Fawwas membuka pintu dengan perlahan. Baru pukul 21.00 malam, tapi lampu utama di rumahnya sudah dipadamkan. Hal ini menandakan bahwa sudah tidak ada aktifitas dari orang-orang yang ada di dalam rumah. Tapi lampu kamar milik Aara masih menyala, ia ingin melihat sebentar tapi Fawwas memutuskan ke kamar terlebih dulu karena ingin membersihkan tubuh dan berganti pakaian.
" Neida belum tidur kah?" gumam Fawwas sambil masuk ke kamarnya. Dengan cepat ia menyelesaikan kegiatan bersih-bersih tersebut, tadi di rumah sakit dia sudah mandi, jadi dia hanya mengganti pakaiannya saja dengan mengunakan piyama. Ya, itu adalah kebiasaan Fawwas.
Tap! Tap! Tap!
Fawwas berjalan pelan menuju kemar Aara, dia membuka pintu kamar seperti biasa karena dia pikir Neida belum tidur. Tapi saat sudah melangkahkan kaki ke dalam kamar dia menemui bahwa keduanya sudah tidur.
" Ra, apakah kamu sudah tidur?" panggil Fawwas. Ia ingin memastikan hal tersebut karena Aara tidur menghadap ke tempat lain dengan posisi Fawwas hanya melihat punggung Aara saat ini. Tidak mendapat respon, ia meyakini bahwa Aara memang sudah tidur. Dan Fawwas yakin Neida tidur di sebelah Aara karena tidak ada di box bayinya.
Pria itu berjalan pelan ke arah sisi lain tempat tidur. Ia harus mengambil Neida dan menaruhnya ke dalam box agar baik Aara maupun Neida bisa tidur lebih nyaman. Namun sebuah pemandangan membuat wajah Fawwas bersemu merah. Ia bahkan langsung membalikkan tubuhnya. Ya, Fawwas melihat Aara dan Neida tertidur pulas memang, tapi buka itu yang membuatnya terkejut. Fawwas melihat mulut Neida masih menempel di pa yu dara milik Aara, dan tentu saja bulatan kenyal milik Aara itu terekspos dengan sempurna.
Fawwas melangkah kakinya hendak keluar dari kamar, tapi detik berikutnya ia kembali lagi. Dia tidak bisa membiarkan Neida dan Aara tidur dalam posisi seperti ini. Neida bisa saja tertindih atau kesusahan bernafas dan Aara juga bisa masuk angin karena bagian tubuhnya tidak tertutup.
" A-apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus membangunkan Aara? Tapi dia terlihat sangat lelah," lirih Fawwas. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Fawwas sebagai seorang dokter tentu dia sudah biasa melihat bagian tubuh manusia bahkan hingga terdalamnya. Sedangkan sebagi seorang laki-laki, dia juga sudah biasa melihat milik Aira dulu, tapi ini kan berbeda. Aara memang istrinya, namun hubungan mereka tidak seperti suami istri pada umumnya.
" A-aku harus tetap mengambil Neida. Tapi bagaimana mengambil Neida dari Aara?"
Fawwas sedang berpikir akan hal itu. Dan pada akhirnya Fawwas memberanikan diri untuk mengangkat Neida. Beruntung mulut Neida sudah melonggar dari pu-ting Aara, jadi Fawwas tidak harus berusaha keras untuk melepaskannya.
" Fiuuuuh, ini lebih menegangkan dari pada membedah tubuh manusia. Wajahnya terlihat sangat lelah. Aku tidak pernah melihatnya kelelahan begini bahkan saat dia masih sibuk menjadi dokter kandungan."
Fawwas menaikkan selimut hingga menutupi seluruh tubuh Aara hingga ke leher. Fawwas jelas tidak berani untuk membenahi pakaian Aara, maka dari itu ia memilih untuk menyelimutinya. Fawwas mengulurkan tangannya, ia hendak membelai wajah Aara dan menyingkirkan surai rambut yang menutupi wajah istrinya itu. Akan tetapi ia kembali menarik tangannya. Fawwas urung melakukan hal tersebut, ia memilih untuk keluar dari kamar setelah mencium kening Neida. Fawwas berhati-hati dalam menutup pintu agar tidak membangunkan keduanya.
" Apa yang aku pikirkan?" Fawwas mengusap wajahnya kasar, ia merasa hatinya sedikit tergerak melihat wajah Aara yang sangat kelelahan. Tapi saat ini ada hal lain yang menelusup ke dalam pikiran pria itu. Pertanyaan tempo hari mengenai kapan Aara siap kembali ke rumah sakit, tidak pernah mendapat jawaban dari Aara. Fawwas merasa sedikit ada yang janggal dengan hal ini.
" Apakah kira-kira Appa tahu ya? Aara lumayan dekat juga dengan Appa. Pasti saat dia ingin berhenti sejenak dari rumah sakit, juga sudah bicara pada Appa. Apakah sebaiknya aku bertanya? Tapi, sebenarnya untuk apa aku begitu penasaran seperti sekarang ini?"
Malam tersebut Fawwas tidur dengan membawa semua pikiran tentang Aara. Bukan hanya mengenai profesi yang Aara tinggalkan untuk merawat Neida, tapi bagaimana keberlangsungan kehidupan Aara kedepannya.
Seperti pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba, keesokan harinya Fawwas mendapat pesan dari sang ibu untuk datang ke rumah membawa Aara dan Neida. Gauri ternyata tahu kalau hari ini Fawwas sedang off dari pekerjaannya.
" Ra, Amma minta kita untuk ke rumah," ucap Fawwas saat mereka sedang sarapan bersama.
" Ya Kak, aku akan menyiapkan keperluan Neida dulu." Aara menyahut ucapan Fawwas tanpa melihat wajah lawan bicaranya. Bahkan sepanjang sarapan Aara hanya menundukkan kepalanya. Dan dia pun berlalu menuju ke kamar juga tanpa melihat Fawwas.
" Aara, kenapa dari tadi sepertinya dia menghindari bertatapan dengan ku," gumam Fawwas lirih, ia lalu melanjutkan acara makan paginya tersebut.
Sedangkan Aara, jantungnya berdegup kencang. Ia masuk ke kamarnya lalu menutup pintu dengan rapat. Aara menyandarkan tubuhnya di pintu lalu memegang dadanya dengan erat. Wajahnya bersemu merah, ya wajah cantiknya itu semakin cantik sebenarnya saat ia merona. Tapi Aara tentu tidak pernah memperhatikan hal tersebut.
" Bagaimana aku bis menghadapi Kak Fawwas, aku yakin semalam Kak Fawwas lah yang memindahkan Neida dan menyelimuti ku. Aaah, padahal aku ingat, aku sedang menyusui Neida, lalu kami tertidur, bukankah berarti kak Fawwas melihat milikku lagi? Aargggh, aku sungguh malu."
Ternyata dari tadi Aara memikirkan hal yang terjadi semalam. Ia sedikit terkejut saat bangun tidur menemukan dirinya sudah terselimuti dan Neida juga tertidur pulas di box.
" Aah sudahlah, aku lagi Kak Fawwas bereaksi biasa saja. Mungkin hanya aku yang berpikir lebih. Dia pasti tidak punya pikiran yang bagaimana-bagaimana. Ya, sekarang lebih baik menyiapkan Neida untuk berkunjung ke rumah Amma dan Appa."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Nanik Kusno
🥴🥴🥴🥴🥴🥴🥴🥴🥴🥴 hmmmmm
2024-12-14
0
Ani Ani
Malu TAPI mahu
2024-07-05
0
Bunda'nya Alfaro Dan Alfira
penyiksaan yang sesungguh nya....hahahahahahaha..tertawa jahat...🤣🤣🤣🤣🤣
2024-01-11
1