Suara adzan subuh berkumandang. Aara terlonjak kaget saat menyadari dirinya ketiduran. Yang dia ingat, semalam ia sendang memangku Neida. Tapi saat ini dia menemukan dirinya yang baru saja tertidur pulas di atas ranjang.
Aara menggerakkan tubuhnya, baru sekarang ia merasakan bangun tidur dengan tubuh yang segar. Dan dia akui, malam ini tidurnya sungguh pulas. Aara melihat ke arah box bayi. Di sana Neida masih tertidur dengan pulas, ia pun bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu sehingga bisa langsung melaksanakan kewajiban 2 rakaat. Ia harus melakukannya dengan cepat sebelum Neida bangun. Jika sudah bangun maka dia akan kesulitan menjalankan kewajibannya.
Hal tersebut memang sering terjadi. Ia akan sedikit kerepotan untuk menjalankan kewajiban dari agamanya, terlebih jika Neida menangis dan tidak mau dititipkan kepada sang art. Namun, Aara bersyukur karena itu tidak sering terjadi dan hanya sesekali. Neida lebih banyak pengertiannya, dan ia sungguh sangat bersyukur akan hal tersebut.
Deg!
Jantung Aara berdetak cepat saat melihat Fawwas yang ternyata tertidur di kamarnya. Ia memutar ingatannya semalam. Ia pikir itu hanyalah sekedar mimpi, tapi saat melihat Fawwas berada di sana membuat Aara yakin bahwa saat pria tersebut memberinya susu dan menggendong Neida tadi malam, adalah benar adanya. Aara sungguh tidak menyangka Fawwas akan melakukan hal tersebut. 4 bulan bersama, baru kali ini Fawwas menemui dirinya dan mau membantu mengurus Neida saat malam hari.
" Jadi yang semalam bukan mimpi? Aku bangunkan atau tidak ya? Dia terlihat sangat pulas, jadi biarkan saja lah," gumam Aara. Pada akhirnya Aara memilih untuk membiarkan Fawwas.
Aara melenggang masuk ke kamar mandi, dengan cepat ia berwudhu lalu menggelar sajadahnya. Dengan khusu, Aara melakukan kewajiban 2 rakaatnya. Sebuah doa tidak lupa ia panjatkan untuk semua orang yang ia kasihi. Doa khusus ia tujukan kepada almarhum Aira. Aara tidak pernah melupakan hal itu di setiap ia selesai melaksanakan ibadah wajibnya.
" Mumpung Neida belum bangun, sebaiknya pumping dulu," gumam Aara pelan. Ia memilih untuk keluar kamar. Aara tentu tidak ingin Fawwas melihat bagian tubuhnya itu, bagaimanapun pernikahan mereka tidak seperti pernikahan pada umumnya.
Aara memilih ruang makan. Di sana adalah tempat ternyaman karena jam segitu Bi Sum sudah beraktifitas. Wanita berusia 42 tahun itu yang menjadi art dirumahnya Fawwas dan Aara. Bi Sum juga lah yang tahu kehidupan rumah tangga seperti apa yang dijalani pasangan muda tersebut. Awalnya Bi Sum heran, tapi saat Aara menjelaskan ia pun paham. Tapi Bi Sum merasa kasihan kepada Aara, meskipun begitu ia tidak pernah memperlihatkannya. Bagi Bi Sum, yang terpenting adalah bekerja dengan baik dan dia tidak perlu mencampuri urusan majikannya.
" Mau ngemil apa Non?" tanya Bi Sum, ia sudah paham. Sebagai ibu menyusui Aara memang harus banyak mengonsumsi makanan. Tapi tidak boleh sembarangan juga.
" Apa aja yang ada Bi, sama minta tolong untuk air putih hangat ya Bi. Terimakasih Bi, maaf merepotkan."
Bi Sum mengangguk sambil tersenyum. Aara tidak pernah lupa untuk menyampaikan kata tolong dan terimakasih setiap ia meminta sesuatu. Hal ini sangat jarang Bi Sum temui di majikan-majikan sebelumnya.
Dengan cepat apa yang dibutuhkan Aara sudah tertata di meja. Sambil memeras ASI nya Aara memakan makanan yang sudah disediakan oleh Bi Sum. Ia memakannya dengan lahap. Dan dalam waktu sekejap saja 2 kantong ASI ia dapatkan.
Meskipun Aara menyusui Neida secara langsung, ia harus tetap melakukan pumping agar produksi ASI nya terus bertambah. Karena dengan memompa, ASI yang keluar juga bisa semakin banyak. Hal tersebut juga bermanfaat ketika Aara merasa lelah atau ketika harus keluar rumah, sehingga ia bisa memberikan ASIP (air susu ibu perah) kepada Neida.
Aara kembali ke kamar, dia sedikit terkejut melihat Fawwas sudah bangun dan saat ini tengah menggendong Neida. Ia hendak memintanya tapi tidak diberikan oleh Fawwas.
" Mandilah dulu. Setelah itu baru memegang Neida. Aku akan membawa Neida untuk jalan-jalan di luar sebentar." Begitulah ucapan Fawwas. Aara sedikit terkejut karena ini adalah hal yang tidak pernah dilakukan Fawwas sebelumnya. Tapi Aara tidak ada pikiran lain, mungkin pria yang awalnya adalah kakak iparnya itu dan sekarang menjadi suaminya tersebut ingin lebih akrab dengan putrinya.
" Baik kak, oh iya ini susu untuk Neida. Itu ASIP, tadi aku sudah pumping."
Fawwas mengangguk tanpa senyum dan tanpa bereaksi. Ia langsung berjalan ke luar menggendong Neida. Aara juga segera bergegas untuk mandi. Dia tidak ingin Fawwas menunggu terlalu lama. Fawwas juga harus bekerja.
" Duuh, kok jadi canggung begini. Kak Fawwas tidak pernah melakukan hal seperti ini. Jadi mengapa tiba-tiba dia bersikap begini. Aah sudah jangan banyak berpikir Aara. Kamu harus cepat mandi."
Pagi itu Aara benar-benar dibuat tidak paham dengan sikap Fawwas. Banyak hal yang dilakukan Fawwas yang belum pernah ia lakukan sebelumnya selama mereka hidup bersama. Hari ini Fawwas bahkan membuatkan susu lagi untuk Aara, dia juga menanyakan apa yang ingin dibeli oleh Aara.
" Tidak perlu khawatir soal itu kak, aku kan sudah diberi kartu ATM oleh Kak Fawwas, aku bisa pergunakan itu dengan baik."
" Tapi ku lihat kau hampir tidak pernah menggunakan."
Aara tertunduk dalam, dia memaNg tidak banyak melakukan transaksi dengan kartu pemberian Fawwas. Baginya, apa yang disediakan Fawwas sudah cukup. Sebuah hembusan nafas dilakukan oleh Fawwas, ia tidak lagi berbicara tentang itu. Fawwas sudah memberikan kartu itu kepada Aara, maka Aara bebas akan menggunakannya tau tidak.
" Oh iya Ra, bentar lagi Neida sudah mau 6 bulan dan mulai MPASI, kapan kamu akan kembali ke rumah sakit?"
Deg!
Pertanyaan Fawwas membuat jantung Aira berdetak cepat. Tiba-tiba keringat dingin membasahi tubuhnya. Bukan hanya itu tubuh Aara pun bergetar. Sebuah rasa takut hinggap di dirinya, ya kembali mengingat peristiwa saat Aira meninggal. Sudah 5 bulan berlalu semenjak Neida dilahirkan tapi Aara seperti pbaru kemarin mengalaminya.
Fawwas yang melihat reaksi Aara tentu heran. Ia belum pernah melihat Aara bereaksi seperti ini. Wajah Aara jelas sekali sangat ketakutan. Padahal dia hanya eratnya hal seperti itu saja.
" Ra, kau kenapa? Apa kamu sakit? Bernafas lah dengan perlahan. Ra ... Aara, sadar Ra!"
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Bahkan ... keadaan Aara sedikitpun tak pernah kau berusaha ingin tahu... keterlaluan banget Fawwas..
2024-12-14
0
Ani Ani
DIA teroma
2024-07-05
0
Miss Typo
Semoga Fawwas tanya sana Bisma knpa Aara cuti lama, ya walaupun alasannya karena Neida, tp stlh melihat reaksi Aara seperti itu
2024-03-19
1