Melihat Senja yang kesal Bumi pun hanya terkekeh sembari kembali memeluk tubuh istri bohongan nya itu.
"Nanti malam saja ya, kita lanjut lagi. Hari ini, Mas masih ada pekerjaan." bisik Bumi yang memunculkan semburan rona merah di wajah Senja.
Wanita bertubuh mungil itu hanya bisa menyusupkan wajah merahnya karena malu saat mendengar kata kata Bumi yang cukup meresahkan hati nya.
Sementara itu, Langit sendiri masih berada di dalam perjalanan menuju ke alamat rumah nya Mentari. Saat tiba di sebuah lampu merah, netra pria bertubuh tinggi dan bertubuh kekar itu tidak sengaja menangkap seseorang yang amat sangat dia kenali tengah bersama seorang pria.
"Selia? Adam?" gumam Langit saat melihat Selia tengah bersama dengan calon mantan adik iparnya, Adam.
Calon adik ipar? Iya, setelah kejadian dimana Adam membawa lari uang perusahaan dan juga kecelakaan yang di alami Senja.
Tanpa persetujuan dari Senja, Langit sudah menyiapkan surat gugatan cerai atas nama Senja untuk Adam.
Begitu banyak keanehan yang terjadi dua bulan sebelum Senja dan Adam menikah. Adam terlihat bersikap aneh dan mencurigakan dan kini, satu persatu keanehan itu kini mulai terbuka.
Dengan terbuktinya kalau Adam telah membawa kabur uang perusahaan sebesar miliaran rupiah. Belum lagi hilang nya pria itu bahkan di saat Senja mengalami kecelakaan.
Adam sama sekali tidak pernah datang ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Senja saat ini. Belum satu lagi, kecelakaan Senja.
Langit juga mencurigai kecelakaan yang di alami oleh Senja ada sangkut pautnya dengan Adam. Hingga pria itu pun diam diam menyelidiki kasus itu. Namun, sudah satu bulan berlalu Langit belum juga mendapatkan hasil dari penyelidikan nya.
Hingga akhirnya, Langit pun mengambil keputusan untuk membuat adiknya bercerai dengan Adam. Langit tidak ingin adiknya menderita dengan pernikahan nya bersama laki laki yang tidak bertanggung jawab seperti Adam.
"Papa, kenapa? Kok bengong? Lampunya sudah hijau, ayo jalan," suara lembut Liona akhirnya membangunkan Langit dari lamunan nya tentang Selia dan Adam.
"Astaghfirullah, maaf sayang. Maafkan Papa, ya." Langit pun segera melajukan kembali mobilnya setelah mendapatkan teguran dari Liona.
Dalam perjalanan menuju ke alamat rumah Mentari, pikiran Langit terus di isi oleh Selia dan juga Adam.
Selama ini, Langit tidak tahu jika Selia dan Adam saling mengenal hingga membuat keduanya bisa menghabiskan waktu berdua di sebuah cafe.
"Lihat saja, jika semua kecurigaan ku benar. Kalian berdua tidak akan ku biarkan lolos begitu saja." gumam Langit dalam hati.
Kedua tangan pria itu mencengkram kuat bundaran setir yang saat ini sedang dia kendalikan. Demi menekan emosi yang ada di dalam dirinya.
Rasanya ingin sekali menghampiri Selia dan juga Adam. Namun, Langit tidak boleh bertindak gegabah. Langit harus memastikan dulu kasus kecelakaan yang menimpa Senja baru dia akan menindak lanjuti masalahnya dengan Selia.
Selama hampir satu jam di perjalanan, akhirnya mobil yang di bawa oleh Langit pun tiba di sebuah komplek perumahan yang terbilang sederhana untuk orang sekelas Langit.
Setelah menelusuri gang komplek perumahan itu. Mentari pun menunjukan pada Langit jika mereka sudah tiba di rumah nya.
"Ini rumah Bu Mentari?" tanya Langit saat memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana. Namun terlihat begitu nyaman karena bersih dan juga rapi.
"Bukan, ini rumah kedua orang tua saya, Pak. Tabungan saya masih belum cukup untuk membeli sebuah rumah, meski itu rumah sederhana sekali pun. Ya, jadinya saya masih numpang di rumah orang tua, Pak," jelas Mentari yang membuat sudut bibir Langit terangkat. Membentuk sebuah senyuman yang jujur, hal itu membuat Mentari sedikit terpesona di buatnya.
"Astaghfirullah al adzim, astaghfirullah al adzim, astaghfirullah al adzim," gumam Mentari sebanyak 3x lalu memalingkan pandangan nya saat menyadari jika dia sudah mengagumi pria beristri.
"Baiklah. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mengantar saya. Saya, pamit ya Pak Langit. Permisi," lanjut Mentari yang tidak ingin berlama lama berada di dalam mobil Langit, karena tidak ingin menimbulkan fitnah.
"Oh, iya Bu. Sama sama, seharusnya saya yang berterima kasih karena Ibu sudah menemani putri saya selama menunggu jemputan," jawab Langit yang masih merasa tidak enak hati pada wali kelas dari putrinya itu.
"Iya, Pak. Tidak apa apa, itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai wali kelas nya Liona. Ya sudah, Liona Ibu pamit ya. Terima kasih sudah mengantarkan Ibu pulang,"
"Iya, Bu. Sama sama."
Mentari pun segera turun dari mobil Langit, lalu bergegas masuk kedalam halaman rumah kedua orang tuanya.
Sementara Langit sendiri, baru melajukan mobilnya setelah memastikan Mentari masuk ke dalam rumah nya.
Langit membawa Liona langsung ke rumah sakit karena memang Langit tidak pernah bisa meninggalkan Senja sendirian lama lama.
Meski saat ini ada sang Mama, tapi Langit kerap merasa khawatir jika belum melihat sendiri bagaimana keadaan Senja. Hingga pria itu pun memutuskan untuk membawa serta Liona bersama dirinya ke rumah sakit.
"Kok, kita ke rumah sakit Pa? Apa kali ini Lili boleh jenguk Aunty Senja?" tanya gadis kecil itu saat Langit memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit.
"Loh, yang bilang nggak boleh siapa? Bukan nya selama ini Papa suka ajak Lili? Cuma, Lili nya sibuk belajar terus jadinya belum sempat jenguk Aunty Senja." jawab Langit dengan kerutan halus menghiasi dahi nya.
Pasalnya, Langit merasa heran dengan kalimat yang di ucapkan oleh putrinya. Dari apa yang di ucapkan oleh Liona, seperti ada yang melarang gadis itu untuk bertemu dengan Senja.
"Tapi, Mama bilang kalau Lili tidak boleh jenguk Aunty," lirih gadis kecil itu dengan wajah yang sendu.
"Mama, bilang begitu?" tanya Langit yang baru tahu jika selama ini Selia melarang Liona untuk menjenguk Tantenya, Senja.
"Iya, Papa. Mama bilang begitu, padahal Lili ingin sekali bertemu dengan Aunty,"
"Ya sudah, jangan sedih lagi. Sekarang kan Lili bisa bertemu dengan Aunty Senja. Ayo, sebaiknya kita turun, kita bertemu Aunty sekarang." lanjut Langit mengusap lembut pucuk kepala Liona.
Langit pun segera membawa putrinya untuk bertemu dengan Senja. Setelah menelusuri beberapa lorong, Langit dan Liona pun akhirnya tiba di depan ruangan Senja.
Dahi Langit mengerut manakala melihat ibunya, Mama Elda. Tengah berdiri di depan pintu ruangan Senja dan sedang tersenyum senyum sendiri.
"Mama? Mama sedang apa di luar? Kok nggak masuk untuk menemani Senja?" tanya Langit pada sang ibu.
"Ssttt, diam di sini dulu. Di dalam lagi tidak bisa di ganggu," jawab Mama Elda yang semakin membuat dahi Langit semakin mengerut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Brama ary
mama elda setuju senja sama bumi😊😊
2024-04-23
0
Anisatul Azizah
Alhamdulillah ternyata mama Elda, bukan Selia
2024-04-20
0
Defi
Mama pengertian sekalee 🤭🤣.. gak sabar ih Senja pulih ingatan dan bersatu dengan Bumi. eh, nanti Senja kecewa karena merasa dibohongi
2024-01-21
1