IB 12. Prasangka Gauri

Suara tangis Neida membuat Aara terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan. Aara mengingat apa yang terjadi tadi sebelum dia pingsan, ia mengusap wajahnya kasar. Tapi ia kembali mencoba untuk menguatkan tubuhnya agar bisa segera bangun dari posisi tidurnya. Neida masih menangis, dan dia harus segera menggendongnya. Tapi tak lama kemudian tangis Neida reda dan berganti suara pria dewasa.

" Cup cup cup sayang. Jangan menangis ya, biarkan Ibu mu istirahat barang sebentar. Kasian, Ibu sepertinya lelah. Minum susunya dari botol dulu ya." Begitulah kata-kata yang keluar dari mulut pria tersebut. Aara menajamkan penglihatannya yang masih sedikit kabur. Ia terkejut mendapati Fawwas di kamarnya sambil menggendong Neida.

" Kak, kakak tidak bekerja? Maaf kak, tidak seharusnya aku pingsan. Kakak jadi tidak pergi ke rumah sakit," sesal Aara. Ia bergegas bangun dan berjalan menghampiri Fawwas lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil Neida dari tangan pria tersebut. Aara merasa sangat bersalah karena sudah membuat Fawwas jadi tinggal di rumah lebih lama.

" Ra, kalau kamu memang lelah menjaga Neida, mengapa tidak mengatakannya kepada ku? Dan tadi, kamu juga belum menjawab pertanyaan ku," desak Fawwas. Ternyata dia masih menginginkan jawaban dari pertanyaannya tadi sebelum Aara pingsan. Aara kembali menunduk dalam. Ia tidak tahu bagaimana akan menjelaskan mengenai kondisinya saat ini. Trauma itu masih melekat jelas dalam dirinya. Bahkan tadi saja hanya dengan mendengar pertanyaan Fawwas, dia kembali mengingat kejadian beberapa bulan lalu.

" Baiklah kalian kamu tidak mau membicarakan hal ini. Tapi aku harap kamu bisa kembali ke rumah sakit. Neida sudah mau 6 bulan. Dia tidak lagi di tahap meminum ASI eksklusif, dia mulai akan makan. Jika kekhawatiran Amma dan Ibu soal pengasuh, kita nanti bisa menitipkan kepada mereka berdua secara bergantian. Ra, aku hanya tidak mau kamu menghabiskan waktumu untuk Neida. Seperti yang aku bilang, hidupmu adalah milikmu, aku tidak ingin kau kehilangan kebebasanmu karena mengasuh Neida."

Ucapan panjang lebar Fawwas membuat Aara tersadar, bahwa benar dia tidak bisa berharap lebih untuk pernikahan ini. Fawwas selamanya hanya menganggap dia adik ipar dan tidak akan lebih dari pada itu. Senyum kecut terbentur dari bibir Aara yang tipis. Pa yu dara nya mulai mengencang menandakan bahwa ia sudah siap untuk memberikan ASI nya. Tapi saat ini Neida sedang menyusu dari botol, akhirnya Aara memilih untuk mengambil pompa ASI.

" Ya benar, jangan berharap apapun, bukankah dari awal memang kau sudah tahu Ra. Sampai kapanpun, pria itu hanya menganggap mu adik ipar dan ibu susu dari Aara. Tidak akan lebih dari itu. Jangan kecewa begitu, ini sudah 4 bulan sejak menikah, dan semuanya masih sama. Sikapnya, perhatiannya beberapa hari ini hanya semata-mata untuk kau sudah merawat Neida. Jadi kembalilah fokus," gumam Aara lirih.

Air mata Aara menetes, ternyata hatinya sedikit tercubit. Padahal dia sudah tahu mengenai ini semua, tapi saat itu ditegaskan dan keluar dari mulut Fawwas mengapa rasanya sedikit menyakitkan?

Aara menghela nafasnya, ia mencoba menyingkirkan semua pikirannya itu. Jujur dia tidak akan menyangka akan bereaksi seperti ini. Tanpa sadar 2 kantong penuh terisi dengan ASI. Ia bergegas menuju ke dapur untuk menyimpan hasil perahan ASI. Sejenak Aara melihat ke luar, Fawwas masih mengajak Neida bermain, ia memutuskan untuk menyiapkan makan siang. Aara ingin memasak, hal yang jarang ia lakukan setelah mengurus Neida. Sekarang dia punya kesempatan lebih untuk melakukannya.

" Menikah? Sebenarnya seperti apa pernikahan itu. Apakah aku nanti juga akan bisa merasakan pernikahan yang normal? Tapi kapan, dan dengan siapa? Apakah masih ada yang menginginkan diriku setelah aku menjadi janda nanti?"

Hal yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya, kini menyusup juga. Tiba-tiba dia terpikirkan masa depan. Tiba-tiba dia khawatir mengenai apa yang akan terjadi di kehidupannya nanti. Namun, Aara teringat wajah Neida. Ia jelas tidak bisa meninggalkan Neida. Jika dia bercerai dengan Fawwas, bukankah dia juga akan berpisah dengan Neida? Apakah Aara akan sanggup?

Lagi, air mata wanita itu keluar tanpa permisi. Ia bahkan menangis hingga sesenggukan. Dadanya terasa begitu sesak ketika memikirkan itu. Mengurus Neida dari lahir, dan menyusuinya hingga sekarang, apakah dia akan sanggup untuk berpisah?

" Aara! Sayang, kamu kenapa nak!"

Tap tap tap

Gauri yang baru saja masuk dan berjalan menuju ke dapur sangat terkejut melihat Aara yang tampak kesakitan sambil mencengkeram erat bajunya di bagian dada. Aara juga memukul dadanya berkali-kali dengan sangat kuat. Gauri sampai berteriak histeris saat melihat menantunya melakukan hal tersebut.

" Ra! Aara! Bernafas dengan perlahan, sayang... ."

Hah ... hah ... hah ...

Gauri menarik sebuah kursi dan meminta Aara untuk duduk, ia juga mengambilkan Aara air putih hangat dan membantu menantunya itu untuk meminumnya. Gauri mengerutkan keningnya, sebuah pertanyaan muncul dalam benak Gauri, sebenarnya apa yang terjadi dengan menantunya ini? Mengapa Aara terlihat sangat pucat dan begitu menderita? Apa Fawwas memperlakukan Aara dengan buruk atau bahkan KDRT?

Meskipun banyak sekali pertanyaan yang muncul, Gauri tidak akan bertanya saat ini juga. Ia lebih fokus untuk membawa Aara kembali ke kamar. Dan satu hal baru yang ia ketahui, ternyata Aara tidak tidur satu kamar dengan Fawwas. Selama ini jika ia berkunjung, tidak pernah menginap, maka dari itu dia tidak tahu tentang kehidupan rumah tangga anaknya itu.

Sebuah rasa sesal menyusup di relung hati Gauri. Dia sangat menyesal karena melihat Aara yang seperti itu. Ia yakin gadis baik itu merasa tersiksa dengan kehidupan pernikahan ini. Pernikahan paksaan atas keegoisan para orang tua.

" Maafkan Amma sayang." Pada akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Gauri. Jelas bahwa Aara tidak bahagia dengan kehidupan baru ini. Gadis yang biasanya ceria itu, kini tidak lagi terlihat seperti itu.

" Amma bicara apa, kenapa Amma minta maaf? Aara baik-baik saja Amma. Aara mungkin hanya lelah, tadi pagi Aara sempat pingsan, mungkin karena belum kemasukan apapun. Jadi jangan minta maaf ya, Aara sungguh baik-baik saja," ucap Aara sambil mengembangkan senyumnya.

Gauri bukannya tenang tapi hatinya semakin sakit. Senyuman Aara yang sangat tulus itu membuat Gauri semakin besar rasa bersalahnya. Ia merasa seperti seekor musang yang mengelabui kelinci kecil yang polos.

" Fawwas, apakah dia berbuat buruk kepadamu?" tanya Gauri menyelidik. Pada akhirnya Gauri tidak tahan juga ingin menanyakan apa yang ada di kepalanya Sedati tadi.

Aara bereaksi cepat, dia menggeleng dan berkata," Tidak, bukan begitu Amma. Kak Fawwas sangat baik. Kak Fawwas tidak melakukan apa-apa kok Amma. Sekarang bahkan dia tidak berangkat ke rumah sakit karena membantu Aara mengurus Neida."

Gauri menghela nafasnya, bukan lega melainkan terasa sangat sesak. Jelas sekali Aara tidak merasakan kehidupan yang bahagia dalam pernikahannya tersebut. Dan Gauri tidak bisa membiarkan hal ini.

" Tidak mungkin Fawwas tidak ada rasa sama sekali dengan Aara. 4 bulan bersama, masa iya dia tidak ada getaran. Bukannya ikut campur, tapi aku harus melakukan sesuatu terhadap anak bodoh itu."

TBC

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Kalau Aara pergi ...mungkin Fawwas baru merasa kehilangan.. . secara dia terlalu nyaman dengan adanya Aara yang selalu ada untuk anaknya

2024-12-14

1

Heryta Herman

Heryta Herman

jagan sampai aara lps dari hidupmu baru kau menyesal fawwas bodoh...

2024-08-28

0

Ani Ani

Ani Ani

DIA terlalu dengan dunia nya

2024-07-05

2

lihat semua
Episodes
1 IB 01: Pergi
2 IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3 IB 03: Induksi Laktasi
4 IB 04: Mimpi Risma
5 IB 05: Menikahlah
6 IB 06: Penolakan
7 IB 07: Masih Sama
8 IB 8: Keputusan
9 IB 09: Hanya Status
10 IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11 IB 11: Hal Baru
12 IB 12. Prasangka Gauri
13 IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14 IB 14: Kebingungan
15 IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16 IB 16: Cantik
17 IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18 IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19 IB 19: Terasa Kosong
20 IB 20: Pesona Istri
21 IB 21: Keirian
22 IB 22: Sakit
23 IB 23: Aku Egois
24 IB 24: Terkejut
25 IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26 IB 26: Mari Pacaran
27 IB 27: Hasil Penyelidikan
28 IB 28: Sebuah Rencana
29 IB 29: Bolehkah Egois?
30 IB 30: Sekedar Pemanasan
31 IB 31: Seperti Baru
32 IB 32: Tamu Tak Diundang
33 IB 33: Fitnah Datang
34 IB 34: Kenapa
35 IB 35: Trauma Sialan
36 IB 36: Kepuasan
37 IB 37: Bukan Kamu
38 IB 38: Tidak Salah
39 IB 39: Konferensi Pers
40 IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41 IB 41: Mengundurkan Diri
42 IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43 IB 43: Tidak Percaya
44 IB 44: Gamang
45 IB 45: Hubungan Layak
46 IB 46: Konfirmasi
47 IB 47: Terkejut
48 IB 48: Kegalauan
49 IB 49: Benda Apa Itu?
50 IB 50: Banyak Pikiran
51 IB 51: Permintaan
52 IB 52: Perkembangan Aara
53 IB 53: Bangun Ra!
54 IB 54: Fawwas Panik
55 IB 55: Libur Dulu
56 IB 56: Rindu
57 IB 57: Berkunjung
58 IB 58: Sedikit Ramai
59 IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60 IB 60: Bicaralah!
61 IB 61: Anak Itu Rejeki
62 IB 62: Milikku Sepenuhnya
63 IB 63: Roda Kehidupan Berputar
Episodes

Updated 63 Episodes

1
IB 01: Pergi
2
IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3
IB 03: Induksi Laktasi
4
IB 04: Mimpi Risma
5
IB 05: Menikahlah
6
IB 06: Penolakan
7
IB 07: Masih Sama
8
IB 8: Keputusan
9
IB 09: Hanya Status
10
IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11
IB 11: Hal Baru
12
IB 12. Prasangka Gauri
13
IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14
IB 14: Kebingungan
15
IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16
IB 16: Cantik
17
IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18
IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19
IB 19: Terasa Kosong
20
IB 20: Pesona Istri
21
IB 21: Keirian
22
IB 22: Sakit
23
IB 23: Aku Egois
24
IB 24: Terkejut
25
IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26
IB 26: Mari Pacaran
27
IB 27: Hasil Penyelidikan
28
IB 28: Sebuah Rencana
29
IB 29: Bolehkah Egois?
30
IB 30: Sekedar Pemanasan
31
IB 31: Seperti Baru
32
IB 32: Tamu Tak Diundang
33
IB 33: Fitnah Datang
34
IB 34: Kenapa
35
IB 35: Trauma Sialan
36
IB 36: Kepuasan
37
IB 37: Bukan Kamu
38
IB 38: Tidak Salah
39
IB 39: Konferensi Pers
40
IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41
IB 41: Mengundurkan Diri
42
IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43
IB 43: Tidak Percaya
44
IB 44: Gamang
45
IB 45: Hubungan Layak
46
IB 46: Konfirmasi
47
IB 47: Terkejut
48
IB 48: Kegalauan
49
IB 49: Benda Apa Itu?
50
IB 50: Banyak Pikiran
51
IB 51: Permintaan
52
IB 52: Perkembangan Aara
53
IB 53: Bangun Ra!
54
IB 54: Fawwas Panik
55
IB 55: Libur Dulu
56
IB 56: Rindu
57
IB 57: Berkunjung
58
IB 58: Sedikit Ramai
59
IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60
IB 60: Bicaralah!
61
IB 61: Anak Itu Rejeki
62
IB 62: Milikku Sepenuhnya
63
IB 63: Roda Kehidupan Berputar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!