Fawwas memijat pelipisnya dengan kedua tangan. Entahlah beberapa hari ini dia merasa sedikit tidak enak badan. " Apa ini karena aku terbangun saat malam membantu Aara menjaga Neida? Apakah Aara juga merasakan rasa lelah yang seperti ini. 4 bulan berlalu, dan aku baru mengerti sekarang?" gumam Fawwas lirih. Saat ini dia sedang duduk di ruangannya, baru saja dia melakukan sebuah operasi jadi dia memutuskan untuk istirahat sebentar.
Fawwas mencoba memejamkan matanya, namun suara pintu yang diketuk membuatnya urung. Agaknya dia tidak akan bisa istirahat sampai waktu pulang nanti.
" Ya masuk!" Fawwas sedikit berteriak untuk mempersilakan tamunya masuk.
" Dokter Fawwas, apakah malam ini Anda ada waktu? Kita lama tidak keluar, aku ingin mengajakmu makan malam. Bagaimana?" Seroang wanita cantik berjubah dokter ternyata yang mengetuk pintu ruangannya tadi. Dokter Khoirunisya atau yang biasa akrab dipanggil Dokter Nisya. Seorang gadis cantik berambut sebahu berkulit putih, memilki hidung yang mancung dan mata besar itu selalu menarik perhatian lawan jenis. Tapi tidak dengan Fawwas. Dia hanya menganggap Nisya sebagai rekannya saja. Padahal Nisya berharap Fawwas bisa meliriknya sebagai wanita dan bukannya hanya sekedar rekan.
" Ehm ... ." Fawwas tidak langsung menjawab, dia terlihat sedang berpikir. Apa sebaiknya aku ikut saja, lagi pula sudah lama aku tidak keluar juga. " Ya baik lah. Hari ini aku selesai setelah magrib."
Dokter Nisya seketika tersenyum lebar, selama ini sangat susah membuat Fawwas untuk pergi bersama. Dan kali ini sungguh terasa mudah. Fawwas menjawab tanpa ragu, sejenak Nisya merasa memiliki harapan.
Memang tidak ada yang tahu bahwa Fawwas sudah menikah lagi kecuali keluarga dan juga sanak saudara dekat. Jika pernikahannya dengan Aira dulu digelar dengan pesta yang meriah, tentu berbeda dengan pernikahan keduanya dengan Aara. Pernikahan yang diadakan secara sederhana itu tidak ada pihak luar yang tahu. Aara sudah seperti istri rahasia saja, dan anehnya juga tidak ada yang menanyakan keberadaan Aara yang sudah tidak muncul di rumah sakit selama 4 bulan ini.
Pukul 18.30 Fawwas sudah selesa dengan pekerjaannya, dia juga sudah selesai menjalankan kewajiban 3 rakaat. Saat ini dia sedang menunggu Nisya di lobi rumah sakit. Fawwas memegang ponselnya, awalnya ia berniat ingin menghubungi Aara karena akan pulang terlambat karena akan pergi bersama Nisya, tapi akhirnya ia mengurungkan niatnya itu.
" Toh hubunganku dengannya bukanlah seperti suami istri pada umumnya. Dan kita juga sudah sepakat bahwa kita tidak akan mencampuri urusan masing-masing. Jadi sepertinya tidak perlu untuk menghubunginya," gumam Fawwas. Meskipun awalnya ia ragu, tapi setelah mendengar suara Nisya ia pun kembali memasukkan ponselnya ke saku jaket.
" Kita akan pakai mobil siapa?" tanya Nisya sambil menepuk bahu Fawwas.
" Pakai mobil sendiri-sendiri saja. Lagi pula arah rumah kita berlawanan kan?" jawab Fawwas.
Nisya sedikit kecewa dengan hal itu, yang ia bayangkan adalah bahwa dirinya bisa pergi bersama dengan menggunakan mobil yang sama. Akan tetapi ternyata tidak, Fawwas sudah memutuskan menggunakan kendaraan masing-masing, jadi ya mereka hanya akan pergi sendiri-sendiri meskipun tujuannya sama. Nisya terpaksa tersenyum, ia kemudian mengatakan tempat makan yang akan mereka kunjungi malam ini.
Ckiiit
Keduanya sampai bersamaan. Senyum Nisya mengembang sempurna, akhirnya ia bisa juga makan malam bersama dengan Fawwas. Pria yang sudah lama ia sukai dalam diam itu kini berada tepat di depan matanya.
Tidak menunggu lama, Fawwas langsung memesan makanan. Isi kepala Fawwas dan Nisya jelas berbeda. Bagi Fawwas makan malam ini ya hanya sekedar makan, jadi ia akan memesan makanan dengan cepat, memakannya lalu pulang. Sangat berbeda dengan isi kepala Nisya, yang wanita itu pikirkan adalah bagaimana bisa bersama lebih lama dengan Fawwas. Ini merupakan kesempatan langka, maka dari itu dia harus menggunakannya dengan baik.
" Oh iya, bagaimana kabar Neida. Kalau tidak salah sekarang sudah 5 bulan ya?" Nisya memulai percakapan, dan topik yang diangkat sangat bagus yakni Neida. Ia tahu setelah Aira meninggal, Fawwas lebih suka membicarakan mengenai sang buah hati.
" Alhamdulillah baik, sehat, dan tidak kurang suatu apapun," jawab Fawwas dengan penuh rasa senang. Ia membayangkan wajah Neida ketika tertawa saat bermain bersamanya. Akan tetapi senyum Fawwas menjadi canggung ketika wajah Aara ikut masuk ke dalam kepalanya.
" Lalu siapa yang merawat Neida Fa, apakah kamu menggunakan jasa baby sitter?" tanya Nisya penasaran. Untuk mendapatkan hati Fawwas tentu dia harus bisa berdekatan dengan putrinya. Bukankah itu suha hukumnya?
" Aara yang merawat Neida. Dia yang merawat Neida setelah Aira meninggal."
Nisya ingin bertanya lagi, tapi makanan yang mereka pesan sudah datang dan Fawwas langsung memakan makanannya dengan hikmat. Terlihat sekali Fawwas lapar sehingga dia makan tanpa berbicara lagi kepada Nisya.
Setalah menghabiskan makanannya, Fawwas melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 20.00, ia juga melihat ke arah Nisya yang sepertinya belum menyelesaikan makanannya.
" Nis, maaf aku harus pulang. Ini sudah malam, aku pulang dulu ya. Makan malam ini aku yang bayar. Nikmatilah makananmu," ucap Fawwas yang langsung bangkit dari duduknya lalu kemudian menuju ke kasir untuk membayar. Nisya hanya mengangguk, ia melihat punggung Fawwas yang mulai menjauh dan menghilang. Wanita itu membuang nafasnya kasar, rupanya semuanya lagi-lagi tidak sesuai dengan engan rencana dan juga keinginannya. Tak terasa air mata Nisya luruh membasahi pipinya.
" Rasanya sungguh sakit cinta sendiri, apakah aku harus berhenti lagi seperti dulu. Lalu, membiarkan lagi orang lain memilikinya? Tidak, aku tidak bisa. Bukankah saat ini dia sendiri, jadi tidak ada alasan untukku menyerah. Ya, aku harus bisa mengungkapkan perasaanku pada dia. Aku harus bisa itu sebelum aku menyesal."
Nisya menghapus air matanya dengan cepat. Ia lalu menghabiskan makanannya, meskipun di mulut terasa hambar tapi dia harus terus menyuapkan ke dalam mulut. Saat ini makanan itu adlah sumber kekuatannya untuk bisa menghadapi kenyataan pahit yang baru saja dia alami. Rasanya sungguh sesak saat dia ditinggalkan seperti ini.
" Aku harus lebih berusaha lagi. Aku yakin Fawwas akan mengerti ketulusanku."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Semoga hati Fawwas segera terbuka untuk Aara....
2024-12-14
0
Heryta Herman
secara tdk langsung fawwas sdh membuka ruang unruk pelakor masuk dlm hidupnya...sungguh sangat di sesalkan kelakuan fawwas
2024-08-28
0
Ani Ani
la ada yang nak pikat pulak
2024-07-05
0