Chapter 19

Dua hari kemudian, ke limanya sudah siap berangkat dengan membawa barang barang mereka, ketika mau keluar dari rumah,

“Tidak ada yang ketinggalan kan ?” Tanya Hikari.

“Sejauh ini aman, ayo berangkat.” Jawab Tetsuya.

Semuanya keluar dari rumah dan mengunci pintu, kemudian mereka bersama sama berjalan menuju ke stasiun untuk naik kereta ke stasiun pusat, untuk menuju ke kota Neohill, mereka harus ke stasiun besar yang berada di pusat kota untuk naik kereta cepat tabung antar kota. Tetsuya dan Hikari berjalan di paling depan, sementara Aoi, Fudo yang menggendong Midori yang duduk di pundaknya, berjalan di belakang Tetsuya dan Hikari.

“Um...Aoi, boleh aku bertanya ?” Tanya Fudo.

“Kenapa Fudo ?” Tanya Aoi.

“Mereka itu, pacaran kah ?” Tanya Fudo sambil menunjuk ke arah Tetsuya dan Hikari yang berjalan di depan sambil bercanda dan tertawa.

“Hehehe resminya belum.” Jawab Aoi.

“Masa sih, selama dua hari ini aku perhatikan, kalau mereka sedang cuci piring bersama, memang mulutnya bertengkar, tapi tangan mereka kompak, yang satu mencuci dan yang satu mengelap, saling mengoper tanpa melihat seperti suami istri.” Ujar Fudo.

“Ku pikir aku saja yang memperhatikan, ternyata kamu juga toh hehe.” Balas Aoi.

“Makanya aku tanya, aku kan baru kenal mereka sekitar 3 harian.” Balas Fudo.

“Yah lihat saja mereka. Jangan ikut campur.” Balas Aoi.

“Tapi aneh, aku merasa akrab dengan kalian semua, termasuk kamu Aoi.” Balas Fudo.

“Sama, aku juga, rasanya kita pernah berkumpul seperti ini.” Balas Aoi.

“Midori juga merasa begitu sama semuanya.” Celetuk Midori.

“Haha iya benar.” Balas Fudo.

Ketika sampai stasiun, mereka langsung pergi ke peron tempat kereta yang akan menuju ke stasiun pusat. Tanduk dan warna mata mereka yang mencolok tentu saja mengundang orang orang yang berada di stasiun. Banyak orang berkasak kusuk, khususnya para remaja sebaya yang melihat mereka,

“Eh eh itu trend baru ya ?” Tunjuk seorang gadis muda ketika melihat kelimanya.

“Tidak tahu, aku baru pernah lihat tanduk seperti itu, tapi dua gadis itu cantik sekali.” Balas pacarnya.

“Hei, jangan lihat yang tidak tidak, aku saja berusaha mengacuhkan dua pemuda tampan di sebelah para gadis itu.”  Balas gadis muda itu.

“Aduh yang kecil lucu sekali, cantik lagi.” Gumam seorang ibu.

“Iya ya, bikin gemes.” Tambah ibu di sebelahnya.

“Tapi kok mereka semua pakai tanduk ya ? apa memang lagi mode ?” Tanya ibu di sebelahnya lagi.

“Namanya juga anak anak jaman sekarang.” Jawab seorang bapak di sebelah ibu terakhir yang berbicara.

Selain itu, ada juga seorang berjas yang bekerja di dunia entertaintment dan bertugas merekrut bakat baru mendekati mereka.

“Permisi oneesan (mba), apa berminat jadi model ?” Tanya seorang pria necis kepada Hikari.

“Wah dia tidak minat.” Jawab Tetsuya.

“Seperti kata dia.” Tambah Hikari sambil menunjuk Tetsuya.

“Wah kalau oneesan yang ini ?” Tanyanya lagi sambil menoleh melihat Aoi.

“Dia juga tidak minat, benar kan Aoi ?” Tanya Fudo.

“Iya benar, tidak berminat.” Tambah Aoi.

“Aduh kenapa para oniisan (mas) yang jawab, kalian sendiri mau tidak jadi foto model ?” Tanya pria itu.

“Tentu saja mereka tidak mau.” Jawab Hikari dan Aoi bersamaan.

“Aduh...kalau adik kecil mau ?” Tanya pria itu memaksa.

“Tidak di ijinkan.” Teriak Tetsuya, Hikari, Fudo dan Aoi sambil menatap pria itu dengan mata hijau mereka.

Akhirnya pria itu menyerah dan hanya memberikan kartu namanya, kemudian dia pergi meninggalkan kelimanya. Kelimanya tertawa melihat pria itu pergi dengan wajah kecewa dan menggaruk kepalanya walau tidak gatal.

Kereta pun tiba, mereka masuk ke dalam bersama para penumpang lainnya. Karena liburan dan tidak banyak anak sekolah, kereta menjadi sedikit lengang, Aoi dan Hikari duduk bersama dengan Midori sementara Tetsuya dan Fido berdiri di depan mereka.

Setengah jam kemudian, mereka sampai di stasiun pusat. Setelah keluar, mereka menuju ke jalur khusus untuk kereta cepat tabung, mereka melihat sebuah kereta besar yang sudah siap berangkat dan tabung kokoh yang tembus pandang mengarah keluar dari kubah. Ke limanya langsung masuk ke dalam kereta yang memang sudah terjadwal keberangkatannya.

Tetsuya menunjukkan tiketnya kepada petugas, mereka duduk di tempat yang sudah tertulis di tiket. Rata rata penumpang yang sudah berada di dalam kebanyakan berprofesi sebagai exterminator, sepertinya mereka pergi bertugas di camp camp pertahanan wilayah yang akan di lalui oleh jalur kereta cepat tabung.

Setelah menemukan kursi mereka, ke limanya menaruh tas mereka di atas kemudian duduk. Tetsuya duduk bersama Hikari menghadap Aoi, Midori dan Fudo di sebrangnya. Tiba tiba seorang penumpang menghampiri kursi mereka sambil melihat tiket dan mencocokkan nomor kursi kosong di sebelah Tetsuya.

“Maaf permisi.” Ujar nya sopan.

Dia menaruh barang barangnya di atas, kemudian dia duduk di sebelah Tetsuya. Ke limanya memperhatikan penumpang yang duduk di sebelah Tetsuya, tubuhnya terlihat besar, bidang dan lebar. Ketika duduk, tingginya lebih tinggi dari Tetsuya dan Fudo di sebrangnya. Bentuk wajahnya kotak dan terlihat sangat jantan dengan rambut cepak bagai tentara berwarna hitam.

Tetsuya memperhatikan pria yang duduk di sebelahnya yang sepertinya seorang tentara karena memakai kaus hijau tentara yang terlihat ketat karena tubuhnya sangat besar, celana loreng tentara di tambah sebuah kalung dog tag melingkar di lehernya. Dia seperti pernah melihat wajahnya dan mengenalnya.

Pria itu juga terlihat sedang memperhatikan Fudo yang duduk di depannya dan Aoi yang duduk dekat jendela, tapi pandangan matanya kembali kepada Fudo, dia mengernyitkan dahinya,

“Maaf, kamu Akatsuki-kun ?” Tanyanya.

“Huh ? kamu kenal aku ?” Tanya Fudo bingung.

“Tentu saja kenal, kita sekelas sekarang, tapi kamu hanya beberapa kali masuk dan kebetulan aku duduk di sebelahmu.” Jawab pria itu.

“Huuuh ?” Tetsuya, Aoi dan Fudo langsung menoleh melihat pria itu.

“Namamu siapa ?” Tanya Fudo.

“Ah benar juga, tentunya kamu tidak kenal aku, aku siswa pindahan yang baru masuk 1 bulan di sekolah mu, namaku Yamashita Daichi.” Jawab Daichi.

“Hmm begitu ya, maaf aku tidak tahu.” Ujar Fudo.

“Tidak masalah, kamu mau kemana ?” Tanya Daichi.

“Kita berlima mau ke kota Neohill.” Jawab Fudo.

“Oh berarti sama ya, aku juga mau pulang kesana.” Balas Daichi.

“Kamu dari sana ?” Tanya Fudo.

“Iya, aku besar di sana, aku ke kota Edin karena...banyak masalah dan sekarang aku pulang mau menyelesaikannya.” Jawab Daichi.

“Baiklah.” Balas Fudo yang tidak mau mengorek lebih dalam lagi.

Daichi menoleh, dia melihat Tetsuya, Hikari, Aoi dan Midori, kemudian dia kembali melihat Fudo,

“Apa tanduk kalian semua aksesoris ?” Tanya Daichi.

“Ah.” Tetsuya, Hikari, Aoi dan Fudo saling menoleh dan melihat satu sama lain, kecuali Midori yang tenang tenang saja sambil menyeruput minumannya.

“Ini asli, kenapa ?” Tanya Tetsuya.

“Tidak apa apa, aku hanya baru pernah melihatnya saja, boleh tahu siapa kamu dan yang lain.” Jawab Daichi.

“Namaku Mishima Tetsuya, di sebelahku Shirogane Hikari dan di sebrangnya Kazuki Aoi, salam kenal Yamashita-kun.” Ujar Tetsuya sambil menjulurkan tangannya ke sebelah.

“Salam kenal.” Daichi menjabat tangan Tetsuya.

“Ternyata kita semua satu sekolah ya. Satu angkatan lagi.” Ujar Hikari.

“Iya benar, tidak di sangka.” Tambah Aoi.

“Oh jadi kalian juga satu sekolah ya, maaf karena aku baru 1 bulan di sekolah itu, aku belum kenal siapa siapa kecuali teman sekelas.” Ujar Daichi.

“Tidak masalah, aku malah baru pindah sekitar seminggu lalu hehe.” Balas Hikari.

“Loh kamu ternyata satu sekolah ya, aku baru tahu, kupikir kamu memang pacar nya Tetsuya.” Ujar Fudo yang memang tidak tahu dan baru tahu.

“Hah ?” Hikari menoleh melihat Fudo dengan hasrat membunuh.

“Sabar sabar Hikari-chan, dia memang tidak tahu, dia kan jarang masuk.” Aoi mencoba menenangkan Aoi.

“Siapa pacar siapa ? coba di ulang ?” Tanya Tetsuya.

“Kamu sama Hikari pacaran kan ?” Tanya Fudo.

“Siapa bilang ?” Teriak Tetsuya dan Hikari bersamaan.

“Kompak.” Sindir Daichi.

“Huh siapa kompak.” Teriak Tetsuya dan Hikari bersamaan lagi.

“Kenapa sih kamu selalu ikut ikutan.” Tetsuya dan Hikari saling menunjuk dan bicara bersamaan.

Akhirnya Fudo, Aoi dan Daichi tertawa sementara wajah Tetsuya dan Hikari merona merah. Kereta terus berjalan di dalam tabung melintasi reruntuhan kota lama di luar kubah menuju ke kota kubah Neohill.

Terpopuler

Comments

bysatrio

bysatrio

Bagus, cerita bagus

2024-01-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!