Chapter. 2

Pagi harinya Nazila pun bangun terlebih dahulu lalu pergi mandi, hari ini hari pertama dia untuk pindah sekolah, karena sekolah lamanya terlalu jauh dari tempat dia tinggal sekarang, maka dari itu Fathur menyarankan untuk pindah sekolah ke tempat anaknya dulu menempuh pendidikan, dan sekarang dia sudah berkuliah di samping sekolah Nazila, biar bisa berangkat bareng.

Nazila turun ke bawah lalu duduk di kursi ruang makan, dengan para pelayan yang tengah memasak untuk makanan yang akan dihidangkan saat sarapan nanti, Nazila hanya bisa melihat dia tidak bisa memasak dikarenakan sang mommy tidak mengizinkannya untuk menyentuh peralatan dapur.

"Pagi nona." Sapa seorang pelayan wanita yang tengah menyiapkan piring.

"Pagi juga bibi ..." senyum manis Nazila dengan gigi kelincinya yang sangat manis untuk anak SMA ini.

Pelayan itu pun tersenyum dengan ramah, dia sempat berpikir bahwa nona barunya ini akan cuek seperti kebanyakan anak orang kaya pada umumnya, mereka tak akan sudi untuk sekedar berbasa-basi pada pelayan mereka, karena mereka berpikir, ‘gue orang kaya jadi bebas!

Lalu beberapa menit kemudian Joana turun dengan Fathur yang berada di belakangnya sembari membetulkan dasi di leher gagah miliknya. "Pagi sayang, kok tumben udah bangun aja?" tanya Joana pergi ke dapur ikut membantu para pelayan yang datang untuk menyiapkan makanan, Joana ini tipikal wanita yang tidak bisa diam jikalau ada pekerjaan yang menurutnya bisa dia lakukan maka dia akan membantu.

"Ya kan Nazila harus jadi akan yang rajin!" jawab Nazila dengan semangat. “Apalagi sekarangkan Zila sudah pindah rumah baru!”

Joana tersenyum singkat mendengar perkataan sang anak. Hingga di saat hendak memulai memakan sarapan pagi mereka, turunlah seorang pemuda jangkung dengan lengannya kanannya yang dipenuhi oleh tato bergambar ular melingkari lengan kekar dan berurat seperti urat nadi bapak kau!

"Pagi ...," sapanya dengan suara dingin tidak ada ekspresi di wajah tampan itu.

"Kapan kamu pulang nak?" tanya Joana mencoba mendekatkan dirinya pada anak tirinya ini.

"Kenapa? Gak seneng gue pulang!" sinis Lorenzo memakan rotinya.

"Bukan begitu nak," canggung Joana, maksud dia tidak seperti itu, dia hanya melontarkan pertanyaan seperti itu berharap anak tirinya menjawab dengan baik dan bisa mengakrabkan dirinya. “Mommy kira kamu belum pulang, sebab sema–”

"Bacot!" sinis Lorenzo memotong ucapan berisik Joana, alias mommy tirinya.

"Dimana sopan santun mu Lorenzo! Suka tidak suka, mulai sekarang dia adalah mommy baru mu!" sentak Fathur pada anak tunggalnya ini.

"Cih!" Lorenzo meludah ke samping, lalu berdiri mengambil tas miliknya dan pergi keluar untuk berangkat ke kampus, Lorenzo baru masuk S1 tahun depan baru dia akan masuk S2.

"Mas, seharusnya kamu jangan seperti itu, aku ngerti dia seperti itu karena ada tekanan lain, jadi jangan terlalu dipaksa." Ucap Joana menenangkan suaminya yang terlihat marah.

“Jadi dia Abangnya Zila? Kenapa menyeramkan seperti itu?” Batin Nazila, jika begini lebih baik rasa ingin memiliki Abang pupus saja, dirinya takut jika modelan nya seperti Lorenzo tadi.

"Mommy, daddy, Zila berangkat dulu ya, takut telat soalnya, ini kan hari pertama Zila pindah." Ucapnya pamit lalu mencium bergantian pipi kedua orangtuanya.

Fathur sudah menyiapkan sopir untuk putrinya berangkat sekolah, dia tidak mau putrinya menaiki angkutan umum yang panas, jika dia mampu memberikan anaknya fasilitas maka kenapa harus repot-repot untuk menaiki angkutan umum, begitulah pikir orang sugih ini.

Setelah kedua anaknya berangkat Fathur dan Joana juga berangkat untuk ke kantor, rencananya Minggu depan Joana sudah tidak jadi sekretarisnya dia meminta Joana melayaninya di rumah saja cukup dia yang bekerja, dia tidak mau istrinya ikut kelelahan.

. . .

Ini yang dirinya tidak suka di kampus karena ada wanita pengganggu macam Yunita ini, yang selalu mengejar-ngejar dirinya dengan cara apapun, dia merasa tidak bebas di kampus ini, jika mau berdekatan dengan perempuan lain karena Yunita selalu datang mengganggu dirinya. Dia risih, sangat!

"Lo bisa gak sih, gak usah ganggu gue sekali aja, gue muak anjing!" bentaknya di lorong kampus yang masih sepi, dia masih punya perasaan tidak mempermalukan Yunita di depan orang banyak, tapi orang kampus sudah tau bahwa Yunita begitu menggilai dirinya.

"Kenapa kak, kenapa?" tanya Yunita dengan wajah sedih. "Kurangnya aku tuh dimana sih, aku cantik, aku pintar, aku juga bisa masak, nyu--" perkataannya langsung terpotong.

"Kurangnya Lo itu, adalah Lo gak punya rasa malu!" tekannya dengan nada sinis.

Yunita yang mendengar itu merasa tertohok atas ucapan Lorenzo, tapi mau bagaimana lagi, rasa cintanya pada Lorenzo begitu besar sehingga membuat akal sehatnya tidak bekerja karena yang ada di dalam pikirannya hanya Lorenzo, Lorenzo dan Lorenzo begitulah seterusnya.

Lorenzo yang melihat keterdiaman Yunita pergi begitu saja, dia malas untuk mengurusi wanita tidak jelas ini, karena jam baru pukul 8:45 yang artinya jam masuk kelas ibu Wilda nanti jam sepuluh, yang artinya tinggal satu jam lagi, jadi Lorenzo memutuskan untuk kebelakang kampus karena biasanya anak-anak pada nongkrong di sana.

. . .

Sedangkan di sekolah Nazila dia begitu senang mendapatkan dua teman baik yakni Kaela dan Liana mereka langsung tertarik untuk berteman dengan Nazila yang notabenenya adalah murid baru di kelas B2.

"Kita ke kantin yuk, makan aku udah laper banget tau!" keluh Liana mengusap perutnya.

"Sama aku juga laper banget, gak sempat sarapan sih tadi pagi, soalnya mama keburu berangkat." Sahut Kaela.

"Ya udah ayo kita ke kantin, aku juga mau makan," senyum Nazila dia begitu Excited terhadap kantin, karena di sekolahnya dulu dia tidak punya teman lantaran selalu di ejek anak manja, maka dari itu tidak ada yang mau berteman dengannya karena mereka bilang Nazila sok polos! Padahal dia tidak polos cuma tidak tau aja, apa susahnya menjelaskan yang singkat tidak perlu panjang yang penting jangan di jawab sok polos!

. . .

Jam menunjukkan pukul 13:11 dengan sangat-sangat terpaksa Lorenzo keluar dari area kampus lalu pergi ke parkiran untuk mengambil mobilnya dia disuruh untuk menjemput adik tirinya, jujur dirinya penasaran dengan wajah adik tirinya itu, walaupun sudah bertemu tadi pagi dia tidak terlalu memperhatikan perempuan itu karena adik tirinya menunduk jadi dia tidak terlalu melihatnya, ada pun kemarin malam dia ketemu, tapi mana ingat dia kan mabok!

Karena jaraknya begitu dekat Lorenzo memarkirkan mobilnya di samping sekolah Nazila yang di mana para anak murid mulai keluar dengan membludaknya dia hanya menunggu di dalam tanpa mau keluar, untuk mencari adik tirinya.

Sedangkan Nazila dia menunggu abang tirinya itu di dekat pos satpam dia melihat mobil hitam terparkir di sana, dan itu mobil Lorenzo tapi karena dia tidak tau ya jadi cuman acuh aja.

"Ck, mana sih tu anak!" kesal Lorenzo karena sudah beberapa menit dia sudah menunggu tapi tuh anak tak kunjung keluar, maka dari itu dia meminta foto Nazila pada sang daddy.

Setelah mendapatkannya Lorenzo melihat kiri kanan lalu matanya tertuju pada gadis yang duduk di dekat mobilnya bersama pak satpam yang tengah menyeruput kopinya. "Bangsat!" kesel Lorenzo lalu turun.

Jadi dia menunggu orang yang tengah menunggunya juga?

"Ayo pulang!" Lorenzo berdiri di depan Nazila yang mendongak terkejut menatapnya.

"Iy-a," gugup Nazila tak menyangka bahwa Abang tirinya yang datang menjemput dirinya, "mari pak, saya pulang duluan!" pamit Nazila pada bapak satpam itu.

"Dasar lelet!" kesal Lorenzo saat melihat Nazila yang sudah masuk memasang seat beltnya.

Nazila hanya menunduk diam, tak berani menjawab, jujur saja Nazila takut sama abang tirinya ini karena hawanya yang sangat dominan dan kejam, jika di cekik saja mungkin dia sudah mati.

"Nama Lo siapa?" tanya Lorenzo memecah keheningan.

"Abang nanya aku?" tanya Nazila memastikan.

"Ya-iya lah oon! Emang mau nanya siapa, hantu!" semprot Lorenzo.

"Abang bisa liat hantu? Wah ... hebat banget!" tanya Nazila yang berubah jadi kagum.

"Bangsat gue nanya Lo anjing! Dan lagi apa-apaan barusan, Lo manggil gue Abang? Lo pikir gue abang-abang nasi goreng!" sarkas Lorenzo menatap sinis pada Nazila yang meringis takut dengan suaranya itu.

"Maaf ...," lirih Nazila, merasa tak enak karena dia orangnya lemah lembut, jadi mendengar suara kasar saja itu membuatnya mudah menangis karena dia mengira mereka marah atau berantem.

"Gak usah nangis, dasar cengeng!" ejek Lorenzo melihat adik tirinya menitikkan air matanya, dasar gadis kecil ini mudah sekali membuatnya menangis.

"Gak nangis kok." Jawab Nazila dengan suara kecil.

Lorenzo tidak menjawab, dia segera membelokkan mobilnya lalu berhenti di depan minimarket, Lorenzo ke luar tanpa memperdulikan Nazila yang menatapnya di balik kaca mobil seperti anak kecil tak lupa mata merahnya yang habis menangis, sangat lucu!

"Kak Ren kasar!" gumam Nazila, mempoutkan bibir.

Lorenzo kembali dengan menenteng satu plastik yang berisi Snack dan es krim, dia membuka pintu mobil tempat Nazila duduk lalu membungkuk dan melihat adik tirinya yang tertidur. "Gue perginya terlalu lama ya? Sampe ni bocil bisa langsung tidur?" kekehnya lalu mata melihat bibir pink itu. "Pasti rasanya manis!" gumamnya hendak mencicipi tapi keburu sadar.

"Dia adik Lo anjing!" makinya pada diri sendiri, jakunnya sudah naik turun menormalkan gejolak aneh di dalam tubuhnya.

Nafsu sama adik sendiri!

. . .

Terpopuler

Comments

Rina Agustina

Rina Agustina

walaupun Mak bapaknya nikah, mereka juga halal kok menikah, krna GK sedarah ..ak udah pernah baca..

2024-10-31

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Bukan adik sedarah..

2024-09-26

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

B2 itu kelas apa? kelas berapa? 🤔🤔

2024-09-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!