Peringatan Dari Putri Azalea

Lantaran latihannya sudah selesai menjadi kesempatan bagus bagi Putri Azalea untuk berbicara dengan Jendral Geoffrey yang kebetulan masih di tempat latihan sendirian sedangkan para prajurit sudah pergi bertugas kembali sesuai dengan tempat mereka di penjuru Kerajaan Monkshood.

Putri Azalea mendekati Jendral Geoffrey yang tengah duduk santai di bangku kemudian ikut duduk di sebelahnya dan menatap Jendral Geoffrey dari arah samping masih saja membuatnya terpesona.

*astaga kenapa tampan sekali sih, kenapa juga dengan ku sejak kapan aku bisa merasakan hal seperti ini padahal dulu tidak karena aku terlalu fokus pada kerjaan ku* batin Putri Azalea yang terheran-heran dengan dirinya sendiri.

"Lea ada apa melihat paman seperti itu ada yang aneh dengan paman" bingung Jendral Geoffrey menaikkan sebelah alisnya.

"ah tidak ada paman hehehe" Putri Azalea hanya meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"sungguh tidak ada lalu kenapa kamu sampai melihat paman seperti itu Lea sudahlah katakan saja ada apa" desak Jendral Geoffrey.

"ehm itu anu apa ya" bingung Putri Azalea bergabung dengan rasa malu.

"kalo bicara yang jelas Lea paman tidak paham apa maksud mu" bingung Jendral Geoffrey menatap Putri Azalea sampai terlihat semburat merah merona di kedua pipi Putri Azalea.

"ehm itu paman terlihat sangat tampan meskipun di liga lihat dari samping" jujur Putri Azalea dengan pipi yang sudah semerah tomat.

"ahahahah, Lea bisa saja kamu sampai memerah wajah kamu" ledek Jendral Geoffrey yang melihat pipi Putri Azalea yang memerah seperti tomat.

"paman jangan meledek ku seperti itu aku malu" Putri Azalea menundukkan kepalanya.

"tidak usah malu Lea itu hak mau menilai paman seperti apa tapi terimakasih atas pujiannya" Jendral Geoffrey mengacak-acak rambut Putri Azalea gemas.

"paman Geoff jangan mengacak-acak rambut ku jadi berantakan kan" cebik Putri Azalea menggembungkan kedua pipinya.

"kamu gemas sekali jikalau seperti itu Lea rasanya ingin paman cubit pipi bakpao mu itu" goda Jendral Geoffrey tersenyum manis.

*alamak jang senyuman nya itu tolong dong terlalu manis hua bisa gila aku lama-lama* batin Putri Azalea menjerit kecil rasanya ingin teriak tapi sangat tidak sopan.

"kamu kenapa lagi Lea diam sembari menatap wajah paman lagi apa paman terlalu tampan padahal paman sudah berumur" Jendral Geoffrey menyadarkan Putri Azalea dari lamunannya.

"iya paman bukan itu saja senyuman paman sangat manis sekali sampai aku ingin pingsan rasanya" jujur Putri Azalea berbinar-binar membuat Jendral Geoffrey melongo melihat juga mendengarnya.

*dia sungguh sangat terang-terangan sekali sejak kapan Lea jadi seberani ini padahal dulu kita tidak pernah dekat bahkan bertemu saja jarang* batin Jendral Geoffrey yang tidak percaya dengan perubahan Putri Azalea yang sangat-sangat jauh sekali dengan dulu yang dia tau.

"paman kenapa gantian diam apa ada yang salah dengan ucapan ku tadi atau paman risih ya dengan ucapan ku tadi maaf paman" ucap Putri Azalea yang salah sangka dengan ekspresi Jendral Geoffrey.

"tidak ada sudah tidak usah dibahas lagi ada apa" Jendral Geoffrey mengalihkan topik pembicaraan.

"oh aku ingin memberikan sesuatu dengan paman" Putri Azalea mengambil botol kecil dari saku bajunya.

"ini paman ambillah ini adalah racun yang sudah aku bikin sendiri dan oleskan pada ujung anak panah lalu yang satunya untuk paman gunakan jikalau membutuhkan" Putri Azalea memberikan dua botol kecil pada Jendral Geoffrey yang langsung diterima.

"ini belum seberapa paman besok aku akan mencari yang lainnya untuk aku gunakan sementara ini dulu ya" lanjut Putri Azalea.

"baiklah Lea terimakasih kamu tidak berbohong rupanya paman akan menggunakan nya sebaik mungkin kalo boleh bisakah paman menemani mu besok" Jendral Geoffrey menyimpan kedua botol kecil itu.

"tidak usah paman aku akan bersama dengan Olivia saja itu sudah cukup bagiku paman tunggu saja ramuan-ramuan yang lainnya yang aku buat khusus untuk paman" tolak Putri Azalea tersenyum manis.

"ah baiklah Lea, paman sangat senang sekali atas bantuan mu" senyum Jendral Geoffrey.

"aku pergi dulu ya paman" pamit Putri Azalea.

"iya Lea besok berhati-hatilah" peringat Jendral Geoffrey.

"siap paman aku pergi dulu ya" Putri Azalea tersenyum tipis.

"iya Lea paman juga masih ada urusan" angguk Jendral Geoffrey.

Kemudian mereka berdua sama-sama berdiri namun pergi dengan tujuan yang berbeda juga kepentingan yang berbeda yang terpenting Putri Azalea sudah menepati janjinya tadi pada Jendral Geoffrey jadi sudah agak lega.

"ayolah Aza ada apa dengan mu kenapa kamu bisa seperti itu" Putri Azalea memukul kepala sendiri merasa sangat bingung.

"ini murni perasaan ku atau Putri Azalea tapi seingat ku dari ingatan pemilik tubuh ini tidak pernah dekat dengan paman Geoff, jadi apakah mungkin ini murni perasaan ku" frustasi Putri Azalea yang seperti sudah hilang kendali.

"aku tidak boleh suka dengan siapapun disini tidak boleh sampai kapanpun niat utama ku hanya untuk balas dendam tidak untuk yang lainnya ingat itu Aza" monolog Putri Azalea sambil berjalan.

"oke fokus Aza dengan rencana mu tidak boleh goyah dengan apapun oke, okelah aku pasti bisa" Putri Azalea mengingatkan dirinya sendiri.

Ketika sedang asik menggerutu sepanjang jalan tidak sengaja Putri Azalea bertemu dengan selir Reina juga anaknya Raina yang menatapnya dengan penuh permusuhan tidak perduli dengan apa yang terjadi waktu itu.

"lihatlah seorang Putri baru saja berbicara berdua dengan laki-laki apakah tidak punya malu ya" sinis selir Reina.

"apa urusannya dengan mu tidak ada kan" dingin Putri Azalea menatap jengah.

"tapi kami jadi curiga dengan mu jangan-jangan kamu ada hubungan yang spesial dengan Jendral itu ya atau mungkin kamu suka dengan nya sungguh tidak berakhlak sekali" tuduh selir Reina agak menghina.

"selera mu tenyata jelek juga ya Putri aku sungguh tidak sangka tapi kalian sangat cocok sekali lagi pula mana ada Pangeran yang mau dengan Putri yang penyakitan seperti kamu" sinis Raina menatap tidak suka.

"mulut kalian yang tidak punya akhlak seenaknya saja berucap, asal tau aku tidak ada apa-apa dengan dia dan aku tidak suka dengan dia ingat itu" marah Putri Azalea menatap tajam.

"mana mungkin kamu mengaku pasti tidak, bagaimana ya ekspresi yang mulia melihat putri kesayangannya memiliki selera yang sangat rendah sekali dan tidak sepadan" hina selir Reina.

"pastinya mereka sangat kecewa sekali pada Putri keduanya ini dan pasti akan membandingkannya dengan kakaknya kan yang jauh-jauh lebih pintar memilih pasangan" sambung Raina mengejek sesuka hatinya sendiri.

"tapi bahas saja sebentar kamu bisa pergi dari Kerajaan ini dan aku yang menjadi Putri keduanya menggantikan posisi mu" lanjut Raina tersenyum smrik.

"jangan harap kau bisa menyingkirkan aku dari rumah ku sendiri karena aku yang akan menyingkirkan kalian dari rumah ku" marah Putri Azalea yang rasanya ingin memukul kedua manusia yang sangat menyebalkan itu.

"yang sudah membuat ku seperti ini kalian berdua sialan dan ingat satu hal aku tidak peduli dengan putra Kerajaan atau laki-laki manapun karena aku memiliki tujuan sendiri" dingin Putri Azalea agak mendorong Raina kebelakang saking kesalnya.

"tidak bisa jangan berharap ya, kamu yang akan pergi bukan kita berdua ingat itu baik-baik ya" sombong selir Reina.

"kamu yang akan pergi seperti apa kata ibuku kamu tidak bisa mengusir kami begitu saja kamu bukan siapa-siapa ya" sombong Raina.

"dan satu hal lagi aku akan merebut calon suami mu jikalau kamu tidak mau tapi aku tetap berterima kasih dengan mu", ejek Raina.

"ambil saja aku tidak perduli biar kau puas ambillah aku tidak suka Juga" kesal Putri Azalea.

"dan ingat tujuanku sebenarnya adalah membalas dendam kepada kalian berdua ingat baik-baik " Putri Azalea menatap tajam menusuk tulang.

"kalian akan hancur di tangan ku ingat itu baik-baik paham" dingin Putri Azalea lalu segera pergi.

"sialan dia huh lihat saja nanti" kesal selir Reina.

"tidak apa ibu aku bisa mengambil calon suaminya" senang Raina.

"itu bagus mari pergi" ajak selir Reina.

Dengan perasaan yang campur aduk mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka keluar untuk ke rumah orang tua selir Reina untuk berkunjung dan berkumpul bersama dengan keluarga besar mereka.

Episodes
Episodes

Updated 54 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!