Hari dimana acara syukuran akikah Neida pun datang juga. Dan, Gauri sama sekali tidak ada kesempatan berbicara dengan Fawwas. Padahal seminggu ini mereka tetap bersua, namun Fawwas benar-benar tidak mau membicarakan hal tersebut.
Suasana canggung terjadi saat Fawwas dan Aara berdiri bersama. Karena Neida memang dekat dengan Aara, maka keduanya berdampingan selama acara berlangsung. Aara sungguh merasa tidak enak, apalagi ekspresi wajah Fawwas begitu datar dan dingin. Sungguh berbeda dari sebelumnya.
Ternyata rencana pernikahan itu tidak diberitahukan kepada Aara. Risma dan Rezky masih menyembunyikannya. Maka dari itu Aara tidak tahu alasan Fawwas bersikap begitu.
" Apa Kakak mau menggendong Neida," tawar Aara. Ia berusaha memecah keheningan antara mereka. Suasana bahagia itu seperti tidak menghampiri mereka. Ibarat kata, merasa sepi ditengah keramaian.
" Tidak, sepertinya Neida nyaman berada di pelukanmu. Nanti kalau berpindah tangan malah menangis. Jadi digendong kamu saja."
Jawaban Fawwas membuat Aara tersenyum. Akhirnya pria itu mau bicara juga. Meskipun dia masih bingung dengan sikap Fawwas, tapi paling tidak dia sudah mencoba untuk berbicara.
Acara syukuran akhirnya selesai. Semua sanak saudara mulai meninggalkan kediaman. Terdengar suara tangis dari Neida. Aara cepat-cepat membawa Neida ke kamar. Saking terburu nya, Aara tidak menutup pintu kamar dengan sempurna.
" Cup cup sayang, Nei lapar ya. Tunggu ya."
Aara mengambil posisi duduk di atas ranjang. Ia lalu membuka resleting bajunya yang berada di bagian depan. Dan dengan cepat, Aara mengeluarkan pa yu dara nya. Ia memposisikan mulut Neida tepat di pu ting nya. Aara tersenyum saat melihat Neida minum ASI langsung dari tempatnya.
Sudah beberapa hari ini Aara melakukan hal tersebut. Ucapan sang ibu membuatnya setuju melakukan induksi laktasi. Namun dia tidak melakukannya di RSMH. Ia memilih rumah sakit lain agar tidak diketahui oleh semua orang. Aara bersyukur, prosesnya melakukan induksi laktasi lebih cepat, sehingga dia pun bisa cepat melepas Neida dari susu formula.
" Minumlah sayang, minum yang banyak. Bunda memang tidak bisa memberikanmu ASI, karena bunda sudah ada ditempat yang indah. Tapi Ibu masih bisa. Ibu akan berikan sebanyak yang kamu mau."
Aara terus bergumam, atau lebih tepatnya mengajak Neida berbicara. Bayi mungil itu menatap Aara dengan mata yang berbinar seakan tahu bahwa dirinya sedang diajak berbicara. Neida juga sesekali tersenyum.
" M-maaf, a-aku ti-tidak tahu."
Aara terkejut mendengar suara Fawwas, ia lalu membalikkan tubuhnya. Pun dengan Fawwas. Ia berdiri membelakangi Aara di depan pintu.
Aara menyelesaikan acara dia memberikan ASI kepada Neida. Dan juga, Neida terlihat sudah kenyang. Aara lalu merapikan bajunya. Ia meletakkan Neida kembali di box bayi.
" A-ada apa Kak?"
" Semua orang mencari mu.'
Setelah mengatakan hal tersebut Fawwas langung melenggang pergi. Namun siapa sangka jantungnya berdetak hebat. Ia menghembuskan nafasnya dengan perlahan. Bohong jika dia tidak melihat apa yang Aara lakukan. Fawwas juga tidak sengaja melihat bagian tubuh dari Aara meskipun hanya selintas. Tapi sebuah pertanyaan kemudian muncul di kepalanya, apakah Aara tadi benar-benar menyusui Neida? Apakah itu hanya sekedar menempel atau ASI miliki Aara benar-benar keluar. Fawwas segera menghapus pertanyaan-pertanyaan itu dari kepalanya. Mungkin ia akan menanyakan nanti, atau menganggap bahwa ia tidak melihatnya sama sekali.
🍀🍀🍀
Kini kedua keluarga tengah berkumpul di rumah keluarga milik kediaman Ananta. Di sana sudah ada orang tua Fawwas plus sang adik, dan juga orang tua dari Aara. Perasaan Fawwas sudah tidak enak saat semuanya berkumpul. Tapi tidak dengan Aara, gadis itu masih bisa duduk dengan santai di sebelah Risma.
" Ra, apakah barang-barangnya Neida sudah disiapkan? Hari ini Nak Fawwas langung akan membawa Neida pulang," tanya Risma kepada sang putri.
" Sudah Bu, sudah disiapkan semuanya. Hanya tinggal membawanya saja," jawab Aara tenang.
Bisma, Gauri, Risma dan Rezky saling pandang. Mereka harus mengatakan saat ini juga. Risma dan Rezky memang sengaja tidak membicarakan ini kepada Aara karena ingin mengatakannya sekarang. Apalagi Risma tahu bahwa Aara mulai menyusui Neida. Tentu Neida tidak bisa dipisahkan dengan Aara.
" Jadi, Fawwas bagaimana jawabanmu? Apakah kamu mau menerima Aara?" tanya Bisma.
" Appa, Amma, kan Fawwas sudah bilang sebelumnya. Aku sudah anggap Aara seperti adikku. Lalu bagaimana kami bisa menikah? Lagi pun Aara masih muda, masa depannya masih panjang. Dia tidak harus jadi korban dan terbelenggu bersamaku," elak Fawwas.
" He?? Ada apa ini? Mengapa jadi aku menikah dengan Kak Fawwas? Yah, Bu, ada apa? Apa aku sendiri di sini yang tidak tahu?"
Aara terlihat begitu syok dengan apa yang barusan ia dengar. Ini seperti petir yang menyambar di hari panas. Bagaimana bisa mereka semua membicarakan pernikahan tanpa memberitahukannya. Aara sepintas melirik ke arah Fawwas, dan sebuah praduga muncul. Mungkin karena inilah Fawwas bersikap dingin kepadanya.
" Tapi bukankah ini wasiat dari Aira? Aira ingin kamu bersama dengan Fawwas bukan untuk menjaga Neida. Sayang, lagi pula kamu sekarang yang menyusup Neida. Kalau Fawwas membawa Neida pulang dan kamu tidak ikut bersama, lalu bagaimana Neida. Masa dia harus mengonsumsi susu formula lagi," papar Risma. Dia sengaja menekankan hal tersebut.
Deg!
Fawwas terkejut, rupanya apa yang ia lihat tadi adalah benar adanya. Tapi bukan hanya Fawwas yang terkejut, Bisma, Gauri, dan Faizal juga. Mereka tidak menyangka bahwa Aara akan melakukan hal sejauh itu untuk Neida.
Bisma dan Gauri merasa sangat bersalah kepada Aara. Bagaimana seorang gadis harus menyusui Seorang bayi. Dia harus melakukan itu padahal Aara belum menikah.
" Fawwas, menikahlah dengan Aara. Dan, jangan hari ini kamu membawa Neida pulang. Siapkan pernikahan selama seminggu. Setelah itu bawa Neida dan juga Aara pulang bersamamu. Ini adalah hal yang terbaik. Appa tidak terima penolakan lagi!" tegas Bisma.
Bisma merasa harus bertanggung jawab kepada Aara juga. Aara sudah e,lakukan hal sampai sejauh ini. Maka dari itu Fawwas harus bertanggung jawab. Mungkin ini bukan keinginan Fawwas, dan murni kemauan Aara. Tapi bagaimana seorang gadis akan menikah nanti jika dia sudah menyusui bayi. Hal tersebutlah yang jadi pemikiran Bisma pun dengan Gauri. Maka keputusan yang tepat adalah menikahkan mereka. Dan keputusan ini tidak bisa lagi diganggu gugat.
Terlihat Fawwas mengepalkan tangannya erat. Aara bisa melihat meliha raut wajah kecewa dan marah dari pria tersebut. Sedangkan ia sendiri hanya bisa menundukkan kepalanya dalam. Aara tidak berani menatap semua orang. Sebuah ketakutan menyusup di lubuk hatinya yang terdalam.
" Bagaimana jika aku yang dianggap ingin memiliki Kak Fawwas dengan cara menjadi ibu susu Neida. Sungguh tidak ada niatku begitu. Aku tulus ingin menyusui Neida. Tidak ada niat yang lain."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Alanna Th
judulnya ganti, thor; ' djebak ibu kndng' !
2025-03-28
0
Nanik Kusno
Kasian Aara....g tau apa2... nanti disalahin ma Fawwas.....😥😥😥😥😥
2024-12-13
1
Ani Ani
Antara rela dan terpaksa
2024-07-05
0