IB 03: Induksi Laktasi

Neida Sahira Dewandaru, nama itu disematkan kepada putri Fawwas dan Aira. Neida adalah nama pemberian Aira, Sahira adalah nama Aira, lalu Dewandaru adalah nama keluarga dari Fawwas.

Tap! Tap! Tap!

Suara langkah kaki yang berasal dari kamar Fawwas membuat Gauri dan Bisma tersenyum. Mereka lega karena sang putra sulung akhirnya mau keluar juga dari kamar. Tapi sepertinya ekspresi Fawwas berbeda dari sebelumnya. Wajah yang selalu ceria dan dihiasi senyum kini hanya datar dan dingin. Sebuah hembusan nafas kasar di keluar dari mulu Gauri. Ia tahu betul suasana hati sang putra.

" Apa rencanamu sekarang?" tanya Gauri tanpa basa-basi

" Menjemput Neida, kembali ke rumah. Bukan rumah ini tapi rumah ku bersama Aira," tegas Fawwas. Ya saat ini dia sedang berada di rumah kedua orang tuanya. Dia memiliki rumahnya sendiri, karena setelah menikah Fawwas memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tuanya maupun orang tua Aira.

" Tapi, jika kamu pulang ke rumah mu, siapa yang akan merawat Neida?" Gauri tentu bingung dengan apa yang sekarang dikatakan oleh Fawwas. Karena Gauri semenjak hari pertama Neida dilahirkan, selalu wira-wiri untuk ikut merawat. Pihak Keluarga Ananta tidak ingin cucu mereka dirawat orang yang tidak memiliki hubungan keluarga.

" Aku bisa mencari perawat dan baby sitter, dia adalah putriku, maka aku akan memutuskan yang terbaik untuknya," tegas Fawwas.

" Fa, pikirkan dengan baik, bagaimana pun Neida pasti menjadi salah satu pelipur lara bagi keluarga Ananta atas kepergian Aira. Appa yakin, mereka tidak mau jauh-jauh juga dari Neida." Kali ini Bisma yang angkat bicara. Dia sudah cukup mendengarkan ucapan istri dan anaknya, dan apa yang dikatakan oleh kepala keluarga itu cukup membuat Fawwas terdiam.

Apa yang dikatakan Appa benar juga. Tapi dia kan putriku, bukankah wajar jika aku ingin membawanya pulang?

Fawwas berbicara dalam hatinya. Nampaknya ia sekarang berada dalam sebuah dilema. Tapi itu akan ia pikirkan nanti, saat ini hal yang paling penting adalah pergi menuju rumah Keluarga Ananta. Ia juga merindukan Neida.

Fawwas mengakhiri sesi sarapannya lebih dulu. Dia sama sekali tidak menyentuh makanan yang ada di atas meja. Fawwas hanya meminum susu lalu berpamitan. Gauri dan Bisma hanya saling pandang, ini adalah pukulan berat bagi Fawwas, tapi dia harus bangkit untuk Neida. Neida sudah kehilangan ibunya, jadi tentu dia harus mendapat perhatian lebih dari sang ayah.

Tok! Tok! Tok!

Ceklek

" Assalamu'alaikum."

" Waalaikumsalam, Eh Kak Fawwas, silakan masuk. Neida baru saja tidur."

Aara ternyata yang membukakan pintu untuk Fawwas. Tidak sepeti biasanya, Aara melihat kakak iparnya itu nampak seperti sosok yang berbeda. Biasanya Fawwas akan memandang dengan hangat dan selalu tersenyum, tapi ini tidak. Pandangan matanya begitu dingin dan ekspresinya sangat datar. Yaah, siapa orang yang tidak berduka jika ditinggal pergi selamanya oleh belahan jiwanya.

Awalnya Fawwas duduk diruang tamu, tapi ia teringat Neida dan minta diantarkan ke tempat Neida. Dengan perlahan Aara membukakan pintu kamar Neida yang dulu adalah kamar Aira. Kamar Aira disulap menjadi kamar Neida semenjak bayi itu dibawa pulang dari rumah sakit. Kamar dengan nuansa nude itu memang adalah kamar pribadi Aira, tidak banyak yang diubah. Hanya ditambahkan sebuah box bayi dan lemari yang berisi perlengkapan dari Neida.

Tes

Air mata Fawwas menetes saat melihat putrinya yang begitu mungil. Setelah Neida lahir ke dunia, baru sekali saja Fawwas menggendongnya yakni saat mengadzani. Setelah itu dia belum lagi menggendong Neida.

Melihat Fawwas yang sedang emosional, Aara memilih keluar dari kamar, ia akan membiarkan ayah dan anak itu untuk saling melepas kerinduan.

" Apa Fawwas yang datang?" tanya Risma--ibu dari Aara.

" Iya Bu, Kak Fawwas yang datang, sekarang dia sedang di kamar Neida," jelas Aara.

Risma hanya mengangguk, tidak banyak respon yang keluar dari wanita paruh baya itu.Dia cukup tahu bagaimana Fawwas kehilangan. Bahkan saat ini dia pun sebagain ibu masih sangat sakit harus melihat putrinya masuk ke tanah kubur. Orang tua mana yang tidak merasa sedih kehilangan buah hatinya.

" Bu, jika Kak Fawwas meminta Neida pulang bersama nya, biarkan saja jangan dihalangi. Bagiamana pun itu putrinya," ucap Aara tiba-tiba. Risma diam, apa yang dikatakan oleh puri bungsunya itu memang benar, akan tetapi dia sangat berat jika Fawwas membawa pergi Neida.

" Ra, bolehkah ibu meminta sesuatu dari mu?"

Aara mengernyitkan keningnya, belum pernah sang ibu berkata ini selama dia hidup 26 tahun. Dan saat ibu nya berkata demikian, jantung Aara berdegup kencang. Ia merasa akan ada sesuatu yang mungkin diluar kemampuannya

" A-apa bu. Mengapa tiba-tiba ibu bicara begini?"

" Ra, permintaan ibu mungkin sedikit menodai harga dirimu dan juga kelewatan. Mungkin ibu egois, tapi sungguh ibu hanya kasian kepada keponakanmu. Bisakah kamu melakukan terapi laktasi, agar bisa memberikan ASI kepada Neida?"

" Apa? Tapi~"

Tap! Tap! Tap!

suara langkah kaki terdengar sehingga pembicaraan Aara dengan Risma pun arus berhenti. Itu adalah Fawwas yang berjalan mendekat sambil menggendong Neida. Ia terlihat tidak kaku sama sekali saat membawa Neida pada tangannya.

" Di tadi terbangun, aku mencari susu nya tapi tidak ada. Makanya aku membawanya keluar," ucap Fawwas datar tanpa ekspresi sama sekali.

Aara langsung berlari ke dapur membuatkan susu untuk Neida. Saat dia memegang botol susu milik Neida, ucapan Risma terngiang di kepalanya. " Bisakah kamu melakukan terapi laktasi agar bisa menyusui Neida?" Sungguh tidak pernah terbayangkan bagi Aara saat ibunya meminta hal seperti itu. Dia tentu bingung dengan ide yang baginya diluar nalar.

Tapi ketika memikirkannya, itu merupakan adalah hal yang benar. Neida memang membutuhkan ASI. Mencari donor, jelas membuat keluarga tidak percaya. Dan induksi laktasi merupakan salah satu cara yang bagus.

TBC

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Bisa ya....belum pernah lihat....

2024-12-13

0

efvi ulyaniek

efvi ulyaniek

gimana caranya

2025-01-15

0

Ani Ani

Ani Ani

IBU susu

2024-07-04

0

lihat semua
Episodes
1 IB 01: Pergi
2 IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3 IB 03: Induksi Laktasi
4 IB 04: Mimpi Risma
5 IB 05: Menikahlah
6 IB 06: Penolakan
7 IB 07: Masih Sama
8 IB 8: Keputusan
9 IB 09: Hanya Status
10 IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11 IB 11: Hal Baru
12 IB 12. Prasangka Gauri
13 IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14 IB 14: Kebingungan
15 IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16 IB 16: Cantik
17 IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18 IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19 IB 19: Terasa Kosong
20 IB 20: Pesona Istri
21 IB 21: Keirian
22 IB 22: Sakit
23 IB 23: Aku Egois
24 IB 24: Terkejut
25 IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26 IB 26: Mari Pacaran
27 IB 27: Hasil Penyelidikan
28 IB 28: Sebuah Rencana
29 IB 29: Bolehkah Egois?
30 IB 30: Sekedar Pemanasan
31 IB 31: Seperti Baru
32 IB 32: Tamu Tak Diundang
33 IB 33: Fitnah Datang
34 IB 34: Kenapa
35 IB 35: Trauma Sialan
36 IB 36: Kepuasan
37 IB 37: Bukan Kamu
38 IB 38: Tidak Salah
39 IB 39: Konferensi Pers
40 IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41 IB 41: Mengundurkan Diri
42 IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43 IB 43: Tidak Percaya
44 IB 44: Gamang
45 IB 45: Hubungan Layak
46 IB 46: Konfirmasi
47 IB 47: Terkejut
48 IB 48: Kegalauan
49 IB 49: Benda Apa Itu?
50 IB 50: Banyak Pikiran
51 IB 51: Permintaan
52 IB 52: Perkembangan Aara
53 IB 53: Bangun Ra!
54 IB 54: Fawwas Panik
55 IB 55: Libur Dulu
56 IB 56: Rindu
57 IB 57: Berkunjung
58 IB 58: Sedikit Ramai
59 IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60 IB 60: Bicaralah!
61 IB 61: Anak Itu Rejeki
62 IB 62: Milikku Sepenuhnya
63 IB 63: Roda Kehidupan Berputar
Episodes

Updated 63 Episodes

1
IB 01: Pergi
2
IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3
IB 03: Induksi Laktasi
4
IB 04: Mimpi Risma
5
IB 05: Menikahlah
6
IB 06: Penolakan
7
IB 07: Masih Sama
8
IB 8: Keputusan
9
IB 09: Hanya Status
10
IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11
IB 11: Hal Baru
12
IB 12. Prasangka Gauri
13
IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14
IB 14: Kebingungan
15
IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16
IB 16: Cantik
17
IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18
IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19
IB 19: Terasa Kosong
20
IB 20: Pesona Istri
21
IB 21: Keirian
22
IB 22: Sakit
23
IB 23: Aku Egois
24
IB 24: Terkejut
25
IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26
IB 26: Mari Pacaran
27
IB 27: Hasil Penyelidikan
28
IB 28: Sebuah Rencana
29
IB 29: Bolehkah Egois?
30
IB 30: Sekedar Pemanasan
31
IB 31: Seperti Baru
32
IB 32: Tamu Tak Diundang
33
IB 33: Fitnah Datang
34
IB 34: Kenapa
35
IB 35: Trauma Sialan
36
IB 36: Kepuasan
37
IB 37: Bukan Kamu
38
IB 38: Tidak Salah
39
IB 39: Konferensi Pers
40
IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41
IB 41: Mengundurkan Diri
42
IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43
IB 43: Tidak Percaya
44
IB 44: Gamang
45
IB 45: Hubungan Layak
46
IB 46: Konfirmasi
47
IB 47: Terkejut
48
IB 48: Kegalauan
49
IB 49: Benda Apa Itu?
50
IB 50: Banyak Pikiran
51
IB 51: Permintaan
52
IB 52: Perkembangan Aara
53
IB 53: Bangun Ra!
54
IB 54: Fawwas Panik
55
IB 55: Libur Dulu
56
IB 56: Rindu
57
IB 57: Berkunjung
58
IB 58: Sedikit Ramai
59
IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60
IB 60: Bicaralah!
61
IB 61: Anak Itu Rejeki
62
IB 62: Milikku Sepenuhnya
63
IB 63: Roda Kehidupan Berputar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!