IB 11: Hal Baru

Suara adzan subuh berkumandang. Aara terlonjak kaget saat menyadari dirinya ketiduran. Yang dia ingat, semalam ia sendang memangku Neida. Tapi saat ini dia menemukan dirinya yang baru saja tertidur pulas di atas ranjang.

Aara menggerakkan tubuhnya, baru sekarang ia merasakan bangun tidur dengan tubuh yang segar. Dan dia akui, malam ini tidurnya sungguh pulas. Aara melihat ke arah box bayi. Di sana Neida masih tertidur dengan pulas, ia pun bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu sehingga bisa langsung melaksanakan kewajiban 2 rakaat. Ia harus melakukannya dengan cepat sebelum Neida bangun. Jika sudah bangun maka dia akan kesulitan menjalankan kewajibannya.

Hal tersebut memang sering terjadi. Ia akan sedikit kerepotan untuk menjalankan kewajiban dari agamanya, terlebih jika Neida menangis dan tidak mau dititipkan kepada sang art. Namun, Aara bersyukur karena itu tidak sering terjadi dan hanya sesekali. Neida lebih banyak pengertiannya, dan ia sungguh sangat bersyukur akan hal tersebut.

Deg!

Jantung Aara berdetak cepat saat melihat Fawwas yang ternyata tertidur di kamarnya. Ia memutar ingatannya semalam. Ia pikir itu hanyalah sekedar mimpi, tapi saat melihat Fawwas berada di sana membuat Aara yakin bahwa saat pria tersebut memberinya susu dan menggendong Neida tadi malam, adalah benar adanya. Aara sungguh tidak menyangka Fawwas akan melakukan hal tersebut. 4 bulan bersama, baru kali ini Fawwas menemui dirinya dan mau membantu mengurus Neida saat malam hari.

" Jadi yang semalam bukan mimpi? Aku bangunkan atau tidak ya? Dia terlihat sangat pulas, jadi biarkan saja lah," gumam Aara. Pada akhirnya Aara memilih untuk membiarkan Fawwas.

Aara melenggang masuk ke kamar mandi, dengan cepat ia berwudhu lalu menggelar sajadahnya. Dengan khusu, Aara melakukan kewajiban 2 rakaatnya. Sebuah doa tidak lupa ia panjatkan untuk semua orang yang ia kasihi. Doa khusus ia tujukan kepada almarhum Aira. Aara tidak pernah melupakan hal itu di setiap ia selesai melaksanakan ibadah wajibnya.

" Mumpung Neida belum bangun, sebaiknya pumping dulu," gumam Aara pelan. Ia memilih untuk keluar kamar. Aara tentu tidak ingin Fawwas melihat bagian tubuhnya itu, bagaimanapun pernikahan mereka tidak seperti pernikahan pada umumnya.

Aara memilih ruang makan. Di sana adalah tempat ternyaman karena jam segitu Bi Sum sudah beraktifitas. Wanita berusia 42 tahun itu yang menjadi art dirumahnya Fawwas dan Aara. Bi Sum juga lah yang tahu kehidupan rumah tangga seperti apa yang dijalani pasangan muda tersebut. Awalnya Bi Sum heran, tapi saat Aara menjelaskan ia pun paham. Tapi Bi Sum merasa kasihan kepada Aara, meskipun begitu ia tidak pernah memperlihatkannya. Bagi Bi Sum, yang terpenting adalah bekerja dengan baik dan dia tidak perlu mencampuri urusan majikannya.

" Mau ngemil apa Non?" tanya Bi Sum, ia sudah paham. Sebagai ibu menyusui Aara memang harus banyak mengonsumsi makanan. Tapi tidak boleh sembarangan juga.

" Apa aja yang ada Bi, sama minta tolong untuk air putih hangat ya Bi. Terimakasih Bi, maaf merepotkan."

Bi Sum mengangguk sambil tersenyum. Aara tidak pernah lupa untuk menyampaikan kata tolong dan terimakasih setiap ia meminta sesuatu. Hal ini sangat jarang Bi Sum temui di majikan-majikan sebelumnya.

Dengan cepat apa yang dibutuhkan Aara sudah tertata di meja. Sambil memeras ASI nya Aara memakan makanan yang sudah disediakan oleh Bi Sum. Ia memakannya dengan lahap. Dan dalam waktu sekejap saja 2 kantong ASI ia dapatkan.

Meskipun Aara menyusui Neida secara langsung, ia harus tetap melakukan pumping agar produksi ASI nya terus bertambah. Karena dengan memompa, ASI yang keluar juga bisa semakin banyak. Hal tersebut juga bermanfaat ketika Aara merasa lelah atau ketika harus keluar rumah, sehingga ia bisa memberikan ASIP (air susu ibu perah) kepada Neida.

Aara kembali ke kamar, dia sedikit terkejut melihat Fawwas sudah bangun dan saat ini tengah menggendong Neida. Ia hendak memintanya tapi tidak diberikan oleh Fawwas.

" Mandilah dulu. Setelah itu baru memegang Neida. Aku akan membawa Neida untuk jalan-jalan di luar sebentar." Begitulah ucapan Fawwas. Aara sedikit terkejut karena ini adalah hal yang tidak pernah dilakukan Fawwas sebelumnya. Tapi Aara tidak ada pikiran lain, mungkin pria yang awalnya adalah kakak iparnya itu dan sekarang menjadi suaminya tersebut ingin lebih akrab dengan putrinya.

" Baik kak, oh iya ini susu untuk Neida. Itu ASIP, tadi aku sudah pumping."

Fawwas mengangguk tanpa senyum dan tanpa bereaksi. Ia langsung berjalan ke luar menggendong Neida. Aara juga segera bergegas untuk mandi. Dia tidak ingin Fawwas menunggu terlalu lama. Fawwas juga harus bekerja.

" Duuh, kok jadi canggung begini. Kak Fawwas tidak pernah melakukan hal seperti ini. Jadi mengapa tiba-tiba dia bersikap begini. Aah sudah jangan banyak berpikir Aara. Kamu harus cepat mandi."

Pagi itu Aara benar-benar dibuat tidak paham dengan sikap Fawwas. Banyak hal yang dilakukan Fawwas yang belum pernah ia lakukan sebelumnya selama mereka hidup bersama. Hari ini Fawwas bahkan membuatkan susu lagi untuk Aara, dia juga menanyakan apa yang ingin dibeli oleh Aara.

" Tidak perlu khawatir soal itu kak, aku kan sudah diberi kartu ATM oleh Kak Fawwas, aku bisa pergunakan itu dengan baik."

" Tapi ku lihat kau hampir tidak pernah menggunakan."

Aara tertunduk dalam, dia memaNg tidak banyak melakukan transaksi dengan kartu pemberian Fawwas. Baginya, apa yang disediakan Fawwas sudah cukup. Sebuah hembusan nafas dilakukan oleh Fawwas, ia tidak lagi berbicara tentang itu. Fawwas sudah memberikan kartu itu kepada Aara, maka Aara bebas akan menggunakannya tau tidak.

" Oh iya Ra, bentar lagi Neida sudah mau 6 bulan dan mulai MPASI, kapan kamu akan kembali ke rumah sakit?"

Deg!

Pertanyaan Fawwas membuat jantung Aira berdetak cepat. Tiba-tiba keringat dingin membasahi tubuhnya. Bukan hanya itu tubuh Aara pun bergetar. Sebuah rasa takut hinggap di dirinya, ya kembali mengingat peristiwa saat Aira meninggal. Sudah 5 bulan berlalu semenjak Neida dilahirkan tapi Aara seperti pbaru kemarin mengalaminya.

Fawwas yang melihat reaksi Aara tentu heran. Ia belum pernah melihat Aara bereaksi seperti ini. Wajah Aara jelas sekali sangat ketakutan. Padahal dia hanya eratnya hal seperti itu saja.

" Ra, kau kenapa? Apa kamu sakit? Bernafas lah dengan perlahan. Ra ... Aara, sadar Ra!"

TBC

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Bahkan ... keadaan Aara sedikitpun tak pernah kau berusaha ingin tahu... keterlaluan banget Fawwas..

2024-12-14

0

Ani Ani

Ani Ani

DIA teroma

2024-07-05

0

Miss Typo

Miss Typo

Semoga Fawwas tanya sana Bisma knpa Aara cuti lama, ya walaupun alasannya karena Neida, tp stlh melihat reaksi Aara seperti itu

2024-03-19

1

lihat semua
Episodes
1 IB 01: Pergi
2 IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3 IB 03: Induksi Laktasi
4 IB 04: Mimpi Risma
5 IB 05: Menikahlah
6 IB 06: Penolakan
7 IB 07: Masih Sama
8 IB 8: Keputusan
9 IB 09: Hanya Status
10 IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11 IB 11: Hal Baru
12 IB 12. Prasangka Gauri
13 IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14 IB 14: Kebingungan
15 IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16 IB 16: Cantik
17 IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18 IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19 IB 19: Terasa Kosong
20 IB 20: Pesona Istri
21 IB 21: Keirian
22 IB 22: Sakit
23 IB 23: Aku Egois
24 IB 24: Terkejut
25 IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26 IB 26: Mari Pacaran
27 IB 27: Hasil Penyelidikan
28 IB 28: Sebuah Rencana
29 IB 29: Bolehkah Egois?
30 IB 30: Sekedar Pemanasan
31 IB 31: Seperti Baru
32 IB 32: Tamu Tak Diundang
33 IB 33: Fitnah Datang
34 IB 34: Kenapa
35 IB 35: Trauma Sialan
36 IB 36: Kepuasan
37 IB 37: Bukan Kamu
38 IB 38: Tidak Salah
39 IB 39: Konferensi Pers
40 IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41 IB 41: Mengundurkan Diri
42 IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43 IB 43: Tidak Percaya
44 IB 44: Gamang
45 IB 45: Hubungan Layak
46 IB 46: Konfirmasi
47 IB 47: Terkejut
48 IB 48: Kegalauan
49 IB 49: Benda Apa Itu?
50 IB 50: Banyak Pikiran
51 IB 51: Permintaan
52 IB 52: Perkembangan Aara
53 IB 53: Bangun Ra!
54 IB 54: Fawwas Panik
55 IB 55: Libur Dulu
56 IB 56: Rindu
57 IB 57: Berkunjung
58 IB 58: Sedikit Ramai
59 IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60 IB 60: Bicaralah!
61 IB 61: Anak Itu Rejeki
62 IB 62: Milikku Sepenuhnya
63 IB 63: Roda Kehidupan Berputar
Episodes

Updated 63 Episodes

1
IB 01: Pergi
2
IB 02: Trauma Aara, sesal Fawwas
3
IB 03: Induksi Laktasi
4
IB 04: Mimpi Risma
5
IB 05: Menikahlah
6
IB 06: Penolakan
7
IB 07: Masih Sama
8
IB 8: Keputusan
9
IB 09: Hanya Status
10
IB 10: Tidak Bisa Menganggapmu Istri
11
IB 11: Hal Baru
12
IB 12. Prasangka Gauri
13
IB 13: Lelah Cinta Sendiri
14
IB 14: Kebingungan
15
IB15: Apakah Tersiksa Selama Ini?
16
IB 16: Cantik
17
IB 17: Sepertinya Dia Tertarik
18
IB 18: Bolehkan Berharap Lebih?
19
IB 19: Terasa Kosong
20
IB 20: Pesona Istri
21
IB 21: Keirian
22
IB 22: Sakit
23
IB 23: Aku Egois
24
IB 24: Terkejut
25
IB 25: Kekhawatiran Fawwas
26
IB 26: Mari Pacaran
27
IB 27: Hasil Penyelidikan
28
IB 28: Sebuah Rencana
29
IB 29: Bolehkah Egois?
30
IB 30: Sekedar Pemanasan
31
IB 31: Seperti Baru
32
IB 32: Tamu Tak Diundang
33
IB 33: Fitnah Datang
34
IB 34: Kenapa
35
IB 35: Trauma Sialan
36
IB 36: Kepuasan
37
IB 37: Bukan Kamu
38
IB 38: Tidak Salah
39
IB 39: Konferensi Pers
40
IB 40: Aku Mencintaimu, Sungguh
41
IB 41: Mengundurkan Diri
42
IB 42: Belum Sepenuhnya Selesai
43
IB 43: Tidak Percaya
44
IB 44: Gamang
45
IB 45: Hubungan Layak
46
IB 46: Konfirmasi
47
IB 47: Terkejut
48
IB 48: Kegalauan
49
IB 49: Benda Apa Itu?
50
IB 50: Banyak Pikiran
51
IB 51: Permintaan
52
IB 52: Perkembangan Aara
53
IB 53: Bangun Ra!
54
IB 54: Fawwas Panik
55
IB 55: Libur Dulu
56
IB 56: Rindu
57
IB 57: Berkunjung
58
IB 58: Sedikit Ramai
59
IB 59: Pergilah Sayang, Dengan Tenang
60
IB 60: Bicaralah!
61
IB 61: Anak Itu Rejeki
62
IB 62: Milikku Sepenuhnya
63
IB 63: Roda Kehidupan Berputar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!