Suara tangis Neida membuat Aara terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan. Aara mengingat apa yang terjadi tadi sebelum dia pingsan, ia mengusap wajahnya kasar. Tapi ia kembali mencoba untuk menguatkan tubuhnya agar bisa segera bangun dari posisi tidurnya. Neida masih menangis, dan dia harus segera menggendongnya. Tapi tak lama kemudian tangis Neida reda dan berganti suara pria dewasa.
" Cup cup cup sayang. Jangan menangis ya, biarkan Ibu mu istirahat barang sebentar. Kasian, Ibu sepertinya lelah. Minum susunya dari botol dulu ya." Begitulah kata-kata yang keluar dari mulut pria tersebut. Aara menajamkan penglihatannya yang masih sedikit kabur. Ia terkejut mendapati Fawwas di kamarnya sambil menggendong Neida.
" Kak, kakak tidak bekerja? Maaf kak, tidak seharusnya aku pingsan. Kakak jadi tidak pergi ke rumah sakit," sesal Aara. Ia bergegas bangun dan berjalan menghampiri Fawwas lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil Neida dari tangan pria tersebut. Aara merasa sangat bersalah karena sudah membuat Fawwas jadi tinggal di rumah lebih lama.
" Ra, kalau kamu memang lelah menjaga Neida, mengapa tidak mengatakannya kepada ku? Dan tadi, kamu juga belum menjawab pertanyaan ku," desak Fawwas. Ternyata dia masih menginginkan jawaban dari pertanyaannya tadi sebelum Aara pingsan. Aara kembali menunduk dalam. Ia tidak tahu bagaimana akan menjelaskan mengenai kondisinya saat ini. Trauma itu masih melekat jelas dalam dirinya. Bahkan tadi saja hanya dengan mendengar pertanyaan Fawwas, dia kembali mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
" Baiklah kalian kamu tidak mau membicarakan hal ini. Tapi aku harap kamu bisa kembali ke rumah sakit. Neida sudah mau 6 bulan. Dia tidak lagi di tahap meminum ASI eksklusif, dia mulai akan makan. Jika kekhawatiran Amma dan Ibu soal pengasuh, kita nanti bisa menitipkan kepada mereka berdua secara bergantian. Ra, aku hanya tidak mau kamu menghabiskan waktumu untuk Neida. Seperti yang aku bilang, hidupmu adalah milikmu, aku tidak ingin kau kehilangan kebebasanmu karena mengasuh Neida."
Ucapan panjang lebar Fawwas membuat Aara tersadar, bahwa benar dia tidak bisa berharap lebih untuk pernikahan ini. Fawwas selamanya hanya menganggap dia adik ipar dan tidak akan lebih dari pada itu. Senyum kecut terbentur dari bibir Aara yang tipis. Pa yu dara nya mulai mengencang menandakan bahwa ia sudah siap untuk memberikan ASI nya. Tapi saat ini Neida sedang menyusu dari botol, akhirnya Aara memilih untuk mengambil pompa ASI.
" Ya benar, jangan berharap apapun, bukankah dari awal memang kau sudah tahu Ra. Sampai kapanpun, pria itu hanya menganggap mu adik ipar dan ibu susu dari Aara. Tidak akan lebih dari itu. Jangan kecewa begitu, ini sudah 4 bulan sejak menikah, dan semuanya masih sama. Sikapnya, perhatiannya beberapa hari ini hanya semata-mata untuk kau sudah merawat Neida. Jadi kembalilah fokus," gumam Aara lirih.
Air mata Aara menetes, ternyata hatinya sedikit tercubit. Padahal dia sudah tahu mengenai ini semua, tapi saat itu ditegaskan dan keluar dari mulut Fawwas mengapa rasanya sedikit menyakitkan?
Aara menghela nafasnya, ia mencoba menyingkirkan semua pikirannya itu. Jujur dia tidak akan menyangka akan bereaksi seperti ini. Tanpa sadar 2 kantong penuh terisi dengan ASI. Ia bergegas menuju ke dapur untuk menyimpan hasil perahan ASI. Sejenak Aara melihat ke luar, Fawwas masih mengajak Neida bermain, ia memutuskan untuk menyiapkan makan siang. Aara ingin memasak, hal yang jarang ia lakukan setelah mengurus Neida. Sekarang dia punya kesempatan lebih untuk melakukannya.
" Menikah? Sebenarnya seperti apa pernikahan itu. Apakah aku nanti juga akan bisa merasakan pernikahan yang normal? Tapi kapan, dan dengan siapa? Apakah masih ada yang menginginkan diriku setelah aku menjadi janda nanti?"
Hal yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya, kini menyusup juga. Tiba-tiba dia terpikirkan masa depan. Tiba-tiba dia khawatir mengenai apa yang akan terjadi di kehidupannya nanti. Namun, Aara teringat wajah Neida. Ia jelas tidak bisa meninggalkan Neida. Jika dia bercerai dengan Fawwas, bukankah dia juga akan berpisah dengan Neida? Apakah Aara akan sanggup?
Lagi, air mata wanita itu keluar tanpa permisi. Ia bahkan menangis hingga sesenggukan. Dadanya terasa begitu sesak ketika memikirkan itu. Mengurus Neida dari lahir, dan menyusuinya hingga sekarang, apakah dia akan sanggup untuk berpisah?
" Aara! Sayang, kamu kenapa nak!"
Tap tap tap
Gauri yang baru saja masuk dan berjalan menuju ke dapur sangat terkejut melihat Aara yang tampak kesakitan sambil mencengkeram erat bajunya di bagian dada. Aara juga memukul dadanya berkali-kali dengan sangat kuat. Gauri sampai berteriak histeris saat melihat menantunya melakukan hal tersebut.
" Ra! Aara! Bernafas dengan perlahan, sayang... ."
Hah ... hah ... hah ...
Gauri menarik sebuah kursi dan meminta Aara untuk duduk, ia juga mengambilkan Aara air putih hangat dan membantu menantunya itu untuk meminumnya. Gauri mengerutkan keningnya, sebuah pertanyaan muncul dalam benak Gauri, sebenarnya apa yang terjadi dengan menantunya ini? Mengapa Aara terlihat sangat pucat dan begitu menderita? Apa Fawwas memperlakukan Aara dengan buruk atau bahkan KDRT?
Meskipun banyak sekali pertanyaan yang muncul, Gauri tidak akan bertanya saat ini juga. Ia lebih fokus untuk membawa Aara kembali ke kamar. Dan satu hal baru yang ia ketahui, ternyata Aara tidak tidur satu kamar dengan Fawwas. Selama ini jika ia berkunjung, tidak pernah menginap, maka dari itu dia tidak tahu tentang kehidupan rumah tangga anaknya itu.
Sebuah rasa sesal menyusup di relung hati Gauri. Dia sangat menyesal karena melihat Aara yang seperti itu. Ia yakin gadis baik itu merasa tersiksa dengan kehidupan pernikahan ini. Pernikahan paksaan atas keegoisan para orang tua.
" Maafkan Amma sayang." Pada akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Gauri. Jelas bahwa Aara tidak bahagia dengan kehidupan baru ini. Gadis yang biasanya ceria itu, kini tidak lagi terlihat seperti itu.
" Amma bicara apa, kenapa Amma minta maaf? Aara baik-baik saja Amma. Aara mungkin hanya lelah, tadi pagi Aara sempat pingsan, mungkin karena belum kemasukan apapun. Jadi jangan minta maaf ya, Aara sungguh baik-baik saja," ucap Aara sambil mengembangkan senyumnya.
Gauri bukannya tenang tapi hatinya semakin sakit. Senyuman Aara yang sangat tulus itu membuat Gauri semakin besar rasa bersalahnya. Ia merasa seperti seekor musang yang mengelabui kelinci kecil yang polos.
" Fawwas, apakah dia berbuat buruk kepadamu?" tanya Gauri menyelidik. Pada akhirnya Gauri tidak tahan juga ingin menanyakan apa yang ada di kepalanya Sedati tadi.
Aara bereaksi cepat, dia menggeleng dan berkata," Tidak, bukan begitu Amma. Kak Fawwas sangat baik. Kak Fawwas tidak melakukan apa-apa kok Amma. Sekarang bahkan dia tidak berangkat ke rumah sakit karena membantu Aara mengurus Neida."
Gauri menghela nafasnya, bukan lega melainkan terasa sangat sesak. Jelas sekali Aara tidak merasakan kehidupan yang bahagia dalam pernikahannya tersebut. Dan Gauri tidak bisa membiarkan hal ini.
" Tidak mungkin Fawwas tidak ada rasa sama sekali dengan Aara. 4 bulan bersama, masa iya dia tidak ada getaran. Bukannya ikut campur, tapi aku harus melakukan sesuatu terhadap anak bodoh itu."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Kalau Aara pergi ...mungkin Fawwas baru merasa kehilangan.. . secara dia terlalu nyaman dengan adanya Aara yang selalu ada untuk anaknya
2024-12-14
1
Heryta Herman
jagan sampai aara lps dari hidupmu baru kau menyesal fawwas bodoh...
2024-08-28
0
Ani Ani
DIA terlalu dengan dunia nya
2024-07-05
2