"Mas," ucap Selia menahan tangan Langit yang akan beranjak mengikuti keluarga nya yang sudah lebih dulu masuk ke arah dalam rumah.
"Jangan katakan apapun dulu di sini. Nanti, kita bahas semua yang ingin kamu tanyakan saat kita pulang ke rumah, mengerti?" jawab Langit yang tahu pasti apa yang akan di katakan oleh istrinya Selia.
Selia sendiri di buat tertegun saat mendengar nada bicara Langit yang untuk pertama kalinya, pria itu berbicara pada nya dengan nada dingin dan juga datar padanya.
Melihat sorot mata sang suami yang tidak bersahabat, akhirnya membuat Selia pun memilih untuk diam dan menuruti semua yang di minta oleh Langit.
Hingga akhirnya, sepanjang mereka ada di rumah itu. Selia pun tidak lagi bertanya apapun tentang Senja dan juga Bumi.
Bukan hanya itu, bahkan Selia harus menahan rasa kesal dan sesak di dada saat menyaksikan bagaimana mesra nya Bumi dan juga Senja saat ini.
Dimana pria itu tidak beranjak sedikit pun dari samping Senja. Bahkan, Bumi sudah tidak sungkan lagi untuk memperlakukan Senja dengan begitu mesra nya.
Terbukti dengan tangan Bumi yang terus melingkar indah di pinggang Senja. Belum lagi, pria itu terlihat santai menyandarkan kepalanya di bahu Senja meski hal itu dilihat langsung oleh Mama Elda dan juga Langit.
"Apa kamu lelah?" tanya Bumi setelah hampir dua jam mereka menghabiskan waktu di ruang keluarga untuk berbincang bincang.
"Sedikit," jawab Senja yang merasa sungkan untuk meminta izin untuk beristirahat ke kamar nya.
Mengerti akan hal itu, Bumi pun segera bertindak. Pria itu tampak memisahkan diri dari tubuh Senja.
"Ma, Bang, kami pamit ke kamar ya. Senja sudah cukup lelah dan butuh istirahat." izin Bumi pada Langit dan juga Mama Elda, hingga membuat semua orang yang ada di sana terkejut di buatnya.
Bukan izin yang di lakukan oleh Bumi yang membuat semua nya kaget. Namun, panggilan Bumi terhadap Langit yang tiba tiba saja mulai berubah.
Bahkan Langit di buat melongo oleh tingkah Bumi saat ini. Bahkan, sampai Bumi dan juga Senja beranjak dari sana. Langit masih terbengong bengong, tak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini dari mulut Bumi.
"Oh ya ampun, saking senang nya Senja bisa pulang. Mama sampai lupa kalau Senja masih butuh istirahat yang cukup. Baiklah, pergilah. Bawa Senja istirahat di kamar nya Mi," jawab Mama Elda.
"Baik, Ma. Kalau begitu, kami pamit dulu." pamit Bumi.
Setelah mendapatkan izin akhirnya Bumi pun membawa Senja ke lantai dua. Dimana kamar Senja berada dan dengan tatapan tidak suka nya. Selia tidak henti hentinya menatap pasangan itu.
Bahkan sampai Bumi dan juga Senja menghilang di ujung tangga. Selia masih menatap ke arah keduanya pergi.
"Ma, apa tadi aku tidak salah dengar? Bumi, panggil aku Abang?" tanya Langit masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Memangnya kenapa? Tidak ada yang salah dengan itu. Dia, adik iparmu sekarang," jawab Mama Elda.
"Ah, iya. Mama benar, baiklah, kalau begitu. Ayo Selia, kita juga pulang," ajak Langit yang membangunkan Selia dari lamunan nya.
"Ah, apa? Pulang? Ke_kenapa pulang? Kenapa kita tidak menginap di sini?" tanya Selia yang kaget dan spontan menanyakan hal itu pada Langit.
Hingga membuat Langit mengerutkan dahinya. Pasalnya, sejak menikah Selia sangat sulit untuk di ajak tinggal di rumah itu. Bahkan hanya sekedar menginap satu malam pun, Selia tidak pernah mau dan memilih tetap pulang ke rumah nya bersama dengan Langit.
"Tumben, kamu mau menginap? Biasanya juga tetap memilih untuk pulang?" tanya Langit membuat Selia kembali di buat tertegun.
"Bodoh, kenapa kamu tiba tiba mau menginap Selia? Dasar manusia bodoh kamu." gerutu Selia dalam hati.
Merutuki kebodohan nya, karena mengajak Langit menginap di rumah yang 8 tahun dia hindari.
Bahkan Selia selalu mengeluarkan beribu alasan agar mereka tidak pernah jadi untuk menginap di rumah itu.
"Ah, maaf, aku kurang fokus. Mas benar, kita harus segera pulang karena Liona di rumah dan tidak ikut ke mari. Ayo, Mas. Kita pulang sekarang, takut Liona mencari kita." lanjut Selia yang langsung bangkit dari duduknya dan bergegas berpamitan pada ibu mertuanya, Mama Elda.
Sementara Langit sendiri, mengikuti langkah istrinya dari arah belakang dengan kerutan di dahinya yang semakin dalam.
Hingga membuat alis pria itu hampir menyatu. Langit pun akhirnya menghela nafas demi mengurai rasa sesak di dada kala menyadari siapa di balik perubahan sikap dari sang istri.
Akan tetapi, Langit tidak bisa menyalahkan Bumi atau pun Selia dalam hal ini. Pasalnya, Langit menyadari jika dia dan Selia dulu terpaksa menikah karena Selia hamil setelah menghabiskan waktu bersama dengan Langit di sebuah hotel.
Mungkin saja, waktu itu Selia kerap menghampiri kelompok Langit sebenarnya untuk mendekati Bumi. Sayang, sejak dulu bahkan sampai saat ini. Sikap Bumi tidak lah pernah berubah.
Pria itu akan selalu bersikap tak acuh dan juga dingin pada semua wanita dan hanya satu wanita yang berhasil menaklukan hati Bumi yang dingin bak gunung es di kutub utara.
Iya, wanita itu hanya Senja. Hanya Senja lah yang selalu berhasil membuat Bumi bersikap baik, hangat dan menyenangkan. Sisanya, siapapun dan sebaik apapun wanita itu akan selalu di abaikan oleh Bumi.
Contohnya Selia, hanya saja. Bodoh nya Langit. Dia tidak menyadari jika sejak awal Selia hadir di dalam hidup mereka, itu bukanlah untuk dirinya, tapi untuk mengejar Bumi. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kini, Langit hanya bisa menjalani apa yang sudah di takdirkan untuknya.
*
*
Sementara itu, disebuah kamar. Terjadi kecanggungan yang sangat terlihat jelas antara Bumi dan juga Senja saat keduanya tiba di kamar milik Senja saat wanita itu masih berstatuskan seorang gadis dan belum memiliki seorang suami.
Baik Senja atau pun Bumi tiba tiba merasakan kegugupan di hati masing masing saat keduanya berada di ruang pribadi milik Senja.
"Enja, boleh Mas pinjam handuk?" ucap Bumi memecahkan keheningan di antara keduanya.
"Hah, apa? Handuk? Untuk apa?" tanya Senja tiba tiba karena saking gugupnya, wanita itu sampai tidak bisa berpikir dengan baik.
"Tentu saja untuk mandi, memang nya untuk apa lagi?" tanya balik Bumi yang akhirnya menyadarkan Senja.
"Ah, iya, ya. Tunggu sebentar biar aku ambilkan yang bersih," ujar Senja yang langsung beranjak menuju ke arah lemari pakaian nya untuk mencari handuk bersih yang akan di gunakan oleh Bumi.
"Mas, di sini tidak ada baju lelaki. Lalu, bagaimana dengan baju ganti untuk Mas pakai malam inj?" tanya Senja tanpa melirik ke arah Bumi yang duduk di bibir ranjang tepat di belakang tubuhnya.
"Set... Greepppp,"
"Deg..."
Senja tersentak kaget saat tiba tiba merasakan tubuhnya di peluk dari arah belakang.
"Haruskah, Mas pakai baju malam ini?" bisik Bumi yang membuat seluruh tubuh Senja meremang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Lilik Juhariah
totalitas mas Bumi perannya
2024-09-25
0
Brama ary
gercep amat mas bumi
2024-04-23
0
Aisyah farhana
boleh mas bumi pake piyama hello Kitty ada d yahhh
2024-01-29
0