Fawwas hanya diam tidak bergerak, tidak juga berbicara. Ia seperti sedang mendengar permintaan terkonyol dari kedua orang tuanya. Fawwas bangkit dari duduknya lalu ingin meninggalkan Bisma dan Gauri. Ia jelas tidak mau mendengarkan yang menurutnya sangat tidak masuk akal itu.
" Fawwas duduk!" tegas Bisma. Suara Bisma sedikit meninggi saat memerintahkan anak pertamanya agar bisa duduk kembali. Mereka belum menjelaskan apapun, dan Fawwas sudah ingin lari saja.
" Dengarkan dulu. Dengarkan apa yang ingin kami sampaikan," imbuh Gauri.
" Dengarkan apa? Mendengarkan kalimat selanjutnya yang pasti akan semakin konyol. Aara itu adik iparku Amma, Appa, bagaimana aku bisa menikahinya? Amma dan Appa lupa, ini bahkan belum ada 40 hari Aira pergi. Bagiamana bisa Apa kalian tidak memikirkan perasaan ayah dan ibu? Huh, permintaan kalian sungguh membuatku tidak mengerti. Ini konyol," sengit Fawwas. Saat ini Fawwas sungguh tidak habis pikir dengan pikiran kedua orang tuanya.
Fawwas tahu bahwa Amma dan Appa nya begitu menyukai Aara. Tapi juga bukan seperti ini juga caranya. Bukan dengan cara langsung menikahkan gadis itu dengan dirinya. Mereka bisa menyayangi Aara dengan cara lain.
" Ini adalah permintaan kedua orang tua Aara dan Aira. Mereka yang meminta kamu menikahi putri kedua mereka," jelas Gauri.
Doeeeeng
Seperti mendengar suara gong tepat di sebelah telinganya. Fawwas bukan hanya terkejut. Entah kata apa yang bisa mewakili perasaannya saat ini. Yang pasti dia sungguh tidak mengerti. Sebenarnya ada apa dengan permintaan tiba-tiba ini.
Pria itu mengusap wajahnya kasar lalu mencengkeram rambutnya dengan erat. Bagaimana bisa Rezky dan Risma memintanya untuk menikahi Aara. Selama ini Fawwas bahkan menganggap Aara seperti Faizal, adiknya sendiri.
" Jangan becanda, ini sungguh tidak lucu Amma, Appa. Sudah, aku mau masuk ke kamar dulu. Aku mohon, jangan seperti ini."
Tap! Tap! Tap!
Fawwas bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menuju ke kamarnya meninggalkan kedua orang tuanya. Gauri dan Bisma membuang nafas mereka kasar. Beberapa jam yang lalu, hari ini memang Bisma sedang off bekerja. Ia sengaja untuk libur karena ingin menengok sang cucu. Dan ternyata kebetulan Rezky juga tida berangkat bekerja. Bukan kebetulan, tapi memang ia sengaja tidak ke perusahaan karena besan akan datang.
Bisma dan Gauri sungguh senang bisa bermain dengan cucu mereka. Waktu itu, Aara juga sedang tidak ada di rumah. Para orang tua itu pun banyak berbincang, dan secara tiba-tiba Risma mengajukan sesuatu yang membuat Gauri dan Bisma terkejut.
" Bagaimana jika kita menikahkan Aara dan Fawwas, Kak Bisma dan Kak Gauri, semalam ... ."
Risma menceritakan mimpi yang ia alami, Gauri dan Bisma terkejut ketika mendengarnya. Reaksi tersebut sama dengan reaksi yang ditunjukkan Rezky saat Risma berbicara tentang hal tersebut.
Bisma dan Gauri lumayan terdiam lama, mereka sebenarnya masih belum bisa memutuskan untuk setuju atau tidak. Melihat keraguan dari sang besan, Risma kemudian mengemukakan alasan khusunya. Sebenarnya mimpi nya itu hanyalah sebagian dari penunjang ide Risma untuk menikahkan Aara dengan Fawwas. Alasan sebenarnya adalah ia terlalu khawatir jika Neida diasuh orang lain. Seperti yang ia pikirkan selama ini.
" Aku paham Risma, aku mengerti kekhawatiran mu. Sebenarnya, kemarin aku juga berpikir demikian. Kasus yang marak terjadi soal pengasuh yang semena-mena, membuatku takut memberikan Neida kepada orang lain. Tapi aku tidak berpikir bahwa kamu akan mengusulkan Aara sebagai ibu Neida dan istri Fawwas. Tapi, apakah kalian tidak masalah. Bagaimanapun status Fawwas adalah duda. Bukan, bukan itu yang utama. Tapi Aara, apakah dia bersedia?"
Kluk
Risma langsung terkejut, ia sungguh lalai dengan hal itu. Ia lupa menanyakan kesediaan sang putri. Ia akui dirinya sedikit egois karena sama saja mengorbankan putri bungsunya tersebut.
" Belum kak, aku belum bertanya. Nanti aku akan coba menanyakannya," ungkap Risma.
" Baiklah kalau begitu, kami juga akan menawarkan pada Fawwas terlebih dulu setalah anak itu pulang nanti," imbuh Gauri.
Seperti itulah pembicaraan Kedua keluarga mengenai rencana pernikahan Fawwas dan Aara. Sejauh ini yang Bisma tahu, Aara memang tidak pernah memiliki kekasih. Tapi juga bukan berarti mereka bisa memaksa gadis itu untuk menjadi menantu keluarga Dewandaru meskipun Bisma maupun Gauri tentu tidak mempermasalahkan hal itu. Jika Aara setuju, mereka berdua pasti akan sangat senang.
" Jadi, apa yang harus kita lakukan Mas," tanya Gauri kepada sang suami. Jujur dalam lubuk hatinya terdalam, ia ingin Aara menjadi menantunya.
" Nanti cobalah bicara kepada Fawwas degan perlahan-lahan. Coba beri pengertian, kita juga belum tahu hasil dari Risma dan Rezky berbicara kepada Aara," jelas Bisma.
Gauri paham, mungkin Fawwas tadi meledak-ledak karena lelah pulang bekerja. Mereka juga tidak tahu bagaimana pekerjaan Fawwas. Sebaiknya memang membicarakan hal ini setelah Fawwas tenang dan tidak lelah.
Di dalam kamarnya, kembali lagi Fawwas merenung. Ia tengah menatap foto pernikahannya dengan Aira. Dan air mata itu meluncur tanpa permisi. Fawwas adalah pria yang tidak pernah menangis sebelumnya. Dia menangis hanya 3 kali, ketika Gauri sakit beberapa waktu yang lalu, ketika Aira memberitahunya kalau hamil, dan terakhir kemarin saat Aira meninggal. Namun kini setalah sang istri tidak ada, Fawwas akan menangis setiap mengingat kenangannya bersama sangat istri.
" Mengapa, mengapa kamu meninggalkanku begitu cepat sayang? Apa kau tahu, di sini aku sungguh merindukanmu? Dan apa kau tahu, tadi kedua orang tua kita meminta aku menikah dengan Aara. Dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Aku merasa dia sama seperti Faizal. Bagaimana aku harus menikahinya dan menjadikan dia istriku jika aku hanya menganggapnya sebagai adik. Sayang, dalam pesan mu sebelum kau pergi, kau memang mengatakan bahwa menginginkan Aara untuk menjaga ku dan Neida. Tapi bukan berarti aku dan Aara harus menikah kan? Aku tidak mau membelenggunya, dia masih memiliki masa depan yang panjang. Dia dokter hebat, dan aku tidak ingin membuatnya bertanggung jawab terhadap Neida."
Fawwas mengusap wajahnya dengan kasar. Ia jelas tidak bisa mengabaikan permintaan kedua belah pihak tersebut. Tapi sungguh hatinya tidak mungkin bisa menerima pernikahan ini jika memang itu harus terjadi. Dalam benak Fawwas, selamanya Aara adalah adik baginya. Ia tidak akan bisa mengubah pandangannya menjadi seorang wanita pendamping hidup, itulah yang ada di pikiran Fawwas.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Lha.... sekarang belum.... coba kalau sudah menikah..... bakal bucin kau....
2024-12-13
0
Ani Ani
nikah aja Anak Kau selamat
2024-07-05
1
Puspa Trimulyani
kurang seru kak.... harusnya bunyi jeng...jeng....jeng....🤭🤣🤣
2024-03-30
2