tenaga bahkan dirinya menggigit bibir Lorenzo dengan keras sehingga ringisan terdengar, tetapi yang namanya Lorenzo tak mengenal rasa sakit, bahkan gigitan Nazila tak ada apa-apanya justru Lorenzo semakin menikmatinya.
Rasa amis menyeruak masuk ke rongga mulutnya Nazila ingin muntah, seluruh badannya lemas tak berdaya, siapapun tolong Nazila, dirinya bertekad jika mommynya pulang dirinya akan meminta sang mommy untuk pisah dari daddy Fathur dirinya tak akan sanggup bila lebih lama tinggal dengan seorang pria c*bul seperti Lorenzo.
.
.
Hayo loh 😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Kamu pikir mommy dan daddy kamu percaya apa yg kamu aduin,Yg ada kamu yg kenak marah..
2024-09-26
0