Setelah 5 tahun berlalu Simon bertemu kembali dengan bajingan yang menghancurkan kampung halamanku dan membunuh keluargaku.apakah balas dendamku akan terpenuhi sekarang? Tidak, jika Simon belum menghancurkan seluruh benua Abyad dia tidak akan pernah puas.
”Zero, Stella, Sasha, Kevin, Kenzho, bersiap lah kita akan melawan musuh yang kuat. Aku sendiri tidak yakin dengan kemampuanku yang sekarang tapi kita harus berusaha menang.”
Kevin dengan wajah khawatir berkata.”jika Simon saja berkata seperti itu, sudah jelas kami merasa takut.”
Balal dengan wajah tersenyum jahat berusaha memprovokasi Simon dan teman temannya. ” karena kalian masih bocah aku hanya akan main main saja…. tidak mungkin orang dewasa serius melawan anak kecil kan?....hahahaha.”
Sasha terpengaruh dengan kata kata balal dan menyerang dengan penuh amarah dan tak terkendali. Zero pun mengikuti Sasha dan mereka berdua menyerang Balal tanpa rencana dan pemikiran yang matang. Aisha ketakutan melihat Balal dan berusaha meyakinkan Simon untuk mundur dan menjauh dari Balal. “ kak…… aku mohon……. Ayo kita lari saja……... dia terlihat berbahaya…….. lebih baik kita lari kak aku mohon………” Aisha terus memegang tangan Simon dengan erat dan memintanya untuk lari.
Aisha merasa mereka akan kalah dan dibunuh disini. Tapi Simon juga yakin bahwa balal tidak akan membiarkan mereka lari begitu saja. Jika mereka lari Balal pasti akan mengejar mereka sampai tertangkap. Ditambah lagi disini juga ada Tadano yang sedang pingsan, tidak mungkin jika mereka berlari dengan membawanya.
Simon memegang tangan Aisha degan erat, berusaha untuk meyakinkannya. ”tenang….. kakak pasti akan melindungimu.” namun dalam hati Simon memiliki rasa kekhawatiran yang besar tapi dia hanya bisa memperlihatkan senyuman palsu pada adiknya dan berharap kalau mereka akan baik baik saja. " jika aku mati sekarang setidaknya adikku harus selamat darinya."
”SIMON!! Dia datang!!.” Ucap Kenzho sambil melompat kedepan untuk menghadapi Balal. Balal mengeluarkan pedang besar dan melompat kearah mereka. Dengan cepat mereka semua berpencar ke segala arah. Sasha mendapat suatu rencana "aku akan mengubah permukaan menjadi es agar dia kesulitan bergerak.” Namun Kenzho mencegah Sasha melakukannya karena itu akan berefek pada mereka juga. Alhasil sasha hanya akan menggunakan Tehnik es cermin miliknya untuk membuat Balal bingung.
Kevin pindah kesamping Sasha dan berencana untuk membantu Sasha "baiklah aku dan Sasha akan menjadi tembok perisai dan penyerangan, untuk yang lain focus serang dia.” Balal dengan kesabarannya yang tipis langsung berteriak dan menyerang secara membabi buta. “ halah lama sekali ! cepat lawan akuuu!” ucapnya sambil meluncurkan lahar dimana mana.
Balal mulai menyarang menuju Kenzho, Kenzho langsung menggunakan Cakarnya untuk menahan serangan pedang dari balal, serangan balal membuat Kenzho terdorong kebelakang meski dia sudah menggunakan bentuk manusia naga miliknya. Stella pun datang menyerang dengan sabit kristal yang dibuat oleh kevin dan melapisi sabitnya dengan api.tapi seranganya meleset karena kemampuan kelincahan milik Balal.
“gerakanya sangat cepat untuk ukuran pria besar.” Ucap Stella.
“yaa…….. sementara kita yang masih muda benar benar lambat.” Keluh Kenzho sambil bersiap melakukan serangan selanjutnya.
“masih lama kah persiapan kalian? Baiklah aku akan sedikit mengeluarkan satu tehnikku.” Balal melapisi tubuhnya dengan lahar, suhu panas meningkat disekitar balal, pohon terbakar bahkan air sungaipun menguap. Seluruh area menjadia panas karena lava miliknya,bahkan es milik Sasha tidak bisa muncul karena dia.
Tadano yang pingsan akhirnya bangkit dan berusaha membantu. " aku akan melawannya."
Pertarungan antara pengguna elemen lahar dan air pun dimulai. Simon dan yang lainnya berusaha membantu dari belakang. saat ini, yang bisa melawan balal adalah Tadano.
Simon memerintahkan yang lain untuk mundur dan membiarkan dirinya,tadano dan kenzho yang melawan balal.
”menarik…….. akhirnya pengguna air ini bisa bertarung juga,maju kalian semua!!”
“Aku akan langsung menggunakan kekuatan penuhku!” Tadano langsung melompat keatas dan menghantam tanah, Sebuah gumpalan air mulai membesar dan membesar sampai sebesar ukuran gunung dan menyebar ke seluruh wilayah sekitar mereka. Kaki Balal yang terkena air pun langsung berasap karena sentuhan air ke tubuhnya. Namun air yang Tadano keluarkan tidak cukup kuat melawan lahar milik Balal yang begitu panas. Balal pun melompat menjauh dari air. Namun jarak serangan Tadano sangat luas sampai sampai hampir membentuk lautan.
”baiklah kalian tidak memberiku pilihan. Aku akan membuat diriku lebih panas lagii!!!”
Sihir air tadano mulai menjadi air mendidih dan perlahan lahan menguap dan hilang seketika, lalu Simon dan kenzho pun Menembakinya dengan elemen petir untuk mencegahnya mengubah suhu sekitar menjadi lebih panas lagi. Simon dan kenzho menggunakan raungan naga petir kearah balal, menimbulkan ledakan yang besar karena Balal dan aku menggunakan Taqa yang berjumlah sangat besar berbenturan dengan tehnik Raungan naga Simon dan Kenzho. Saat asap hilang terlihat Balal yang masih sama sekali tidak terluka.
”baiklah aku sudah cukup bermain main jadi perisainya, sekarang aku akan menjadi pedangnyaa!!”
Balal mengubah seluruh bukit menjadi gunung berapi dan permukaan perlahan retak dan terlihat ada lahar dibawahnya, dia mengubah lingkungan sekitar dengan instan tapi dia terlihat baik baik saja. Kekuatan tartarus benar benar jauh melebihi kemampuan mereka. Tapi Simon tidak akan menyerah. Mereka akan terus melawan Balal sampai bisa melukainya dan meracuninya dengan racun milik Zero.
...****************...
Tapi.......beberapa saat sejak pertarungan berlangsung*
Simon dan teman temannya dikalahkan hingga tidak bisa bergerak lagi. Balal benar benar menghajar mereka semua sendirian.
”aku…… sudah tidak kuat lagi……. Es melawan lava sangatlah menyusahkan…….”
Tadano berusaha mendekat ke arah Sasha.
"Sasha……Bertahanlah…. Aku akan menjagamu.” Tadano berusaha menyadarkan Sasha yang sudah tak sadarkan diri.
mereka semua pun pingsan disana di lantai bebatuan panas penuh lahar. Disitulah Simon berfikir dia akan mati sebelum membalaskan dendam keluarganya. Dia sudah merasa yakin bahwa saat itu juga Balal akan menghabisi mereka semua. akhirnya Simon pingsan setelah berusaha untuk bangkit namun gagal.
Saat mereka semua tersadar mereka tetap ditempat yang sama, Balal sudah menghilang.
“eh? Kita masih hidup?........ syukurlah….tapi, kenapa?” ucap Kenzho dengan rasa penuh kebingunan.
“aku tidak tau tapi……. Baguslah kita tidak dibunuh olehnya…….” Kevin berusaha bangkit dengan tenaganya yang tersisa. Simon dan Zero pun telah sadar sedangkan Tadano, Sasha , dan Aisha masih tak sadarkan diri.
“ baiklah………..ayo istirahat disini dan urus mereka yang terluka…….” Ucap Simon sembari bergegas mempersiapkan tenda. merekapun beristirahat disana, Balal benar benar membuat Simon dan teman temannya tidak berdaya, kilas balik saat Simon menyelamatkan desa nelayan dengan melawan monster kuat itu jadi tak berarti apapun saat ini.
Malam tiba*
Simon terlihat seperti ingin ke suatu tempat, Kenzho bertanya padanya namun Simon tidak mengatakan apapun dan pergi begitu saja. Kenzho terheran namun dia sadar apa yang sedang Simon rasakan dan memutuskan membiarkannya pergi.
Disebuah tebing, Simon duduk melamun di bawah pohon, dia membayangkan kehidupan sebelum orang tuanya meninggal. Simon membayangkan dirinya dan Aisha kecil sedang bermain di depan rumah mereka bersama kakaknya, Karin. Saat 6 tahun lalu.
“aduhh Simon…….. jangan main main dengan lumpur! Aisha juga! Aduhh……..cepat kalian mandi! Atau kakak yang akan menyiram kalian dengan air!” ucap Karin kecil.
“wleee Coba aja kalau berani! Aisha ayo larii!”
“kak Karin gak akan bisa bersihin kami wleee!” Simon dan aisha mulai berlari dan Karin mengejar mereka sambil membawa ember berisi air. Tetapi tak lama kemudian Aisha dan Simon tertangkap oleh Sara.
“ aduhhh anak nakal………rasakan ini hahaha!”
Sara secara tiba tiba menyiram air pada Simon dan Aisha. seketika Karin pun ikut menyiram mereka berdua dan tertawa puas.
Datang Gizaru yang baru selesai latihan pedangnya mendekati mereka berempat.
“aduh aduhhh kalian senang senang tanpa ayah hah? Kalau begitu ini hukuman kalian!” Gizaru mengambil ember air dan menyiram mereka semua. Mereka pun tertawa bahagia sambil bermain air. Kilas balik diakhiri, Simon mulai menangis setelah mengingat kenangan yang indah itu.
“Ayah…….bunda……..kak Karin……” tempat yang hening itu diisi dengan suara tangisan Simon yang putus asa.
Dibelakang terdengar suara langkah kaki*
“kakak………?” terlihat Aisha dengan wajah khawatir, sepertinya Aisha telah memerhatikan Simon sejak tadi.
“ A-Aisha?! kamu ngapain kesini…..” ucap Simon sambil berusaha mengusap air matanya, mencoba untuk tidak membuat Aisha khawatir.
“harusnya aku yang bertanya, kenapa kakak disini……”
“aku hanya mau melihat pemandangan indah…..”
Aisha berjalan kesamping Simon dan mengusap air mata Simon yang masih terlihat. “ tidak usah pura pura bahagia didepanku kak………. Aku akan selalu ada untuk kakak……” Aisha pun memeluk Simon dengan erat untuk menenangkannya. Simon membalas pelukannya dengan lembut.
“baiklah…………ayo kita kembali…………” Merekapun kembali ke area tenda dengan perasaan tenang.
...****************...
Keesokan harinya.
Simon bersiap untuk pergi ke Kerajaan Rosederia sendirian, mengingat kondisi teman temannya yang masih kurang sehat. “ kakak yakin mau pergi sendiri?........” ucap Aisha sambil memberikan barang bawaan Simon.
“tenanglah……..Kerajaan Rosederia kan bukan musuh kita…. Aku kesana hanya untuk Mencari pesang pengganti untuk pedang usangku ini. aku akan segera kembali nanti.” Simon berjalan pergi kearah Kerajaan Rosederia , meninggalkan temannya dibelakang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments