Chapter. 4

...☞“H A P P Y R E A D I N G”☜⁠...

Siang harinya Lorenzo sudah standby di depan sekolahnya Zila, di menunggu di sana sekitar empat puluh lima menitan, tapi Nazila sudah pulang duluan bersama Leo. Karena sudah terlalu lama menunggu, dan para siswa siswi juga sudah tidak ada, Renzo pun memutuskan untuk pulang, tapi ditengah perjalanan dia melihat adik tirinya tengah tersenyum senang bersama seorang laki-laki di depan swalayan.

"Anjing!" umpat Lorenzo. "Awas kamu kelinci kecil! Punishment awaits you my dear ...." gumamnya lirih dengan mata tajam sayu yang sangat tidak kuat untuk dipandang, buku-buku jarinya sudah memutih, meremas setir mobil miliknya.

Kenapa di saat dia sudah bisa merasakan jatuh cinta malah ke adik tirinya! Sangat sial sekali nasib Lorenzo ini.

. . .

"Makasih ya kak, udah ajak Zila jalan-jalan, Zila seneng banget!" celoteh Zila di jok belakang motor, Leo yang tersenyum senang di depan.

"Sama-sama, lain kali kita jalan-jalan lagi, mau gak?" tawar Leo.

"Em ..., gak tau deh, nanti coba izin mommy sama daddy semoga di kasih." jawab Zila, dengan nada ragu sebab perasaannya mulai tidak enak, seolah-olah akan ada bahaya yang akan datang.

"Hem .... Oke-oke!"

Laju motor hitam itu membelah jalan raya yang masih senggang karena ini sudah jam dua siang, di depan lampu merah mata Nazila tak sengaja menatap ke arah mobil hitam yang berhenti di depannya, saat melihat pengendaranya Nazila begitu terkejut.

"Abang ...." lirih Nazila yang tak terdengar oleh siapapun.

Lorenzo yang melihat keterkejutan adik tirinya tersenyum miring, ke arah Nazila yang bergumam, terbukti dari gerakan bibir manisnya itu.

"Turun baby, atau Abang hukum!" gumam Renzo menatap intens ke arah Nazila yang sudah mulai takut, lampu merah sebentar lagi akan beralih.

Nazila yang mengerti menyuruh Leo untuk menurunkan dirinya di ujung jalan, depan kios kosong.

"Kok turun di sini? Emang rumah kamu di daerah sini?" tanya Leo melihat banyaknya pemukiman tapi sudah sepi, ada beberapa sih yang lewat.

"Hehe ... nggak kok, ini aku udah janjian sama temen," senyum Nazila menunjukkan balasan chatting dari Renzo, tapi karena silau matahari Leo tidak bisa melihat jelas isi pesan tersebut.

"Emang kamu berani, nunggu sendiri? Aku temenin ya, sampe teman kamu datang," ucap Leo bersikeras.

Nazila mulai gelisah sendiri, apalagi dengan abangnya yang mengawasi dirinya di tepi jalan dengan senyum mematikan membuat dirinya tambah ketar-ketir.

Sehingga lamunannya dibuyarkan oleh nada dering handphone milik Leo yang ternyata Leo di telpon oleh mami tercintanya menyuruhnya untuk pulang, karena ada keadaan gawat darurat.

"Aduh Zil, gue gak bisa nemenin Lo nih, gue pulang duluan!" lalu dengan cepat Leo memutar balikkan motornya melesat pergi.

Mobil hitam milik Renzo berhenti tepat di depan Nazila, lalu Renzo keluar dari mobil dengan pandangan datar menghunus Nazila. "Come here baby ...." panggil Renzo bersandar di samping mobilnya sembari memantik rokok.

Nazila hanya menunduk takut tidak berani menatap Abang tirinya, entah kenapa dia takut, padahal dia tidak membuat kesalahan.

"Are you deaf girl?" tanya Lorenzo membuka pembicaraan.

"No, I'm not deaf ..." lirih Nazila menunduk takut.

"Ya udah, ke sini, kenapa diem?" Lorenzo menghembuskan asap rokoknya hingga menerpa wajah Nazila.

Mau tak mau Nazila mendekat ke arah Lorenzo yang langsung meraih pinggangnya dan meremasnya pelan, tak lupa mulut pria itu menghisap pelan kulit leher Nazila yang merasa asin oleh keringat, tapi yang namanya cinta! Tidak ada rasa jijik, jikapun itu di suruh jilat t*i mereka pun akan menjilatinya hingga tak tersisa.

"Masuk mobil!" perintah Renzo.

. . .

Fathur dan Joana menunggu kepulangan kedua anak mereka, di ruang tamu, mereka ingin memberitahu bahwa mereka akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri selama satu bulan, karena pembangunan proyek mereka ada yang terjadi masalah di New Zealand, jadi mau tak mau mereka berdua harus pergi, Joana yang akan diberhentikan menjadi sekretaris harus diundur dulu.

"Mommy!" pekik Nazila yang akhirnya bisa terbebas dari jeratan Abang tirinya.

"Sayang jangan teriak," beritahu Joana pada anaknya.

"Mommy sama daddy mau kemana kok rapi-rapi begitu?" tanya Zila di pelukan sang mommy tercinta.

"Mommy sama daddy mau keluar negeri, kamu di sini baik-baik ya, sama Abang kamu, jangan bandel!" kasih tau Joana.

Nazila yang mendengar itu merasa takut, apalagi bersama Abang tirinya itu. "Mommy, apa Zila boleh ikut, Zila gak berani kalo gak ada mommy," lirihnya menunduk sedih.

Joana melirik Fathur yang terdiam. "Maaf sayang, kami di sana buat kerja bukan buat liburan, mommy di sana juga cuma satu bulan, lagian di sini kan ada Abang yang jaga kamu, jadi anak mommy juga tidak kesepian," hibur Joana melihat anaknya yang hanya diam.

"Hem ..." angguk Zila lalu pergi ke kamarnya.

Joana yang melihatnya tidak bisa mengejar karena sebentar lagi pesawat akan terbang jadi dia dan Fathur cepat-cepat pergi, sedangkan Renzo dia hanya mengangguk sekilas atas ucapan ibu tirinya itu, yang berpesan untuk menjaga adik tirinya.

. . .

Malam harinya Lorenzo turun buat makan malam, dan tentunya disana kosong hanya tersaji makanan saja, dia melihat sekeliling untuk mencari adik tirinya, tetapi tidak ada di sana.

"Mana Nazila?" tanya Renzo pada pembantu yang berdiri di sana.

"Nona belum keluar sedari pulang sekolah tuan muda." Jawab pembantu itu.

Lorenzo mengangguk tak menjawab dia melanjutkan untuk makan malam dulu, mengurus bocil SMA itu butuh tenaga, jadi dia isi baterai saja dulu.

. . .

Suara ketukan pintu di kamar membuat Nazila dengan malas untuk membukanya. "Siapa sih, ganggu sedih Zila aja!" gerutunya. "Abang?" beonya. "Abang ngapain di depan kamarnya Zila?"

"Makan!" suruh Lorenzo menyodorkan satu nampan berisikan makanan.

"Nazila gak lap--"

"Makan atau Abang patahkan kaki kamu!" ancam Lorenzo yang tak pernah main-main.

"Tap--"

"Satu ..."

"Nazila gak laper bang!"pekik Nazila sedang tidak mau di paksa karena moodnya sangat tidak bagus.

"Dua ...."

"Abang makan aja sendiri. Zila udah kenyang!" sentaknya lalu masuk.

"Tiga ...." Final Lorenzo lalu ikut masuk meletakkan nampan yang dia bawa di atas meja dan mendorong tubuh Nazila yang duduk di kasur menjadi terlentang. Lorenzo dengan kasar menarik pergelangan kaki putih mulus itu, dengan tanpa perasaan dia mematahkan pergelangan kaki Nazila hingga berteriak sakit.

"Abang!" teriak Nazila menangis menutup wajahnya menahan sakit di pergelangan kakinya yang barusan di patahkan. "Sakit ..." tangis Nazila tak berani menggerakkan kakinya yang sangat nyeri.

Lorenzo bukanya merasa bersalah dia malah tersenyum menjilat bibir bawahnya. "Makan ya, sayang ..." bujuk Lorenzo yang duduk di belakang Nazila yang tidur menyamping sambil menangis karena sakit di kakinya.

"Gak mau!" tangis Nazila.

"Abang pat--"

"Gak bisa bangun!" sahut Nazila memotong perkataan Lorenzo.

Lorenzo yang dasarnya peka, langsung mengangkat Nazila hingga duduk di atas pahanya. Dia melihat mata sembab sang adik tiri beserta kaki mungil itu yang mengalami pembengkakan. "Nurut makanya sama Abang, biar Abang gak patahin kaki kamu!" bisik Renzo.

"Abang jahat!" ucap Nazila dengan nada sesenggukan sambil mengunyah nasi, yang disuapkan oleh Renzo.

"Emang!”

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Lagian Nazila ngenyel banget,Udah tau Renzo Tempramen kek gitu,masih aja sok membangkang..Renzo juga kenapa sih kejam banget..

2024-09-26

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Ogeb..Yang ada bukannya di jaga,Malah di Mangsa..Ninggalin anak yg gak ada ikatan darah..

2024-09-26

0

Kiwi Edna

Kiwi Edna

Ngeri juga ya si Renzo, main patah kaki anak orang.../Scare/

2024-01-22

5

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!