IB 05: Menikahlah

Pagi harinya, tampak Aara sedang menggendong dan menjemur Neida. Terlihat wajahnya yang berseri ketika tangan mungil Neida menggenggam jarinya. Tapi tidak lama kemudian air matanya luruh dan menghasilkan sebuah isakan pelan. Aara secepatnya mengusap air matanya tersebut.

" Kak Aira, apa kakak tahu kalau anakmu ini sungguh cantik. Matanya serupa dengan matamu tapi hidungnya milik Kak Fawwas. Tapi aku sungguh bisa melihat mu melalui mata Neida," lirih Aara.

Dada Aara sesak, sangat sesak malah. Ia kembali lagi teringat bagaimana ia dan Aira tumbuh bersama. Hanya terpaut satu tahun usia membuat mereka sangat dekat. Dan ajaibnya tidak pernah ada pertengkaran apapun. Jika biasanya saudari perempuan adalah partner bertengkar karena urusan pakaian, make up dan lain-lain, tapi tidak dengan mereka. Selera mereka yang berbeda tidak membuat mereka saling pinjam atupun berebut.

" Sayang, mengapa kamu tidak berangkat bekerja?" Risma berjalan mendekati sang putri dan cucunya. Ia mengusap kepala Aara dengan lembut.

" Aku libur Bu, aku sudah mengajukan libur panjang kepada Appa. Beliau mengizinkannya," jawab Aara. Dia tidak berbohong, memang Bisma mengizinkannya untuk tidak berangkat ke rumah sakit dulu. Tapi sepertinya Risma tidak percaya begitu saja.

" Tidak ada hal lainnya kah? Nak jangan menyembunyikan apapun dengan Ibu mu, ceritakan ada apa sebenarnya. Memang benar kamu bisa izin libur, tapi bukankah tidak bisa dalam waktu yang lama?" Risma tidak percaya dengan ucapan si bungsu. Sepertinya bukan itu alasan utamanya.

Aara menunduk dalam, ia tahu bahwa dirinya tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari sang ibu. Tapi Aara tidak langsung menceritakan hal tersebut, ia memilih untuk membawa Neida kembali ke kamar terlebih dulu. Ini waktunya Neida untuk tidur.

" Sekarang, bisakah bercerita kepada Ibu?" desak Risma. Wajah putri keduanya jelas tidak bisa menyembunyikan apapun darinya. Dan, pada akhirnya Aara menceritakan tentang traumanya. Ia menceritakan semua yang dialami setelah sang kakak meninggal.

Risma tentu terkejut. Dia tidak tahu jika Aara mengalami hal tersebut. Dan ia juga tidak menyangka bahwa meninggalnya Aira membuat Aara tidak mampu melakukan pekerjaannya.

" Ya Allah, apa yang terjadi sayang? Mengapa semua ini bisa terjadi padamu. Apakah kamu sudah memeriksakan hal ini? Bukankah Faizal seorang psikolog? Coba datang kepadanya," usul Risma. Faizal adalah orang yang tepat untuk ditanya perihal apa yang saat ini Aara alami.

" Tidak Bu, untuk sementara ini biarlah seperti ini. Nanti pasti akan hilang dengan sendirinya. Lagipula ini adalah bagus, aku jadi bisa merawat Neida bukan?" jawab Aara dengan senyuman.

Sebenarnya Risma merasa khawatir dengan putri bungsunya itu, tapi mendengar Aara bicara dengan begitu tenang. Ia akan mencoba untuk menganggap bahwa semua itu baik-baik saja.

Aara dari dulu memang selalu bisa menyembunyikan perasaannya. Dia mungkin tidak bisa menyembunyikan sesuatu hal atau peristiwa, tapi rasa hatinya dia pintar betul untuk menyembunyikan.

Setelah selesai bicara dengan Risma, Aara kembali masuk ke kamar. Ia melihat wajah Neida dengan seksama. Ia teramat sangat menyayangi bayi mungil itu. Usul Risma untuk melakukan terapi/induksi laktasi* agar dia bisa menyusui Neida pun kini menjadi hal yang paling utama dia pikirkan.

" Apakah aku harus mencobanya? Dengan ini bukankah aku harus menjadi sepenuhnya ibu dari Neida. Tapi jika bukan aku siapa? Bukankah bayi memang lebih baik mengonsumsi ASI ketimbang susu formula. Ya, sepertinya aku akan mencoba nya."

*induksi laktasi adalah adopsi ASI yang dilakukan untuk menyusui bayi yang tidak dikandungnya. ASi yang dikeluarkan tidak ada bedanya dengan ibu yang melahirkan. hanya saja wanita yang melakukan induksi laktasi tidak menghasilkan laktogen plasenta manusia sehingga tidak ada kolostrum yang dihasilkan. Biasanya ini dilakukan pada wanita yang mengadopsi bayi. ( sumber: halodoc.dom)

🍀🍀🍀

Fawwas kembali bekerja, ia kembali ke rumah sakit setelah sekian lama berdiam diri di rumah. Fawwas berpapasan dengan sang adik--Faizal. Faizal bisa melihat jelas bahwa kakaknya itu masih belum bisa sepenuhnya terbebas dari kesedihan. Siapa yang tidak sedih, kehilangan istri sang tambatan hati.

" Kak, ikhlaskan. Jangan begini terus, kasihan Aira jika Kak Fawwas masih selalu meratapinya. Bukankah di agama kita diajarkan boleh bersedih tapi tidak boleh meratap? Itu akan memberatkan almarhumah di kuburnya," ucap Faizal. Sebagai seorang psikolog, dia tentu bisa membaca wajah Fawwas. Suka tidak suka, Fawwas harus segera bisa bangkit. Terlebih dia adalah dokter. Dia tidak boleh membawa suasana hatinya di dalam pekerjaan. Apalagi dokter bedah harus memiliki memiliki konsentrasi yang tinggi dalam menjalankan tugas.

" Iya, kau benar Zal. Aku harus segera bangkit. Ada Neida bersama ku, aku juga tidak boleh terus-terusan begini. Neida membutuhkan ayahnya. Dia sudah kehilangan ibunya, dia jelas tidak boleh kehilangan ayahnya juga. Thank Zal."

Fawwas tersenyum ke arah sang adik. Sebuah pelukan hangat Faizal berikan kepada kakaknya tersebut. Mereka hidup bersama sejak lama, tentu sudah saling memahami satu sama lain. Bukan karena Faizal seorang psikolog juga. Tapi lebih dari itu mereka adalah keluarga.

Pekerjaan hari ini berjalan lancar, Fawwas memilih kembali ke ruang kedua orang tuanya. Ia akan benar-benar kembali ke rumah pribadinya ketika Neida sudah ia bawa bersamanya.

Di rumah sudah ada Bisma dan Gauri. Fawwas sedikit heran ketika melihat kedua orang tuanya itu duduk manis di ruang keluarga. Mengapa Fawwas meras begitu? Karena sebelumnya Bisma dan Gauri akan ada di kamar atau di taman belakang rumah.

" Appa, Amma, ada apa? Kok tumben wajahnya serius begitu. Apakah ada yang mau dibicarakan?" tanya Fawwas.

 " Duduklah dulu nak, ada yang mau kami sampaikan," ucap Bisma.

" Aah tidak, lebih baik ganti baju mu dulu ke kamar. Setalah itu baru kemari. Kamu akan menunggumu. Cepat sana," suruh Gauri.

Bisma menatap sang istri, dan Gauri hanya merespon dengan anggukan kepala. Hal ini tidak boleh dibicarakan terburu-buru kepada Fawwas. Apalagi anak itu baru saja pulang bekerja. Ras lelah masih mendominasi. Gauri tidak ingin Fawwas menjadi marah nantinya.

Di dalam kamarnya Fawwas mencoba memikirkan sikap aneh kedua orang tuanya. Ia memikirkan segala situasi yang mungkin akan terjadi, tapi sama saja dia tidak mendapatkan apapun. Tidak ada pencerahan sama sekali. Pria berusia 29 tahun itu memilih untuk segera menyelesaikan ritual mandinya dan bergegas menghadap Amma dan Appa nya.

" Aku sudah selesai, ada apa sebenarnya? Mengapa Amma dan Appa seperti sudah melakukan kesalahan besar?" tanya Fawwas asal.

Sebuah tatan tajam dilayangkan oleh Gauri yang membuat Fawwas langsung menundukkan kepalanya. Ia kini tahu saat ini bukan waktunya untuk bercanda. Ada hal serius yang ingin disampaikan kedua orang tuanya tersebut.

" Fawwas, menikahlah dengan Aara."

" Apa??"

TBC

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Setidaknya ..demi anakmu Fawwas...

2024-12-13

0

komalia komalia

komalia komalia

Pasti lah fawas kaget

2024-09-26

0

Ani Ani

Ani Ani

dah ada cerita

2024-07-05

0

lihat semua
Episodes
1 IB 01: Pergi
2 IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3 IB 03: Induksi Laktasi
4 IB 04: Mimpi Risma
5 IB 05: Menikahlah
6 IB 06: Penolakan
7 IB 07: Masih Sama
8 IB 8: Keputusan
9 IB 09: Hanya Status
10 IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11 IB 11: Hal Baru
12 IB 12. Prasangka Gauri
13 IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14 IB 14: Kebingungan
15 IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16 IB 16: Cantik
17 IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18 IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19 IB 19: Terasa Kosong
20 IB 20: Pesona Istri
21 IB 21: Keirian
22 IB 22: Sakit
23 IB 23: Aku Egois
24 IB 24: Terkejut
25 IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26 IB 26: Mari Pacaran
27 IB 27: Hasil Penyelidikan
28 IB 28: Sebuah Rencana
29 IB 29: Bolehkah Egois?
30 IB 30: Sekedar Pemanasan
31 IB 31: Seperti Baru
32 IB 32: Tamu Tak Diundang
33 IB 33: Fitnah Datang
34 IB 34: Kenapa
35 IB 35: Trauma Sialan
36 IB 36: Kepuasan
37 IB 37: Bukan Kamu
38 IB 38: Tidak Salah
39 IB 39: Konferensi Pers
40 IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41 IB 41: Mengundurkan Diri
42 IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43 IB 43: Tidak Percaya
44 IB 44: Gamang
45 IB 45: Hubungan Layak
46 IB 46: Konfirmasi
47 IB 47: Terkejut
48 IB 48: Kegalauan
49 IB 49: Benda Apa Itu?
50 IB 50: Banyak Pikiran
51 IB 51: Permintaan
52 IB 52: Perkembangan Aara
53 IB 53: Bangun Ra!
54 IB 54: Fawwas Panik
55 IB 55: Libur Dulu
56 IB 56: Rindu
57 IB 57: Berkunjung
58 IB 58: Sedikit Ramai
59 IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60 IB 60: Bicaralah!
61 IB 61: Anak Itu Rejeki
62 IB 62: Milikku Sepenuhnya
63 IB 63: Roda Kehidupan Berputar
Episodes

Updated 63 Episodes

1
IB 01: Pergi
2
IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3
IB 03: Induksi Laktasi
4
IB 04: Mimpi Risma
5
IB 05: Menikahlah
6
IB 06: Penolakan
7
IB 07: Masih Sama
8
IB 8: Keputusan
9
IB 09: Hanya Status
10
IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11
IB 11: Hal Baru
12
IB 12. Prasangka Gauri
13
IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14
IB 14: Kebingungan
15
IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16
IB 16: Cantik
17
IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18
IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19
IB 19: Terasa Kosong
20
IB 20: Pesona Istri
21
IB 21: Keirian
22
IB 22: Sakit
23
IB 23: Aku Egois
24
IB 24: Terkejut
25
IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26
IB 26: Mari Pacaran
27
IB 27: Hasil Penyelidikan
28
IB 28: Sebuah Rencana
29
IB 29: Bolehkah Egois?
30
IB 30: Sekedar Pemanasan
31
IB 31: Seperti Baru
32
IB 32: Tamu Tak Diundang
33
IB 33: Fitnah Datang
34
IB 34: Kenapa
35
IB 35: Trauma Sialan
36
IB 36: Kepuasan
37
IB 37: Bukan Kamu
38
IB 38: Tidak Salah
39
IB 39: Konferensi Pers
40
IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41
IB 41: Mengundurkan Diri
42
IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43
IB 43: Tidak Percaya
44
IB 44: Gamang
45
IB 45: Hubungan Layak
46
IB 46: Konfirmasi
47
IB 47: Terkejut
48
IB 48: Kegalauan
49
IB 49: Benda Apa Itu?
50
IB 50: Banyak Pikiran
51
IB 51: Permintaan
52
IB 52: Perkembangan Aara
53
IB 53: Bangun Ra!
54
IB 54: Fawwas Panik
55
IB 55: Libur Dulu
56
IB 56: Rindu
57
IB 57: Berkunjung
58
IB 58: Sedikit Ramai
59
IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60
IB 60: Bicaralah!
61
IB 61: Anak Itu Rejeki
62
IB 62: Milikku Sepenuhnya
63
IB 63: Roda Kehidupan Berputar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!