Amnesia

Langit masih membeku di tempatnya saat mendapati pertanyaan dari Senja. Langit benar benar di buat tidak percaya saat Senja menanyakan siapa dirinya.

"Tuan, kenapa anda diam? Apa, anda yang menolong saya?" tanya Senja lagi yang membangunkan Langit dari lamunan nya.

"Astaghfirullah al adzim. Maaf, saya malah melamun. I_iya, saya kebetulan lewat saat melihat mobil kamu kecelakaan. Makanya, saya bawa kamu ke mari. Tunggu dulu, saya akan panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan kamu, ok."

Dengan kebingungan yang ada di dalam dirinya, Langit segera berlari ke ruangan kerja dimana Bumi berada saat ini. Saking panik dan juga cemasnya pria itu. Langit sampai melupakan jika di ruangan Senja di rawat ada tombol untuk memanggil petugas medis untuk datang ke sana.

Brak

Brak

Brak

"Mi, buka pintu nya." pekik Langit di balik pintu ruangan kerja Bumi.

Bahkan saking dan tidak sabarnya, Langit bukan lagi mengetuk pintu itu. Melainkan menggebrak gebrak pintu ruangan kerja Bumi hingga menimbulkan ke gaduhan.

Kreeekkk

"Bisa nggak sih pelan pelan ketuk pintunya? Ini tuh rumah sakit dan udah malam juga ,Langit. Bisa nggak kalau nggak usah berteriak?" jawab Bumi setelah membuka pintu ruangan nya.

"Senja Mi, Senja," ucap Langit dengan panik.

"Senja? Kenapa dengan Senja?" tanya Bumi yang ikut terbawa panik saat nama Senja di sebut oleh Langit.

"Dia bangun Mi. Senja bangun, tapi dia____,"

Langit tidak bisa melanjutkan ucapan nya karena Bumi yang langsung berlari meninggalkan Langit begitu saja. Padahal Langit belum selesai mengatakan kondisi Senja saat wanita itu terbangun.

"Bumi, tunggu. Kebiasaan, orang belum selesai ngomong juga. Udah main pergi aja, dasar sahabat nggak ada akhlak." gerutu Langit sembari mengikuti jejak Bumi yang sudah berlari lebih dulu menuju ke ruangan dimana Senja berada.

Braakkkk

Haahhh

Haahhh

"Senja, ka_kamu sudah bangun?" tanya Bumi dengan nafas yang ngos ngosan karena berlari.

"Apa Dokter? Barusan Dokter panggil saya apa?" tanya Senja yang membuat Bumi tertegun.

Seketika, Bumi pun langsung menoleh ke arah Langit yang juga baru saja sampai di ruangan itu dengan nafas yang tidak kalah ngos ngosan nya dengan Bumi.

Mendapat tatapan penuh tanda tanya dari Bumi, Langit pun hanya bisa menganggukkan kepala. Seakan mengerti dengan apa yang di tanyakan oleh Bumi lewat tatapan matanya.

"Lupakan, biar aku periksa dulu ya," lanjut Bumi setelah berhasil mengendalikan dirinya.

"Baik Dokter," jawab Senja pasrah saat Bumi mulai memeriksa beberapa bagian tubuhnya termasuk kepalanya yang terbalut oleh perban.

"Semua sudah lebih baik. Apa boleh aku tanya sesuatu?" tanya Bumi pada Senja.

"Iya, apa itu?"

"Apa, kamu tidak mengenalnya?" tanya Bumi menunjuk ke arah Langit dan di jawab dengan sebuah gelengan kepala oleh Senja.

"Kalau dengan ku?" tanya Bumi lagi yang lagi lagi di jawab sebuah gelengan kepala.

"Baiklah, sekarang lebih baik kamu istirahat karena hari masih terlalu malam untuk bangun. Tidurlah, besok kita lakukan pemeriksaan lanjutan, ok?"

"Baik Dokter, terima kasih."

Senja pun segera memejam kan matanya kembali. Tidak lama dari itu, dengkuran halus pun mulai terdengar yang menandakan jika Senja sudah kembali tertidur.

"Kita bicara di ruanganku," lanjut Bumi pada Langit.

"Tapi, bagaimana dengan Senja? Dia akan sendirian," jawab Langit yang takut terjadi sesuatu pada sang adik jika di tinggal sendirian.

"Tenanglah, kita masih bisa mengawasinya lewat cctv ruangan dan juga lorong rumah sakit. Kita harus bicara serius tentang keadaan Senja saat ini," lanjut Bumi yang beranjak lebih dulu meninggalkan ruangan itu dan membiarkan Senja tertidur seorang diri.

Sepeninggalan Langit dan juga Bumi. Seseorang tampak memasuki ruangan itu. Orang itu berjalan perlahan mendekati ranjang dimana Senja tengah tertidur lelap setelah mendapatkan pemeriksaan dari Bumi.

Dengan tatapan penuh rasa benci dan juga marah. Orang itu menatap intens wajah Senja yang masih terlihat pucat.

"Aku tidak akan pernah membuat hidup kamu bahagia Senja. Sampai kapanpun, aku akan tetap berusaha membuat hidup kamu hancur dan menderita. Kita lihat saja, aku akan membuatmu hancur sehancur hancurnya." gumam orang itu sebelum kembali beranjak meninggalkan ruangan itu.

*

*

"Apa? Amnesia?" pekik Langit saat Bumi menjelaskan keadaan Senja saat ini.

Dimana adik dari sahabatnya itu kemungkinan besar saat ini mengalami amnesia atau hilang ingatan.

"Sepertinya saat kecelakaan terjadi, Senja mendapatkan benturan yang cukup keras di kepalanya hingga mengakibatkan Senja amnesia. Namun, masih butuh pemeriksaan lanjutan untuk memastikan apa ini amnesia permanen atau hanya sementara," jelas Bumi lagi yang membuat Langit tidak bisa berkata kata lagi.

"Tolong Mi, aku mohon lakukan apapun itu agar Senja bisa kembali sembuh dan ingatan nya kembali. Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana keadaan nya yang tidak mengenali orang sama sekali. Bahkan, dia tidak mengenali Kakaknya sendiri," lirih Langit meminta Bumi agar menyembuhkan Senja dan mengembalikan ingatan adiknya itu.

"Tidak kamu minta pun, aku akan melakukan segala cara untuk mengembalikan ingatan nya. Kamu tenang lah, sekarang yang harus kita lakukan hanya mengikuti apa yang Senja kehendaki sampai kita menemukan cara untuk mengembalikan ingatan nya," jawab Bumi yang tentu saja tidak akan membiarkan Senja berada dalam kesulitan.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Langit lagi.

"Kita coba beritahu dia pelan pelan kalau kamu adalah Kakaknya. Jangan paksa dia mengingat yang tidak sanggup untuk dia ingat. Bantu dia secara perlahan lahan, dalam kasus seperti ini peran keluarga sangatlah penting, tapi jangan terlalu memaksakan juga. Kita harus sedikit bersabar sampai Senja mampu mengembalikan kembali ingatan nya," jelas Bumi.

"Meski pun itu membutuhkan waktu yang lama?" tanya Langit lagi.

"Itu salah satu resiko yang harus kita hadapi. Namun, tidak sedikit juga pasien amnesia bisa kembali mengingat semua nya dalam waktu yang singkat. Kita berdoa saja, semoga ingatan Senja bisa segera kembali." lanjut Bumi.

Kedua pria yang sudah bersahabat sejak masuk ke sekolah dasar itu pun tampak menghela nafas secara bersama sama. Mereka tidak menyangka jika Senja akan kehilangan ingatan nya setelah terbangun dari koma nya.

"Baiklah, kalau begitu. Aku kembali ke sana dulu. Aku tidak akan membiarkan Senja sendirian lagi. Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersama nya," lanjut Langit setelah termenung selama beberapa saat.

"Itu bagus, karena memang itulah yang di butuhkan oleh Senja saat ini," jawab Bumi.

"Kamu juga kan? Kamu, tidak akan meninggalkan dia, lagi kan?"

Deg

Bumi tersentak kaget saat Langit bertanya. Bahkan pria itu sampai mengangkat kepalanya dan menatap penuh tanya ke arah Langit.

Terpopuler

Comments

Anisatul Azizah

Anisatul Azizah

Thor, maaf sebelumnya..
tolong tanda baca seperti titik dan koma digunakan seperlunya dan tepat pd tempatnya ya.. biar enak dibaca dan dimengerti.. terimakasih🤗

2024-04-20

1

Anisatul Azizah

Anisatul Azizah

Selia ya??

2024-04-20

0

Anisatul Azizah

Anisatul Azizah

aku kira langsung jawab aku kakakmu gitu😅

2024-04-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!