Neida Sahira Dewandaru, nama itu disematkan kepada putri Fawwas dan Aira. Neida adalah nama pemberian Aira, Sahira adalah nama Aira, lalu Dewandaru adalah nama keluarga dari Fawwas.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki yang berasal dari kamar Fawwas membuat Gauri dan Bisma tersenyum. Mereka lega karena sang putra sulung akhirnya mau keluar juga dari kamar. Tapi sepertinya ekspresi Fawwas berbeda dari sebelumnya. Wajah yang selalu ceria dan dihiasi senyum kini hanya datar dan dingin. Sebuah hembusan nafas kasar di keluar dari mulu Gauri. Ia tahu betul suasana hati sang putra.
" Apa rencanamu sekarang?" tanya Gauri tanpa basa-basi
" Menjemput Neida, kembali ke rumah. Bukan rumah ini tapi rumah ku bersama Aira," tegas Fawwas. Ya saat ini dia sedang berada di rumah kedua orang tuanya. Dia memiliki rumahnya sendiri, karena setelah menikah Fawwas memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tuanya maupun orang tua Aira.
" Tapi, jika kamu pulang ke rumah mu, siapa yang akan merawat Neida?" Gauri tentu bingung dengan apa yang sekarang dikatakan oleh Fawwas. Karena Gauri semenjak hari pertama Neida dilahirkan, selalu wira-wiri untuk ikut merawat. Pihak Keluarga Ananta tidak ingin cucu mereka dirawat orang yang tidak memiliki hubungan keluarga.
" Aku bisa mencari perawat dan baby sitter, dia adalah putriku, maka aku akan memutuskan yang terbaik untuknya," tegas Fawwas.
" Fa, pikirkan dengan baik, bagaimana pun Neida pasti menjadi salah satu pelipur lara bagi keluarga Ananta atas kepergian Aira. Appa yakin, mereka tidak mau jauh-jauh juga dari Neida." Kali ini Bisma yang angkat bicara. Dia sudah cukup mendengarkan ucapan istri dan anaknya, dan apa yang dikatakan oleh kepala keluarga itu cukup membuat Fawwas terdiam.
Apa yang dikatakan Appa benar juga. Tapi dia kan putriku, bukankah wajar jika aku ingin membawanya pulang?
Fawwas berbicara dalam hatinya. Nampaknya ia sekarang berada dalam sebuah dilema. Tapi itu akan ia pikirkan nanti, saat ini hal yang paling penting adalah pergi menuju rumah Keluarga Ananta. Ia juga merindukan Neida.
Fawwas mengakhiri sesi sarapannya lebih dulu. Dia sama sekali tidak menyentuh makanan yang ada di atas meja. Fawwas hanya meminum susu lalu berpamitan. Gauri dan Bisma hanya saling pandang, ini adalah pukulan berat bagi Fawwas, tapi dia harus bangkit untuk Neida. Neida sudah kehilangan ibunya, jadi tentu dia harus mendapat perhatian lebih dari sang ayah.
Tok! Tok! Tok!
Ceklek
" Assalamu'alaikum."
" Waalaikumsalam, Eh Kak Fawwas, silakan masuk. Neida baru saja tidur."
Aara ternyata yang membukakan pintu untuk Fawwas. Tidak sepeti biasanya, Aara melihat kakak iparnya itu nampak seperti sosok yang berbeda. Biasanya Fawwas akan memandang dengan hangat dan selalu tersenyum, tapi ini tidak. Pandangan matanya begitu dingin dan ekspresinya sangat datar. Yaah, siapa orang yang tidak berduka jika ditinggal pergi selamanya oleh belahan jiwanya.
Awalnya Fawwas duduk diruang tamu, tapi ia teringat Neida dan minta diantarkan ke tempat Neida. Dengan perlahan Aara membukakan pintu kamar Neida yang dulu adalah kamar Aira. Kamar Aira disulap menjadi kamar Neida semenjak bayi itu dibawa pulang dari rumah sakit. Kamar dengan nuansa nude itu memang adalah kamar pribadi Aira, tidak banyak yang diubah. Hanya ditambahkan sebuah box bayi dan lemari yang berisi perlengkapan dari Neida.
Tes
Air mata Fawwas menetes saat melihat putrinya yang begitu mungil. Setelah Neida lahir ke dunia, baru sekali saja Fawwas menggendongnya yakni saat mengadzani. Setelah itu dia belum lagi menggendong Neida.
Melihat Fawwas yang sedang emosional, Aara memilih keluar dari kamar, ia akan membiarkan ayah dan anak itu untuk saling melepas kerinduan.
" Apa Fawwas yang datang?" tanya Risma--ibu dari Aara.
" Iya Bu, Kak Fawwas yang datang, sekarang dia sedang di kamar Neida," jelas Aara.
Risma hanya mengangguk, tidak banyak respon yang keluar dari wanita paruh baya itu.Dia cukup tahu bagaimana Fawwas kehilangan. Bahkan saat ini dia pun sebagain ibu masih sangat sakit harus melihat putrinya masuk ke tanah kubur. Orang tua mana yang tidak merasa sedih kehilangan buah hatinya.
" Bu, jika Kak Fawwas meminta Neida pulang bersama nya, biarkan saja jangan dihalangi. Bagiamana pun itu putrinya," ucap Aara tiba-tiba. Risma diam, apa yang dikatakan oleh puri bungsunya itu memang benar, akan tetapi dia sangat berat jika Fawwas membawa pergi Neida.
" Ra, bolehkah ibu meminta sesuatu dari mu?"
Aara mengernyitkan keningnya, belum pernah sang ibu berkata ini selama dia hidup 26 tahun. Dan saat ibu nya berkata demikian, jantung Aara berdegup kencang. Ia merasa akan ada sesuatu yang mungkin diluar kemampuannya
" A-apa bu. Mengapa tiba-tiba ibu bicara begini?"
" Ra, permintaan ibu mungkin sedikit menodai harga dirimu dan juga kelewatan. Mungkin ibu egois, tapi sungguh ibu hanya kasian kepada keponakanmu. Bisakah kamu melakukan terapi laktasi, agar bisa memberikan ASI kepada Neida?"
" Apa? Tapi~"
Tap! Tap! Tap!
suara langkah kaki terdengar sehingga pembicaraan Aara dengan Risma pun arus berhenti. Itu adalah Fawwas yang berjalan mendekat sambil menggendong Neida. Ia terlihat tidak kaku sama sekali saat membawa Neida pada tangannya.
" Di tadi terbangun, aku mencari susu nya tapi tidak ada. Makanya aku membawanya keluar," ucap Fawwas datar tanpa ekspresi sama sekali.
Aara langsung berlari ke dapur membuatkan susu untuk Neida. Saat dia memegang botol susu milik Neida, ucapan Risma terngiang di kepalanya. " Bisakah kamu melakukan terapi laktasi agar bisa menyusui Neida?" Sungguh tidak pernah terbayangkan bagi Aara saat ibunya meminta hal seperti itu. Dia tentu bingung dengan ide yang baginya diluar nalar.
Tapi ketika memikirkannya, itu merupakan adalah hal yang benar. Neida memang membutuhkan ASI. Mencari donor, jelas membuat keluarga tidak percaya. Dan induksi laktasi merupakan salah satu cara yang bagus.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Bisa ya....belum pernah lihat....
2024-12-13
0
efvi ulyaniek
gimana caranya
2025-01-15
0
Ani Ani
IBU susu
2024-07-04
0