Lorenzo memasuki klub yang cukup ramai oleh para manusia yang tengah melakukan maksiat untuk diri masing-masing demi kepuasan menghilangkan stres segala macam, begitu juga Lorenzo datang ke sana untuk menghilangkan pikirannya yang penuh akan nafsu terhadap adik tirinya.
Yunita? Yah gadis yang sangat menyukai Lorenzo sampai ketulang-tulangnya. "Sayang?" panggil Yunita. melakukan segala cara untuk menggoda Lorenzo agar tertarik kepadanya.
"Lepas jal*ng!" sentak Lorenzo kesal karena acara minumannya di ganggu oleh orang yang paling Lorenzo benci di kampus.
Suara jatuhan terdengar nyaring. "Gak jera-jera juga Lo ya!" geram Lorenzo mengambil minuman seseorang yang sudah dimasuki obat perangs*ng, tanpa belas kasih Lorenzo langsung mencekoki Yunita hingga terbatuk-batuk.
"Mau lagi gak?" tanya Lorenzo dengan senyum iblis miliknya.
"Kasar banget kamu Ren, tapi gak apa-apa aku tetap suka kok!" senyum Yunita memandang Lorenzo dengan nakal.
Lorenzo tersenyum manis. "Ya sudah, tunggu aku di kamar baby!" bisik Lorenzo lalu beranjak pergi, mood sudah hancur gegara wanita sialan itu, yang dibutuhkannya sekarang adalah tubuh gadis mungilnya itu.
. . .
Nazila benci, lagi-lagi dirinya tidak bisa melawan seperti ini pada kakak tirinya yang sungguh brengsek!
"Tolong lepas kak, Zila gak bisa nafas?" ketusnya mencoba menyingkirkan tangan Lorenzo yang bertengger manis di perut rampingnya.
"No, maafin Abang okey, tadi Abang emosi makanya berbicara seperti itu." Lorenzo melumat lembut bibir Nazila. "Abang rindu bibir manis ini," senyum iblis milik Lorenzo tak pernah luput dari penglihatan Nazila.
"Berapa kali aku harus bilang sama Abang, jangan cium Nazila kita itu saudara, ingat Abang kita ini saudara!" tekan Nazila menatap tajam penuh keseriusan.
Lorenzo tertawa penuh dengan kehampaan, harus dengan apa lagi dirinya bisa meluluhkan hati gadis pujaan hatinya ini. "Tetapi aku tidak menganggapmu begitu baby, kau gadisku bukan adikku, karena aku terlahir tunggal tanpa memiliki seorang adik, camkan itu!" desisnya.
"Apa aku harus menggunakan cara lain baru kau akan mau menerima cintaku sayang?" tukasnya mengukung tubuh mungil Nazila di ranjang rumah sakit.
"Aku sudah gila, tidak mungkin aku ikut bernafsu sama sepertinya, dia abangmu Nazila sadarlah!" pekik batin Nazila mulai tersadar saat sebuah kecupan dan lumatan di lehernya.
Nazila merasakan sesuatu yang menonjol di balik pahanya, sebab posisi Lorenzo di atas tubuhnya menidihnya.
"Boleh ya, Abang janji gak akan kasar ...," bujuk Lorenzo dengan nada lembut dan manis.
Nazila sempat terlena. "Minggir, sampai kapanpun kita tidak akan bisa bersatu selagi janji suci kedua orang tua kita masih ada!" tegas Nazila mendorong bahu kekar itu dengan keras tapi tak kunjung menyingkir.
Nazila menatap takut tubuh kekar yang sudah tak terbalut pakaian itu di tambah dengan tato naga yang melingkar di lengan kekar Lorenzo dan Nazila baru tau ada sebuah tato juga di pinggang kiri Lorenzo yang kini bergambar elang kecil.
"Siap baby, malam ini kita habiskan di rumah sakit, tetapi tidak untuk lain kali, kita akan mencobanya di hotel!" senyum Lorenzo sehingga kedua orang itu telanjang bulat di ruangan rumah sakit itu.
Nazila berteriak bahkan menangis histeris atas perlakuan kasar Abang tirinya, dirinya tak mau ini terjadi siapapun tolong ...!
Lorenzo tersenyum penuh kemenangan, hatinya membuncah senang sesaat berhasil merobek selaput darah adik tirinya. "Dengan begini, kita akan tetap bersama tanpa ada yang bisa memisahkan kita sayang!"
*. * *
"Ren, kok kamu gak mau ngomong sih sama aku?" lesu Yunita sesudah keduanya mendapatkan pelepasan.
Yunita yang kepalang kesal membuka tutup matanya, dan betapa terkejutnya dirinya saat mengetahui bahwa yang merebut perawan miliknya bukanlah Lorenzo melainkan seseorang yang sangat dirinya benci melebihi apapun.
"B*jingan!" teriak Yunita menutup tubuh polosnya rasa marah meledak begitu saja. "Dasar keparat, kembalikan perawan gue anjing!" teriaknya.
"Buka lagi baby, aku akan kembalikan perawanmu!" senyum iblis itu merangkak naik menyingkirkan selimut yang menghalangi tubuh Yunita.
"Minggir brengsek, gue gak Sudi disentuh sama Lo ya bajingan!" teriak Yunita mendorong kasar dada bidang itu.
"Yakin gak sudi, tadi siapa yang berteriak paling kencang meminta untuk dipercepat, heh!" sinis pemuda itu.
Tetapi yang namanya hawa nafsu sudah menguasai, kita sebagai manusia bisa apa? Hanya bisa berusaha untuk mengendalikan diri untuk bisa kembali sadar.
Pemuda itu tak mengindahkan teriakan Yunita, setan sudah menguasainya, yang terpenting Yunita gadis sombong bahkan dibenci satu kampus ini harus menjadi miliknya dia tak peduli dengan sifat buruk Yunita adalah perempuan cantik ini menjadi miliknya.
"Thanks Renzo!" batinnya.
Yang awalnya berawal dari saling menikmati kini berubah menjadi kekerasan yang bahkan membuat tubuh cantik itu lebam di mana-mana.
.
.
.
Siapa tuh pemuda?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Neneng Dwi Nurhayati
up nya seminggu brpa kali yaa..
2024-01-24
3
nur_icikwir
part ini agak pendek sebagian aku hapus karena kena pelanggaran, jadi kalo banyak kata yang gak nyambung mohon maaf ya kak 💐🙏🏻
2024-01-24
3