...☞“H A P P Y R E A D I N G”☜...
Pagi harinya Nazila berangkat ke sekolah bareng Lorenzo pemuda kasar nan kejam itu. Nazila tak berani banyak berbicara takut menyinggung abangnya ini.
"Eh!" panik Nazila menutup kepalanya mengira akan di pukul oleh abangnya.
"Kenapa? Abang cuma mau usap rambut kamu baby!" lirih Renzo dengan nada maskulin. "Kaki kamu masih sakit?" tanyanya sambil mengusap lutut Nazila yang sudah berkeringat dingin saking gugupnya.
"Udah gak terlalu kok bang." Cicit Nazila menunduk lemah.
"Nanti jangan pulang lagi sama cowok yang kemarin, atau Abang patahkan lagi kaki kamu yang sebelah, biar gak bisa jalan sekalian!" bisik Lorenzo mengecup pelan bibir manis sang gadis.
Setelah kepergian sang Abang Nazila menunduk menangis. "Kenapa Abang seperti itu? Mommy Zila takut!" gumam Nazila lirih, menangis pelan.
Nazila menangis memasuki kelasnya bahkan pikirannya begitu tak tenang, pikirannya selalu menuju ke arah Lorenzo yang begitu mengganggu pikirannya.
"Hey," sapa Kaela menepuk pundak Zila yang menunduk murung. "Kok murung gitu?"
"Iya tuh! Cerita dong, ada apa ...?" sahut Liana yang entah datang dari mana, sambil membawa es cekek padahal masih pagi.
Nazila menggeleng pelan. "Gapapa kok, cuma gak enak badan aja," jawab Nazila dengan wajah pucat pasi.
"Ck, Lo bilang 'cuma, mending sekarang kita ke UKS jangan dibiarkan berlanjut demamnya, nanti bisa makin parah!" dengus Liana menarik tangan Nazila.
"Beneran Liana, Zila gapapa, nanti juga baikan, tuh lihat ibu Endang pasti bentar lagi masuk!" tunjuk ke segerombolan siswa-siswi yang memasuki kelas.
"Ya udah deh, nanti kalo pusing bilang ya, biar kita berdua bisa antar Lo ke UKS!" ujar Kaela.
"Iya."
Nazila begitu bersyukur karena ada yang mau berteman dengan dirinya dengan begitu tulus, dirinya begitu senang.
.
.
.
Sedangkan di kampus Lorenzo dan kedua sahabatnya tengah berkumpul di aula, mereka tengah melakukan kegiatan kampus yang tentunya di suruh oleh dosen. Sembari mendengarkan penjelasan Renzo mulai mengirim chatting pada adiknya itu.
P
Udah makan?
Gaya chatting Lorenzo persis seperti cowok mokondo, nanya udah makan tapi gak di delivery in, modal nanya doang.
Belum ada jawaban dari sang empu, lama menunggu membuat Lorenzo geram, ingatkan dia manusia tak sabaran tak suka menunggu kini harus diuji oleh kelambatan sang adik tirinya itu.
"Napa tuh muka, kusut amat?" dengus Veroza melirik sebentar handphone Lorenzo yang sudah mati.
"Gak ada!" dingin Renzo, karena emosinya tiba-tiba ngelunjak tanpa sebab.
"Ibu fisika gak masuk, kita bebas!" bisik Liam pada Renzo. "Bisalah kita bolos, gak ada mata kuliah soalnya!" bisiknya lagi.
"Gas lah, bisa ngapel gue bareng ayang!" Senyum Veroza entah sejak kapan ini anak menjadi doyan wanita. Ya maksudnya dia bukan kelainan nih anak soalnya mirip-mirip seperti Lorenzo yang rada datar gitu tetapi karena ketularan virus si Liam makanya jadi begitu, mungkin.
.
.
.
Nazila berjalan di koridor dirinya hendak ke kantin untuk menyusul kedua teman barunya itu, dirinya sedikit ketinggalan.
"Mau kemana?" sapa seorang berjalan di samping Nazila.
"Eh ... kak Leo, ini Zila mau ke kantin, kakak mau kemana?" tanya Nazila.
"Sama, kakak juga mau ke kantin, bareng yuk?"
"Ayuk!"
Mereka berdua berjalan beriringan, banyak yang ini terhadap kedekatan Nazila dan Leo, karena di sekolah ini Leo bisa dibilang sangat populer.
Sedangkan di tempat lain gegara chatting nya tidak dibalas membuat moodnya rusak sangat parah, bahkan dia rela untuk menghancurkan kampus ini.
Oke itu terlalu berlebihan, tapi? Apa yang tidak mungkin, anak SD aja berani membakar sekolah mereka demi cinta si dedek gemes.
.
.
.
Lagi-lagi Nazila lupa akan peringatan sang Abang yang melarang dirinya untuk pulang bareng Leo, Renzo yang merasa tak di hargai yang sudah menunggu satu jam'an untuk menjemput adik tirinya itu.
"Sepertinya gadis kecil itu sangat suka untuk di hukum ya?" desis Renzo lalu melajukan kendaraan roda empat itu ke arah lain, dirinya tidak akan langsung pulang, dia akan pergi untuk menenangkan pikirannya, dan untuk menentukan hukuman apa yang cocok untuk adik tirinya itu.
Entah perasaannya yang kenapa. Nazila merasa tak tenang sejak tadi bahkan omongan Leo tak didengarkannya.
"Makasih ya kak?" ucap Nazila membuka helm yang melekat di kepalanya.
"Sama-sama, kalo gitu kakak pulang dulu!" pamit Leo.
Nazila hanya mengangguk melihat motor hitam itu pergi dari depan komplek perumahan mewah itu, Nazila pergi memasuki rumahnya yang dia rasakan hanya sepi karena kedua orangtuanya tengah berada di New Zealand untuk urusan bisnis.
"Huh, baru juga sehari mommy pergi udah berasa satu tahun aja, Abang juga kemana kok belum keliatan?" gumam Nazila.
"Alamak, aku lupa!" panik Nazila dia baru mengingatnya, bahwa dirinya tidak boleh pulang bersama Leo lagi, kini dia sudah melanggar ucapan abangnya itu, Nazila tau Lorenzo orang yang sangat nekat.
"Mommy Zila takut, semoga Abang tidak tahu!" lirih Nazila menggigit kuku jarinya tidak tenang.
.
.
.
Malam harinya hujan turun begitu deras di mansion besar itu dan hanya diisi oleh seorang gadis manis dan beberapa bodyguard yang berjaga di luar, para pelayan wanita mereka sudah pulang, mereka akan datang pas pagi saja.
Nazila turun dengan rasa takut dia sangat haus karena gelasnya kosong, jam menunjukkan pukul sebelas malam, semakin menambah kesan horor pada mansion besar tersebut.
"Ih, takut!" lirih Nazila saat melihat kilatan petir yang menyambar kesana-kemari. "Abang juga kemana?"
Lalu dirinya berlari pergi memasuki kamar, baru saja hendak menaiki kasur lampu di rumah besar itu padam. Nazila menangis ketakutan oh ya tuhan' kenapa ini sangat menakutkan.
"Mommy, Zila takut, ini sangat gelap!" tangis Nazila tak berani bergerak.
.
.
.
Lorenzo masuk ke dalam rumah lewat bagasi yang sangat gelap akibat mati lampu, dirinya menggunakan handphonenya untuk penerangan. "Apa gadis kecil itu sudah tidur?" gumam Lorenzo pergi menaiki tangga. Di tengah langkah kakinya suara tangisan menghiasi telinganya di tengah gelapnya malam.
"Abang!"
Suara tangisan itu semakin keras.
"Baby ...?" panggil Lorenzo mencoba membuka pintu kamar itu.
"Abang, itu Abang kan? Zila takut!" tangisannya semakin kencang.
Lorenzo berdiri di depan pintu melihat adik tirinya yang hanya berdiri tanpa berani bergerak. "Come here baby?" panggilnya di ambang pintu, dirinya ingin sekali menghukum gadis nakal ini, tapi besok saja.
"Abang kemana aja, Zila takut, disini gelap!" tangis Nazila menubruk kencang tubuh tinggi di depannya ini.
Tanpa menjawab Lorenzo membawa tubuh adiknya itu ke kamarnya, dirinya sangat mengantuk, sedangkan Nazila dia hanya ikut melihat gelapnya ruangan itu membuat dirinya sangat takut.
Setelah sampai kamar. Lorenzo langsung membuka jaket Levis nya dan hanya menyisakan kaos oblong berwarna hitam yang kini duduk di tepi ranjang melihat tubuh sang adik di balik gelapnya ruangan itu.
"Abang," cicit Nazila mendekat ke arah Lorenzo lalu memeluk abangnya.
Renzo membawa tubuh kecil itu ke pelukannya hingga mereka berdua tertidur barang. "Tadi siang pulang sekolah bareng siapa?" tanya Lorenzo menutup matanya dengan salah satu tangannya, dengan tangan yang satu digunakan sebagai bantal Nazila.
Deg
Nazila sangat takut sekarang. "Tadi siang pulang sendiri kok, aku udah nunggu abang, tapi Abang gak dateng-dateng!" ucap Nazila berbohong.
Renzo yang mendengar nada penuh kebohongan itu dengan cepat menindih tubuh kecil Nazila lalu dengan gerakan cepat Renzo melumat bibir manis itu.
Nazila begitu terkejut sehingga dirinya memukul pundak abangnya untuk melepaskan dirinya, tetapi tak bisa karena tenaga abangnya dua kali lebih kuat. Malahan menahan kedua tangannya itu, lalu kembali melumat bibirnya hingga sedikit bengkak.
Cup
"Manis baby, Abang suka!"
Suara serak itu membuatnya panas dingin sehingga, mulai melumat atas d*danya dan yang melenguh tak tertahan.
.
.
.
Apa Lo? 😁😳
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Abangnya nih jenis Teh celup kali,udah biasanya,makanya adek sendiri dia embat..
2024-09-26
0
Xubin
bejad juga nih orng 😶
2024-01-20
5