Hari demi hari mereka jalani seperti biasa. Tidak banyak interaksi yang terjadi diantara keduanya. Aara fokus dengan Neida dan Fawwas bekerja. Seorang asisten rumah tangga ditempatkan oleh Fawwas agar Aara tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah. Aara benar-benar hanya fokus mengurus Neida.
Mereka berdua jarang sekali bertatap muka. Bagi Aara hal tersebut tidak masalah. Toh memang mereka menikah hanya untuk urusan Neida, dan bukan hanya untuk hal lain. Selagi Neida cukup mendapatkan kasih sayang ayahnya itu sudah cukup.
Malam ini Fawwas pulang sedikit larut. Sekitar pukul 23.00 dia baru menginjakkan kakinya di rumah. Ia melenggang masuk ke kamarnya, tapi ada sesuatu yang menggelitik hatinya saat ia mendengarkan suara Aara. Siapa lagi kalau bukan Aara yang sedang bersenandung. Tidak mungkin asisten rumah tangga yang ia pekerjakan, dan Fawwas faham betul itu suara Aara.
" Apakah Aara belum tidur jam segini, atau Neida yang terbangun sehingga Aara harus menidurkannya kembali?" gumam Fawwas lirih, ia memutuskan untuk melihat ke kamar Aara. Ya, mereka tentu tidur dengan cara terpisah. Fawwas tidur menggunakan kamarnya dan Aira dulu, sedangkan Aara tidur bersama di kamar Neida yang sudah di setting menjadi kamar Aara juga.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki yang beradu dengan lantai keramik di malam hari nan sunyi itu menggema. Tapi agaknya hal tersebut tidak mengusik Aara. Wanita tersebut tetap fokus melantunkan shalawat bagi Neida. Fawwas kini berada tepat depan pintu kamar Aaara dan Neida, matanya membelalak saat melihat Aara duduk bersandar di head board tempat tidur sambil memangku Neida. Terlihat sesekali Aara menjatuhkan kepalanya namun kemudian wanita tersebut kembali menegakkan kembali.
" Dia terkantuk-kantuk? Astaga, dia terlihat sangat lelah dan mengantuk. Aara sedang menahan kantuknya demi Neida?"pekik Fawwas dalam hati. Setelah 4 bulan bersama, ia Memnag tidak pernah melihat keadaan Aara saat malam hari. Jika dirinya pulang kerja, Fawwas akan bermain dengan degan Neida. Ia akan menggendong dan menimang Neida, mengajak nya berinteraksi lalu pergi tidur. Fawwas tidak pernah melihat keadaan seperti sekarang ini.
Ia lalu membalikkan tubuhnya untuk kembali ke kamar. Dengan langkah sedikit cepat ia menaruh tas dan jaketnya. Fawwas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan berganti pakaian. Hanya dalam waktu 10 menit ia akhirnya selesai, setelah itu Fawwas kembali ke kamar Aara. Tapi ia kembali membalikkan badannya dan pergi ke dapur. Rupanya Fawwas membuatkan susu hangat untuk Aara. Ada sebuah rasa bersalah menelusup ke relung hatinya, ia sama sekali tidak memperhatikan Aara. Ia tidak pernah menanyakan bagaimana keadaan wanita yang saat ini sudah menjadi ibu susu dari anaknya.
Meskipun Neida adalah keponakannya, tapi Aara bukan lah di setting sebagai ibu sesungguhnya. Aara maasuk kategori sebagi ibu dadakan. Ia bisa menyusui Neida bukan alamiah dari tubuhnya sendiri, melainkan di rang sang untuk bisa menghasilkan ASI. Sedikit banyak Fawwas tahu akan hal tersebut.
Cekleek
" Minumlah Ra, sini aku yang gendong Neida. Setelah minum, tidurlah."
" Kak, lho kok ... ."
Aara tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Rasa yang saat ini hinggap di dirinya adalah sebuah keterkejutan. Tapi sedetik kemudian ia tak lagi memedulikan itu. Tubuhnya memang sangat lelah, setelah minum susu yang dibawakan Fawwas, tidak butuh lama Aara tertidur. Sebuah dengkuran halus terdengar oleh Fawwas.
" Waah, malam ini kamu bergadang ya sayang? Apakah hanya malam ini atau malam-malam sebelumnya juga? Jangan sering begadang nak, kasian Ibu mu. Jika dirasa kamu sudah puas menyusu, segera tidur agar Ibu mu juga bisa beristirahat. Anak pintar, mohon kerjasamanya ya."
Fawwas menimang Neida sambil mengajak bayi perempuan itu berbicara. Terlihat mata Neida yang berbinar setia tawa kecil keluar dari bibir mungilnya. Ya, Fawwas memanggilkan Ibu untuk Aara karena ia pernah memanggil Aara mengatakan hal tersebut kepada Neida. Setiap Aara mengajak Neida bicara, maka Aara memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Ibu. Tidak ada yang salah, karena memang Aara adalah istrinya dan sekarang dia menjadi ibu bagi Neida.
Akan tetapi, Fawwas masih belum bisa beranggapan seperti itu. Baginya saat ini Aara hanyalah seorang adik ipar. Aara adalah adik dari mendiang istrinya yang sedang membantunya untuk merawat putri mereka.
Fawwas meletakkan Neida dengan perlahan di box bayi setelah tertidur. Sebuah hembusan nafas panjang keluar dari bibir Fawwas ketika ia melihat wajah Aara. Wajah itu terlihat sangat lelah. Dia sama sekali tidak tahu persis hari-hari yang Aara lali. Fawwas selalu sibuk di rumah sakit, dan terkadang ia juga sengaja untuk tidak segera pulang ke rumah karena menghindari pertemuan dengan Aara.
" Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan mu Ra. Kau sungguh baik, tapi sungguh aku tidak bisa menanggap kamu sebagai istriku. Kau adalah adik Aira, berarti kau adik iparku. Ini terkesan tidak adil memang karena kau sudah berkorban banyak untuk kami. Bahkan kau mengorbankan kebebasanmu sebagai seorang wanita karir."
Fawwas duduk di sudut kamar, dimana sebuah kursi yang ia duduki adalah kursi yang biasa dipakai Aara untuk menyusui Neida dengan bersantai. Ya, fasilitas yang diberikan Fawwas memang lengkap. Segala hal yang membuat Aara nyaman saat mengasuh Neida ia berikan. Tapi, apakah semua itu sudah cukup? Jawabannya tentu tidak, seorang wanita menyusui membutuhkan support system dari pasangannya. Meskipun Aara bukanlah wanita yang mengandung dan melahirkan Neida tapi dia juga memiliki tingkat stres yang sama yang dimiliki oleh ibu-ibu menyusui pada umumnya.
Dan, hal tersebut yang Fawwas abaikan. Fawwas pikir dengan memberikan seorang art yang mengurusi semua pekerjaan rumah dan menyukai semua kebutuhan, sudah cukup bagi Aara. Fawwas sedikit lupa, bahwa selama 4 bulan bersama, Aara terkurung di dalam rumah. Aara sama sekali tidak pernah melihat dunia luar, dimana saat sebelum ia menikah dan jadi ibu susu dari Neida, dia sering melakukannya. Kebebasan yang dulu Aara miliki kini tidak lagi bisa ia rasakan. Bahkan Fawwas tidak tahu pasti, apa alasan Aara tidak kembali bekerja sebagai dokter kandungan. Ia tidak pernah menanyakan apapun terhadap istrinya tersebut.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Meskipun hanya menikah karena status....mbok Yo Fawwas itu perhatian ma Aara....😥😥😥
2024-12-13
1
Heryta Herman
fawwas egois dan bodoh...kamu sdh berani ambil tanggung jwb untuk menjadikan aaraa istrimu,bersikaplah layak nya suami yg betul" menerima istrimu apa adanya..itu konsekwensi nya menikahi aara...
turun ranjang bro...
2024-08-28
0
Ani Ani
DIA takut sebenar nya
2024-07-05
0