" Nak, ibu tidak akan menghalangi mu membawa Neida. Tapi bisakah setelah 40 hari DNA acara akikah digelar? Sebaliknya, kamu bebas untuk menemani Neida di sini. Bukankah kamu juga masih keluargamu. Kepergian Aira tidak akan mengubah apapun Fawwas."
Kata-kata Risma membuat Fawwas sedikit merasa bergetar hatinya. Ia tahu, keluarga Ananta sangat baik kepadanya. Mereka bahkan menganggap dirinya seperti anak sendiri. Sama halnya dengan Gauri, bukan hanya menyayangi Aira, tapi sang ibu juga menyayangi Aara. Apalagi Aara adalah dokter kesayangan sang ayah di rumah sakit.
Kedua anak dari keluarga Dewandaru menjadi dokter semua. Fawwas dan Faizal, kakak beradik itu menjadi dokter juga di Rumah Sakit Mitra Harapan. Meskipun begitu, agaknya Bisma lebih menyayangi Aara ketimbang dua anaknya yang sama-sama menjadi dokter. Semenjak jadi dokter residen Aara sudah mengambil hati Bisma. Meskipun Aara berada di poli kandungan, tapi semangat dan ketekunan Aara membuat Bisma menyukai gadis itu.
Semuanya menjadi lebih menyenangkan saat mengetahui bahwa Aara adalah adik Aira, calon istri Fawwas. Bisma semakin menyayangi Aara, pun dengan Gauri. Mereka yang tidak memiliki anak perempuan bahkan menganggap Aara adalah anak perempuan mereka. Tapi bukan berarti kasih sayang mereka senjang terhadap Aira. Aira mendapatkan cinta dan sayang yang sama dengan Acara. Bahkan saat mengetahui Aira hamil, Gauri selalu siap sedia dikediaman sang putra.
" Baik Bu, saya setuju. 2 Minggu lagi kita akan mengadakan acara tersebut. Ibu juga tidak perlu khawatir, ibu bisa datang setiap hari untuk melihat Neida. Saya juga akan membiarkan Neida untuk ikut ke ruang jika ibu menginginkannya."
Setelah melakukan percakapan tersebut, Fawwas pamit undur diri. Dia harus segera pergi ke rumah sakit. Sudah lama dirinya tidak berangkat bekerja. Sebenarnya hal yang sedikit salah, karena Fawwas sedikit menggunakan koneksinya. Dia yang putra dari Dirut RSMH memilih mengambil cuti sesukanya sendiri.
Haaah
Hembusan nafas dilakukan oleh Risma, ia jelas tidak bisa melarang Fawwas membawa Neida tapi ada rasa tidak rela. Seharian itu Risma memikirkan hal tersebut. Rasanya dia tidak ingin hari itu segera datang. Dirinya masih ingin berlama-lama dengan sang cucu.
" Bu, mengapa ibu dari tadi terlihat mengenal nafas begitu. Dari semenjak makan malam kamu melakukan itu," ucap Rezky. Dari tadi semenjak pulang bekerja ia melihat istrinya seperti memiliki beban yang berat.
" Mas, aku sedang bingung. Aku tidak ingin Neida pergi, tapi aku tidak bisa menghalangi Fawwas untuk membawa Neida. Aku hanya takut mas, Neida di rawat orang yang salah. Banyak sekali berita di media sosial yang mengabarkan tentang perlakuan pengasuh yang tidak baik terhadap anak yang diasuhnya. Ya meskipun tidak semuanya begitu, tapi aku sungguh takut."
Rezky kini mengerti kegelisahan sang istri. Memang benar itu juga membuatnya sedikit merasa khawatir, tapi bagaimanapun Fawwas lebih berhak atas Zeida. Dia adalah ayahnya sedangkan mereka hanya sebatas kakek dan neneknya.
" Sudahlah. Mari kita tidur. Besok kita pikirkan persoalan ini lagi. Kau sudah cukup lelah sayang, sebaiknya tidur lebih cepat. Aku tidak ingin istriku yang cantik ini sakit."
Risma setuju, tubuhnya mungkin tidak lelah tapi pikirannya yang merasakan itu. Malam ini dia meminta Aara untuk menjaga Neida. Ya, dia juga belum menanyakan kepada putri keduanya itu mengapa tidak berangkat kerja.
" Aaah, semuanya benar-benar sulit. Aku harap semua bisa diselesaikan setelah aku bangun tidur besok," doa Risma tulus. Kehilangan putri nya bukan lah hal yang kecil, rasa sakit itu hingga kini masih terasa. Dan Risma merasa tidak tenang jika cucunya harus dirawat oleh seorang baby sitter ataupun nanny.
" Ibu ... "
Deg!
Risma terkejut ketika ada seseorang yang memanggilnya. Bisa ia ketahui. Bahwa suara itu adalah suara dari orang yang sangat ia kenal. Tapi dia menggelengkan kepalanya cepat karena tidak mungkin orang itu ada di sana.
" Bu, ini aku Aira," panggil Aira.
" Aira, kau kah itu nak. Nak ibu sungguh merindukanmu nak."
Pelukan yang Risma lakukan terhadap Aira sungguh nyata. Tapi sejenak Risma merasa ini mungkin hanya ilusinya. Ilusi yang muncul akibat dari rasa rindu dan kehilangan yang ia rasakan. Tapi biarlah, meskipun itu ilusi Risma ingin sebentar saja merasakan itu. Merangkul putri yang ia sudah kebumikan tersebut.
" Bu, apa mereka berdua sudah bilang kepada ibu bahwa aku meminta mereka menjaga Neida bersama?" tanya Aira.
" Maksudmu apa nak?"
" Aku meminta Aara menjaga Neida dan Mas Fawwas Bu. Aku ingin Neida dijaga oleh Aara dan Mas Fawwas, tidak ada orang yang bisa ku percaya menjaga mereka selain Aara."
Risma terhenyak mendengar ucapan Aira, meskipun ia tahu itu adalah mimpinya dan mungkin mimpi yang ia ciptakan sendiri karena rasa rindu nya, tapi semuanya yang Aira katakan sangat nyata. Setelah mengatakan hal tersebut Aira mencium pipi Risma dan berjalan menjauh lalu menghilang. Risma tak lagi bisa meraih Aira. " Pergilah dengan tenang nak, jangan kau risaukan anak dan suamimu. Semua akan baik-baik saja."
Tes
Air mata Risma menetes saat ia terbangun. Ia memegang dadanya yang terasa begitu sesak. Tapi ia juga memikirkan apa yang diucapkan Aira. Sebuah pemikiran masuk ke dalam otak Risma. Ia tersenyum simpul, tampaknya jalan keluar dari permasalahannya sudah ia dapatkan.
" Benar, hanya Aara yang bisa menjaga Neida. Dan semuanya tidak akan berubah. Fawwas tetap akan menjadi menantu keluarga ini lalu Neida tetap akan mendapatkan kasih sayang keluarga yang lengkap. Ya, seperti itu saja."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Nah....tercetuslah perjodohan Aara dan Fawwas....
2024-12-13
0
efvi ulyaniek
btk typo bertebaran
2025-01-15
0
Ani Ani
suruh kawin lah tu
2024-07-04
0