Malam itu menjadi siksaan berat bagi Fawwas. Hasrat yang terlanjur muncul sama sekali tidak bisa ia salurkan. Meskipun dia tahu bahwa ia berhak untuk mendapatkan hak nya sebagai suami, tapi dia merasa tidak pantas untuk hal tersebut. Terlebih selama 4 bulan ini dia begitu datar dan dingin kepada Aara.
" Kak, apakah ada yang ingin kakak makan pagi ini?"
Aara yang muncul tiba-tiba di sampingnya membuat Fawwas sangat terkejut. Dan ketika ia melihat wajah Aara, tiba-tiba wajahnya terasa panas. Fawwas mengingat penampilan Aara yang sangat menggoda semalam.
" Aah, apa saja. Tapi tumben kamu menawariku. Apa sedang tidak sibuk dengan Neida? Bukannya biasanya Bibi yang menyiapkan sarapan?" Pria itu bertanya banyak, tapi tidak menatap mata lawan bicaranya. Fawwas dalam keadaan sedang menjaga pandangannya. Entahlah, saat ini apapun tampilan Aara seakan menggoda di matanya. Padahal Aara hanya mengenakan dress sepanjang lutut berwana hitam berlengan pendek, dengan aksen bunga-bunga kecil. Bukankah itu sangat sopan dan tertutup, tapi tanggapan mata Fawwas tidak demikian.
" Apakah ini yang dinamakan pesona istri?" gumam Fawwas dengan sangat pelan sehingga Aara tidak bisa mendengarnya.
Tapi Aara jelas bisa melihat gerakan bibir Fawwas, meskipun begitu dia juga tidak mengerti apa yang sedang. Fawwas ucapkan. " Apa yang kakak katakan?" tanya Aara.
" Aah tidak, apa saja yang kau buatkan akan ku makan."
" Baiklah, oh iya, tadi Kak Fawwas bertanya tentang Neida kan? Saat ini dia sedang tertidur. Tadi sudah selesai mandi dan menyusu jadi dia sudah tertidur lagi. Dan tadi Kak Fawwas juga bertanya, tumben aku melakukan ini, aku hanya sedang menjalankan kewajiban ku sebagai istri. Selama ini aku terlalu sibuk dengan Neida, bagaimanpun kita sudah menikah. Seharusnya aku juga memperhatikan Kakak sebagai suamiku. Baiklah, aku permisi dulu ke dapur. Jika Kakak tidak keberatan, tolong jaga Neida sebentar,"
Deg!
Semua kalimat yang Aara utarakan membuat Fawwas terhenyak. Ternyata selama ini Aara juga memikirkannya. Ada sekelumit rasa senang saat Aara mengatakan bahwa dirinya sedang menjalankan tugasnya sebagai istri, tapi Fawwas langsung menggeleng cepat. Sebuah asumsi masuk ke kepalanya, jika Aara menjalankan tugasnya, bukankah hubungan mereka akan semakin dekat nantinya?
" Haah, entahlah. Mengapa semuanya seperti menjadi rumit begini, aah sudahlah. Sebaiknya aku ke kamar Neida."
Fawwas melenggangkan kakinya ke arah kamar Neida dan Aara untuk menjaga Neida seperti yang dikatakan oleh Aara tadi. Ia tersenyum ketika melangkahkan kaki di kamar Aara, Fawwas memilih untuk duduk di tempat tidur. Ia juga merebahkan tubuhnya di sana. " Aroma tubuh Aara masih menempel di bantal ini," gumam Fawwas sambil menghirup bantal yang ia gunakan sekarang. Tidak terasa matanya terpejam dan ia tidur dengan lelap.
" Owaaaaa!"
Tangis Neida mengejutkan Fawwas. Ia langsung melompat dari tempat tidur dan menggendong Neida. " Cup sayang, Nei lapar kah? Ayo kita cari ibu ya," bujuk Fawwas sambil menepuk Neida pelan. Ia juga segera berjalan menghampiri Aara yang masih sedang ada di dapur menyiapkan sarapan. Hari ini Fawwas off, maka dari itu dia terlihat santai berada di rumah.
" Lho sayang, kenapa nangis hmmm? Lapar ya," ucap Aara. Ia mencuci tangannya terlebih dulu sebelum mengambil Neida dari gendongan Fawwas.
" Maaf Ra, tadi aku sempet ketiduran," sesal Fawwas. Ia sungguh merasa tidak enak karena merasa tidak bisa menjaga Neida dengan baik.
" Tidak apa-apa Kak, oh iya sarapannya sudah matang. Kakak makan dulu saja, aku akan ke kamar menyusui Neida. Dia sepertinya lapar."
Fawwas tidak banyak bicara, ia hanya mengangguk. Fawwas melihat Aara menghilang dari pandangannya. Satu hal yang membuatnya salut kepada Aara bahwa tidak terlihat dia mengeluh barang sedikitpun. Aara bahkan selalu mengembangkan senyumannya ketika bersama Neida.
" Haaah, bagaimana aku bisa makan sendiri. Lebih baik kau menunggunya saja," lirih Fawwas.
🍀🍀🍀
Akhir pekan berlalu begitu saja. Hari-hari dilalui pasangan Aara dan Fawwas tanpa ada pembicaraan yang terjadi. Akan tetapi satu hal yang tidak diketahui Aara, bahwa setiap malam Fawwas akan menyelinap masuk ke kamar Aara. Dengan dalih melihat Neida, dia berhasil memandang wajah cantik Aara yang tertidur.
" Hallo Fa, apakah aku boleh bertemu denganmu?"
Fawwas mengerutkan alisnya saat mendapat pesan dari sang teman. Erka, pagi ini tiba-tiba mengirim pesan berisikan hal tersebut. Fawwas langsung merasa waspada, ia teringat saat ibu nya mengatakan bahwa Erka tertarik kepada Aara.
" Boleh. Kita ketemu di rumah sakit saja kalau begitu. Kebetulan aku sedang free," balas Fawwas. Sebuah senyuman terbit dari bibir Fawwas. Ada satu hal dalam dirinya yang tidak ingin Erka datang ke rumah.
Setalah sekitar satu jam menunggu, akhirnya Erka datang juga. Fawwas membawa temannya itu ke kantin rumah sakit. Dan di sinilah mereka kini duduk. Sambil menghadap kopi kesukaan masing-masing, mereka asik bercengkrama. Hingga tibalah dalam sebuah pembahasan yang membuat Fawwas merasa tidak suka.
" Apakah kamu benar hanya akan menjadikan Aara istrimu Fa? Dia adalah seorang dokter yang berpotensi untuk jadi dokter hebat. Sangat sayang sekali jika hanya menjadi ibu rumah tangga. Oh iya. Aku bawakan buku-buku. Siapa tahu dia mau membacanya, aku rasa dia tertarik untuk kembali belajar. Kemarin dia sangat antusias saat membicarakan pendidikan di luar negeri."
Deg!
Dengan ekspresi datar, Fawwas menerima buku yang diberikan oleh Erka. Ia sungguh tidak merasa senang dengan temannya yang sedang memerhatikan sang istri. Mereka hanya bertemu sekali, tapi Erka terlihat begitu perhatian.
" Jangan salah sangka Fa, aku tidak ada maksud apapun terhadap istrimu. Meskipun kamu mengatakan bahwa hubunganmu dengannya tidak seperti yang ku pikirkan, tapi tidak pernah ada niatku sedikitpun untuk menikung istri dari temanmu. Tapi, jika kamu melepaskannya, aku siap untuk membawanya pergi darimu. Ha ha ha! Lihatlah ekspresi mu itu. Fa, saranku, jika kamu memang peduli dan menginginkannya segera katakan. Jangan sampai kamu menyesal nantinya. Ingat, penyesalan selalu datang di belakang. "
Erka mengatakan hal tersebut dengan ekspresi yang sangat tenang. Pria itu jujur kalau dirinya tertarik kepada Aara. Dan Fawwas tentu sedikit terkejut. ucapan sang ibu benar adanya. Jelas hal tersebut membuat Fawwas sedikit terganggu. Temannya dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia memiliki ketertarikan kepada sang istri. Fawwas seketika terdiam, meskipun begitu mereka kembali berbincang kembali. Tapi tidak membicarakan Aara.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Nah lho....belum juga pisah ...sudah ada yang antri menerima Aara....gebleg sih jadi laki2...🥴🥴🥴
2024-12-14
1
Sandisalbiah
nah.. ketar ketir kan jadinya... hadeh.. buruan mantapkan hati sebelum beneran di gondol org itu Aara
2024-10-23
0
Heryta Herman
Aara...tegas lah..klo memang kamu tdk bisa hidup bersama fawwas...lbh baik katakan saja terus terang..biar sama" tdk tersakiti...
2024-08-29
0