Desahan Nazila kian terdengar nikmat di telinga Lorenzo terasa seperti rengekan yang meminta untuk di lanjut, sedangkan yang digempur sudah ingin bertemu tuhan saking lelahnya.
"Baby, yours is too delicious ...,"
Geraman dan erangan tertahan Renzo begitu membuat telinga merinding. "Khemm ..., arghh, oh sh*t baby, im sorry!" racau Renzo setelah tak sengaja mengeluarkan cairannya di dalam rahim gadisnya.
"Berhenti, tolong berhenti ...!" tangisnya menahan ngilu yang luar biasa, tetapi dengan entengnya Lorenzo malah berkata ....
"Besok bakalan sembuh kok sayang, jangan nangis lagi ...," gumamnya mengelus pelan rambut Nazila yang sudah memejamkan matanya, dirinya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya bau wangi percintaan sangat ketara di dalam kamarnya, selesai mandi beberapa menit dirinya keluar lalu melihat ke arah kasur yang sudah berantakan dengan baju berserakan beserta bantal yang jatuh sebagian kasur putih itu terasa basah.
"Dengan video ini kau takkan bisa menolak ku lagi Nazila!" senyum Lorenzo mengambil beberapa kamera kecil itu lalu membuat banyak saluran bercinta mereka yang begitu nikmat.
. . .
Pagi-pagi sekali kediaman Maximilian tengah kedatangan tamu seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor ala dirinya yang tak tau malu datang bertamu ke rumah seseorang pagi-pagi buta.
"Cepat panggilkan anakku, pelayan!?" suruhnya dengan nada sinis bak majikan yang tengah menguliti bawahnya.
"Baik nyonya," jawabnya lalu pergi ke lantai dua, sesampainya di sana dengan ragu dan bimbang dia langsung mengetuk pintu kayu itu, sebenarnya dia sangat takut mengganggu tidur tuan mudanya yang kasar dan tak suka diganggu itu.
"Tuan muda, bangunlah tuan muda, nyonya menunggu anda di bawah?" panggilannya tak ada sahutan, setelah itu dia segera melipir ke bawah untuk memberitahukan nyonya barusan.
"Maaf nyonya, tuan muda belum bangun–"
"Ya maka dari itu saya menyuruhmu untuk membangunkannya, bukan malah melaporkan hal yang tak berguna!" murka wanita itu. "Tunjukkan kamarnya, biar saya saja yang membangunkan anak sialan itu!" ketusnya.
"Ma–mari nyonya, saya antarkan." Gugupnya menunduk. Nyonya ini seperti iblis sangat menakutkan!
Sesampainya di depan kamar Lorenzo wanita itu langsung berteriak menggedor-gedor pintu kayu yang sangat berisik. "Lorenzo buka pintunya, mami mau berbicara! Cepat buka!?" teriak wanita itu semakin kesetanan bahkan menendang pintu itu dengan ganas tak peduli jika hells yang dipakainya rusak.
Lorenzo menggeram marah saat seseorang itu begitu berisik di depan kamarnya tak tahu jika dirinya tengah mengantuk hebat akibat permainan semalam membuatnya kebablasan, dia melihat ke samping tubuh mungil Nazila terbungkus apik di balik selimutnya.
Cup.
Setelah mencium kening itu Lorenzo segera beranjak membuka pintu, sehingga sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. "Dasar sialan, kau sengaja membuatku menunggu anak sialan!" teriak wanita itu memaki Lorenzo di depan banyak maid. "Cepat bagi uangmu, saya butuh?" sinisnya menatap Lorenzo bengis.
Lorenzo segera masuk lalu merogoh dompetnya dan mengambil sejumlah uang 500 ribu dan memberikannya pada wanita di depannya ini.
Dengan cepat wanita itu merampas itu lalu menghitungnya. "Sial, ini tidak cukup cepat bagi lagi anak kurang ajar! Berbaktilah pada orang tuamu sialan, jangan pelit menjadi anak, aku mamimu!" sentak wanita itu hendak masuk menggeledah kamar Lorenzo tetapi keburu di dorong oleh Lorenzo.
"Terima ..., atau tidak saya kasih sama sekali?" sinis Lorenzo menatap tajam ibu kandungnya. "Bawa pergi, seret jika tak mau keluar, majikan kalian daddy saya bukan wanita itu!" tegas Lorenzo melihat ibu kandungnya yang tengah di paksa oleh beberapa bodyguard yang menyeretnya keluar. "Lain kali jika wanita itu datang jangan beri masuk, dia tak ada hak, karena rumah ini milik daddy saya bukan wanita itu!"
Nazila terisak pelan kemaluannya sangat sakit bahkan disentuh saja seperti kebas membuatnya ngilu tak tertahan. "Abang bantu Zila, punya Zila sakit banget!" panggil Nazila melihat Lorenzo di ambang pintu.
Tanpa banyak tanya Lorenzo segera menggendong tubuh Nazila dan memandikannya meskipun si empu menolak, tetapi yang namanya orang batu mana dengar.
Sepertinya watak keras Lorenzo menurun langsung dari sang ibu kandung terbukti dengan perdebatan uang di depan pintu barusan.
. . .
Jakarta Indonesia 11:39 WIB
Sebuah pesawat tiba di bandara yang diisi oleh orang-orangnya Fathur seperti sang istri dan beberapa jajaran direksi yang ikut perjalanan bisnis di New Zealand seminggu lebih ini.
"Mas aku gak sabar buat ketemu sama anak-anak," senyum Joana memasuki mobil.
"Mas juga begitu sayang, apalagi sama putri daddy rindu sekali sama anak manja itu." Senyum Fathur begitu menyayangi Nazila sebab anak itu begitu menggemaskan dari pada anak sulungnya yang begitu kaku dan dingin tak ingin diajak berbicara.
Joana tersenyum lembut, tak salah pilih dirinya, pikirannya sehingga membuat keadaan di mobil itu hening.
Nazila tak bisa berjalan normal itu membuat para pelayan di mansion itu terheran. "Nona, anda kenapa, apakah anda mengalami kram perut akibat datang bulan?" tanya salah satu pelayan yang bertugas membersihkan dapur.
Nazila terkekeh miris dalam hati. "Iya bi, dari tadi pagi perut Nazila sakit," jawab Nazila lesu tak punya gairah hidup, otaknya hanya dipenuhi bagaimana reaksi mommynya saat tahu bahwa dirinya sudah tak virgin akibat Abang tirinya itu, dia tak bisa membayangkan betapa kecewanya nanti sang mommy.
.
.
.
...TBC....
...Setting part tidak lengkap....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
shr
kereeeeenn min lanjut terus min jgn lupa min
2024-01-24
4