Bab.10

"Dengar Senja, Kakak tahu ini semua pasti membuat kamu kesal dan juga bosan. Namun, kamu harus sedikit bersabar lagi, ya. Setelah kamu benar benar pulih, Bumi pasti membawa kamu pulang. Percaya lah padanya, ini semua dia lakukan demi kebaikan kamu dan karena dia, sangat mencintai kamu. Bumi sangat berharap agar kamu bisa segera sembuh dan keluar dari kamar ini," jelas Langit yang akhirnya membuat Senja pun luluh.

"Benarkah itu?" tanya Senja, meragukan ucapan Langit.

"Tentu saja benar. Kamu tidak tahu saja, kalau setiap malam Bumi jarang bisa tidur dan terus berada di sampingmu hanya untuk memastikan keadaan mu,"

"Kalau memang benar Mas Bumi mencintai Senja. Kenapa selama ini dia bersikap begitu dingin. Bahkan, cara bicara nya saja masih sama seperti saat dia masih menganggap aku adiknya. Bukan kah, dia sudah berjanji kalau kelak kami berhasil menikah. Dia akan merubah semua perlakuan nya padaku termasuk panggilan, tapi dia tetap saja memanggilku Senja. Tidak ada mesra mesranya," keluh Senja panjang kali lebar pada Langit tentang sikap Bumi selama ini.

Jujur, Langit sedikit kaget saat mendengar tentang janji Bumi pada Senja, seperti yang diucapkan oleh Senja barusan. Pasalnya, Langit sama sekali tidak tahu jika Bumi memiliki janji seperti itu pada Senja.

"Janji? Janji apa itu? Apa, ada yang Kakak tidak tahu tentang kalian?" tanya Langit lagi, penuh dengan rasa penasaran.

"Janji, dulu saat aku masih duduk di bangku sekolah. Mas Bumi pernah bilang, kelak kalau kami bisa menikah. Dia akan merubah semua nya dan tidak akan menganggap ku sebagai adik lagi. Karena memang seharusnya begitu kan, kalau kami menikah tentu saja dia harus berhenti menganggap aku sebagai adiknya. Namun apa? Dia, tetap saja masih menganggap aku seperti adiknya,” lanjut Senja dengan nada yang semakin sendu.

“Bukan begitu sayang,”

“Deg….”

Baik Senja maupun Langit sama sama dibuat terkejut saat mendengar suara bariton seseorang yang menyela obrolan mereka.

Keduanya pun menoleh ke arah sumber suara dimana ada sosok Bumi yang sedang berdiri di ambang pintu kamar rawat Senja.

“Mas, Bumi.” lirih Senja saat melihat Bumi berdiri di ambang pintu dengan senyuman menghiasi wajah tampan nya.

Dengan perlahan, Bumi pun melangkahkan kakinya mendekati Senja yang masih duduk di ranjang dengan ditemani oleh Langit.

“Apa, aku masih memperlakukanmu seperti seorang adik? Hhmm?” tanya Bumi mengusap lembut pucuk kepala Senja.

Bumi juga menatap Senja dengan tatapan yang saat ini jauh berbeda dari biasanya. Dimana saat ini, Bumi tengah menatap Senja dengan begitu lembut yang penuh akan isyarat cinta.

Mendapatkan tatapan yang intens seperti itu. Membuat Senja jadi salah tingkah, bahkan wanita muda itu sampai menundukkan kepalanya karena tidak sanggup jika berlama lama beradu tatapan dengan Bumi.

"Kenapa diam? Kenapa hanya pada Langit saja berani mengeluhnya? Kenapa padaku tidak, hhmm?" tanya Bumi lagi semakin mengikis jarak dengan Senja.

"Bukan begitu, aku hanya tidak mau, kalau keluhan aku ini akan menjadi beban untuk Mas Bumi," jawab Senja dengan lirih.

"Set...."

"Greepppp..."

Senja kembali di buat kaget saat Bumi tiba tiba memeluknya. Bahkan pria itu mengabaikan sosok Langit yang masih ada di sana.

Hingga membuat pria itu akhirnya memilih menepi, duduk di sofa, mencoba menyibukan diri dengan ponsel di tangan nya. Ingin rasanya pergi dari kamar itu, tapi Langit bingung sendiri karena dia tidak memiliki tujuan di rumah sakit itu.

Sampai akhirnya, Langit pun tetap bertahan di sana dan mencoba menahan diri menyaksikan adegan romantis antara Senja dan juga Bumi.

Hingga sebuah notif pesan pun, mengalihkan perhatian Langit. Pria itu segera membuka pesan yang di kirimkan oleh putrinya, Liona.

["Papa, bisa jemput Liona nggak? Liona sudah satu jam nungguin Mama, tapi Mama belum juga datang dan tidak bisa di hubungi."]

Langit segera bangkit dari duduk nya sesaat setelah mendapatkan pesan yang di kirim oleh putrinya Liona.

"Gue titip Senja Mi, Gue harus jemput Liona dulu." ucap Langit tanpa menoleh ke arah adik dan juga sahabatnya.

Langit langsung berlari keluar dari kamar Senja karena merasa begitu khawatir pada putrinya, Liona.

Gadis kecil yang biasanya di jemput oleh ibunya itu tiba tiba menghubunginya dan mengadu jika dia belum di jemput oleh sang ibu padahal sudah satu jam Liona menunggu Selia.

Sementara itu, Senja dan juga Bumi masih setia saling memeluk satu sama lain. Kini, Bumi jauh lebih santai saat berhadapan dengan Senja. Tidak sekaku sebelum nya.

Jujur, pria itu masih merasa terlalu aneh saat harus memperlakukan Senja seperti layaknya istri sungguhan. Namun, bukan kah semua demi ke baikan wanita itu? Lalu, kenapa masih harus banyak pertimbangan? Batin Bumi bermonolog sebelum akhirnya pria itu memutuskan untuk berprilaku seperti suami sungguhan untuk Senja.

“Bukan kah, Mas Bumi masih sibuk bekerja? Kenapa sudah kembali lagi kemari?” tanya Senja yang saat ini masih di peluk oleh Bumi.

“Melihatmu memasang wajah sedih seperti ini, mana bisa Mas bekerja dengan tenang. Makanya, Mas kembali untuk membuatmu tenang, agar Mas bisa lanjut kerja juga dengan tenang,” jawab Bumi yang semakin mengeratkan pelukan nya di tubuh Senja.

“Maaf, sudah membuat Mas Bumi khawatir,” ucap Senja yang seketika merasa bersalah karena sudah merajuk hanya karena sikap Bumi yang dipikir Senja masih memperlakukan nya seperti seorang adik, bukan istri.

Senja pun membalas pelukan hangat yang dilakukan oleh Bumi padanya. Rasanya begitu lega saat Bumi memperlakukan nya dengan lembut dan juga hangat seperti saat ini.

“Apa, sudah merasa lebih tenang?” tanya Bumi yang di angguki oleh Senja.

“Sudah bisa Mas tinggal bekerja?” tanya Bumi lagi yang kembali di jawab sebuah anggukan kepala oleh Senja.

Bumi pun segera mengurai pelukan nya di tubuh Senja. Tanpa melepaskan pelukan nya di tubuh Senja, Bumi kembali menatap lembut wajah Senja. Keduanya pun kini beradu pandang hingga perlahan, Bumi pun kembali mendekatkan wajahnya, mengikis jarak dengan wajah Senja.

Mengerti akan apa yang akan dilakukan oleh Bumi selanjutnya, Senja pun langsung menutup kedua matanya. Seolah memberi izin untuk Bumi melakukan apa yang ingin pria itu lakukan padanya.

“Kreekkkk…..”

“Ups…maaf,”

“Braakkkk…..”

Baik Senja maupun Bumi sama sama tersentak kaget saat mendengar suara seseorang yang berkata ‘maaf’ lalu setelah nya terdengar suara pintu ruangan itu yang di tutup cukup keras oleh orang yang baru saja datang kesana yang entah siapa orang yang datang itu.

Karena Bumi dan juga Senja sama sama tidak melihat siapa orang yang baru saja datang itu, keduanya hanya mendengar suaranya saja.

Terpopuler

Comments

Anisatul Azizah

Anisatul Azizah

maklampir kah???

2024-04-20

0

Anisatul Azizah

Anisatul Azizah

batasi dulu hatimu Bum krn bagaimanapun ini hanya sandiwara, belum lagi nanti gimana reaksi Senja kalau tau dibohongi oleh semua meski katanya itu demi kebaikannya..

2024-04-20

1

Defi

Defi

Apa Senja sebenarnya menunggu Bumi dan Bumi yang pergi menjauh membuat Adam mudah masuk m mendekati Senja. Adam yang gila itu orang yang kamu cintai yaitu Selia, untuk apa kamu menghancurkan Senja dan Langit 😡.. berarti Loli itu Liona,

2024-01-21

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!