IB 19: Terasa Kosong

Seminggu berada di kediaman Gauri dan Bisma, dan seminggu pula Fawwas terbangun dengan kondisi sedang memeluk Aara. Pernah di suatu malam Fawwas terbangun dengan posisi dirinya dan Aara saling berhadapan dan memeluk satu sama lain. Fawwas bisa mencium aroma rambut dan tubuh Aara. Dalam pelukannya. Bahkan hembusan nafas Aara pun bisa ia rasakan. Ia juga bisa mengetahui bahwa tubuh Aara lumayan berisi sekarang.

Dan, sesuatu yang tidak ia duga muncul. Hasrat Fawwas terbangun ketika dua buah benda kenyal milik Aara menempel tepat di dadanya. Fawwas sampai kesusahan bernafas malam itu.

" Ini ... sungguh menyiksa," gumam Fawwas. Dan sekarang mereka sudah kembali ke kediaman pribadi mereka sendiri. Fawwas bisa bernafas lega karena kejadian malam itu tidak akan terulang.

" Kak, aku bawa Neida ke kamar ya. Kakak butuh apa, aku akan siapkan," ucap Aara terhadap Fawwas.

" Tidak usah Ra, istirahat saja. Mumpung Neida tidur, kamu juga bisa ikutan tidur. Kalau aku membutuhkan sesuatu, aku bisa sendiri. Ada Bibi juga kok. Jadi istirahatlah." Fawwas mengatakan semua itu sembari tersenyum dan juga mengusap kepala Aara dengan lembut. Tanpa Fawwas ketahui, saat ini wajah Aara bersemu merah. Tapi Aara tidak memperlihatkan wajahnya yang merona itu, dia langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintunya dengan perlahan.

Sesungguhnya, ada satu hal yang membuat Aara menjadi seperti itu. Bagi Fawwas, ia menganggap bahwa Aara tidak tahu kalau setiap malam dirinya memeluk sang istri. Padahal Aara tahu, Aara juga merasakan bahwa pelukan hangat Fawwas menyentuh tubuhnya. Rengkuhan itu sungguh terasa nyata. Setiap bagian tubuh Fawwas menempel pada tubuhnya, membuat Aara merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

" Jika begini, apakah aku benar-benar tidak akan jatuh hati kepada nya? Kalau benar, apakah aku akan berdosa? Mengingat dia adalah suami almarhumah kakak ku. Apakah orang-orang akan menganggap aku serakah, dan memanfaatkan kematian kakakku serta keberadaan Neida untuk mendapatkannya?"

Aara berucap lirih, ia membelai lembut kepala Neida. Anak dari sang kakak yang saat ini sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Aara membuang nafasnya kasar. Ia sungguh berdoa agar tidak lagi terlibat kontak fisik seperti seminggu ini. Namun, jika mereka harus kembali menginap di rumah kedua orang tua, bukankah mereka akan mengalami hal yang serupa? Entahlah, saat ini yang ada di pikiran Aara hanya bagaimana ia membentengi hatinya agar tidak terlalu jatuh ke dalam jurang yang bernama cinta.

Berbeda dengan Aara, saat ini Fawwas sedang termangu. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya. Pandangan matanya lurus menatap ke arah langit-langit kamar. Lalu sesaat kemudian dia berguling-guling diatas tempat tidur yang cukup besar itu.

" Rasanya kosong dan sepi," gumam Fawwas. Ya dia merasakan hal tersebut sekarang. Ternyata efek menginap seminggu di rumah kedua orang tuanya membuat Fawwas mulai terbiasa dengan hadirnya Aara di kamarnya, terlebih di ranjangnya. Perasaan hangat saat ia memeluk tubuh Aara membuat dirinya kini menginginkan hal tersebut.

" Tunggu, apakah aku adalah seorang penjahat? Bagaimana bisa aku punya pikiran me-sum itu terhadap adik iparku? Tapi tunggu, bukankah Aara adalah istriku sekarang. Kalau aku melakukan hal itu, bukankah sah-sah saja. Tapi, tidak! Kita hanya menikah karena Neida. Tidak sepatutnya aku menginginkan lebih. Astaga! Aku melupakan sesuatu yang penting."

Fawwas mengetuk kepalanya sendiri kita ia mengingat sebuah hal yang seharusnya ia bicarakan dengan Aara dari kemarin. Mengenai traumanya. Rupanya ia sudah menemui Faizal juga, dan sang adik siap membantu Aara.

" Aku sungguh tidak ingin dia meninggalkan profesinya. Dia dokter yang sangat berbakat. Aku harus mengembalikan dia seperti dulu." Agaknya Fawwas sudah bertekad kuat untuk itu. Maka dari itu, hal yang pertama harus dia lakukan adalah mengajak Aara berbicara. " Besok saja, biarkan dia menikmati istirahatnya sekarang," gumam Fawwas lirih.

🍀🍀🍀

Malam menjelang. Fawwas sudah sedari pukul 21.00 tadi merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Akan tetapi matanya tak kunjung juga terpejam. Padahal sekarang sudah pukul 00.00 lewat. Fawwas mengusap wajahnya kasar. Dia tidak tahu mengapa sedari tadi hanya gelisah dan membolak-balik kan tubuhnya di atas ranjang.

" Heh, ada apa denganku sih? Kok tidak bisa tidur dari tadi, huft. Sebaiknya aku berjalan-jalan. Ah iya, minum susu hangat sepertinya merupakan pilihan terbaik."

Fawwas bangkit dari tempat tidurnya. Ia keluar kamar dan berjalan perlahan menuju ke dapur. Fawwas tidak ingin membuat orang lain bangun, maka dari itu dia meminimalisir suara. Baik suara berjalannya maupun suara di dapur ketika tengah membuat susu.

Glek ... glek ... glek!

Ia menghabiskan susu yang dibuatnya dengan sekali teguk. Semua bersih tandas dan tidak bersisa. Fawwas kembali berjalan menuju ke kamarnya. Tapi matanya melirik ke arah kamar Aara dan Neida. Tanpa sadar, kakinya melangkah ke kamar tersebut.

" Lho, kok sudah di depan kamar. Aah, pasti aku ingin melihat Neida. Ya, untuk apa aku kesini jika bukan untuk melihat Neida."

Fawwas sungguh belum menyadari dengan apa yang ia rasakan. Ada penyangkalan yang dilakukan hatinya saat ini. Fawwas masih berusaha menyangkal bahwa dirinya mulai peduli dengan keberadaan Aara.

Ceklek .... ngeeeek

Pria itu membuka pintu kamar secara perlahan. Ia berjalan mengendap, dilihatnya Neida tertidur pulas di dalam box bayi miliknya. Fawwas menatap wajah putrinya itu dengan seksama, lalu ia tersenyum. Hadirnya Neida sungguh berkah yang luar bias. Doa pun ia lantunkan dan ia tujukan untuk almarhumah sang istri. Perjuagan Aira melahirkan buah hatinya itu tidak lah mudah.

" Semoga sinar terang menyinari kuburmu sayang, aamiin."

Sudah cukup melihat sang putri, Fawwas membalikkan tubuhnya dan segera ingin keluar kamar. Akan tetapi langkahnya terhenti. Ia melirik ke arah ranjang. Di sana Aara tertidur sangat pulas. Dan lagi, pemandangan yang tidak biasa menganggu mata dan pikirannya. Kali ini Aara hanya menggunakan baju tidur berupa dress bertali spaghetti. Selimut yang tersibak menampilkan kaki panjang nan mulus milik wanita itu. Jangan lupakan paha milik Aara yang putih tanpa cela. Tubuh bagian atas juga terekspos, bahkan tali dress tidur itu melorot hingga ke lengan membuat dada Aara sedikit terlihat.

" Stop Fawwas, apa yang kamu lihat," pekik Fawwas dalam hati. Dia bahkan menutup wajahnya dengan tangan. Tapi sepertinya Fawwas tidak sekuat itu untuk sepenuhnya menutup matanya. Terbukti ia masih mencoba melihat pemandangan indah itu dari sela-sela jarinya.

Dug dug dug

Jantung Fawwas berdegup sangat cepat, nafasnya memburu, dan tubuhnya terasa panas. Tanpa sadar ia berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Fawwas semakin kesusahan menelan saliva nya saat dirinya menatap Aara dengan sangat dekat.

" Apa kamu memang secantik ini Ra, aku sungguh baru melihatnya sekarang. Maafkan aku, dan tidur lah dengan nyenyak."

TBC

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Haishhhhh.....😏😏😏😏😠😠😠😠
lanjuuut aja kak.....

2024-12-14

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

hadeh.. Fawwas.. jgn jd lelaki muna' dong.. suka mengingkari kata hati...

2024-10-23

0

Heryta Herman

Heryta Herman

klo mau peluk istrimu ya peluk aja fawwas,ga usah gengsi.../Chuckle/

2024-08-28

0

lihat semua
Episodes
1 IB 01: Pergi
2 IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3 IB 03: Induksi Laktasi
4 IB 04: Mimpi Risma
5 IB 05: Menikahlah
6 IB 06: Penolakan
7 IB 07: Masih Sama
8 IB 8: Keputusan
9 IB 09: Hanya Status
10 IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11 IB 11: Hal Baru
12 IB 12. Prasangka Gauri
13 IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14 IB 14: Kebingungan
15 IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16 IB 16: Cantik
17 IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18 IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19 IB 19: Terasa Kosong
20 IB 20: Pesona Istri
21 IB 21: Keirian
22 IB 22: Sakit
23 IB 23: Aku Egois
24 IB 24: Terkejut
25 IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26 IB 26: Mari Pacaran
27 IB 27: Hasil Penyelidikan
28 IB 28: Sebuah Rencana
29 IB 29: Bolehkah Egois?
30 IB 30: Sekedar Pemanasan
31 IB 31: Seperti Baru
32 IB 32: Tamu Tak Diundang
33 IB 33: Fitnah Datang
34 IB 34: Kenapa
35 IB 35: Trauma Sialan
36 IB 36: Kepuasan
37 IB 37: Bukan Kamu
38 IB 38: Tidak Salah
39 IB 39: Konferensi Pers
40 IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41 IB 41: Mengundurkan Diri
42 IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43 IB 43: Tidak Percaya
44 IB 44: Gamang
45 IB 45: Hubungan Layak
46 IB 46: Konfirmasi
47 IB 47: Terkejut
48 IB 48: Kegalauan
49 IB 49: Benda Apa Itu?
50 IB 50: Banyak Pikiran
51 IB 51: Permintaan
52 IB 52: Perkembangan Aara
53 IB 53: Bangun Ra!
54 IB 54: Fawwas Panik
55 IB 55: Libur Dulu
56 IB 56: Rindu
57 IB 57: Berkunjung
58 IB 58: Sedikit Ramai
59 IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60 IB 60: Bicaralah!
61 IB 61: Anak Itu Rejeki
62 IB 62: Milikku Sepenuhnya
63 IB 63: Roda Kehidupan Berputar
Episodes

Updated 63 Episodes

1
IB 01: Pergi
2
IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3
IB 03: Induksi Laktasi
4
IB 04: Mimpi Risma
5
IB 05: Menikahlah
6
IB 06: Penolakan
7
IB 07: Masih Sama
8
IB 8: Keputusan
9
IB 09: Hanya Status
10
IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11
IB 11: Hal Baru
12
IB 12. Prasangka Gauri
13
IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14
IB 14: Kebingungan
15
IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16
IB 16: Cantik
17
IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18
IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19
IB 19: Terasa Kosong
20
IB 20: Pesona Istri
21
IB 21: Keirian
22
IB 22: Sakit
23
IB 23: Aku Egois
24
IB 24: Terkejut
25
IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26
IB 26: Mari Pacaran
27
IB 27: Hasil Penyelidikan
28
IB 28: Sebuah Rencana
29
IB 29: Bolehkah Egois?
30
IB 30: Sekedar Pemanasan
31
IB 31: Seperti Baru
32
IB 32: Tamu Tak Diundang
33
IB 33: Fitnah Datang
34
IB 34: Kenapa
35
IB 35: Trauma Sialan
36
IB 36: Kepuasan
37
IB 37: Bukan Kamu
38
IB 38: Tidak Salah
39
IB 39: Konferensi Pers
40
IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41
IB 41: Mengundurkan Diri
42
IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43
IB 43: Tidak Percaya
44
IB 44: Gamang
45
IB 45: Hubungan Layak
46
IB 46: Konfirmasi
47
IB 47: Terkejut
48
IB 48: Kegalauan
49
IB 49: Benda Apa Itu?
50
IB 50: Banyak Pikiran
51
IB 51: Permintaan
52
IB 52: Perkembangan Aara
53
IB 53: Bangun Ra!
54
IB 54: Fawwas Panik
55
IB 55: Libur Dulu
56
IB 56: Rindu
57
IB 57: Berkunjung
58
IB 58: Sedikit Ramai
59
IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60
IB 60: Bicaralah!
61
IB 61: Anak Itu Rejeki
62
IB 62: Milikku Sepenuhnya
63
IB 63: Roda Kehidupan Berputar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!