IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?

Selama di rumah sakit, tepatnya di ruangannya, Fawwas terus memikirkan setiap ucapan Gauri yang mengatakan untuk melepaskan Aara lebih awal. Ia tidak mengerti, mengapa saat sang ibu mengatakan bahwa Erka tertarik kepada Aara dan Erka adlah pria yang bis amembuat Aara tertawa membuat hatinya sedikit kesal. Terlebih selama menikah dengannya memang Aara tidak pernah tertawa kepadanya sama sekali.

" Mereka pertama kali bertemu. Tapi mengapa mereka bisa seakrab itu?"

Fawwas kembali mengingat moment dimana Aaar berbincang dengan Erka. Dia bisa melihat saat itu Aara bisa berbicara dengan bebas, seperti saat ia berbicara dengannya dulu sebelum menikah. Tapi setelah menikah semuanya menjadi berubah. Bukan tanpa alasan sebenarnya, karena Fawwas sendirilah yang menjaga jarak dengan Aara.

" Apakah aku salah ya begini? Tapi niatku hanya agar dia tidak punya perasaan lain kepadaku. Karena yang butuh Aara hanyalah Neida dan bukannya aku."

Fawwas mengusap wajahnya kasar. Dia sungguh bingung sekarang untuk bersikap terhadap Aara. Kata-kata sang ibu mengenai bahwa Erka tertarik pada Aara terus terngiang di kepalanya lanya. Fawwas belum melihat ke dalam hati terdalamnya, bahwa ada ras tidak terima mengenai hal itu. Tapi dia selalu mengatasnamakan Neida dalam setiap apa yang rasakan terhadap Aara.

Tok! Tok! Tok!

Fawwas terlonjak saat pintu ruang kerja nya di ketuk oleh seseorang. Ia memeriksa posnelnya, tidak ada jadwal operasi hari ini maupun panggilan dari ER. " Masuk," teriak Fawwas mempersilakan sang tamu.

" Hai, lagi sibuk kah?"

" Oh kau Nis, tidak sih. Hanya memeriksa rekam medis beberapa pasien yang operasi kemarin saja."

Bohong, tentu saja jawaban Fawwas bohong besar. Bahkan dari pagi dia sama sekali tidak menyentuh pekerjaannya. Pikirannya habis ia gunakan untuk memikirkan sang istri. Sang istri yang disukai oleh temannya.

" Ehmm Fa, apakah akhir pekan ini kamu ada acara. Ada film bagus, maukah nonton bersama ku " ajak Nisya. Sudah dari semalam dia memikirkan hal tersebut. Buka, bukan dari semalam, tapi sudah sejak seminggu yang lalu Nisya merencanakan hal ini. Ia bertekad terus maju untuk mendapatkan hati Fawwas. Dengan menggunakan modal nekat seperti sekarang ini, akhirnya wanita itu benar-benar memulainya.

" Waduh maaf Nis, akhir pekan ini aku akan membawa putriku berjalan-jalan," sahut Fawwas cepat. Entah kapan dia memikirkan hal itu, tapi mulut Fawwas reflek mengatakan hal tersebut.

Ekspresi wajah Nisya langsung berubah. Yang tadinya tersenyum senang, kini menjadi kecut. Ia menyembunyikan lagi tiket menonton yang sudah dia dapatkan dengan sedikit bersusah payah karena ini adalah penayangan premiernya.

" Aah begitu, baiklah. Dan yah, anak adalah nomor satu. Kamu memang ayah yang hebat Fa. Oke, aku permisi. Waktunya aku visit ke kamar pasien. Happy week end with youre daughter Fa."

Nisya langsung berpamitan keluar dari ruang Fawwas. Ia tersenyum saat menyampaikan hal tadi. Akan tetapi saat sampai di luar ruangan, senyum Nisya menguap seketika. Senyuman itu berubah menjadi tangis dan isakan kecil.

" Hiks, apakah aku ditolak bahkan sebelum mengungkapkannya. Ya Allah, beginilah rasa cinta yang tidak terbalas. Fa, apakah tidak ada sedikitpun rasa mu untukku? Apa aku tidak bisa menjadi pengobat lara mu setelah sepeninggalnya Aira."

Nisya melenggang pergi, meninggalkan ruangan Fawwas. Langkah kakinya membawa tubuhnya ke atap gedung rumah sakit. Ia menapaki tangga demi tangga dan pada akhirnya ia sampai juga di roof top. Nisya mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya

perlahan. Ia menikmati angin yang berhembus tepat mengenai wajahnya. Rasanya sungguh menyegarkan.

" Haaah, seperti ini rasanya ya. Rasa gagal sebelum melakukannya. Mungkin aku harus memupus rasaku sekarang. Sepetinya semua penantianku percuma saja. Fa, dari sebelum kau menikah, hingga menikah dan istrimu tidak lagi ada di dunia ini, aku tetap tidak bisa menyentuh hatimu. Kamu masih saja begitu dingin. Tatapan hangat itu pernah ku lihat, tapi hanya kamu tujukan kepada almarhumah Aira, dan Aara. Ya kedua kakak adik itu lah yang pernah mendapatkan tatapan hangat dan ucapan manis dari mu. Aara, kemana gadis itu. Setelah Aira meninggal, dia tidak terlihat sama sekali di rumah sakit. Aah iya, katanya dia mengasuh sang keponakan. Tapi, apakah harus berhenti bekerja juga?"

Nisya menggelengkan kepalanya cepat. Ia tahu bahwa itu bukanlah urusannya. Akan tetapi ia cukup dekat dengan Aara dulu saat mereka di rumah sakit. Akan tetapi memang setelah di luar rumah sakit mereka jarang bertemu maupun bertukar kabar.

" Mungkin dia masih sibuk, atau ada pekerjaan lain. Tau juga pindah kerja, tapi itu tidak mungkin sih. Dirut RSMH begitu menyukai Aara. Pak Bisma tidak akan mudah melepaskan Aara."

Orang yang dikhawatirkan oleh Nisya tersebut saat ini sedang asyik bercengkerama dengan ibu mertuanya. Ya. Setelah mengetahui hubungan anak dan menantunya yang tidak ada perkembangan, Gauri meminta Aara dan Neida untuk tinggal di sini beberapa waktu. Ia juga merindukan sang cucu, maka dari itu Aara tidak bisa menolak keinginan dari Gauri tersebut.

" Apa Aara merasa tidak nyaman tinggal di sini?" tanya Gauri di sela-sela dirinya bermain dengan Neida.

" Tidak Amma, bukan. Aara senang kok ada di sini. Neida juga pasti senang karena jadi ramai, bisa bermain dengan Amma dan Appa," jawab Aara cepat. Padahal dalam hatinya saat ini dia tengah berteriak keras. Ya, sungguh dia tidak merasa nyaman. Peristiwa tadi pagi diamana Fawwas memeluk dirinya ketika tertidur masih teringiang. Dan Aara takut hal itu terulang kembali. Jika menginap di kediaman sang mertua lebih lama, maka akan lebih sering juga dia tidur di satu ranjang bersama dengan Fawwas.

" jika itu terus terjadi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hatiku? Sebesar apapun tembok yang ku bangun, takutnya akan retak dan roboh. Dan, apakah aku bisa berharap lebih? Berharap lebih dengan pernikahan kami ini yang berawal dari kesepakatan?""

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Gemes banget dengan sikap Fawwas....😩😩😩😩😩

2024-12-14

0

Ani Ani

Ani Ani

terus kan aja

2024-07-05

0

Bunda Aish

Bunda Aish

sabar Ra..... tanda-tanda cembokur sudah mulai muncul

2024-02-13

1

lihat semua
Episodes
1 IB 01: Pergi
2 IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3 IB 03: Induksi Laktasi
4 IB 04: Mimpi Risma
5 IB 05: Menikahlah
6 IB 06: Penolakan
7 IB 07: Masih Sama
8 IB 8: Keputusan
9 IB 09: Hanya Status
10 IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11 IB 11: Hal Baru
12 IB 12. Prasangka Gauri
13 IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14 IB 14: Kebingungan
15 IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16 IB 16: Cantik
17 IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18 IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19 IB 19: Terasa Kosong
20 IB 20: Pesona Istri
21 IB 21: Keirian
22 IB 22: Sakit
23 IB 23: Aku Egois
24 IB 24: Terkejut
25 IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26 IB 26: Mari Pacaran
27 IB 27: Hasil Penyelidikan
28 IB 28: Sebuah Rencana
29 IB 29: Bolehkah Egois?
30 IB 30: Sekedar Pemanasan
31 IB 31: Seperti Baru
32 IB 32: Tamu Tak Diundang
33 IB 33: Fitnah Datang
34 IB 34: Kenapa
35 IB 35: Trauma Sialan
36 IB 36: Kepuasan
37 IB 37: Bukan Kamu
38 IB 38: Tidak Salah
39 IB 39: Konferensi Pers
40 IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41 IB 41: Mengundurkan Diri
42 IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43 IB 43: Tidak Percaya
44 IB 44: Gamang
45 IB 45: Hubungan Layak
46 IB 46: Konfirmasi
47 IB 47: Terkejut
48 IB 48: Kegalauan
49 IB 49: Benda Apa Itu?
50 IB 50: Banyak Pikiran
51 IB 51: Permintaan
52 IB 52: Perkembangan Aara
53 IB 53: Bangun Ra!
54 IB 54: Fawwas Panik
55 IB 55: Libur Dulu
56 IB 56: Rindu
57 IB 57: Berkunjung
58 IB 58: Sedikit Ramai
59 IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60 IB 60: Bicaralah!
61 IB 61: Anak Itu Rejeki
62 IB 62: Milikku Sepenuhnya
63 IB 63: Roda Kehidupan Berputar
Episodes

Updated 63 Episodes

1
IB 01: Pergi
2
IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3
IB 03: Induksi Laktasi
4
IB 04: Mimpi Risma
5
IB 05: Menikahlah
6
IB 06: Penolakan
7
IB 07: Masih Sama
8
IB 8: Keputusan
9
IB 09: Hanya Status
10
IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11
IB 11: Hal Baru
12
IB 12. Prasangka Gauri
13
IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14
IB 14: Kebingungan
15
IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16
IB 16: Cantik
17
IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18
IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19
IB 19: Terasa Kosong
20
IB 20: Pesona Istri
21
IB 21: Keirian
22
IB 22: Sakit
23
IB 23: Aku Egois
24
IB 24: Terkejut
25
IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26
IB 26: Mari Pacaran
27
IB 27: Hasil Penyelidikan
28
IB 28: Sebuah Rencana
29
IB 29: Bolehkah Egois?
30
IB 30: Sekedar Pemanasan
31
IB 31: Seperti Baru
32
IB 32: Tamu Tak Diundang
33
IB 33: Fitnah Datang
34
IB 34: Kenapa
35
IB 35: Trauma Sialan
36
IB 36: Kepuasan
37
IB 37: Bukan Kamu
38
IB 38: Tidak Salah
39
IB 39: Konferensi Pers
40
IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41
IB 41: Mengundurkan Diri
42
IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43
IB 43: Tidak Percaya
44
IB 44: Gamang
45
IB 45: Hubungan Layak
46
IB 46: Konfirmasi
47
IB 47: Terkejut
48
IB 48: Kegalauan
49
IB 49: Benda Apa Itu?
50
IB 50: Banyak Pikiran
51
IB 51: Permintaan
52
IB 52: Perkembangan Aara
53
IB 53: Bangun Ra!
54
IB 54: Fawwas Panik
55
IB 55: Libur Dulu
56
IB 56: Rindu
57
IB 57: Berkunjung
58
IB 58: Sedikit Ramai
59
IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60
IB 60: Bicaralah!
61
IB 61: Anak Itu Rejeki
62
IB 62: Milikku Sepenuhnya
63
IB 63: Roda Kehidupan Berputar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!