Kerajaan Rosederia adalah kerajaan yang penuh dengan mawar putih. Istananya pun dibuat dengan warna putih, karena mawar putih adalah lambang kesucian dan kehidupan bagi kerajaan ini, berbanding terbalik dengan mawar merah yang dilambangkan sebagai nasib buruk dan kematian. Warna mawar merah yang menyerupai darah dianggap mengerikan oleh warga Kerajaan Rosederia.
Kerajaan dipimpin oleh seorang Raja dan Ratu bernama ratu Rosla Rosederia dan Kouji Rosederia, bersama ke3 anaknya yaitu: anak pertama Steffan Rosederia, anak kedua bernama Mika Rosederia, dan anak ketiga mereka Tasya Rosederia. Keluarga Kerajaan sangat disenangi oleh warga disana karena kemurahan hati mereka. Mereka memberikan keadilan pada masyarakat. Memberikan bayaran tinggi pada warga yang bekerja sebagai petani dan peternak. dikarenakan bagi pihak Kerajaan, kedua pekerjaan tersebut sangatlah penting untuk memenuhi kebutuhan mereka dan juga para warga.
Suatu hari, sang Pangeran Pewaris Kerajaan sedang berlatih fisik dengan Raja.
“kak Steffan!! Semangatt!!.” teriak Tasya dari jauh.
Pukulan demi pukulan Steffan luncurkan pada ayahnya itu, tubuh sang ayah begitu besar dan berotot, sedangkan Steffan yang baru remaja terlihat sangat kesulitan untuk menyerang ayahnya itu. Namun meskipun Steffan berhasil memukul ayahnya, Kouji tidak menunjukan reaksi apapun.
“ayahanda……….. beri aku kesempatan lahhhh………” keluh Steffan.
“ehh? Hahaha. Ayah sedang kasih kesempatan dari tadi nihhh…….” Ucap Kouji.
Tasya tertawa melihat kelakuan ayah dan kakaknya itu sebelum kemudian dia pergi meninggalkan mereka dan menuju ke camp pelatihan panah untuk melihat kakak perempuanya yaitu Mika yang sedang berlatih panahan dengan ratu rosla.
“bagus sekali Mika……. Beberapa tahun lagi kamu akan ahli menggunakan panah itu, berlatihlah terus , ibunda akan mendukungmu.” Ucap Rosla sambil mengusap kepala Mika.
Tasya pun mendekati mereka berdua. “ ibunda!! Kak Mika!” Tasya berlari dan memeluk ibunya dan lalu datang menemui Mika. “ kakak, gimana latihannya??”
“tentu saja kakak sudah ahli melakukanya. Cuma tinggal menggabungkan Quat Alrayah (Kekuatan Angin) kakak dengan tehnik panahannya supaya jadi lebih kuat.”
Karena sudah siang, sekarang adalah waktunya Mika dan Tasya bermain ditaman itulah sebabnya Tasya menjemput Mika di Camp latihan.
Jam latihan mereka dibuat di pagi hari dibuat oleh Kouji untuk mendisiplinkan mereka berdua agar selalu bangun pagi karena Mika dan Steffan adalah Pewaris Kerajaan. Steffan akan memimpin Kerajaan Rosederia suatu hari nanti, dan Mika juga dididik untuk menjadi Ratu yang pantas bagi para calon Raja diluar sana.
Ditaman istana, Mika dan Tasya sedang merangkai mahkota dari bunga bunga yang disediakan oleh para pelayan. “ kakak….. apa kakak fikir aku juga bisa kuat seperti kak Mika dan kak Steffan?” Tasya bertanya pada mika.
“ itu tergantung pilihanmu sendiri, jika kamu benar benar ingin menjadi seorang putri yang kuat dan bisa mendampingi pasanganmu dalam perang, kamu belajarlah menggunakan senjata yang kamu mau. Tapi jika kamu tidak mau itu pilihanmu sendiri.” Ucap Mika sambil merangkai bunga miliknya.
Steffan pun datang menghampiri mereka. “ternyata memang disini. Kalian sedang merangkai bunga ya?” Steffan duduk disamping Mika. Tasya menatap Steffan dan Mika, dan berfikir bahwa dialah satu satunya orang yang tidak berguna diantara mereka, tetapi dia tidak peduli akan hal itu, karena dia tau dia memiliki Ayah, Ibu, dan kedua Kakaknya yang bisa melindunginya.
Setelah beberapa saat mahkota dari rangkaian bunga milik Mika berhasil dibuat “lihat, kakak keliatan cantik kan?” Tasya menatap Mika dengan tatapan penuh kagum melihat kecantikannya. “kakak cantik sekaliii!!!! Mirip sama ibunda!!” ucap Tasya sambil memeluk Mika.
Steffan pun tersenyum melihat tingkah kedua adiknya itu. Dia benar benar berharap bisa melindungi senyuman mereka berdua di masa yang akan datang.
Rosla kemudian datang dan memanggil mereka untuk segera masuk ke kamar mereka masing masing untuk bersiap siap makan malam “sudah cukup mainya anak anak….. sudah mulai sore kalian segera mandi yahhh…….. ibunda dan ayahanda akan menunggu di ruang makan.”
Mika dan Tasya kembali ke kamar mereka dan Steffan juga pergi kekolam pemandian bersama Kouji.
...****************...
di kolam pemandian*
“ Ayahanda…. Bagaimana kalau aku tidak bisa menjadi raja nanti? Apa yang akan Ayahanda lakukan?” pertanyaan Steffan membuat Kouji terkejut, dia tak menyangka anaknya akan melemparkan pertanyaan yang begitu sulit baginya. “atas dasar apa kamu bertanya seperti itu pada Ayah? Sudah jelas kau pewaris satu satunya di kerajaan ini.”
Steffanpun tertawa kecil dan mengatakan “hehe… entahlah Ayahanda, aku hanya merasa aneh tiba tiba ingin bertanya seperti itu.”
“baiklah, ayah pergi duluan setelah mandi langsung ke ruang makan ya , jangan berfikir hal aneh aneh lagi yah… Ayah pasti akan mewariskan tahta ini padamu.” Ucap Kouji sebelum akhirnya dia keluar dari pemandian.
Dalam hati Steffan ia berkata “tapi bukan itu masalahnya Ayahanda…………” setelah itu Steffan keluar dari pemandian dan menggunakan pakaiannya, saat dia berjalan di lobby dia bertemu dengan Mika dan Tasya.
“hai kakak, abis mandi kok malah keliatan cape gitu mukanya, kakak kenapa?” ucap Mika sambil memandang wajah Steffan yang terlihat agak murung. Tasya pun hanya menatap heran Steffan tanpa berkata apapun sambil berjalan menuju ruang makan.
mereka pun lanjut makan malam bersama, "Steffan? Ibunda perhatikan daritadi wajahmu kelihatan murung terus..... kamu kenapa? " ucap Rosla.
"oh maaf Ibunda.... aku hanya merasa tidak enak badan...... "
Rosla pun berfikir untuk mengajak anak anaknya tidur bersama dikamar raja dan ratu supaya fikiran Steeffan menjadi lebih jernih.
"Kalian Ikut Ibunda ke kamar ya kita akan tidur bersama malam ini , ok? "
mereka pun melanjutkan makan malam dengan tenang.
...****************...
Di kamar Raja dan Ratu, Rosla meminta anak anaknya duduk di kasur dan mendengarkan kisah yang akan diceritakanya. Kouji pun duduk dilantai dengan posisi duduk seperti anak kecil. Melihat itu Rosla hanya bisa tertawa melihat sifat suaminya yang kekanak kanakan.
”baiklah ibunda akan memulai kisah tentang Raja yang sederhana. Suatu hari ada sebuah kerajaan yang damai sekali, kerajaan itu begitu makmur aman dan damai, sang Raja sangat dicintai oleh rakyatnya. Sang Raja selalu berkunjung ke desa desa untuk menemui rakyatnya itu. Mereka selalu menyambut Raja dengan penuh senyuman di wajahnya. Namun bencana besar terjadi di kerajaan itu, semua warga disana terpaksa meninggalkan Kerajaannya untuk menyelamatkan diri. Termasuk sang Raja tersebut melarikan diri ke benua lain dan tinggal di desa kecil disana. Disana dia hanya hidup atas belas kasihan orang lain. Dia harus mencari pekerjaan dengan bekerja sebagai petani dan penjaga desa. Hidupnya yang mewah dan disegani banyak orang, kini dia harus hidup sederhana bagaikan rakyat biasa. Namun dia menikmati kehidupanya itu dan dia menikah dengan wanita dari desa tersebut. Lalu dia memiliki anak . dia membangun keluarga yang bahagia disana dan hidup nya menjadi lebih baik. Akhirnya sang Raja menerima nasibnya sebagai rakyat biasa dan hidup bahagia disana.”
Cerita pun selesai. Anak anak terlihat sedih namun bercampur dengan rasa bahagianya, mika terlihat menangis mendengarkan nasib sang Raja yang hancur dan harus hidup sederhana, namun Dteffan terlihat kagum atas kesabaran sang Raja dalam mengatasi masalah yang dihadapinya,dia membayangkan sang raja adalah dirinya. Dia berharap jika dia mengalami masalah dia ingin bisa menghadapinya dengan sabar seperti yang dilakukan oleh raja dalam cerita itu. Berbeda dengan kedua kakaknya, Tasya ketiduran saat di pertengahan cerita.
Melihat Tasya yang tidur dengan nyaman Rosla pun meminta anak anaknya yang lain untuk tidur bersama di kamar ini. Mereka pun akhirnya tidur. namun Kouji hanya melamun dan menatap langit langit sambil merenung.
"aku ingin tau keadaan dia sekarang.” ucap Kouji. seakan dia rindu pada seseorang entah siapa yang dia maksud.
Tiba tiba Kouji merasakan sesuatu, pintu kamar terbuka dan terlihat penjaga jatuh dan bersimbah darah. Kouji yang kaget membangunkan istri dan anaknya. Terlihat disana ada seseorang yang masuk ke kamar. Ternyata yang datang adalah Jilal saudara dari Balal yang dilawan oleh Simon dan teman temannya sebelumnya.
”siapa kau! Berani sekali kau masuk kesini!” Kouji berusaha mencegah Jilal untuk masuk dan bersiap untuk melawannya.
“Ayahanda! Aku mau bantu!” ucap Steffan sambil mengambil belati milik Rosla yang berada didalam laci meja.
Tetapi Kouji mencegah Steffan dengan menatapnya tajam, bermaksud bahwa Steffan tidak bisa ikut campur dalam hal ini. Melihat ekspresi Kouji tentu saja Steffan memilih untuk diam dan berdiri di depan ibu dan kedua adiknya.
Rosla memeluk Mika dan Tasya yang sedang ketakutan, sembari memanggil prajurit yang ada diluar.
Kouji dan Jilalpun terlibat pertarungan yang cukup singkat, karena mereka berada dikamar dan ada Rosla dan anak anaknya dikamar itu, Kouji tidak bisa menggunakan tehnik miliknya karena dia takut melukai Istri dan anak anaknya.
Tak berlangsung lama, Kouji benar benar tidak berdaya melawan jilal, alhasil jilal menebas tubuh Kouji sampai dia terdiam tak berdaya. “ …… la….ri……” ucap Kouji sebelum akhirnya dia meninggal.
“baiklah anak anak ayo ikut………..” Jilal mengulurkan tangan, Rosla tak terima dan lalu menggunakan kekuatan mawar miliknya pada Jilal, namun perlawanan Rosla juga percuma. Justru Jilal menarik Rosla dengan cara menarik batang bunga mawar yang dipakai oleh Rosla dan menusuk nya tepat di jantungnya. Roslapun terjatuh bersimbah darah, tak sempat mengatakan apapun Rosla Telah mati terkapar dilantai.
Steffan, Mika, dan Tasya hanya bisa melihat kejadian itu berlangsung didepan mereka tanpa bisa melakukan apa apa. Rasa takut yang mendalam membuat mereka tak berani untuk berbuat apa apa.
beberapa batangan mawar mulai mengikat tubuh Jilal. Ini adalah Tehnik terakhir yang digunakan Rosla ketika dia mati maka Quat Alwurud (Kekuatan Mawar) akan aktif dan menahan sang pelaku agar tidak kabur. Para prajurit sudah sampai di lobby dan menuju kamar Raja dan Ratu. Mendengar itu Jilal memutuskan untuk kabur dengan memaksa tubuhnya lepas dari ikatan batangan mawar berduri dan melempar pisaunya ke arah Steffan.
Saat Jilal sudah lepas dari ikatannya tubuhnya terkoyak karena duri itu, dengan cepat Jilal melompat keluar jendela dan lari.
Steffan mengambil pisau itu bermaksud untuk menyimpannya sebagai barang bukti. Sesampainya jendral Hanzy ditempat dia terkejut melihat Steffan yang memegang pisau “ Pangeran?........ anda……….. melakukan hal seperti ini………??” jendral Hanzy hanya bisa terkejut.
“tidak Jendral! Tadi ada penyusup masuk kedalam istana dan dia yang melakukanya!!” Steffan berusaha membela diri.
“ iyaa! Tadi ada seorang pria menyusup kedalam kamar dan membunuh Ayahanda dan ibunda!! Kakak Steffan tidak bersalah!!” Mika berusaha membantu Steffan.
“tetapi buktinya Pangeran Steffan memegang pisau yang berlumuran darah itu, sudah jelas bahwa Pangeran lah yang melakukannya! Tangkap Pangeran! “ Jendral Hanzy tak mau mendengarkan dan memerintahkan prajurit untuk menangkap Steffan. Karena tak terima sudah dituduh, Mika menghempaskan jendral dan para prajurit dengan tehnik anginnya.
“ ayo kita lari Kakak! Tasya juga!” Mika memegang tangan Steffan dan Tasya kemudian mereka Melompat turun dari jendela kamar, Steffan berniat menyimpan pisau itu di sakunya dan menggendong Tasya dipungungnya supaya mereka bisa lari keluar istana menuju gerbang luar dengan cepat.
berita pembunuhan Raja dan Ratu menyebar dengan cepat. Para prajurit mengejar Pangeran dan Putri sampai diluar Kerajaan.
Simon saat itu sedang dalam perjalanan ke Kerajaan Rosederia bertemu dengan Steffan, Mika, dan Tasya yang sedang bersembunyi di pepohonan.
“siapa kalian? Kenapa kalian berlumuran darah?” Simon bertanya pada Steffan. Alih alih menjawab pertanyaan tersebut, Steffan justru menodongkan pisau yang dibawa oleh nya.
“jangan dekati adik adikku………. Lakukan apapun yang kau mau padaku tapi jangan sentuh adikku…….” Steffan mengancam Simon dengan ekspresi marah dan takut. Seakan tidak ada orang lain lagi yang bisa dia percaya.
Beberapa prajurit menemukan mereka. “Pangeran dan Putri ada disini!!” teriak seorang prajurit memanggil bala bantuan. Simon bingung harus memihak pada siapa, disisi lain ada 3 orang remaja yang sepertinya sedang terlibat masalah dan disisi lain ada prajurit istana yang terlihat seperti mengejar penjahat. Namun Simon melihat wajah Steffan yang penuh amarah berusaha melindungi adik adiknya. Dia mengerti akan perasaan Steffan karena dia dan Steffan memiliki posisi yang sama yaitu seorang kakak yang harus melindungi adiknya.
Simon kemudian menempelkan tanganya ke tanah, dan menggunakan Tehnik Inazuma no Nagare (Aliran Petir) yang membuat para prajurit kerajaan lumpuh dan tidak bisa bergerak.
“ayo kita lari, aku bersama kalian...” ucap Simon sambil mengulurkan tangan pada Steffan. Steffan menurunkan todongan pisaunya dan memegang tangan Simon. Selagi ada kesempatan mereka akan lari kembali ke tempat teman teman Simon berkemah.
Sebelum melarikan diri Steffan membuat dinding batu disekitar para prajurit itu. “dengan ini mereka tidak akan melihat kita lari kearah mana.” Simon pun mengajak mereka pergi. Mereka berlari keluar dari wilayah kerajaan menuju hutan. Kala itu Mika menatap Simon dengan tatapan penuh kekaguman , dalam hatinya ia berkata
“pahlawanku….. datang menyelamatkanku…….”. Mika merasa jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan lalu Mika bertanya pada Simon “ siapa………. Namamu….?”
“namaku adalah Simon Historia.”
“namaku adalah Mika…Rosederia, dia adalah kakakku Steffan dan adikku Tasya…… kami dari keluarga Rosederia.”
Simon terkejut mendengar nama keluarga Rosederia, wajahnya terlihat bingung sesaat namun kemudian dia kembali fokus ke depan dan menuntun mereka ke tempat teman temannya berada. “ ikutlah denganku……..aku akan menjagamu………” ucap Simon sambil tetap fokus berlari ke depan. Pada akhirnya mereka harus meninggalkan kerajaan yang mereka cintai, Mika kemudian menatap kerajaannya dan mengucapkan selamat tinggal pada Ayah dan Ibu yang telah mereka tinggalkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments