Chapter 15

Melihat para pria beringas itu masuk, Tetsuya langsung berdiri, tapi seorang pria berjas menodongkan pistol laser ke arahnya dan membuat Tetsuya mengangkat tangannya. Pria bertubuh besar berjas dan lengan bertato mendekati Fudo,

“Halo Fudo-kun, mana bayaran bulan ini ?” Tanya pria itu sambil tersenyum lebar.

“Ma..maaf, aku minta waktu satu minggu lagi, minggu ini aku pasti akan mendapat uang.” Jawab Fudo.

“Fudo-kun (geleng geleng) Fudo-kun (geleng geleng) Fudo-kun, seminggu lalu kamu juga bilang seperti itu kan ? kalau minggu ini tidak bisa bayar tentu kamu tahu kan resikonya.” Ujar pria itu sambil melirik ke arah Midori.

“Jangan ganggu Midori, beri aku waktu, aku pasti akan membayarnya.” Ujar Fudo.

“Tsk...tsk...tsk...mohon maaf Fudo-kun, tapi bos tidak bisa memberi waktu lagi, hari ini atau adikmu, silahkan di pilih.” Ujar pria itu.

“Tolong jangan libatkan Midori.....aku akan membayar semuanya, hari ini, tolong tunggu sebentar, aku akan cari uang sebentar (menoleh melihat Tetsuya) Tetsuya-kun, titip Midori.” Ujar Fudo.

Fudo langsung berlari keluar rumah, Midori berlari ke belakang Tetsuya, para pria itu masuk dan duduk seakan akan berada di rumah sendiri, mereka mulai merokok dan berbaring di dalam ruangan. Tetsuya terus menjaga Midori yang memegang kakinya,

“Hei, memang Fudo hutang apa ?” Tanya Tetsuya kepada para pria di dalam ruangan.

“Hooo kamu siapa ? temannya ? tandukmu bagus juga, mungkin nanti kamu akan sekalian kami bawa. (menoleh melihat foto satu satunya di ruangan) Fudo anak yang baik kok, dia dan adiknya hanya sial saja lahir di keluarga pria yang punya hutang banyak pada bos kita hahahaha.” Pria berjas itu tertawa mengejek di ikuti anak buahnya yang juga tertawa.

“Lagi lagi korban orang tua.” Pikir Tetsuya dalam hati sambil melirik Midori yang memeluk kakinya gemetar ketakutan.

Tetsuya sebenarnya bisa melawan mereka semua, karena ketika dia menggunakan skill analyze nya, paling tinggi hanya level 10 dengan power sekitar 800 sampai 1000, dia bergerak maju menutupi Midori di belakangnya,

“Coba saja kalau bisa mengambil tanduk ku.” Balas Tetsuya sambil tersenyum.

“Oi oi, kamu menantang kami ya ? kamu pikir kami tidak berani bertindak begitu ? salah besar kamu. (menoleh kepada anak buahnya yang sedang berbaring dan duduk seenaknya di dalam) bungkam dia.” Ujar pria berjas dan bertato di lengan itu.

“Beres bos.” Jawab seorang anak buah.

Ketiga anak buah berjas langsung berdiri, wajah mereka terlihat bengis dan meremehkan Tetsuya, seorang anak buah langsung melayangkan tinjunya, “Dung.” “Krak.” Tinju nya menghantam pelindung otomatis milik Tetsuya dan tangannya hancur.

“Ta..tanganku aaaaaaaaaaah....” Teriak anak buah itu sambil memegangi pergelangan tangannya.

Melihat jatuh satu korban, kedua anak buah yang lain mengeluarkan pisau laser dan maju menyerang Tetsuya, seorang anak buah menusukkan pisaunya, Tetsuya menangkap tangannya dan menariknya kemudian menendang perutnya menggunakan lutut sampai anak buah itu terpental menghantam langit langit dan jatuh ke lantai dengan kencang. Seorang anak buah lagi menyabetkan pisaunya secara diagonal, Tetsuya menangkisnya dengan menepuk tangan nya dan pisaunya terlepas menancap di dinding, Tetsuya menyarangkan tinjunya di dada anak buah itu.

“Brak.” Anak buah itu terpental menghantam dinding membuatnya berlubang sampai dia masuk ke unit sebelah dan tidak bangun lagi. Tetsuya menoleh ke arah pemimpin mereka, ternyata dia sudah berdiri dan menangkap Midori, tangannya menodong kepala Midori dengan pistol lasernya,

“Jangan bergerak atau dia mati.” Ujar pria bertato itu.

“Hmm, tembak saja.” Balas Tetsuya yang sengaja melangkah maju.

“Jangan pikir aku main main.”

Pria itu menembak kepala Midori, pelindung otomatisnya memantulkan laser sampai menembus dada pria itu dan menembus jendela kemudian pergi entah kemana. Dengan perlahan, pria itu melihat ke arah dadanya,

“Eh....” Pria itu heran melihat ada lubang besar di dadanya yang tembus dari depan ke belakang.

“Gedubrak.” Pria itu jatuh ke depan menghantam meja satu satunya di ruangan, Tetsuya yang menggendong Midori memandang pria yang terlungkup di depannya dengan lubang di punggungnya.

“Oniichan, dia kenapa ?” Tanya Midori polos sambil menunjuk ke arah pria itu.

“Oh dia tidur, mungkin ngantuk.” Jawab Tetsuya sekenanya.

Kemudian Tetsuya menyingkirkan jasad pria itu ke dalam lemari besar yang menempel dengan dinding, dia juga mengeluarkan para anak buah yang pingsan dan menaruhnya di balkon. Anak buah yang masih mengerang kesakitan karena tangannya hancur di keluarkan dari apartemen dan di suruh pulang oleh Tetsuya. Setelah itu, Tetsuya dan Midori menunggu kedatangan Fudo di apartemen mereka.

Hari sudah sore menjelang malam, pemilik apartemen sebelah sudah pulang dari kantornya dan langsung berteriak karena melihat dinding yang berlubang. Dia menanyakan nya pada Tetsuya yang mengatakan dia tidak tahu menahu. Tetangga itu langsung keluar unitnya untuk menemui pemilik apartemen yang tinggal terpisah di rumah sebelah. Karena tidak mau ada masalah, akhirnya Tetsuya menggendong Midori keluar dari unit dan turun di bawah. Mereka bermaksud menunggu Fudo di bawah saja.

“Kok oniichan lama ya ? biasanya dia cepat pulang.” Ujar Midori.

“Kamu ada nomor teleponnya ? biar aku telepon dia.” Balas Tetsuya.

“Ada....ini.”

Midori mengambil smartphone miliknya dari dalam bonekanya dan memberikannya pada Tetsuya, langsung saja Tetsuya menelpon menggunakan smartphone Midori, tapi Fudo tidak mengangkatnya. Tetsuya terus mencobanya, tapi hasilnya sama, Fudo tidak mengangkat teleponnya.

“Hmm, kenapa dia tidak mengangkat telepon ya, padahal aku telepon pakai smartphone kamu Midori-chan.” Ujar Tetsuya sambil melihat teleponnya.

“Midori tahu oniichan ada dimana, sini pinjam.”

Midori mengambil smartphonenya dari tangan Tetsuya, kemudian dia menekan dan menggeser layarnya, setelah itu, dia langsung memperlihatkan layar smartphone nya kepada Tetsuya. Di layar smartphone tampil sebuah peta dan sebuah titik biru yang diam saja di sebuah lokasi. Tetsuya memperbesar lokasinya untuk melihat posisi Fudo berada, ternyata lokasi yang di tunjuk berada di sebuah dungeon yang berada tidak jauh dari apartemen Fudo.

Selagi mengamati lokasi, tiba tiba smartphone Tetsuya yang berbunyi, Tetsuya mengambil nya dari kantung celana dan melihat layarnya, ternyata yang menelponnya adalah Hikari.

“Hoi, kemana saja, masa cuma ambil tas seharian ? Aoi-chan baru saja bangun, sekarang dia lagi makan.” Ujar Hikari di telepon.

“Nah kebetulan kamu telepon, bisa aku minta tolong ?” Tanya Tetsuya.

“Minta tolong apa.” Jawab Hikari.

“Bisa kesini sekarang ? ajak saja Aoi bersamamu, aku harus mencari orang, aku kirimkan koordinatnya ya, sekarang juga ya kesini.” Ujar Tetsuya.

“Eh...tunggu...ada ap....”

Tetsuya menutup teleponnya, dia terus memperhatikan layar smartphone yang menampilkan peta dengan titik biru yang berkedip. Tetsuya melihat wajah Midori yang datar, tapi dia tahu kalau sebenarnya Midori sangat khawatir, karena Midori menggenggam erat celananya dengan tangan kecilnya yang gemetar.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!