IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas

7 hari setelah kepergian Aira, Aara kembali ke rumah sakit. Tapi dia tidak bisa bekerja sepeti biasa, setiap menghadapi pasien, Aara akan berkeringat dingin dan tubuhnya bergetar. Bahkan ia meminta perawat untuk memindahkan semua pasiennya ke rekan dokternya yang lain.

Awalnya Aara pikir ini adalah keadaan sementara, namun sudah satu minggu kemudian dia tetap mengalami hal yang sama ketika menerima pasien. Kondisi ini tentu di dengar oleh Bisma. Aara pun diminta untuk bertemu langsung dengan Bisma.

"Apa benar yang dikatakan oleh orang-orang itu Aara?" tanya Bisma to the poin. Bagaimanapun Aara adalah dokter kandungan terbaik yang dimiliki RS Mitra Harapan. Bagaiman bisa dia menjadi dokter yang dibicarakan karena takut kepada pasien? Ini sungguh membuat Bisma kebingungan.

" Iya, Dokter. Saya~"

" Panggil Appa, sudah ku katakan ketika kita sedang bicara berdua kamu panggil aku seperti almarhumah Aira memanggilku. Pun dengan Gauri, panggil dia Amma," potong Bisma cepat. Pria paruh baya itu memang sudah mengaggap Aara sepeti anak nya sendiri. Bahkan lama sebelum Fawwas dan Aira menikah. Bisma yang tidak memiliki anak perempuan sungguh menyukai pribadi Aara yang ceria. Siapa sangka Fawwas menikah denan Aira sehingga Aara pun juga sering terlibat di acara keluarga.

Setali tiga uang dengan Bisma, Gauri juga menyukai Aara. Meskipun Aara dan Aira sama-sama cantik tapi pribadi Aara dan Aira berbeda. Aara lebih ceria dan Aira sedikit pendiam. Namun baik Bisma dan Gauri sama-sama menyukai keduanya.

" Coba ceritakan apa yang kamu rasakan?" tanya Bisma lagi.

" Iya Appa, jadi ... ."

Akhirnya Aara bercerita dengan semua yang dihadapi beberapa hari ini. Kalau boleh menyimpulkan, sepertinya Aara mengalami trauma. Dia tidak percaya diri dengan kemampuannya setelah Aira meninggal. Ia langsung merasa dirinya tidak kompeten dan takut untuk mengahadapi pasien. Aara takut apa yang menimpa sang kakak terjadi juga pada pasien yang lainnya.

" Aara takut ada pasien yang meninggal gara-gara Aara, Appa," ucap Aara disertai dengan isakan nya.

Bisma sungguh tidak menyangka bahwa Aara akan mengalami sebuah rasa trauma seperti itu. Tapi Bisma juga tidak bisa memaksa Aara untuk bekerja di saat kondisi psikis gadis itu sedang tidak baik-baik saja.

" Ambillah cuti Ra, bukannya apa-apa tapi Appa rasa kamu memang harus tenangkan lah hatimu dulu, dan mungkin kamu bisa merawat Neida. Siapa tahu dengan merawat Neida kamu bisa kembali lagi seperti dulu." Bisma memberikan usulan yang bijak. Kondisi ini jelas tidak bisa dipaksakan.

Aara mengangguk, tampaknya keputusan untuk cuti adalah keputusan yang tepat. Ia jelas tidak bisa menangani pasien dalam kondisi sekarang ini.

🍀🍀🍀

Di Kediaman Dewandaru, Gauri saat ini sedang sangat kesal melihat putranya yang sudah 2 minggu masih berdiam diri di kamar dan tidak keluar barang sebentar pun. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan, namun bukan berarti kita harus berlarut-larut bukan. Gauri bahkan sudah kehilangan sang ibu saat usianya 5 tahun dan dia juga barus saja kehilangan ayahnya setahun yang lalu.

Dugh

Dugh

" Fawwas, keluar kamu. Kalau tidak keluar juga, Amma akan dobrak pintu kamar kamu. Mau sampai kapan hah di kamar terus. Apa kamu akan akan seperti ini terus? Kamu tidak kasihan sama putrimu? Kamu bahkan dari dia lahir tidak melihatnya. Jika seperti ini terus Amma tidak akan mau bicara lagi dengan mu. Kamu masih ingat ajaran agama kan, bersedih boleh tapi tidak untuk berlarut-larut."

Gauri memilih untuk untuk pergi dari depan putra pertamanya itu. Gauri benar-benar kesal. Ia merasa tidak enak dengan keluarga besannya, sejak Aira meninggal, Fawwas belum melihat sang putri. Nedia ada di rumah keluarga Ananta di rawat oleh Risma dan juga Aara. Terlebih sekarang Aara cuti dari rumah sakit, gadis itu bertekad untuk merawat anak dari kakaknya itu sendiri.

" Aira, apa yang harus aku lakukan, hiks," gumam Fawwas ditengah tangisnya. Ia benar-benar belum bisa mengikhlaskan kepergian sang istri.

Fawwas menikah dengan Aira ketika mereka bertemu tidak sengaja di sebuah kafe. Saat itu ia melihat Aira yang kebingungan akan berdiri dari tempat duduknya. Hari itu adalah hari pertama Aira datang bulan dan ia lupa membawa pembalut. Darah menstruasi itu tembus pada dress nya yang berwarna cerah. Aira sungguh malu. Dan Fawwas yang mengetahui itu menawarkan jasnya untuk dipakai oleh Aira.

Dai situlah mereka berkenalan dan menjalin hubungan baik. Hanya dalam waktu kurang dari setengah tahun, Fawwas langsung meminang Aira. Dan sebulan menikah kabar kehamilan Aira membuat dua keluarga bahagia. Namun rupanya takdir kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Total hanya dalam kurun waktu satu setengah tahun Fawwas dan Aira bersama. Meskipun singkat, Fawwas sangat mencintai istrinya tersebut.

" Apakah jika aku tidak bertemu dengan mu, kamu masih akan ada hingga sekarang? Apakah jika kamu tidak hamil maka kamu masih bisa ku lihat. Aira sayang, aku sungguh merindukanmu."

Rindu yang tidak terbalas adalah rindu dengan seseorang yang beda alam. Sungguh itu sungguh menyakitkan dan menyesakkan. Seperti yang dirasakan Fawwas kali ini. Dengan erat dia memeluk foto pernikahannya.

Namun tiba-tiba dia teringat dengan kata-kata sang ibu mengenai Neida. Ada rasa bersalah yang menyusup ke relung hatinya. Benar dia kehilangan Aira, tapi jelas dia tidak boleh mengabaikan buah hatinya. Bukankah Neida merupakan satu-satunya peninggalan Aira yang berharga.

" Maafkan ayah sayang, ayah sungguh egois. Nanti ayah akan menjemputmu. Kita akan tinggal bersama. Maafkan aku Aira, sejenak aku lupa dengan anak kita. Kamu pasti akan marah jika tahu aku mengabaikan anak kita."

TBC

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Seorang dokter....paham agama....mengapa bersikap seperti itu...??

2024-12-13

0

Heryta Herman

Heryta Herman

kecewa boleh boleh saja...tapi tdk harus berlarut"...ini semua sdh kententuan Yang Maha Kuasa...hidup harus di teruskan..ada anak yg perlukan perhatianmu fawwas...

2024-08-28

0

Ani Ani

Ani Ani

hidup harus diterus kan

2024-07-04

1

lihat semua
Episodes
1 IB 01: Pergi
2 IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3 IB 03: Induksi Laktasi
4 IB 04: Mimpi Risma
5 IB 05: Menikahlah
6 IB 06: Penolakan
7 IB 07: Masih Sama
8 IB 8: Keputusan
9 IB 09: Hanya Status
10 IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11 IB 11: Hal Baru
12 IB 12. Prasangka Gauri
13 IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14 IB 14: Kebingungan
15 IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16 IB 16: Cantik
17 IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18 IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19 IB 19: Terasa Kosong
20 IB 20: Pesona Istri
21 IB 21: Keirian
22 IB 22: Sakit
23 IB 23: Aku Egois
24 IB 24: Terkejut
25 IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26 IB 26: Mari Pacaran
27 IB 27: Hasil Penyelidikan
28 IB 28: Sebuah Rencana
29 IB 29: Bolehkah Egois?
30 IB 30: Sekedar Pemanasan
31 IB 31: Seperti Baru
32 IB 32: Tamu Tak Diundang
33 IB 33: Fitnah Datang
34 IB 34: Kenapa
35 IB 35: Trauma Sialan
36 IB 36: Kepuasan
37 IB 37: Bukan Kamu
38 IB 38: Tidak Salah
39 IB 39: Konferensi Pers
40 IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41 IB 41: Mengundurkan Diri
42 IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43 IB 43: Tidak Percaya
44 IB 44: Gamang
45 IB 45: Hubungan Layak
46 IB 46: Konfirmasi
47 IB 47: Terkejut
48 IB 48: Kegalauan
49 IB 49: Benda Apa Itu?
50 IB 50: Banyak Pikiran
51 IB 51: Permintaan
52 IB 52: Perkembangan Aara
53 IB 53: Bangun Ra!
54 IB 54: Fawwas Panik
55 IB 55: Libur Dulu
56 IB 56: Rindu
57 IB 57: Berkunjung
58 IB 58: Sedikit Ramai
59 IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60 IB 60: Bicaralah!
61 IB 61: Anak Itu Rejeki
62 IB 62: Milikku Sepenuhnya
63 IB 63: Roda Kehidupan Berputar
Episodes

Updated 63 Episodes

1
IB 01: Pergi
2
IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3
IB 03: Induksi Laktasi
4
IB 04: Mimpi Risma
5
IB 05: Menikahlah
6
IB 06: Penolakan
7
IB 07: Masih Sama
8
IB 8: Keputusan
9
IB 09: Hanya Status
10
IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11
IB 11: Hal Baru
12
IB 12. Prasangka Gauri
13
IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14
IB 14: Kebingungan
15
IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16
IB 16: Cantik
17
IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18
IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19
IB 19: Terasa Kosong
20
IB 20: Pesona Istri
21
IB 21: Keirian
22
IB 22: Sakit
23
IB 23: Aku Egois
24
IB 24: Terkejut
25
IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26
IB 26: Mari Pacaran
27
IB 27: Hasil Penyelidikan
28
IB 28: Sebuah Rencana
29
IB 29: Bolehkah Egois?
30
IB 30: Sekedar Pemanasan
31
IB 31: Seperti Baru
32
IB 32: Tamu Tak Diundang
33
IB 33: Fitnah Datang
34
IB 34: Kenapa
35
IB 35: Trauma Sialan
36
IB 36: Kepuasan
37
IB 37: Bukan Kamu
38
IB 38: Tidak Salah
39
IB 39: Konferensi Pers
40
IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41
IB 41: Mengundurkan Diri
42
IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43
IB 43: Tidak Percaya
44
IB 44: Gamang
45
IB 45: Hubungan Layak
46
IB 46: Konfirmasi
47
IB 47: Terkejut
48
IB 48: Kegalauan
49
IB 49: Benda Apa Itu?
50
IB 50: Banyak Pikiran
51
IB 51: Permintaan
52
IB 52: Perkembangan Aara
53
IB 53: Bangun Ra!
54
IB 54: Fawwas Panik
55
IB 55: Libur Dulu
56
IB 56: Rindu
57
IB 57: Berkunjung
58
IB 58: Sedikit Ramai
59
IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60
IB 60: Bicaralah!
61
IB 61: Anak Itu Rejeki
62
IB 62: Milikku Sepenuhnya
63
IB 63: Roda Kehidupan Berputar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!