...☞✿Lorenzo Stepbrother's Obsession ✿☜...
.......
.......
.......
Seperti malam biasanya keluarga besar itu melakukan makan malam dengan khidmat tanpa hambatan tak terkecuali Nazila yang kembali harus berpura-pura ceria di depan orang tuanya padahal dirinya sungguh tertekan.
"Daddy, mommy sama Abang Nazila duluan ya, soalnya PR Nazila masih belum selesai besok harus dikumpulin," pamit Nazila tak lupa mencium kedua pipi orangtuanya.
Tinggal mereka bertiga di ruang makan tetapi tak lama Lorenzo juga pamit untuk pergi, meskipun tak berbicara, lalu bagaimana caranya berpamitan? Entahlah, Fathur mendesah lelah akan perlakuan sikap sang anak yang kian hari makin kurang ajar menurutnya, apa yang kurang dari didikannya sebagai seorang ayah? Dia cukup tahu bahwa sang anak dari dulu membutuhkan sosok seorang ibu yang baik tetapi mau bagaimana lagi, saat itu takdir tak memihaknya untuk memiliki istri.
"Hah, entah dengan cara apa lagi aku harus mendidik anak itu, makin hari makin melunjak saja sikapnya," lesu Fathur meminum air penutup makanannya.
"Sudahlah mas, mungkin ada yang tengah mengganggu hatinya, suatu saat pasti dia akan berubah menjadi pria yang lebih baik," ucap Joana mengelus pelan punggung rapuh sang suami.
"Ya, mau bagaimana lagi? Diajarkan yang benar malah melawan, di kasih nasehat bilang orang tua banyak bicara tak tau apa-apa, bagaimana mau memperingati? Jadi orang tua serba salah, giliran tak di kasihan nasihat nanti ngelawan gak pernah diajarin orang tua, lalu ocehan setiap hari itu apa? Inilah contoh masuk kuping kanan keluar lobang p*ntat!" kesal Fathur menatap Joana sekilas lalu pergi menuju ruang pribadinya.
Joana menggeleng meringis ngeri dengan ucapan suaminya barusan, ya begitulah anak yang sudah mengerti apa–apa memang susah-susah gampang memberikannya nasihat petuah orang tua, tapi ya gitu tergantung pola pikir anak mau menerima masukan atau tidak?
. . .
"Wihh ...! Tumben nih main ke sini biasanya sibuk Mulu!" teriak Liam menyoraki kedatangan Lorenzo dengan muka andalannya yang tak punya ekspresi.
"Kemana aja Ren, tumben main?" tanya Veroza meneguk minumannya.
"Ada urusan," jawab Lorenzo seadanya tak lupa juga ikut minum malam ini dirinya butuh pelepasan sebab dia tak bisa melakukan itu terhadap Nazila karena orangtuanya pulang mendadak.
"Besok masuk gak? Soalnya ada acara di sekolah," tanya Liam lagi pasalnya sudah satu Minggu lebih Lorenzo tak ikut masuk KKN di sekolah SMA Varies School.
"Masuk, memangnya ada acara apa?" tanya balik.
"Biasalah anak-anak SMA kalo gak basket, ya acara yang lain, dan ... kita ditugaskan buat jadi pengatur acara!"
"Mana males banget lagi!" sahut Liam yang sudah agak tenang malam ini mereka tak mau terlalu mabok ya karena besok harus ke sekolah.
"Lo kan emang pemalas Tod!" timpal Veroza.
"Btw Ren, lo tau gak sama kabar si Yunita?" tanya Liam membuka topik baru.
Lorenzo mengangkat bahu acuh, dia tidak mau tau sama keadaan jal*ng itu.
"Haha, dia pikir yang main sama dia tuh lo, eh ..., tau-tau orang lain, mana tuh anak nangis kejar lagi!" dengus Liam tertawa tanpa beban atas penderitaan wanita itu, entah kenapa dirinya begitu dendam ma, tu wanita.
"Senang banget lo ngetawain anak orang, tapi seru juga sih denger tuh anak nangis mohon-mohon buat berhenti!" pungkas Veroza tertawa.
"Heh, gak peduli bukan urusan gue!" senyum Lorenzo senang akan penderitaan Yunita yang di perkosa oleh orang lain.
Sungguh jahat ....
. . .
Pagi harinya Nazila sudah siap dengan seragam sekolahnya, hari ini dia akan diantarkan oleh daddynya Nazila senang karena tak berangkat bareng Lorenzo setidaknya ada kelonggaran di hidupnya.
"Daddy ayo? Zila udah siap nih, nanti Zila telat!" teriakan melengking Nazila menuruni tangga mansion besar itu, padahal kan ada lift, astaga!
"Hati-hati sayang nanti jatuh," peringat Joana membantu para pelayan menata makanan.
"Kenapa turun lewat tangga? Kan daddy sudah siapkan lift untuk mu naik turun," ucap Fathur menatap tajam Nazila yang malah nyengir tak jelas.
"Hehehe, peace daddy!" senyum Nazila duduk untuk ikut sarapan tinggal Lorenzo saja yang belum turun.
"Sayang tolong, panggil Abang kamu buat turun sarapan, mommy masih nyiapin ini!" teriak Joana sedang.
Nazila yang mendengar itu menegang seketika dengan wajah pias, Fathur yang melihat itu menyerngit bingung akan perubahan putrinya ini. "Ada apa sayang? Kok wajahnya pucat begitu?" tanya Fathur meletakkan iPad miliknya.
"Hah?!" kaget Nazila. "Hehe, Zila gak apa-apa kok dad, Zila panggil Abang dulu, babay Daddy jangan rindu Zila!" senyum Nazila tak lupa memberikan kiss jauh untuk Fathur yang menggeleng pelan akan perubahan cepat sang anak.
Sesampainya di depan kamar Lorenzo Nazila mulai gelisah ingatan saat mereka bercinta di dalam kamar itu mulai menggerayangi otaknya. Dengan keberanian penuh Nazila mulai mengetuk pintu kamar bercat hitam yang sangat mewah itu. "Abang, turun sarapan!?" panggil Nazila tak ada sahutan.
"Abang di pang–"
Grep!
"Abang lepas nanti mommy sama daddy lihat!" berontak Nazila di dekapan Lorenzo.
"Bantu Abang keringin rambut?" pinta Lorenzo menyodorkan sebuah handuk kering.
"Kan ada hairdryer, kenapa gak gunain itu aja!" kata Nazila menerima handuk itu.
"Pokoknya bantu aja terserah mau pake yang mana!" dengus Lorenzo menarik tangan Nazila berdiri mulai mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer tak jadi memakai handuk.
Nazila berdiri di antara kedua kaki Lorenzo yang mendongak menatapnya tetapi dirinya pura-pura tak lihat sebab abangnya ini sekarang begitu hot, lihatlah perut kotak-kotak itu, bukan tetapi doritos, sangat panas untuk di lihat membuat semburat merah di pipinya.
Beberapa menit kemudian. "Abang rambutnya sudah kering, Nazila keluar dulu soalnya mom–"
Cup.
Melumat lembut bibir Nazila. "Tunggu Abang kita turun bareng, awas kalo keluar duluan!" bengis Lorenzo mengancam Nazila lalu masuk ke walk–in closet untuk mengganti baju.
Nazila duduk termenung di samping ranjang menelisik rupa kamar yang begitu mewah, sebenarnya kamarnya pun tak kalah mewah dari milik sang Abang, tetapi apapun itu jika melihat punya seseorang yang bagus pasti punya kita bakal kalah saing, contohnya seperti Nazila ini.
"Kok lama banget turunnya?" tanya Joana yang sudah selesai menata sarapan pagi mereka.
Cengiran Nazila menggaruk tengkuknya tak gatal. "Maaf mom, tadi bantu Abang ngeringin rambutnya, kasihan Abang kesusahan!" jawab Nazila.
"Udah gede begitu masih gak bisa ngeringin rambut sendiri!?" dengus mengejek Fathur memulai makannya.
Lorenzo yang mendengar itu memutar bola matanya malas 'apa–apaan pak tua ini, dia gak di ajak jadi diam aja! Isi pikiran Lorenzo sekarang.
"Oh ya, nanti sepulang sekolah kamu temenin mommy ke rumah sakit buat cek sesuatu, bisa kan nak?" tanya Joana menatap Nazila yang sudah mulai merubah wajah menjadi terkejut dan membuat Joana semakin penasaran.
"Nanti Zila lihat mom, kalo bisa nanti Zila hubungi mommy," jawab Nazila tersenyum canggung tak seperti tadi.
Sedangkan Lorenzo dia hanya biasa saja tidak takut sama sekali akan ucapan ibu tirinya barusan, jika adik tirinya berani buka suara tentang hubungan mereka berdua maka siap-siap saja Nazila menanggung malu seumur hidup!
"Ya tuhan ada apa dengan anak gadisku?" batin Joana menatap lirih anak gadisnya.
.......
.......
.......
...☞✿Lorenzo Stepbrother's Obsession ✿☜...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
🔵꧁ঔৣ⃝𝐊ꪶꪖ𝘳ꪖ❦꧂
insting seorang ibu
2024-02-29
1
🔵꧁ঔৣ⃝𝐊ꪶꪖ𝘳ꪖ❦꧂
rumput tetangga lebih hijau
2024-02-29
0