IB 04: Mimpi Risma

" Nak, ibu tidak akan menghalangi mu membawa Neida. Tapi bisakah setelah 40 hari DNA acara akikah digelar? Sebaliknya, kamu bebas untuk menemani Neida di sini. Bukankah kamu juga masih keluargamu. Kepergian Aira tidak akan mengubah apapun Fawwas."

Kata-kata Risma membuat Fawwas sedikit merasa bergetar hatinya. Ia tahu, keluarga Ananta sangat baik kepadanya. Mereka bahkan menganggap dirinya seperti anak sendiri. Sama halnya dengan Gauri, bukan hanya menyayangi Aira, tapi sang ibu juga menyayangi Aara. Apalagi Aara adalah dokter kesayangan sang ayah di rumah sakit.

Kedua anak dari keluarga Dewandaru menjadi dokter semua. Fawwas dan Faizal, kakak beradik itu menjadi dokter juga di Rumah Sakit Mitra Harapan. Meskipun begitu, agaknya Bisma lebih menyayangi Aara ketimbang dua anaknya yang sama-sama menjadi dokter. Semenjak jadi dokter residen Aara sudah mengambil hati Bisma. Meskipun Aara berada di poli kandungan, tapi semangat dan ketekunan Aara membuat Bisma menyukai gadis itu.

Semuanya menjadi lebih menyenangkan saat mengetahui bahwa Aara adalah adik Aira, calon istri Fawwas. Bisma semakin menyayangi Aara, pun dengan Gauri. Mereka yang tidak memiliki anak perempuan bahkan menganggap Aara adalah anak perempuan mereka. Tapi bukan berarti kasih sayang mereka senjang terhadap Aira. Aira mendapatkan cinta dan sayang yang sama dengan Acara. Bahkan saat mengetahui Aira hamil, Gauri selalu siap sedia dikediaman sang putra.

" Baik Bu, saya setuju. 2 Minggu lagi kita akan mengadakan acara tersebut. Ibu juga tidak perlu khawatir, ibu bisa datang setiap hari untuk melihat Neida. Saya juga akan membiarkan Neida untuk ikut ke ruang jika ibu menginginkannya."

Setelah melakukan percakapan tersebut, Fawwas pamit undur diri. Dia harus segera pergi ke rumah sakit. Sudah lama dirinya tidak berangkat bekerja. Sebenarnya hal yang sedikit salah, karena Fawwas sedikit menggunakan koneksinya. Dia yang putra dari Dirut RSMH memilih mengambil cuti sesukanya sendiri.

Haaah

Hembusan nafas dilakukan oleh Risma, ia jelas tidak bisa melarang Fawwas membawa Neida tapi ada rasa tidak rela. Seharian itu Risma memikirkan hal tersebut. Rasanya dia tidak ingin hari itu segera datang. Dirinya masih ingin berlama-lama dengan sang cucu.

" Bu, mengapa ibu dari tadi terlihat mengenal nafas begitu. Dari semenjak makan malam kamu melakukan itu," ucap Rezky. Dari tadi semenjak pulang bekerja ia melihat istrinya seperti memiliki beban yang berat.

" Mas, aku sedang bingung. Aku tidak ingin Neida pergi, tapi aku tidak bisa menghalangi Fawwas untuk membawa Neida. Aku hanya takut mas, Neida di rawat orang yang salah. Banyak sekali berita di media sosial yang mengabarkan tentang perlakuan pengasuh yang tidak baik terhadap anak yang diasuhnya. Ya meskipun tidak semuanya begitu, tapi aku sungguh takut."

Rezky kini mengerti kegelisahan sang istri. Memang benar itu juga membuatnya sedikit merasa khawatir, tapi bagaimanapun Fawwas lebih berhak atas Zeida. Dia adalah ayahnya sedangkan mereka hanya sebatas kakek dan neneknya.

" Sudahlah. Mari kita tidur. Besok kita pikirkan persoalan ini lagi. Kau sudah cukup lelah sayang, sebaiknya tidur lebih cepat. Aku tidak ingin istriku yang cantik ini sakit."

Risma setuju, tubuhnya mungkin tidak lelah tapi pikirannya yang merasakan itu. Malam ini dia meminta Aara untuk menjaga Neida. Ya, dia juga belum menanyakan kepada putri keduanya itu mengapa tidak berangkat kerja.

" Aaah, semuanya benar-benar sulit. Aku harap semua bisa diselesaikan setelah aku bangun tidur besok," doa Risma tulus. Kehilangan putri nya bukan lah hal yang kecil, rasa sakit itu hingga kini masih terasa. Dan Risma merasa tidak tenang jika cucunya harus dirawat oleh seorang baby sitter ataupun nanny.

" Ibu ... "

Deg!

Risma terkejut ketika ada seseorang yang memanggilnya. Bisa ia ketahui. Bahwa suara itu adalah suara dari orang yang sangat ia kenal. Tapi dia menggelengkan kepalanya cepat karena tidak mungkin orang itu ada di sana.

" Bu, ini aku Aira," panggil Aira.

" Aira, kau kah itu nak. Nak ibu sungguh merindukanmu nak."

Pelukan yang Risma lakukan terhadap Aira sungguh nyata. Tapi sejenak Risma merasa ini mungkin hanya ilusinya. Ilusi yang muncul akibat dari rasa rindu dan kehilangan yang ia rasakan. Tapi biarlah, meskipun itu ilusi Risma ingin sebentar saja merasakan itu. Merangkul putri yang ia sudah kebumikan tersebut.

" Bu, apa mereka berdua sudah bilang kepada ibu bahwa aku meminta mereka menjaga Neida bersama?" tanya Aira.

" Maksudmu apa nak?"

" Aku meminta Aara menjaga Neida dan Mas Fawwas Bu. Aku ingin Neida dijaga oleh Aara dan Mas Fawwas, tidak ada orang yang bisa ku percaya menjaga mereka selain Aara."

Risma terhenyak mendengar ucapan Aira, meskipun ia tahu itu adalah mimpinya dan mungkin mimpi yang ia ciptakan sendiri karena rasa rindu nya, tapi semuanya yang Aira katakan sangat nyata. Setelah mengatakan hal tersebut Aira mencium pipi Risma dan berjalan menjauh lalu menghilang. Risma tak lagi bisa meraih Aira. " Pergilah dengan tenang nak, jangan kau risaukan anak dan suamimu. Semua akan baik-baik saja."

Tes

Air mata Risma menetes saat ia terbangun. Ia memegang dadanya yang terasa begitu sesak. Tapi ia juga memikirkan apa yang diucapkan Aira. Sebuah pemikiran masuk ke dalam otak Risma. Ia tersenyum simpul, tampaknya jalan keluar dari permasalahannya sudah ia dapatkan.

" Benar, hanya Aara yang bisa menjaga Neida. Dan semuanya tidak akan berubah. Fawwas tetap akan menjadi menantu keluarga ini lalu Neida tetap akan mendapatkan kasih sayang keluarga yang lengkap. Ya, seperti itu saja."

TBC

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Nah....tercetuslah perjodohan Aara dan Fawwas....

2024-12-13

0

efvi ulyaniek

efvi ulyaniek

btk typo bertebaran

2025-01-15

0

Ani Ani

Ani Ani

suruh kawin lah tu

2024-07-04

0

lihat semua
Episodes
1 IB 01: Pergi
2 IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3 IB 03: Induksi Laktasi
4 IB 04: Mimpi Risma
5 IB 05: Menikahlah
6 IB 06: Penolakan
7 IB 07: Masih Sama
8 IB 8: Keputusan
9 IB 09: Hanya Status
10 IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11 IB 11: Hal Baru
12 IB 12. Prasangka Gauri
13 IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14 IB 14: Kebingungan
15 IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16 IB 16: Cantik
17 IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18 IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19 IB 19: Terasa Kosong
20 IB 20: Pesona Istri
21 IB 21: Keirian
22 IB 22: Sakit
23 IB 23: Aku Egois
24 IB 24: Terkejut
25 IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26 IB 26: Mari Pacaran
27 IB 27: Hasil Penyelidikan
28 IB 28: Sebuah Rencana
29 IB 29: Bolehkah Egois?
30 IB 30: Sekedar Pemanasan
31 IB 31: Seperti Baru
32 IB 32: Tamu Tak Diundang
33 IB 33: Fitnah Datang
34 IB 34: Kenapa
35 IB 35: Trauma Sialan
36 IB 36: Kepuasan
37 IB 37: Bukan Kamu
38 IB 38: Tidak Salah
39 IB 39: Konferensi Pers
40 IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41 IB 41: Mengundurkan Diri
42 IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43 IB 43: Tidak Percaya
44 IB 44: Gamang
45 IB 45: Hubungan Layak
46 IB 46: Konfirmasi
47 IB 47: Terkejut
48 IB 48: Kegalauan
49 IB 49: Benda Apa Itu?
50 IB 50: Banyak Pikiran
51 IB 51: Permintaan
52 IB 52: Perkembangan Aara
53 IB 53: Bangun Ra!
54 IB 54: Fawwas Panik
55 IB 55: Libur Dulu
56 IB 56: Rindu
57 IB 57: Berkunjung
58 IB 58: Sedikit Ramai
59 IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60 IB 60: Bicaralah!
61 IB 61: Anak Itu Rejeki
62 IB 62: Milikku Sepenuhnya
63 IB 63: Roda Kehidupan Berputar
Episodes

Updated 63 Episodes

1
IB 01: Pergi
2
IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3
IB 03: Induksi Laktasi
4
IB 04: Mimpi Risma
5
IB 05: Menikahlah
6
IB 06: Penolakan
7
IB 07: Masih Sama
8
IB 8: Keputusan
9
IB 09: Hanya Status
10
IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11
IB 11: Hal Baru
12
IB 12. Prasangka Gauri
13
IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14
IB 14: Kebingungan
15
IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16
IB 16: Cantik
17
IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18
IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19
IB 19: Terasa Kosong
20
IB 20: Pesona Istri
21
IB 21: Keirian
22
IB 22: Sakit
23
IB 23: Aku Egois
24
IB 24: Terkejut
25
IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26
IB 26: Mari Pacaran
27
IB 27: Hasil Penyelidikan
28
IB 28: Sebuah Rencana
29
IB 29: Bolehkah Egois?
30
IB 30: Sekedar Pemanasan
31
IB 31: Seperti Baru
32
IB 32: Tamu Tak Diundang
33
IB 33: Fitnah Datang
34
IB 34: Kenapa
35
IB 35: Trauma Sialan
36
IB 36: Kepuasan
37
IB 37: Bukan Kamu
38
IB 38: Tidak Salah
39
IB 39: Konferensi Pers
40
IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41
IB 41: Mengundurkan Diri
42
IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43
IB 43: Tidak Percaya
44
IB 44: Gamang
45
IB 45: Hubungan Layak
46
IB 46: Konfirmasi
47
IB 47: Terkejut
48
IB 48: Kegalauan
49
IB 49: Benda Apa Itu?
50
IB 50: Banyak Pikiran
51
IB 51: Permintaan
52
IB 52: Perkembangan Aara
53
IB 53: Bangun Ra!
54
IB 54: Fawwas Panik
55
IB 55: Libur Dulu
56
IB 56: Rindu
57
IB 57: Berkunjung
58
IB 58: Sedikit Ramai
59
IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60
IB 60: Bicaralah!
61
IB 61: Anak Itu Rejeki
62
IB 62: Milikku Sepenuhnya
63
IB 63: Roda Kehidupan Berputar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!