IB 13: Lelah Cinta Sendiri

Fawwas memijat pelipisnya dengan kedua tangan. Entahlah beberapa hari ini dia merasa sedikit tidak enak badan. " Apa ini karena aku terbangun saat malam membantu Aara menjaga Neida? Apakah Aara juga merasakan rasa lelah yang seperti ini. 4 bulan berlalu, dan aku baru mengerti sekarang?" gumam Fawwas lirih. Saat ini dia sedang duduk di ruangannya, baru saja dia melakukan sebuah operasi jadi dia memutuskan untuk istirahat sebentar.

Fawwas mencoba memejamkan matanya, namun suara pintu yang diketuk membuatnya urung. Agaknya dia tidak akan bisa istirahat sampai waktu pulang nanti.

" Ya masuk!" Fawwas sedikit berteriak untuk mempersilakan tamunya masuk.

" Dokter Fawwas, apakah malam ini Anda ada waktu? Kita lama tidak keluar, aku ingin mengajakmu makan malam. Bagaimana?" Seroang wanita cantik berjubah dokter ternyata yang mengetuk pintu ruangannya tadi. Dokter Khoirunisya atau yang biasa akrab dipanggil Dokter Nisya. Seorang gadis cantik berambut sebahu berkulit putih, memilki hidung yang mancung dan mata besar itu selalu menarik perhatian lawan jenis. Tapi tidak dengan Fawwas. Dia hanya menganggap Nisya sebagai rekannya saja. Padahal Nisya berharap Fawwas bisa meliriknya sebagai wanita dan bukannya hanya sekedar rekan.

" Ehm ... ." Fawwas tidak langsung menjawab, dia terlihat sedang berpikir. Apa sebaiknya aku ikut saja, lagi pula sudah lama aku tidak keluar juga. " Ya baik lah. Hari ini aku selesai setelah magrib."

Dokter Nisya seketika tersenyum lebar, selama ini sangat susah membuat Fawwas untuk pergi bersama. Dan kali ini sungguh terasa mudah. Fawwas menjawab tanpa ragu, sejenak Nisya merasa memiliki harapan.

Memang tidak ada yang tahu bahwa Fawwas sudah menikah lagi kecuali keluarga dan juga sanak saudara dekat. Jika pernikahannya dengan Aira dulu digelar dengan pesta yang meriah, tentu berbeda dengan pernikahan keduanya dengan Aara. Pernikahan yang diadakan secara sederhana itu tidak ada pihak luar yang tahu. Aara sudah seperti istri rahasia saja, dan anehnya juga tidak ada yang menanyakan keberadaan Aara yang sudah tidak muncul di rumah sakit selama 4 bulan ini.

Pukul 18.30 Fawwas sudah selesa dengan pekerjaannya, dia juga sudah selesai menjalankan kewajiban 3 rakaat. Saat ini dia sedang menunggu Nisya di lobi rumah sakit. Fawwas memegang ponselnya, awalnya ia berniat ingin menghubungi Aara karena akan pulang terlambat karena akan pergi bersama Nisya, tapi akhirnya ia mengurungkan niatnya itu.

" Toh hubunganku dengannya bukanlah seperti suami istri pada umumnya. Dan kita juga sudah sepakat bahwa kita tidak akan mencampuri urusan masing-masing. Jadi sepertinya tidak perlu untuk menghubunginya," gumam Fawwas. Meskipun awalnya ia ragu, tapi setelah mendengar suara Nisya ia pun kembali memasukkan ponselnya ke saku jaket.

" Kita akan pakai mobil siapa?" tanya Nisya sambil menepuk bahu Fawwas.

" Pakai mobil sendiri-sendiri saja. Lagi pula arah rumah kita berlawanan kan?" jawab Fawwas.

Nisya sedikit kecewa dengan hal itu, yang ia bayangkan adalah bahwa dirinya bisa pergi bersama dengan menggunakan mobil yang sama. Akan tetapi ternyata tidak, Fawwas sudah memutuskan menggunakan kendaraan masing-masing, jadi ya mereka hanya akan pergi sendiri-sendiri meskipun tujuannya sama. Nisya terpaksa tersenyum, ia kemudian mengatakan tempat makan yang akan mereka kunjungi malam ini.

Ckiiit

Keduanya sampai bersamaan. Senyum Nisya mengembang sempurna, akhirnya ia bisa juga makan malam bersama dengan Fawwas. Pria yang sudah lama ia sukai dalam diam itu kini berada tepat di depan matanya.

Tidak menunggu lama, Fawwas langsung memesan makanan. Isi kepala Fawwas dan Nisya jelas berbeda. Bagi Fawwas makan malam ini ya hanya sekedar makan, jadi ia akan memesan makanan dengan cepat, memakannya lalu pulang. Sangat berbeda dengan isi kepala Nisya, yang wanita itu pikirkan adalah bagaimana bisa bersama lebih lama dengan Fawwas. Ini merupakan kesempatan langka, maka dari itu dia harus menggunakannya dengan baik.

" Oh iya, bagaimana kabar Neida. Kalau tidak salah sekarang sudah 5 bulan ya?" Nisya memulai percakapan, dan topik yang diangkat sangat bagus yakni Neida. Ia tahu setelah Aira meninggal, Fawwas lebih suka membicarakan mengenai sang buah hati.

" Alhamdulillah baik, sehat, dan tidak kurang suatu apapun," jawab Fawwas dengan penuh rasa senang. Ia membayangkan wajah Neida ketika tertawa saat bermain bersamanya. Akan tetapi senyum Fawwas menjadi canggung ketika wajah Aara ikut masuk ke dalam kepalanya.

" Lalu siapa yang merawat Neida Fa, apakah kamu menggunakan jasa baby sitter?" tanya Nisya penasaran. Untuk mendapatkan hati Fawwas tentu dia harus bisa berdekatan dengan putrinya. Bukankah itu suha hukumnya?

" Aara yang merawat Neida. Dia yang merawat Neida setelah Aira meninggal."

Nisya ingin bertanya lagi, tapi makanan yang mereka pesan sudah datang dan Fawwas langsung memakan makanannya dengan hikmat. Terlihat sekali Fawwas lapar sehingga dia makan tanpa berbicara lagi kepada Nisya.

Setalah menghabiskan makanannya, Fawwas melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 20.00, ia juga melihat ke arah Nisya yang sepertinya belum menyelesaikan makanannya.

" Nis, maaf aku harus pulang. Ini sudah malam, aku pulang dulu ya. Makan malam ini aku yang bayar. Nikmatilah makananmu," ucap Fawwas yang langsung bangkit dari duduknya lalu kemudian menuju ke kasir untuk membayar. Nisya hanya mengangguk, ia melihat punggung Fawwas yang mulai menjauh dan menghilang. Wanita itu membuang nafasnya kasar, rupanya semuanya lagi-lagi tidak sesuai dengan engan rencana dan juga keinginannya. Tak terasa air mata Nisya luruh membasahi pipinya.

" Rasanya sungguh sakit cinta sendiri, apakah aku harus berhenti lagi seperti dulu. Lalu, membiarkan lagi orang lain memilikinya? Tidak, aku tidak bisa. Bukankah saat ini dia sendiri, jadi tidak ada alasan untukku menyerah. Ya, aku harus bisa mengungkapkan perasaanku pada dia. Aku harus bisa itu sebelum aku menyesal."

Nisya menghapus air matanya dengan cepat. Ia lalu menghabiskan makanannya, meskipun di mulut terasa hambar tapi dia harus terus menyuapkan ke dalam mulut. Saat ini makanan itu adlah sumber kekuatannya untuk bisa menghadapi kenyataan pahit yang baru saja dia alami. Rasanya sungguh sesak saat dia ditinggalkan seperti ini.

" Aku harus lebih berusaha lagi. Aku yakin Fawwas akan mengerti ketulusanku."

TBC

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Semoga hati Fawwas segera terbuka untuk Aara....

2024-12-14

0

Heryta Herman

Heryta Herman

secara tdk langsung fawwas sdh membuka ruang unruk pelakor masuk dlm hidupnya...sungguh sangat di sesalkan kelakuan fawwas

2024-08-28

0

Ani Ani

Ani Ani

la ada yang nak pikat pulak

2024-07-05

0

lihat semua
Episodes
1 IB 01: Pergi
2 IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3 IB 03: Induksi Laktasi
4 IB 04: Mimpi Risma
5 IB 05: Menikahlah
6 IB 06: Penolakan
7 IB 07: Masih Sama
8 IB 8: Keputusan
9 IB 09: Hanya Status
10 IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11 IB 11: Hal Baru
12 IB 12. Prasangka Gauri
13 IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14 IB 14: Kebingungan
15 IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16 IB 16: Cantik
17 IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18 IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19 IB 19: Terasa Kosong
20 IB 20: Pesona Istri
21 IB 21: Keirian
22 IB 22: Sakit
23 IB 23: Aku Egois
24 IB 24: Terkejut
25 IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26 IB 26: Mari Pacaran
27 IB 27: Hasil Penyelidikan
28 IB 28: Sebuah Rencana
29 IB 29: Bolehkah Egois?
30 IB 30: Sekedar Pemanasan
31 IB 31: Seperti Baru
32 IB 32: Tamu Tak Diundang
33 IB 33: Fitnah Datang
34 IB 34: Kenapa
35 IB 35: Trauma Sialan
36 IB 36: Kepuasan
37 IB 37: Bukan Kamu
38 IB 38: Tidak Salah
39 IB 39: Konferensi Pers
40 IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41 IB 41: Mengundurkan Diri
42 IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43 IB 43: Tidak Percaya
44 IB 44: Gamang
45 IB 45: Hubungan Layak
46 IB 46: Konfirmasi
47 IB 47: Terkejut
48 IB 48: Kegalauan
49 IB 49: Benda Apa Itu?
50 IB 50: Banyak Pikiran
51 IB 51: Permintaan
52 IB 52: Perkembangan Aara
53 IB 53: Bangun Ra!
54 IB 54: Fawwas Panik
55 IB 55: Libur Dulu
56 IB 56: Rindu
57 IB 57: Berkunjung
58 IB 58: Sedikit Ramai
59 IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60 IB 60: Bicaralah!
61 IB 61: Anak Itu Rejeki
62 IB 62: Milikku Sepenuhnya
63 IB 63: Roda Kehidupan Berputar
Episodes

Updated 63 Episodes

1
IB 01: Pergi
2
IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3
IB 03: Induksi Laktasi
4
IB 04: Mimpi Risma
5
IB 05: Menikahlah
6
IB 06: Penolakan
7
IB 07: Masih Sama
8
IB 8: Keputusan
9
IB 09: Hanya Status
10
IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11
IB 11: Hal Baru
12
IB 12. Prasangka Gauri
13
IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14
IB 14: Kebingungan
15
IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16
IB 16: Cantik
17
IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18
IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19
IB 19: Terasa Kosong
20
IB 20: Pesona Istri
21
IB 21: Keirian
22
IB 22: Sakit
23
IB 23: Aku Egois
24
IB 24: Terkejut
25
IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26
IB 26: Mari Pacaran
27
IB 27: Hasil Penyelidikan
28
IB 28: Sebuah Rencana
29
IB 29: Bolehkah Egois?
30
IB 30: Sekedar Pemanasan
31
IB 31: Seperti Baru
32
IB 32: Tamu Tak Diundang
33
IB 33: Fitnah Datang
34
IB 34: Kenapa
35
IB 35: Trauma Sialan
36
IB 36: Kepuasan
37
IB 37: Bukan Kamu
38
IB 38: Tidak Salah
39
IB 39: Konferensi Pers
40
IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41
IB 41: Mengundurkan Diri
42
IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43
IB 43: Tidak Percaya
44
IB 44: Gamang
45
IB 45: Hubungan Layak
46
IB 46: Konfirmasi
47
IB 47: Terkejut
48
IB 48: Kegalauan
49
IB 49: Benda Apa Itu?
50
IB 50: Banyak Pikiran
51
IB 51: Permintaan
52
IB 52: Perkembangan Aara
53
IB 53: Bangun Ra!
54
IB 54: Fawwas Panik
55
IB 55: Libur Dulu
56
IB 56: Rindu
57
IB 57: Berkunjung
58
IB 58: Sedikit Ramai
59
IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60
IB 60: Bicaralah!
61
IB 61: Anak Itu Rejeki
62
IB 62: Milikku Sepenuhnya
63
IB 63: Roda Kehidupan Berputar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!