7 hari setelah kepergian Aira, Aara kembali ke rumah sakit. Tapi dia tidak bisa bekerja sepeti biasa, setiap menghadapi pasien, Aara akan berkeringat dingin dan tubuhnya bergetar. Bahkan ia meminta perawat untuk memindahkan semua pasiennya ke rekan dokternya yang lain.
Awalnya Aara pikir ini adalah keadaan sementara, namun sudah satu minggu kemudian dia tetap mengalami hal yang sama ketika menerima pasien. Kondisi ini tentu di dengar oleh Bisma. Aara pun diminta untuk bertemu langsung dengan Bisma.
"Apa benar yang dikatakan oleh orang-orang itu Aara?" tanya Bisma to the poin. Bagaimanapun Aara adalah dokter kandungan terbaik yang dimiliki RS Mitra Harapan. Bagaiman bisa dia menjadi dokter yang dibicarakan karena takut kepada pasien? Ini sungguh membuat Bisma kebingungan.
" Iya, Dokter. Saya~"
" Panggil Appa, sudah ku katakan ketika kita sedang bicara berdua kamu panggil aku seperti almarhumah Aira memanggilku. Pun dengan Gauri, panggil dia Amma," potong Bisma cepat. Pria paruh baya itu memang sudah mengaggap Aara sepeti anak nya sendiri. Bahkan lama sebelum Fawwas dan Aira menikah. Bisma yang tidak memiliki anak perempuan sungguh menyukai pribadi Aara yang ceria. Siapa sangka Fawwas menikah denan Aira sehingga Aara pun juga sering terlibat di acara keluarga.
Setali tiga uang dengan Bisma, Gauri juga menyukai Aara. Meskipun Aara dan Aira sama-sama cantik tapi pribadi Aara dan Aira berbeda. Aara lebih ceria dan Aira sedikit pendiam. Namun baik Bisma dan Gauri sama-sama menyukai keduanya.
" Coba ceritakan apa yang kamu rasakan?" tanya Bisma lagi.
" Iya Appa, jadi ... ."
Akhirnya Aara bercerita dengan semua yang dihadapi beberapa hari ini. Kalau boleh menyimpulkan, sepertinya Aara mengalami trauma. Dia tidak percaya diri dengan kemampuannya setelah Aira meninggal. Ia langsung merasa dirinya tidak kompeten dan takut untuk mengahadapi pasien. Aara takut apa yang menimpa sang kakak terjadi juga pada pasien yang lainnya.
" Aara takut ada pasien yang meninggal gara-gara Aara, Appa," ucap Aara disertai dengan isakan nya.
Bisma sungguh tidak menyangka bahwa Aara akan mengalami sebuah rasa trauma seperti itu. Tapi Bisma juga tidak bisa memaksa Aara untuk bekerja di saat kondisi psikis gadis itu sedang tidak baik-baik saja.
" Ambillah cuti Ra, bukannya apa-apa tapi Appa rasa kamu memang harus tenangkan lah hatimu dulu, dan mungkin kamu bisa merawat Neida. Siapa tahu dengan merawat Neida kamu bisa kembali lagi seperti dulu." Bisma memberikan usulan yang bijak. Kondisi ini jelas tidak bisa dipaksakan.
Aara mengangguk, tampaknya keputusan untuk cuti adalah keputusan yang tepat. Ia jelas tidak bisa menangani pasien dalam kondisi sekarang ini.
🍀🍀🍀
Di Kediaman Dewandaru, Gauri saat ini sedang sangat kesal melihat putranya yang sudah 2 minggu masih berdiam diri di kamar dan tidak keluar barang sebentar pun. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan, namun bukan berarti kita harus berlarut-larut bukan. Gauri bahkan sudah kehilangan sang ibu saat usianya 5 tahun dan dia juga barus saja kehilangan ayahnya setahun yang lalu.
Dugh
Dugh
" Fawwas, keluar kamu. Kalau tidak keluar juga, Amma akan dobrak pintu kamar kamu. Mau sampai kapan hah di kamar terus. Apa kamu akan akan seperti ini terus? Kamu tidak kasihan sama putrimu? Kamu bahkan dari dia lahir tidak melihatnya. Jika seperti ini terus Amma tidak akan mau bicara lagi dengan mu. Kamu masih ingat ajaran agama kan, bersedih boleh tapi tidak untuk berlarut-larut."
Gauri memilih untuk untuk pergi dari depan putra pertamanya itu. Gauri benar-benar kesal. Ia merasa tidak enak dengan keluarga besannya, sejak Aira meninggal, Fawwas belum melihat sang putri. Nedia ada di rumah keluarga Ananta di rawat oleh Risma dan juga Aara. Terlebih sekarang Aara cuti dari rumah sakit, gadis itu bertekad untuk merawat anak dari kakaknya itu sendiri.
" Aira, apa yang harus aku lakukan, hiks," gumam Fawwas ditengah tangisnya. Ia benar-benar belum bisa mengikhlaskan kepergian sang istri.
Fawwas menikah dengan Aira ketika mereka bertemu tidak sengaja di sebuah kafe. Saat itu ia melihat Aira yang kebingungan akan berdiri dari tempat duduknya. Hari itu adalah hari pertama Aira datang bulan dan ia lupa membawa pembalut. Darah menstruasi itu tembus pada dress nya yang berwarna cerah. Aira sungguh malu. Dan Fawwas yang mengetahui itu menawarkan jasnya untuk dipakai oleh Aira.
Dai situlah mereka berkenalan dan menjalin hubungan baik. Hanya dalam waktu kurang dari setengah tahun, Fawwas langsung meminang Aira. Dan sebulan menikah kabar kehamilan Aira membuat dua keluarga bahagia. Namun rupanya takdir kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Total hanya dalam kurun waktu satu setengah tahun Fawwas dan Aira bersama. Meskipun singkat, Fawwas sangat mencintai istrinya tersebut.
" Apakah jika aku tidak bertemu dengan mu, kamu masih akan ada hingga sekarang? Apakah jika kamu tidak hamil maka kamu masih bisa ku lihat. Aira sayang, aku sungguh merindukanmu."
Rindu yang tidak terbalas adalah rindu dengan seseorang yang beda alam. Sungguh itu sungguh menyakitkan dan menyesakkan. Seperti yang dirasakan Fawwas kali ini. Dengan erat dia memeluk foto pernikahannya.
Namun tiba-tiba dia teringat dengan kata-kata sang ibu mengenai Neida. Ada rasa bersalah yang menyusup ke relung hatinya. Benar dia kehilangan Aira, tapi jelas dia tidak boleh mengabaikan buah hatinya. Bukankah Neida merupakan satu-satunya peninggalan Aira yang berharga.
" Maafkan ayah sayang, ayah sungguh egois. Nanti ayah akan menjemputmu. Kita akan tinggal bersama. Maafkan aku Aira, sejenak aku lupa dengan anak kita. Kamu pasti akan marah jika tahu aku mengabaikan anak kita."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Seorang dokter....paham agama....mengapa bersikap seperti itu...??
2024-12-13
0
Heryta Herman
kecewa boleh boleh saja...tapi tdk harus berlarut"...ini semua sdh kententuan Yang Maha Kuasa...hidup harus di teruskan..ada anak yg perlukan perhatianmu fawwas...
2024-08-28
0
Ani Ani
hidup harus diterus kan
2024-07-04
1