IB 20: Pesona Istri

Malam itu menjadi siksaan berat bagi Fawwas. Hasrat yang terlanjur muncul sama sekali tidak bisa ia salurkan. Meskipun dia tahu bahwa ia berhak untuk mendapatkan hak nya sebagai suami, tapi dia merasa tidak pantas untuk hal tersebut. Terlebih selama 4 bulan ini dia begitu datar dan dingin kepada Aara.

" Kak, apakah ada yang ingin kakak makan pagi ini?"

Aara yang muncul tiba-tiba di sampingnya membuat Fawwas sangat terkejut. Dan ketika ia melihat wajah Aara, tiba-tiba wajahnya terasa panas. Fawwas mengingat penampilan Aara yang sangat menggoda semalam.

" Aah, apa saja. Tapi tumben kamu menawariku. Apa sedang tidak sibuk dengan Neida? Bukannya biasanya Bibi yang menyiapkan sarapan?" Pria itu bertanya banyak, tapi tidak menatap mata lawan bicaranya. Fawwas dalam keadaan sedang menjaga pandangannya. Entahlah, saat ini apapun tampilan Aara seakan menggoda di matanya. Padahal Aara hanya mengenakan dress sepanjang lutut berwana hitam berlengan pendek, dengan aksen bunga-bunga kecil. Bukankah itu sangat sopan dan tertutup, tapi tanggapan mata Fawwas tidak demikian.

" Apakah ini yang dinamakan pesona istri?" gumam Fawwas dengan sangat pelan sehingga Aara tidak bisa mendengarnya.

Tapi Aara jelas bisa melihat gerakan bibir Fawwas, meskipun begitu dia juga tidak mengerti apa yang sedang. Fawwas ucapkan. " Apa yang kakak katakan?" tanya Aara.

" Aah tidak, apa saja yang kau buatkan akan ku makan."

" Baiklah, oh iya, tadi Kak Fawwas bertanya tentang Neida kan? Saat ini dia sedang tertidur. Tadi sudah selesai mandi dan menyusu jadi dia sudah tertidur lagi. Dan tadi Kak Fawwas juga bertanya, tumben aku melakukan ini, aku hanya sedang menjalankan kewajiban ku sebagai istri. Selama ini aku terlalu sibuk dengan Neida, bagaimanpun kita sudah menikah. Seharusnya aku juga memperhatikan Kakak sebagai suamiku. Baiklah, aku permisi dulu ke dapur. Jika Kakak tidak keberatan, tolong jaga Neida sebentar,"

Deg!

Semua kalimat yang Aara utarakan membuat Fawwas terhenyak. Ternyata selama ini Aara juga memikirkannya. Ada sekelumit rasa senang saat Aara mengatakan bahwa dirinya sedang menjalankan tugasnya sebagai istri, tapi Fawwas langsung menggeleng cepat. Sebuah asumsi masuk ke kepalanya, jika Aara menjalankan tugasnya, bukankah hubungan mereka akan semakin dekat nantinya?

" Haah, entahlah. Mengapa semuanya seperti menjadi rumit begini, aah sudahlah. Sebaiknya aku ke kamar Neida."

Fawwas melenggangkan kakinya ke arah kamar Neida dan Aara untuk menjaga Neida seperti yang dikatakan oleh Aara tadi. Ia tersenyum ketika melangkahkan kaki di kamar Aara, Fawwas memilih untuk duduk di tempat tidur. Ia juga merebahkan tubuhnya di sana. " Aroma tubuh Aara masih menempel di bantal ini," gumam Fawwas sambil menghirup bantal yang ia gunakan sekarang. Tidak terasa matanya terpejam dan ia tidur dengan lelap.

" Owaaaaa!"

Tangis Neida mengejutkan Fawwas. Ia langsung melompat dari tempat tidur dan menggendong Neida. " Cup sayang, Nei lapar kah? Ayo kita cari ibu ya," bujuk Fawwas sambil menepuk Neida pelan. Ia juga segera berjalan menghampiri Aara yang masih sedang ada di dapur menyiapkan sarapan. Hari ini Fawwas off, maka dari itu dia terlihat santai berada di rumah.

" Lho sayang, kenapa nangis hmmm? Lapar ya," ucap Aara. Ia mencuci tangannya terlebih dulu sebelum mengambil Neida dari gendongan Fawwas.

" Maaf Ra, tadi aku sempet ketiduran," sesal Fawwas. Ia sungguh merasa tidak enak karena merasa tidak bisa menjaga Neida dengan baik.

" Tidak apa-apa Kak, oh iya sarapannya sudah matang. Kakak makan dulu saja, aku akan ke kamar menyusui Neida. Dia sepertinya lapar."

Fawwas tidak banyak bicara, ia hanya mengangguk. Fawwas melihat Aara menghilang dari pandangannya. Satu hal yang membuatnya salut kepada Aara bahwa tidak terlihat dia mengeluh barang sedikitpun. Aara bahkan selalu mengembangkan senyumannya ketika bersama Neida.

" Haaah, bagaimana aku bisa makan sendiri. Lebih baik kau menunggunya saja," lirih Fawwas.

🍀🍀🍀

Akhir pekan berlalu begitu saja. Hari-hari dilalui pasangan Aara dan Fawwas tanpa ada pembicaraan yang terjadi. Akan tetapi satu hal yang tidak diketahui Aara, bahwa setiap malam Fawwas akan menyelinap masuk ke kamar Aara. Dengan dalih melihat Neida, dia berhasil memandang wajah cantik Aara yang tertidur.

" Hallo Fa, apakah aku boleh bertemu denganmu?"

Fawwas mengerutkan alisnya saat mendapat pesan dari sang teman. Erka, pagi ini tiba-tiba mengirim pesan berisikan hal tersebut. Fawwas langsung merasa waspada, ia teringat saat ibu nya mengatakan bahwa Erka tertarik kepada Aara.

" Boleh. Kita ketemu di rumah sakit saja kalau begitu. Kebetulan aku sedang free," balas Fawwas. Sebuah senyuman terbit dari bibir Fawwas. Ada satu hal dalam dirinya yang tidak ingin Erka datang ke rumah.

Setalah sekitar satu jam menunggu, akhirnya Erka datang juga. Fawwas membawa temannya itu ke kantin rumah sakit. Dan di sinilah mereka kini duduk. Sambil menghadap kopi kesukaan masing-masing, mereka asik bercengkrama. Hingga tibalah dalam sebuah pembahasan yang membuat Fawwas merasa tidak suka.

" Apakah kamu benar hanya akan menjadikan Aara istrimu Fa? Dia adalah seorang dokter yang berpotensi untuk jadi dokter hebat. Sangat sayang sekali jika hanya menjadi ibu rumah tangga. Oh iya. Aku bawakan buku-buku. Siapa tahu dia mau membacanya, aku rasa dia tertarik untuk kembali belajar. Kemarin dia sangat antusias saat membicarakan pendidikan di luar negeri."

Deg!

Dengan ekspresi datar, Fawwas menerima buku yang diberikan oleh Erka. Ia sungguh tidak merasa senang dengan temannya yang sedang memerhatikan sang istri. Mereka hanya bertemu sekali, tapi Erka terlihat begitu perhatian.

" Jangan salah sangka Fa, aku tidak ada maksud apapun terhadap istrimu. Meskipun kamu mengatakan bahwa hubunganmu dengannya tidak seperti yang ku pikirkan, tapi tidak pernah ada niatku sedikitpun untuk menikung istri dari temanmu. Tapi, jika kamu melepaskannya, aku siap untuk membawanya pergi darimu. Ha ha ha! Lihatlah ekspresi mu itu. Fa, saranku, jika kamu memang peduli dan menginginkannya segera katakan. Jangan sampai kamu menyesal nantinya. Ingat, penyesalan selalu datang di belakang. "

Erka mengatakan hal tersebut dengan ekspresi yang sangat tenang. Pria itu jujur kalau dirinya tertarik kepada Aara. Dan Fawwas tentu sedikit terkejut. ucapan sang ibu benar adanya. Jelas hal tersebut membuat Fawwas sedikit terganggu. Temannya dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia memiliki ketertarikan kepada sang istri. Fawwas seketika terdiam, meskipun begitu mereka kembali berbincang kembali. Tapi tidak membicarakan Aara.

TBC

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Nah lho....belum juga pisah ...sudah ada yang antri menerima Aara....gebleg sih jadi laki2...🥴🥴🥴

2024-12-14

1

Sandisalbiah

Sandisalbiah

nah.. ketar ketir kan jadinya... hadeh.. buruan mantapkan hati sebelum beneran di gondol org itu Aara

2024-10-23

0

Heryta Herman

Heryta Herman

Aara...tegas lah..klo memang kamu tdk bisa hidup bersama fawwas...lbh baik katakan saja terus terang..biar sama" tdk tersakiti...

2024-08-29

0

lihat semua
Episodes
1 IB 01: Pergi
2 IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3 IB 03: Induksi Laktasi
4 IB 04: Mimpi Risma
5 IB 05: Menikahlah
6 IB 06: Penolakan
7 IB 07: Masih Sama
8 IB 8: Keputusan
9 IB 09: Hanya Status
10 IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11 IB 11: Hal Baru
12 IB 12. Prasangka Gauri
13 IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14 IB 14: Kebingungan
15 IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16 IB 16: Cantik
17 IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18 IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19 IB 19: Terasa Kosong
20 IB 20: Pesona Istri
21 IB 21: Keirian
22 IB 22: Sakit
23 IB 23: Aku Egois
24 IB 24: Terkejut
25 IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26 IB 26: Mari Pacaran
27 IB 27: Hasil Penyelidikan
28 IB 28: Sebuah Rencana
29 IB 29: Bolehkah Egois?
30 IB 30: Sekedar Pemanasan
31 IB 31: Seperti Baru
32 IB 32: Tamu Tak Diundang
33 IB 33: Fitnah Datang
34 IB 34: Kenapa
35 IB 35: Trauma Sialan
36 IB 36: Kepuasan
37 IB 37: Bukan Kamu
38 IB 38: Tidak Salah
39 IB 39: Konferensi Pers
40 IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41 IB 41: Mengundurkan Diri
42 IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43 IB 43: Tidak Percaya
44 IB 44: Gamang
45 IB 45: Hubungan Layak
46 IB 46: Konfirmasi
47 IB 47: Terkejut
48 IB 48: Kegalauan
49 IB 49: Benda Apa Itu?
50 IB 50: Banyak Pikiran
51 IB 51: Permintaan
52 IB 52: Perkembangan Aara
53 IB 53: Bangun Ra!
54 IB 54: Fawwas Panik
55 IB 55: Libur Dulu
56 IB 56: Rindu
57 IB 57: Berkunjung
58 IB 58: Sedikit Ramai
59 IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60 IB 60: Bicaralah!
61 IB 61: Anak Itu Rejeki
62 IB 62: Milikku Sepenuhnya
63 IB 63: Roda Kehidupan Berputar
Episodes

Updated 63 Episodes

1
IB 01: Pergi
2
IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3
IB 03: Induksi Laktasi
4
IB 04: Mimpi Risma
5
IB 05: Menikahlah
6
IB 06: Penolakan
7
IB 07: Masih Sama
8
IB 8: Keputusan
9
IB 09: Hanya Status
10
IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11
IB 11: Hal Baru
12
IB 12. Prasangka Gauri
13
IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14
IB 14: Kebingungan
15
IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16
IB 16: Cantik
17
IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18
IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19
IB 19: Terasa Kosong
20
IB 20: Pesona Istri
21
IB 21: Keirian
22
IB 22: Sakit
23
IB 23: Aku Egois
24
IB 24: Terkejut
25
IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26
IB 26: Mari Pacaran
27
IB 27: Hasil Penyelidikan
28
IB 28: Sebuah Rencana
29
IB 29: Bolehkah Egois?
30
IB 30: Sekedar Pemanasan
31
IB 31: Seperti Baru
32
IB 32: Tamu Tak Diundang
33
IB 33: Fitnah Datang
34
IB 34: Kenapa
35
IB 35: Trauma Sialan
36
IB 36: Kepuasan
37
IB 37: Bukan Kamu
38
IB 38: Tidak Salah
39
IB 39: Konferensi Pers
40
IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41
IB 41: Mengundurkan Diri
42
IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43
IB 43: Tidak Percaya
44
IB 44: Gamang
45
IB 45: Hubungan Layak
46
IB 46: Konfirmasi
47
IB 47: Terkejut
48
IB 48: Kegalauan
49
IB 49: Benda Apa Itu?
50
IB 50: Banyak Pikiran
51
IB 51: Permintaan
52
IB 52: Perkembangan Aara
53
IB 53: Bangun Ra!
54
IB 54: Fawwas Panik
55
IB 55: Libur Dulu
56
IB 56: Rindu
57
IB 57: Berkunjung
58
IB 58: Sedikit Ramai
59
IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60
IB 60: Bicaralah!
61
IB 61: Anak Itu Rejeki
62
IB 62: Milikku Sepenuhnya
63
IB 63: Roda Kehidupan Berputar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!