Sesampainya di mansion Lorenzo langsung turun dari mobil dan menggendong adik tirinya. "Keknya nih anak kekurangan nutrisi, ringan banget!" kekeh Lorenzo menggendong Nazila ala koala karena sang empu yang tertidur malah semakin nyaman memeluk leher kakak tirinya.
Lorenzo masuk dan hanya disambut oleh para maid, sedangkan daddy dan mommy tirinya masih berada di kantor, sejujurnya sih Lorenzo tidak peduli.
"Mama jangan pergi, temenin Zila bobo ...!" rengek Nazila memeluk erat Lorenzo, tidak mau lepas.
"Turun ...!" suruh Lorenzo mencoba melepaskan tangan Nazila yang begitu erat memeluk lehernya, di tambah di bawah sana sesuatu sudah bangun.
"Damn got me up!" lirih Lorenzo menahan sesak di bawahnya. "Turun gadis kecil, atau kamu celaka!" bisik Lorenzo mencium telinga Nazila.
"Enghh ..., abang ada yang mengganjal ....!" rengek Nazila dengan mata yang masih terpejam.
"Makanya turun!" suruh Lorenzo melepaskan tangan Nazila dan akhirnya mau, lalu melanjutkan tidur. "Damn I'm cramped!" desis Lorenzo lalu pergi ke kamarnya untuk menuntaskan hasratnya.
. . .
Malam harinya keluarga baru itu, melakukan rutinitas mereka yakni makan malam, selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga, dan tumben-tumbennya Lorenzo ikut bergabung sehingga membuat suasana canggung.
"Gimana kuliahnya nak?" tanya Joana pada anak tirinya yang asik sendiri dengan handphone miliknya, padahal pikirannya tengah berkelana entah kemana.
"Baik!" jawab Lorenzo cuek.
"Mommy gak nanya sekolah Zila gitu? Masa cuma Abang doang yang di tanya!" cerocos Nazila memaling kesal.
"Iya-iya, anak mommy sekolahnya gimana, baik gak?" tanya Joana.
Lorenzo dia hanya fokus ke Nazila, dari cara berbicaranya, marahnya, dan yang lainnya sehingga pikiran kotornya tentang tadi siang kembali mengulang. "Sial!" batin Lorenzo.
"Abang?" panggil Nazila yang sudah duduk di samping, Lorenzo kedua orang tua mereka sudah pergi dulu ke kamar mereka tinggal Nazila dan Lorenzo saja di ruang keluarga yang megah itu.
"Hem ..." acuh Lorenzo fokus ke handphonenya.
"Abang bisa bantu Zila gak, buat ngerjain PR matematika, soalnya susah banget, otak Zila gak sampe buat hitungnya!" keluh Nazila.
"Mana PR nya?" tanya Lorenzo memasukkan handphone miliknya.
"Di kamar bang, bentar ya Zila ambilin!" seru Nazila lalu ngacir pergi menaiki tangga rumah yang begitu panjang, padahal di sampingnya ada lift.
Lorenzo ikut berjalan menuju tangga tapi dia malah naik lift, yak kali naik tangga, kalo ada yang mudah kenapa pilih yang sulit, ribet amat hidup!
Nazila mengambil buku PR miliknya di dalam tas, baru saja hendak keluar menutup pintu, abangnya sudah berdiri di hadapannya dengan wajah datar tak lupa satu biji rokok yang sudah di nyalakan.
"Abang ....?" cicit Nazila merasa gugup.
"Mana PR nya?"
"Abang mau ngerjainnya di-"
"Dalem aja," potong Lorenzo menerobos masuk ke kamar Nazila, bau lavender menyeruak masuk kedalam rongga hidungnya 'sangat harum ....
Nazila menutup pintu kamarnya lalu duduk di samping abang tirinya yang asik menghembuskan asap rokoknya. "Abang cara hitung yang ini gimana? Zila bingung, hasilnya gak pernah ketemu!" kesel Nazila.
Tanpa menjawab pertanyaan Nazila Lorenzo langsung mengerjakan PR Nazila, hingga beberapa menit Lorenzo sudah bisa mengerjakannya, sehingga membuat Nazila terpukau dengan kehebatannya.
"Abang hebat banget, Zila jadi pengen pintar deh, kaya Abang ...," senyum Zila membuat Lorenzo berpikiran kotor.
"Dia adik Lo bang*at! Sadar anjing!" batin Renzo menggeleng pelan, lalu dengan cepat mengangkat adik tirinya hingga duduk di pangkuannya, dengan wajahnya yang di tenggelamkan di leher putih milik sang adik. "Wangi, Abang suka!" gumamnya.
"A-abang ... geli," cicit Nazila menggeliat geli di pangkuan sang abang.
"Jangan bilang daddy, okey?" suruh Lorenzo lalu membuat kissmark di atas d*danya.
Nazila menangis terisak tidak nyaman dengan perlakuan abangnya. "Kenapa nangis?" tanya Lorenzo, mendekatkan dirinya hingga kening kedua adik kakak itu menyatu. “Sorry gak sengaja.” Lorenzo menyenderkan kepalanya menatap adik tirinya yang berlinang air mata.
Bukan tidak sengaja melainkan nafsunya tidak bisa di kontrol pada gadis SMA ini, Lorenzo sungguh menyesal telah menyetujui pernikahan daddynya dengan mommy tirinya, kenapa dia tidak menolak dengan keras! Sungguh sial sekali, kenapa dirinya tidak lebih dulu saja bertemu pada gadis kecil di dekapannya ini.
"Abang jangan gitu lagi, Zila gak suka." Gumamnya lirih, lalu memeluk erat leher Lorenzo.
"Em ...."
Lorenzo memeluk tubuh Nazila yang berada di pangkuannya, hingga adik tirinya tertidur di dekapannya, Renzo berdiri lalu membaringkan adik tirinya yang sudah tertidur pulas, lalu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, karena artinya sangat dalam sedalam palung Mariana.
"You drive me crazy in an instant baby …." Gumam Lorenzo lirih tak lupa mengecup pelan bibir manis itu, dia tau ini salah tapi rasa di dadanya menolak untuk sadar bahwa gadis ini adalah adiknya.
. . .
Keesokan paginya, Nazila bangun dan melakukan rutinitas paginya seperti mandi, sarapan lalu berangkat ke sekolah, begitu juga dengan Lorenzo, dia berangkat menggunakan mobil hitam miliknya yang menambah kesan maskulin untuk pria berusia 22 tahun itu.
"Nanti kamu jemput adikmu ya, soalnya daddy sama mommy bakal pulang telat." Ucap Fathur memulai sarapan paginya.
Lorenzo dia hanya mengangguk mengiyakan, Fathur sengaja menyuruh anaknya untuk menjemput putri tirinya agar keduanya bisa akrab dan tak canggung satu sama lain, tapi Fathur tidak tau saja bahwa putri tirinya akan merasakan bahaya di dekat putranya.
Huh ....
. . .
"Zila nanti Lo pulang bareng gue ya?" ucap seorang laki-laki yang bernama Leo seorang kakak kelas, yang begitu populer di kalangan para betina, entah kenapa Leo begitu tertarik dengan keluguan Nazila.
"Emang gak ngerepotin kakak gitu?" tanya Nazila memakan mie yang dia pesan.
"Nggak dong, nanti kakak bawa kamu jalan-jalan mau gak?" bujuk Leo.
"Em ..., oke deh, nanti Zila pulang bareng kak Leo!" seru Zila tersenyum kecil sehingga matanya menyipit membuat Leo jadi gemes ingin mencubit pelan pipi Nazila.
Kaela dan Liana hanya tersenyum melihat interaksi cowok populer itu bersama sahabat baru mereka, baru kali ini Leo mau mendekati dirinya dengan seorang perempuan tapi, entah kenapa saat hormon sukanya malah langsung ke bocil yang sudah puber, seperti Renzo saja.
. . .
Selesai kelas pertama Lorenzo dan kedua temannya langsung pergi ke belakang gedung fakultas ekonomi yang di mana di sana ada tembok besar dan di balik tembok itu, ada perumahan warga serta ada satu warung milik ibu-ibu tempat mereka nongkrong sehabis jam pelajaran, untuk yang mengerjakan deskripsi mereka lebih memilih ke kantin atau paling tidak ke resto buat refreshing sedikit.
Liam mengambil satu batang rokok lalu memantiknya sehingga menyala. "Gue denger Lo punya adik cewek?" tanya Liam membuka percakapan.
"Emang kenapa?" tanya balik Lorenzo yang ikut menghisap rokoknya.
"Gak ada sih, nanya aja," jawab Liam. "Cantik enggak? Siapa tau kan gue bisa jadi adik ipar Lo!" canda Liam tertawa pelan.
"Ogah gue punya adek ipar kek Lo!" sinisnya. Gak Sudi!
"Hahah, siapa tau kan jodoh, ya gak, Za?" ketawa Liam.
"Yoi, mau deh gue daftar buat nyalon jadi adik ipar Lo!" timpal Veroza tertawa pelan bersama Liam. "Jadi, kapan-kapan lo ajak kita main ke mansion bokap lo biar kita berdua bisa ketemu sama adik tiri Lo!" sambung Veroza.
"Males banget gue ajak Lo pada buat ketemu adik gue, mending gak usah!" Ucapannya menatap malas kepada dua sahabatnya ini.
"Elah bro ... sekali aja lah!" bujuk Liam.
"Hem ...!" sahut Lorenzo malas bicara karena saat melihat notifikasi handphonenya yang mengganggu dari Yunita, sebab itu membuat Lorenzo malas mengaktifkan data selulernya, tapi tetap saja Yunita akan menelepon dirinya lewat telepon biasa.
Jujur dirinya sangat risih, seperti seorang suami yang lepas tanggung jawab pada istrinya yang menuntut hak balas.
. . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Pantesan temen2 di sekolah lama bilang dia sok polos,Gampang banget di bawak oleh siapa saja,Padahal baru aja kenal
2024-09-26
0
Qaisaa Nazarudin
Cepat banget tidurnya,Bisa ya gitu 🤣🤣
2024-09-26
0