"Senja?"
Rona terkejut melihat sosok Senja berdiri di halaman belakang villa tempat mama dan dirinya akan menginap. Rona melihat Senja sama terkejutnya dengannya.
"Eh? Kamu,"
"Lo ngapain disini? Sama siapa?" tanya Rona tak sabar ingin tahu apa yang gadis syar'i itu lakukan di villa puncak di akhir pekan.
"Aku... Nemenin ayah sama mama ku. Ada acara family gathering dari kampus ayah," jelas Senja.
"Family gathering kampus? Kampus kita? Fakultas Ekonomi?" Rona menghujani Senja dengan pertanyaan yang membuat Senja sedikit bingung.
'Darimana dia tahu?'
"Eh? Ini... Nak Senja kan?" tiba-tiba sebuah suara wanita datang dari arah belakang Rona.
"Mama? Mama kenal dia?" tanya Rona yang kaget mengetahui mamanya mengenal Senja.
'Ha?! Mama?! Becanda kan?' batin Senja yang kaget Rona memanggil sosok wanita yang baru datang itu dengan sebutan mama.
"Jadi ini bener Senja?" tanya mama Rona sekali lagi tanpa menghiraukan pertanyaan Rona.
"Iya, tante. Tante Cahya gimana kabarnya?" tanya Senja lembut sambil berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.
"Ya Allah... Jadi gadis sholehah gini kamu. Dulu lucu banget, malu-malu, gemesin,"
"Aamiin, tante. Cuma berusaha jadi pribadi yang lebih baik lagi, tante," ucap Senja merendah.
"Ma," panggil Rona.
"Oh iya. Kamu lupa sama Senja? Dulu kan sering kamu ajak main waktu ada acara family gathering gini," jelas Tante Cahya, yang sukses membuat Rona dan Senja mencoba mengingat kembali masa kecilnya.
"Lupa? Wajar sih, udah lama banget. Terakhir waktu kamu usia enam atau tujuh tahun gitu, Senja udah nggak pernah ikut acara family gathering lagi sampe hari ini. Tante sampe kaget lho Senja lihat kamu dateng,"
Memang Senja sudah tidak mau mengikuti acara itu ketika masih anak-anak. Senja selalu minta diantar ke rumah neneknya kalau kedua orang tuanya mengikuti acara family gathering kampus. Senja menatap Rona yang ternyata juga menatapnya, mencoba mengingat sesuatu dari masa kecilnya tentang Rona. Nihil! Senja tak mengingatnya.
'Apa dia ingat aku?'
"Eh, kata ayah kamu, kamu kuliah di jurusan Sastra Inggris, berarti sering ketemu Rona dong?" tanya Tante Cahya pada Senja.
"Kenal Rona baru beberapa hari yang lalu, Tante, waktu ada kelas gabungan," ungkap Senja.
"Oh gitu, nggak sekelas ya kalian. Ya udah tante masuk dulu ya, tadi nyariin Rona, mau tante suruh bantuin, tapi ada kamu, biar Rona temenin kamu aja kalo gitu," ucap Tante Cahya lalu pergi sebelum Senja sempat mengatakan sesuatu.
"Lo inget?" tanya Rona tiba-tiba.
"Nggak," jawab Senja singkat.
"Sama,"
Mereka terdiam, menatap horison yang sudah akan menjelang siang. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mencoba mencari seberkas masa lalu yang mungkin masih tertinggal untuk diingat. Tak ada.
"Gue nggak nyangka kita dulu pernah kenal," ucap Rona setelah diam beberapa saat.
Senja hanya terdiam. Masih menatap lukisan alam. Rona menoleh, menatap Senja yang terpaku. Ada sesuatu yang membuat Rona merasa ingin masuk lebih dalam kesana. Ke dalam Senja yang tak banyak orang tahu. Ke dalam Senja kecil yang pernah bersamanya dulu.
"Sepertinya dulu kita sangat akrab," kata Senja akhirnya, masih fokus menatap hamparan hijau dan biru di hadapannya. Rona sedikit kaget.
"Keknya sih, gitu. Nyokap sampe inget lo, tapi gue bisa nggak inget. Aneh," kata Rona kemudian.
"Udah lama juga. Wajar. Aku pun nggak ingat," kata Senja, kini menatap Rona. Rona terhenyak. Baru kali ini mereka saling menatap dengan suasana yang aneh seperti ini. Waktu di halte bus, rasanya tatapan Senja tidak sesyahdu saat ini. Ada sesuatu di matanya yang sulit Rona ungkapkan dengan kata-kata.
"Senja, kamu disini, ayah cariin kemana-mana," suara ayah Senja memecah suasana rumit yang tercipta antara Rona dan Senja.
"Lhoh? Sama Nak Rona ternyata," ayah Senja baru sadar ada Rona di dekat putrinya.
"Iya, Om Sasmito," Rona menyalami ayah Senja.
"Sebentar ya, Nak Rona. Mamanya Senja lagi butuh Senja sebentar. Disambung nanti lagi bisa ya ngobrolnya?" tanya Om Sasmito pada Rona.
"Oh, iya, Om, nggak apa-apa," ucap Rona sopan sambil mempersilakan ayah dan anak itu masuk.
Rona menatap punggung Senja yang menjauh. Perlahan menghilang. Seperti kisah masa kecilnya bersama Senja. Tak berbekas.
'Sedeket apa kita dulu?'
***
Langit sore di puncak mengguratkan warna jingga dan pink yang menyatu syahdu di horison. Menawarkan kedamaian bagi para penikmat. Disana, dalam balutan gamis hitamnya, Senja duduk di bangku halaman belakang villa, sambil menatap matahari yang perlahan turun.
Rona yang tak sengaja menuju bangku itu, berhenti sejenak melihat sosok Senja yang sudah duduk disana. Menatapnya dalam-dalam dan mengambil benda pipih dari saku celananya. Ponsel pintar! Diam-diam, Rona mengambil foto diri Senja dari samping, yang tak disadari oleh Senja. Setelah mendapat gambar yang menawan, Rona berjalan menuju Senja.
"Dua senja sedang saling menatap," kata Rona setelah sampai di samping tempat duduk Senja.
"Eh, bukan dua, tiga. Tiga senja sedang saling menatap," kata Rona kemudian meralat kata-katanya sebelumnya.
"Tiga?" tanya Senja bingung.
"Iya. Lo, gue dan tuh," jelas Rona sambil menatap langit senja. Senja menatap Rona dengan wajah penuh tanya. Rona yang merasa ditatap oleh Senja, menoleh ke arah Senja.
"Oh, iya. Nama gue Rona Langit Senja. Jadi kita sama," ucap Rona menjelaskan setelah ingat kalau Senja tidak mengetahui nama lengkapnya.
"Takdir terkadang lucu," komentar Senja sambil tersenyum tipis, memikirkan kemiripan namanya dengan Rona. Rona ikut tersenyum mendengar komentar Senja.
"Lo nggak ikut acara di dalam?" tanya Rona kemudian.
"Kamu?" tanya Senja sambil kembali menatap langit senja.
"Gue cuma nemenin nyokap sih. Bokap nggak bisa dateng soalnya,"
"Mmm~,"
"Kok lo bisa inget nyokap gue, tapi nggak inget gue?" tanya Rona penasaran.
"Tante Cahya kadang main ke rumah, diskusi soal kerjaan sama ayah. Tapi udah lama juga sih nggak ke rumah. Terakhir waktu masuk SMA," jelas Senja, masih fokus menatap langit yang perlahan menggelap.
"Oo~ Mmm, lo kenapa nggak masuk Fakultas Ekonomi?" tanya Rona menyelidik.
"Kamu?" tanya Senja balik, kini melihat ke arah Rona.
"Gue? Nggak suka aja,"
"Sama," jawab Senja sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Aku lebih suka mempelajari bahasa asing ketimbang ilmu ekonomi. Lebih menarik aja. Karena kita nggak cuma belajar bahasanya, tapi juga belajar budayanya. Lebih seru menurut ku. Aku masuk duluan ya, udah mau maghrib," jelas Senja kemudian, lalu berjalan menuju villa meninggalkan Rona yang masih berdiri terpaku.
Rona menatap langit yang sudah mulai menghitam. Meresapi waktu singkat yang dia lalui bersama Senja. Diambilnya ponsel dari sakunya seakan mengingat sesuatu. Dilihatnya foto Senja yang diambilnya diam-diam. Senyum tipis tersungging di bibir Rona.
'Menarik,'
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Sriza Juniarti
kereeennnn 👍👍👍👍
2024-05-26
1
nata de coco
ternyata mereka saling kenal waktu kecil ya
2024-02-04
0