Pagi harinya, tampak Aara sedang menggendong dan menjemur Neida. Terlihat wajahnya yang berseri ketika tangan mungil Neida menggenggam jarinya. Tapi tidak lama kemudian air matanya luruh dan menghasilkan sebuah isakan pelan. Aara secepatnya mengusap air matanya tersebut.
" Kak Aira, apa kakak tahu kalau anakmu ini sungguh cantik. Matanya serupa dengan matamu tapi hidungnya milik Kak Fawwas. Tapi aku sungguh bisa melihat mu melalui mata Neida," lirih Aara.
Dada Aara sesak, sangat sesak malah. Ia kembali lagi teringat bagaimana ia dan Aira tumbuh bersama. Hanya terpaut satu tahun usia membuat mereka sangat dekat. Dan ajaibnya tidak pernah ada pertengkaran apapun. Jika biasanya saudari perempuan adalah partner bertengkar karena urusan pakaian, make up dan lain-lain, tapi tidak dengan mereka. Selera mereka yang berbeda tidak membuat mereka saling pinjam atupun berebut.
" Sayang, mengapa kamu tidak berangkat bekerja?" Risma berjalan mendekati sang putri dan cucunya. Ia mengusap kepala Aara dengan lembut.
" Aku libur Bu, aku sudah mengajukan libur panjang kepada Appa. Beliau mengizinkannya," jawab Aara. Dia tidak berbohong, memang Bisma mengizinkannya untuk tidak berangkat ke rumah sakit dulu. Tapi sepertinya Risma tidak percaya begitu saja.
" Tidak ada hal lainnya kah? Nak jangan menyembunyikan apapun dengan Ibu mu, ceritakan ada apa sebenarnya. Memang benar kamu bisa izin libur, tapi bukankah tidak bisa dalam waktu yang lama?" Risma tidak percaya dengan ucapan si bungsu. Sepertinya bukan itu alasan utamanya.
Aara menunduk dalam, ia tahu bahwa dirinya tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari sang ibu. Tapi Aara tidak langsung menceritakan hal tersebut, ia memilih untuk membawa Neida kembali ke kamar terlebih dulu. Ini waktunya Neida untuk tidur.
" Sekarang, bisakah bercerita kepada Ibu?" desak Risma. Wajah putri keduanya jelas tidak bisa menyembunyikan apapun darinya. Dan, pada akhirnya Aara menceritakan tentang traumanya. Ia menceritakan semua yang dialami setelah sang kakak meninggal.
Risma tentu terkejut. Dia tidak tahu jika Aara mengalami hal tersebut. Dan ia juga tidak menyangka bahwa meninggalnya Aira membuat Aara tidak mampu melakukan pekerjaannya.
" Ya Allah, apa yang terjadi sayang? Mengapa semua ini bisa terjadi padamu. Apakah kamu sudah memeriksakan hal ini? Bukankah Faizal seorang psikolog? Coba datang kepadanya," usul Risma. Faizal adalah orang yang tepat untuk ditanya perihal apa yang saat ini Aara alami.
" Tidak Bu, untuk sementara ini biarlah seperti ini. Nanti pasti akan hilang dengan sendirinya. Lagipula ini adalah bagus, aku jadi bisa merawat Neida bukan?" jawab Aara dengan senyuman.
Sebenarnya Risma merasa khawatir dengan putri bungsunya itu, tapi mendengar Aara bicara dengan begitu tenang. Ia akan mencoba untuk menganggap bahwa semua itu baik-baik saja.
Aara dari dulu memang selalu bisa menyembunyikan perasaannya. Dia mungkin tidak bisa menyembunyikan sesuatu hal atau peristiwa, tapi rasa hatinya dia pintar betul untuk menyembunyikan.
Setelah selesai bicara dengan Risma, Aara kembali masuk ke kamar. Ia melihat wajah Neida dengan seksama. Ia teramat sangat menyayangi bayi mungil itu. Usul Risma untuk melakukan terapi/induksi laktasi* agar dia bisa menyusui Neida pun kini menjadi hal yang paling utama dia pikirkan.
" Apakah aku harus mencobanya? Dengan ini bukankah aku harus menjadi sepenuhnya ibu dari Neida. Tapi jika bukan aku siapa? Bukankah bayi memang lebih baik mengonsumsi ASI ketimbang susu formula. Ya, sepertinya aku akan mencoba nya."
*induksi laktasi adalah adopsi ASI yang dilakukan untuk menyusui bayi yang tidak dikandungnya. ASi yang dikeluarkan tidak ada bedanya dengan ibu yang melahirkan. hanya saja wanita yang melakukan induksi laktasi tidak menghasilkan laktogen plasenta manusia sehingga tidak ada kolostrum yang dihasilkan. Biasanya ini dilakukan pada wanita yang mengadopsi bayi. ( sumber: halodoc.dom)
🍀🍀🍀
Fawwas kembali bekerja, ia kembali ke rumah sakit setelah sekian lama berdiam diri di rumah. Fawwas berpapasan dengan sang adik--Faizal. Faizal bisa melihat jelas bahwa kakaknya itu masih belum bisa sepenuhnya terbebas dari kesedihan. Siapa yang tidak sedih, kehilangan istri sang tambatan hati.
" Kak, ikhlaskan. Jangan begini terus, kasihan Aira jika Kak Fawwas masih selalu meratapinya. Bukankah di agama kita diajarkan boleh bersedih tapi tidak boleh meratap? Itu akan memberatkan almarhumah di kuburnya," ucap Faizal. Sebagai seorang psikolog, dia tentu bisa membaca wajah Fawwas. Suka tidak suka, Fawwas harus segera bisa bangkit. Terlebih dia adalah dokter. Dia tidak boleh membawa suasana hatinya di dalam pekerjaan. Apalagi dokter bedah harus memiliki memiliki konsentrasi yang tinggi dalam menjalankan tugas.
" Iya, kau benar Zal. Aku harus segera bangkit. Ada Neida bersama ku, aku juga tidak boleh terus-terusan begini. Neida membutuhkan ayahnya. Dia sudah kehilangan ibunya, dia jelas tidak boleh kehilangan ayahnya juga. Thank Zal."
Fawwas tersenyum ke arah sang adik. Sebuah pelukan hangat Faizal berikan kepada kakaknya tersebut. Mereka hidup bersama sejak lama, tentu sudah saling memahami satu sama lain. Bukan karena Faizal seorang psikolog juga. Tapi lebih dari itu mereka adalah keluarga.
Pekerjaan hari ini berjalan lancar, Fawwas memilih kembali ke ruang kedua orang tuanya. Ia akan benar-benar kembali ke rumah pribadinya ketika Neida sudah ia bawa bersamanya.
Di rumah sudah ada Bisma dan Gauri. Fawwas sedikit heran ketika melihat kedua orang tuanya itu duduk manis di ruang keluarga. Mengapa Fawwas meras begitu? Karena sebelumnya Bisma dan Gauri akan ada di kamar atau di taman belakang rumah.
" Appa, Amma, ada apa? Kok tumben wajahnya serius begitu. Apakah ada yang mau dibicarakan?" tanya Fawwas.
" Duduklah dulu nak, ada yang mau kami sampaikan," ucap Bisma.
" Aah tidak, lebih baik ganti baju mu dulu ke kamar. Setalah itu baru kemari. Kamu akan menunggumu. Cepat sana," suruh Gauri.
Bisma menatap sang istri, dan Gauri hanya merespon dengan anggukan kepala. Hal ini tidak boleh dibicarakan terburu-buru kepada Fawwas. Apalagi anak itu baru saja pulang bekerja. Ras lelah masih mendominasi. Gauri tidak ingin Fawwas menjadi marah nantinya.
Di dalam kamarnya Fawwas mencoba memikirkan sikap aneh kedua orang tuanya. Ia memikirkan segala situasi yang mungkin akan terjadi, tapi sama saja dia tidak mendapatkan apapun. Tidak ada pencerahan sama sekali. Pria berusia 29 tahun itu memilih untuk segera menyelesaikan ritual mandinya dan bergegas menghadap Amma dan Appa nya.
" Aku sudah selesai, ada apa sebenarnya? Mengapa Amma dan Appa seperti sudah melakukan kesalahan besar?" tanya Fawwas asal.
Sebuah tatan tajam dilayangkan oleh Gauri yang membuat Fawwas langsung menundukkan kepalanya. Ia kini tahu saat ini bukan waktunya untuk bercanda. Ada hal serius yang ingin disampaikan kedua orang tuanya tersebut.
" Fawwas, menikahlah dengan Aara."
" Apa??"
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Setidaknya ..demi anakmu Fawwas...
2024-12-13
0
komalia komalia
Pasti lah fawas kaget
2024-09-26
0
Ani Ani
dah ada cerita
2024-07-05
0