Dua hari berlalu, Fawwas masih diam saja. Ia enggan berbicara dengan kedua orang tuanya. Terakhir mereka bicara adalah ketika Gauri dan Bisma meminta Fawwas untuk menikahi Aara.
" Amma, Kak Fawwas kenapa?" tanya Faizal. Saat ini mereka sedang sarapan bersama, dan Fawwas melewatkannya juga. Faizal yang tidak tahu menahu dengan urusan di dalam rumah itu hanya menatap penuh dengan rasa heran.
Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Gauri. Ibu dua anak itu sedikit kebingungan, harus bagaimana kembali bicara dengan putranya. Kemarin dia ingin mencoba membujuk Fawwas tapi belum jadi bicara Fawwas sudah lebih dulu pergi. Bahkan Gauri menunggu putranya pulang kerja, tapi Fawwas juga tidak kunjung pulang. Sepertinya Fawwas memang menghindari Gauri.
" Kakak mu marah. Amma dan Appa memintanya untuk menikah dengan Aara," ungkap Gauri.
" Uhuk ... uhuk ... apa? Faizal tidak salah dengar kan? Kak Fawwas menikah dengan Aara?"
Faizal sangat terkejut, bahkan dia yang baru saja memasukkan sandwich ke mulut hampir saja mengeluarkannya lagi. Pantas saja dua hari ini kakaknya menunjukkan raut wajah kesal kepada kedua orang tuanya. Ternyata ini lah penyebabnya. Faizal tidak mengerti apa alasan Amma dan Appa nya meminta Faizal menikahi adik iparnya sendiri. Tapi Faizal yakin pasti itu sudah dibicarakan dengan matang.
" Bisakah kamu membujuk kakak mu, aah tidak. Ini tugas Amma. Nanti Amma akan bicara langsung kepada Fawwas. Lanjutkan sarapanmu, bukanlah Appa mu sudah berangkat. Kalian ada rapat bukan?"
Sreeet
Tap! Tap! Tap!
Tanpa banyak bicara lagi, Faizal langsung bangkit dari duduknya dan berangkat ke rumah sakit. Tidak lupa dia mencium tangan dan pipi Gauri. Pria berusia 26 tahun itu masih kepikiran dengan ucapan ibunya mengenai rencana perjodohan Fawwas dan Aara. Ada sedikit hal yang mengganggu pikirannya, apakah Fawwas mau dengan rencana ini. Tapi sesuatu melintas ke kepala pria tersebut, Neida, mungkin keponakannya itu lah yang menjadi alasan terbesar.
" Ya, semua pasti untuk Neida. Tidak mungkin keluarga Ananta ingin cepat-cepat menikahkan putri keduanya kalau bukan soal Neida," gumam Faizal lirih. Tapi apapun itu jelas bukan ranah Faizal. Ia tidak ada hal dan kewajiban untuk ikut campur dalam urusan ini. Ia hanya akan jadi pendengar dan pemberi nasehat jika dibutuhkan.
Drap! Drap! Drap!
Suara derap langkah kaki mendekat ke ruangan Fawwas, dan tanpa izin pintu ruangannya dibuka paksa. Terlihat seseorang wanita memakai pakaian yang biasa digunakan dokter untuk operasi, masker yang menutupi sebagian wajah dan rambut yang digelung ke atas ada di depan pintu.
" Fawwas, tolong segera ke ruang operasi nomor 2, ada pasien yang baru saja masuk ER, tapi ini hanya kamu yang bisa menangani!"ucap wanita tersebut. Terlihat raut wajah yang penuh dengan kepanikan.
Tidak banyak bertanya, Fawwas langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju ruang operasi. Ia tahu pasti ada sesuatu hal yang terjadi, dimana itu pasti bukan yang baik.bDan benar saja, di lantai banyak darah yang tercecer. Di dalam sana operasi sedang berlangsung, dan semua melakukan tugasnya sesuai job desk. Tapi ada seorang dokter yang tidak melakukan apa-apa. Dia hanya diam dan terlihat gemetaran sambil melihat darah yang terus keluar.
" Minggir!" teriak Fawwas dengan ekspresi dingin dan tatapan yang tajam. Dokter itu mundur beberapa langkah dan membiarkan Fawwas bekerja. Semua kembali fokus melanjutkan tindakan operasi.
" Status!"
" Normal Dokter Fawwas, denyut jantung pasien kembali ke keadaan normal," jawab dokter anestesi.
" Terimakasih dokter sudah bekerja keras!" imbuh yang lainnya.
Fawwas keluar dari rumah operasi diikuti wanita yang memanggilnya dan juga dokter yang tubuhnya gemetar.
Sreet
Sraak
Fawwas melepaskan masker, jubah berwarna biru dan tutup kepalanya. Ia lalu membuang semuanya itu di tempat sampah. Kedua tangannya berada di pinggang, namun ia masih diam seribu bahasa. Sedangkan di dokter yang gemetar tadi hanya bisa menundukkan kepalanya. Dari ekspresi wajahnya sangat terlihat bahwa dia ketakutan.
" Dokter Arsyad Dafar Sanusi, Anda tahu apa yang Anda lakukan bukan? Anda tahu bahwa Anda tidak punya kualifikasi untuk mengoperasi pasien, lalu mengapa Anda punya keberanian melakukan itu. Jangan kira karena Anda adalah putra salah satu dokter senior di sini lalu Anda bisa berbuat sesuka hati. Ini bukan soal pengakuan, tapi nyawa manusia. Pertama dan terakhir, saya harap Anda mengingat ini. Jika tidak, maka saya tidak akan segan mengajukan permohonan pemecatan Anda."
Tap! Tap! Tap!
Fawwas berjalan dengan cepat meninggalkan Arsyad, rasa amarah yang saat ini sedang berada dalam dirinya tentu tidak boleh ia ungkapkan. Ia sebisa mungkin menahannya. Bukan hanya sekali sebenarnya kejadian serupa dialami, ini sudah yang ketiga kalinya. Dua kali sebelumnya Fawwas enggan untuk berbicara, namun dirasa sudah keterlaluan sehingga pada Akhirnya ia pun buka suara.
" Sialan, dia selalu semena-mena," geram Arsyad. Tampaknya pria itu tidak belajar dari kesalahannya. Hampir saja dia membunuh pasien dia meja operasi, ia lupa akan hal itu. Tubuhnya yang bergetar hebat pun ia lupakan, dan malah balik memaki dan bukannya merenungi.
" Syad, seperti nya kamu harus ke psikolog atau psikiater. Kacau kau! Apa yang dikatakan Fawwas sepenuhnya benar. Kamu sudah salah bertindak dan itu fatal. Sebaiknya kamu hati-hati."
"Halah, kau selalu membelanya Nis. Aku tahu kau menyukainya dari dulu," sergah Arsyad.
Nisya--nama wanita itu, hanya menggelengkan kepalanya. Ia memilih pergi dari sana. Arsyad sungguh tidak tertolong lagi. Obsesinya ingin melebihi Fawwas hampir saja membuat jatuhnya korban. Arsyad, Nisya, dan Fawwas memanglah satu angkatan saat masuk menjadi dokter di RSMH. Namun, kemampuan Fawwas membuatnya jauh berjalan di depan melebihi dua orang tersebut. Jika Nisya merasa bangga, tentu tidak dengan Arsyad. Arsyad menjadi benci atas keberhasilan Fawwas.
Tok! Tok! Tok!
" Masuk, oh kamu Nis. Kalau mau membicarakan tentang Arsyad sebaiknya tidak usah. Aku sedang dalam mood yang tidak bagus untuk membicarakan hal tentang dia." Belum juga Nisya membuka mulutnya, Fawwas terlebih dulu sudah mengultimatum. Pada akhirnya Nisya hanya tersenyum lalu menarik kursi untuk duduk. Ia sejenak memerhatikan teman yang duduk di depannya itu. Fawwas selalu tampan, dan ya benar kata Arsyad, bahwa sampai sekarang pun Nisya masih menyukai Fawwas.
" Bagaimana harimu? Bagaimana kabar putrimu?" tanya Nisya mencoba untuk membuka percakapan dengan Fawwas.
" Alhamdulillah baik, Neida juga baik. Semuanya berjalan seperti biasa. Tidak ada yang spesial. Yang spesial, putriku semakin gemuk dan tentu saja sehat," jelas Fawwas dengan senyuman simpul.
Jawaban sederhana itu membuat Nisya menghembuskan nafasnya pelan. Hingga detik ini, dia sama sekali tidak bisa menyentuh hati Fawwas. Bahkan jika boleh menyimpulkan Fawwas semakin dingin berekspresi.
" Masih sama, dan kamu tetap tidak pernah memandangku," batin Nisya.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Sabarlah... sekarang Fawwas masih berduka.... cintanya hanya untuk istrinya..
2024-12-13
0
Ani Ani
Cinta nya Masih untuk isteri
2024-07-05
0
Miss Typo
jangan terlalu berharap Nisya, karna jodoh dokter duren itu Aara
2024-03-19
1