Seminggu berada di kediaman Gauri dan Bisma, dan seminggu pula Fawwas terbangun dengan kondisi sedang memeluk Aara. Pernah di suatu malam Fawwas terbangun dengan posisi dirinya dan Aara saling berhadapan dan memeluk satu sama lain. Fawwas bisa mencium aroma rambut dan tubuh Aara. Dalam pelukannya. Bahkan hembusan nafas Aara pun bisa ia rasakan. Ia juga bisa mengetahui bahwa tubuh Aara lumayan berisi sekarang.
Dan, sesuatu yang tidak ia duga muncul. Hasrat Fawwas terbangun ketika dua buah benda kenyal milik Aara menempel tepat di dadanya. Fawwas sampai kesusahan bernafas malam itu.
" Ini ... sungguh menyiksa," gumam Fawwas. Dan sekarang mereka sudah kembali ke kediaman pribadi mereka sendiri. Fawwas bisa bernafas lega karena kejadian malam itu tidak akan terulang.
" Kak, aku bawa Neida ke kamar ya. Kakak butuh apa, aku akan siapkan," ucap Aara terhadap Fawwas.
" Tidak usah Ra, istirahat saja. Mumpung Neida tidur, kamu juga bisa ikutan tidur. Kalau aku membutuhkan sesuatu, aku bisa sendiri. Ada Bibi juga kok. Jadi istirahatlah." Fawwas mengatakan semua itu sembari tersenyum dan juga mengusap kepala Aara dengan lembut. Tanpa Fawwas ketahui, saat ini wajah Aara bersemu merah. Tapi Aara tidak memperlihatkan wajahnya yang merona itu, dia langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintunya dengan perlahan.
Sesungguhnya, ada satu hal yang membuat Aara menjadi seperti itu. Bagi Fawwas, ia menganggap bahwa Aara tidak tahu kalau setiap malam dirinya memeluk sang istri. Padahal Aara tahu, Aara juga merasakan bahwa pelukan hangat Fawwas menyentuh tubuhnya. Rengkuhan itu sungguh terasa nyata. Setiap bagian tubuh Fawwas menempel pada tubuhnya, membuat Aara merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
" Jika begini, apakah aku benar-benar tidak akan jatuh hati kepada nya? Kalau benar, apakah aku akan berdosa? Mengingat dia adalah suami almarhumah kakak ku. Apakah orang-orang akan menganggap aku serakah, dan memanfaatkan kematian kakakku serta keberadaan Neida untuk mendapatkannya?"
Aara berucap lirih, ia membelai lembut kepala Neida. Anak dari sang kakak yang saat ini sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Aara membuang nafasnya kasar. Ia sungguh berdoa agar tidak lagi terlibat kontak fisik seperti seminggu ini. Namun, jika mereka harus kembali menginap di rumah kedua orang tua, bukankah mereka akan mengalami hal yang serupa? Entahlah, saat ini yang ada di pikiran Aara hanya bagaimana ia membentengi hatinya agar tidak terlalu jatuh ke dalam jurang yang bernama cinta.
Berbeda dengan Aara, saat ini Fawwas sedang termangu. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya. Pandangan matanya lurus menatap ke arah langit-langit kamar. Lalu sesaat kemudian dia berguling-guling diatas tempat tidur yang cukup besar itu.
" Rasanya kosong dan sepi," gumam Fawwas. Ya dia merasakan hal tersebut sekarang. Ternyata efek menginap seminggu di rumah kedua orang tuanya membuat Fawwas mulai terbiasa dengan hadirnya Aara di kamarnya, terlebih di ranjangnya. Perasaan hangat saat ia memeluk tubuh Aara membuat dirinya kini menginginkan hal tersebut.
" Tunggu, apakah aku adalah seorang penjahat? Bagaimana bisa aku punya pikiran me-sum itu terhadap adik iparku? Tapi tunggu, bukankah Aara adalah istriku sekarang. Kalau aku melakukan hal itu, bukankah sah-sah saja. Tapi, tidak! Kita hanya menikah karena Neida. Tidak sepatutnya aku menginginkan lebih. Astaga! Aku melupakan sesuatu yang penting."
Fawwas mengetuk kepalanya sendiri kita ia mengingat sebuah hal yang seharusnya ia bicarakan dengan Aara dari kemarin. Mengenai traumanya. Rupanya ia sudah menemui Faizal juga, dan sang adik siap membantu Aara.
" Aku sungguh tidak ingin dia meninggalkan profesinya. Dia dokter yang sangat berbakat. Aku harus mengembalikan dia seperti dulu." Agaknya Fawwas sudah bertekad kuat untuk itu. Maka dari itu, hal yang pertama harus dia lakukan adalah mengajak Aara berbicara. " Besok saja, biarkan dia menikmati istirahatnya sekarang," gumam Fawwas lirih.
🍀🍀🍀
Malam menjelang. Fawwas sudah sedari pukul 21.00 tadi merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Akan tetapi matanya tak kunjung juga terpejam. Padahal sekarang sudah pukul 00.00 lewat. Fawwas mengusap wajahnya kasar. Dia tidak tahu mengapa sedari tadi hanya gelisah dan membolak-balik kan tubuhnya di atas ranjang.
" Heh, ada apa denganku sih? Kok tidak bisa tidur dari tadi, huft. Sebaiknya aku berjalan-jalan. Ah iya, minum susu hangat sepertinya merupakan pilihan terbaik."
Fawwas bangkit dari tempat tidurnya. Ia keluar kamar dan berjalan perlahan menuju ke dapur. Fawwas tidak ingin membuat orang lain bangun, maka dari itu dia meminimalisir suara. Baik suara berjalannya maupun suara di dapur ketika tengah membuat susu.
Glek ... glek ... glek!
Ia menghabiskan susu yang dibuatnya dengan sekali teguk. Semua bersih tandas dan tidak bersisa. Fawwas kembali berjalan menuju ke kamarnya. Tapi matanya melirik ke arah kamar Aara dan Neida. Tanpa sadar, kakinya melangkah ke kamar tersebut.
" Lho, kok sudah di depan kamar. Aah, pasti aku ingin melihat Neida. Ya, untuk apa aku kesini jika bukan untuk melihat Neida."
Fawwas sungguh belum menyadari dengan apa yang ia rasakan. Ada penyangkalan yang dilakukan hatinya saat ini. Fawwas masih berusaha menyangkal bahwa dirinya mulai peduli dengan keberadaan Aara.
Ceklek .... ngeeeek
Pria itu membuka pintu kamar secara perlahan. Ia berjalan mengendap, dilihatnya Neida tertidur pulas di dalam box bayi miliknya. Fawwas menatap wajah putrinya itu dengan seksama, lalu ia tersenyum. Hadirnya Neida sungguh berkah yang luar bias. Doa pun ia lantunkan dan ia tujukan untuk almarhumah sang istri. Perjuagan Aira melahirkan buah hatinya itu tidak lah mudah.
" Semoga sinar terang menyinari kuburmu sayang, aamiin."
Sudah cukup melihat sang putri, Fawwas membalikkan tubuhnya dan segera ingin keluar kamar. Akan tetapi langkahnya terhenti. Ia melirik ke arah ranjang. Di sana Aara tertidur sangat pulas. Dan lagi, pemandangan yang tidak biasa menganggu mata dan pikirannya. Kali ini Aara hanya menggunakan baju tidur berupa dress bertali spaghetti. Selimut yang tersibak menampilkan kaki panjang nan mulus milik wanita itu. Jangan lupakan paha milik Aara yang putih tanpa cela. Tubuh bagian atas juga terekspos, bahkan tali dress tidur itu melorot hingga ke lengan membuat dada Aara sedikit terlihat.
" Stop Fawwas, apa yang kamu lihat," pekik Fawwas dalam hati. Dia bahkan menutup wajahnya dengan tangan. Tapi sepertinya Fawwas tidak sekuat itu untuk sepenuhnya menutup matanya. Terbukti ia masih mencoba melihat pemandangan indah itu dari sela-sela jarinya.
Dug dug dug
Jantung Fawwas berdegup sangat cepat, nafasnya memburu, dan tubuhnya terasa panas. Tanpa sadar ia berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Fawwas semakin kesusahan menelan saliva nya saat dirinya menatap Aara dengan sangat dekat.
" Apa kamu memang secantik ini Ra, aku sungguh baru melihatnya sekarang. Maafkan aku, dan tidur lah dengan nyenyak."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Haishhhhh.....😏😏😏😏😠😠😠😠
lanjuuut aja kak.....
2024-12-14
0
Sandisalbiah
hadeh.. Fawwas.. jgn jd lelaki muna' dong.. suka mengingkari kata hati...
2024-10-23
0
Heryta Herman
klo mau peluk istrimu ya peluk aja fawwas,ga usah gengsi.../Chuckle/
2024-08-28
0