Dua jam kemudian, hari sudah semakin malam, di rumah Aoi, Hikari terus berjalan mondar mandir di dalam ruang tengah sambil menggigit kuku ibu jarinya, Aoi duduk di sofa sebab Midori tidur di pangkuannya. Aoi melihat wajah Midori yang tidur dengan tenang sambil mengelus rambut nya yang hijau. Kemudian Aoi melihat Hikari di depannya,
“Tenang saja Hikari-chan, dia pasti kembali kok.” Ujar Aoi sambil tersenyum.
“Huh....siapa yang menunggu dia, hanya saja kok lama sekali sih, padahal kan lokasinya tidak terlalu jauh. Sudah lebih dari dua jam tidak kembali.” Ujar Hikari.
“Itu namanya kamu khawatir kan, duduklah.” Balas Aoi.
“Ah...si..siapa bilang aku khawatir hahaha...” Ujar Hikari yang langsung duduk di sofa.
Walau mulutnya berkata dia tidak khawatir, pandangan Hikari terus mengarah ke pintu masuk ruang tengah seperti sedang menunggu sesuatu. Aoi yang melihat nya tertawa kecil, kemudian dia merenung sambil melihat wajah Midori yang tertidur di pangkuannya,
“Midori-chan, dia ternyata nature dragnar, dia masih kecil sudah berubah seperti kita.” Ujar Aoi.
Hikari menoleh melihat Midori yang tertidur di pangkuan Aoi, kemudian dia pindah ke sofa panjang tempat Aoi duduk dan memangku kaki Midori.
“Waktu kamu tertembak dan tubuh mu ada tiga lubang besar, aku sangat takut saat itu, hampir saja aku membunuh orang yang menembak mu, untung ada Tetsuya yang mencegahku.” Ujar Hikari.
“Tapi tidak di sangka, aku berubah, padahal waktu di cek kemampuan di sekolah, kemampuanku nol.” Ujar Aoi sambil melihat tangannya.
“Kamu Blizzard dragnar, Midori-chan Nature dragnar dan aku Light dragnar, berarti kita bertiga bukan manusia hahaha.” Ujar Hikari.
“Kalau Tetsuya apa ?” Tanya Aoi.
“Steel dragnar.” Jawab Hikari.
“Oh gitu ya, waktu aku tertidur, rasanya aku bermimpi tapi seakan akan aku mengalaminya sendiri dan terasa nyata.” Gumam Aoi.
“Benarkah ? aku juga bermimpi waktu tidak sadarkan diri.” Balas Hikari.
Hikari menceritakan mimpinya kepada Aoi, kemudian Aoi juga menceritakan mimpinya setelah Hikari selesai. Di mimpinya, Aoi tinggal di sebuah desa yang berada di sebuah pulau, yang berada di tengah sebuah danau besar. Dia bekerja sebagai nelayan wanita yang sering pergi ke tengah danau dan ketika pulang ke rumah, dia di sambut oleh kedua anak nya yang masih kecil. Suaminya meninggal karena sakit sehingga dia mengasuh dua anaknya sendirian, tapi dia merasa senang karena seluruh penduduk desa membantunya.
Sampai desanya di serang oleh sekawanan lebah besar yang memiliki ekor bisa menembak dan sekawanan capung bersayap 12 buah raksasa yang mengangkut belalang bertangan delapan sebesar manusia dan semut bertentakel di punggungnya sebesar manusia. Dalam sekejap desa mereka di bantai oleh para monster, para penduduk melarikan diri ke tengah danau termasuk Aoi, tapi naas ketika dia mulai berlayar, seekor lebah menembak perahunya dan membuatnya berlubang. Seluruh penduduk yang berada di dalam perahu jatuh ke danau dan tenggelam, Aoi berusaha menyelamatkan kedua anaknya tapi dia malah ikut tenggelam.
Ketika sudah putus asa, dia melihat seekor naga besar berwarna biru terbaring di dasar danau, naga itu dalam keadaan sekarat, ketika Aoi mendekatinya, naga itu berkata dia akan memberikan kekuatannya kepada Aoi dan berubah menjadi bola cahaya berwarna biru. Dia minta supaya Aoi menelannya. Tanpa ragu ragu Aoi menelan bola cahaya itu karena yang ada di pikirannya adalah menyelamatkan kedua anak nya. Dia berenang kesana kemari mencari anaknya, tapi dia tidak menemukannya. Akhirnya dia naik ke permukaan dan membunuh semua monster di sana.
Setelah itu, ketika sedang mencari di desa dan sekitar pantai, Aoi menemukan dua buah kalung dari kerang yang dia buat untuk kedua anaknya di pantai, hatinya benar benar tersayat melihat kedua buah hatinya hilang entah kemana. Akhirnya dia terus tinggal sendirian di desa, berharap kedua anaknya kembali, sampai suatu hari, lima orang dragnar menemuinya dan membujuk Aoi untuk ikut bersama mereka. Setelah di jelaskan sumber malapetaka yang menimpa desanya dan membuatnya terpisah dengan kedua anaknya, Aoi setuju untuk ikut pergi bersama kelima dragnar itu dan berjuang melawan raja kegelapan.
“Hmmm, lima dragnar, berarti sama kamu enam.” Ujar Hikari.
“Benar, setelah itu aku terbangun dan perutku terasa lapar sekali haha.” Balas Aoi.
“Aoi-oneechan, Hikari-oneechan, dragnar ada 7 orang, kalau di tambah dengan Tetsu-oniichan dan Midori, kita baru berempat, kurang tiga lagi.” Celetuk Midori yang sudah membuka matanya.
“Aku tahu, bola cahaya yang katanya ada di alam bawah sadarku bilang seperti itu.” Ujar Aoi.
“Aku pernah dengar, tapi detailnya aku lupa, sebab sudah lama sejak aku bangun.” Tambah Hikari.
“Midori masih ingat, karena Midori berbicara lama dengan obasan bola cahaya hijau di ruang gelap.” Tambah Midori.
“Midori-chan hebat.” Ujar Aoi sambil mengusap kening Midori dan tersenyum.
“Berarti kita masih kurang tiga orang lagi dong.” Gumam Hikari.
Tiba tiba, “Blak.” Terdengar pintu terbuka dan menutup kembali, Hikari, Aoi dan Midori langsung berdiri, mereka mendengar langkah kaki berjalan mendekat ke ruang tengah. Tetsuya masuk ke ruang tengah sambil memanggul Fudo yang sudah berambut merah lancip seperti api dan memiliki tanduk di punggungnya.
“Aku pulang...” Ujar Tetsuya.
“Lamaaaaaaa.....kamu lamaaaaaaaa....eh.” Hikari berlari menghampiri Tetsuya.
Tapi langkahnya terhenti karena dia melihat Tetsuya tidak sendirian, Aoi dan Midori juga langsung menghampiri Tetsuya,
“Oniichan ?” Tanya Midori sambil melihat Fudo yang tidur di punggung Tetsuya.
“A..apa yang terjadi ? Akitsuki-kun berubah juga seperti kita ?” Tanya Aoi.
“Benar, sekarang dia Blaze dragnar.” Jawab Tetsuya.
“Ok berarti kurang dua....hadeh.” Celetuk Hikari.
Tetsuya membawa Fudo ke sofa dan membaringkannya di sofa, Midori langsung menaruh kedua tapaknya di tubuh Fudo, kedua telapaknya mengeluarkan cahaya hijau tapi Fudo belum sadar juga.
“Biarkan saja dulu Midori-chan, butuh waktu supaya Fudo sadar kembali. Tenang saja, dia tidak apa apa kok.” Ujar Tetsuya.
“Iya, terima kasih Tetsu-oniichan.” Balas Midori.
Dia terus memegang tubuh Fudo, kemudian Midori naik ke sofa dan berbaring di atas tubuh Fudo dengan wajah datar tanpa ekspresi. Tetsuya, Hikari dan Aoi keluar dari ruang tengah untuk membiarkan keduanya di dalam. Di luar, Tetsuya menceritakan apa yang terjadi di dalam dungeon kepada Hikari dan Aoi.
“Begitu ya, berarti harusnya sekarang hutangnya sudah lunas dong.” Ujar Hikari.
“Seharusnya begitu, mudah mudahan tidak ada masalah lagi. Kasihan mereka.” Balas Tetsuya.
“Kalau begitu, biarkan mereka tinggal disini saja, toh aku kenal juga dengan Akatsuki-kun.” Tambah Aoi.
“Aku sih setuju saja, kalau si baba ini bagaimana ?” Tanya Tetsuya.
“Huh aku tidak masalah.” Tambah Hikari.
“Ok di putuskan hehe.” Balas Aoi.
Tiba tiba Hikari langsung menoleh melihat dengan tatapan tajam ke arah Tetsuya, dia langsung bernyanyi kencang di depan Tetsuya yang terpaksa menutup telinganya dengan tangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments